Jumat, 25 Januari 2008

Tubuh Andrian Penuh Benjolan Kecil










KASIHAN Andrian. Usianya baru delapan bulan. Tapi ia harus menanggung sejenis penyakit yang bahkan belum bisa terindentifikasi jenisnya. Seluruh tubuhnya penuh benjolan kecil seperti kutil. Namun ukurannya lebih besar dari kutil rata-rata. Bahkan di bagian belakang paha kirinya, ada sebuah benjolan yang berukuran setengah kelereng.

Jumlah benjolan itu mungkin saat ini sudah lebih dari 30 biji. Padahal empat bulan lalu, sewaktu anak kedua dari pasangan Slamet (27) dan Sumiati (21) ini berusia empat bulan, baru satu benjolan yang muncul di tubuhnya. “Benjolan itu ada di bagian tengkuk,” kata Sumiati, sembil menggendong bocah yang diberi nama panjang Muhammad Andrian Dwiputra itu.

Awalnya benjolan itu kecil saja, tapi lama kelamaan semakin membesar. Kemudian mulai tumbuh lagi benjolan di kanan dan kirinya. Hingga akhirnya terus tumbuh di bagian punggung, perut, paha bahkan sampai kepala. Di kepalanya yang masih ditumbuhi rambut jarang-jarang, ada lebih dari lima benjolan kecil. Bahkan benjolan itu kini terus menjalar tumbuh di wajah. Di bagian dagu bocah berkulit kuning langsat ini, sudah tumbuh dua benjolan kecil. “Paling banyak di bagian punggung,” kata Sumiati seraya membuka baju anak keduanya itu.

Entah apa yang menyebabkan benjolan-benjolan yang tak dikehendaki itu tumbuh begitu saja di tubuh Andrian. Memang empat bulan belakangan, benjolan itu belum menyebabkan rengekan si bayi. Paling kalau merengek, kata Sumiati, bila ia lapar saja. Saat ini Andrian memang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) lagi. “Ia minum susu kaleng,” kata Sumiati, yang sehari-hari hanya menjaga dua anaknya saja di rumah.

Begitu benjolan itu pertama kali muncul, awalnya tidak terlalu merisaukan pasangan yang merantau ke Tanjungpinang sejak awal tahun 2000 ini. Tapi begitu semakin banyak, Slamet dan Sumiati yang merupakan warga Jalan Kampung Lengkuas, Kijang, Kabupaten Bintan ini pun mulai risau. Mereka awalnya membawa Andrian ke Puskesmas terdekat. Lalu mendapat rujukan untuk menemui dokter anak. Dari dokter anak, baru dibawa ke dokter spesialis kulit di Tanjungpinang, yang berjarak sekitar 30 kilo meter dari tempat tinggal mereka.

Setelah mengkonsumsi obat beberapa kali, namun Slamet dan Sumiati melihat belum ada perubahan berarti. Bahkan benjolan mulai tumbuh di bagian lain tubuh Andrian lagi. Kondisi Andrian yang seperti ini ikut menggusarkan seorang tetangganya Susilawati. Akhirnya Susilawati yang juga adalah Ketua Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Bintan itu mengontak sejumlah koleganya melalui email sambil mengirimkan foto tubuh Andrian. Ia ingin mencari tahu apa sebenarnya penyakit yang diderita bocah ini. “Sebab kalau sudah tahu penyakitnya, nanti kan lebih mudah mencari obatnya,” kata Susilawati.

Slamet dan Sumiati sendiri sampai kini masih terus berusaha. Hanya saja, mereka mengaku akan kesulitan bila harus menyediakan uang pengobatan dalam jumlah besar. Slamet sendiri hanya bekerja sebagai buruh di tempat pembuatan kapal di Kijang. Sampai saat ini saja, keluarga kecil ini masih mengontrak rumah.

Slamet sangat berharap, bila ada pembaca yang mengetahui jenis penyakit anaknya, atau mau menyumbangkan dana bantuan pengobatan, agar dapat langsung mengontak dirinya.

Ia begitu ingin melihat Andiran tumbuh dalam keceriaan. Langkah Andrian masih panjang. Dan setiap detik dalam hidupnya, Slamet dan Sumiati masih terus berharap, bocah itu bisa terbebas dari benjolan-benjolan yang tak dikehendaki itu. (trisno aji putra)

Pembaca, bila Anda bersimpati dengan Andrian, bisa langsung mengontak ayahnya, Slamet di nomor ponsel 0819 2854 7906


Kisah-kisah dari Singapura (1): Bukan Don't Forget, Tapi Ojolali

MENJADI ekspatriat di negeri kota Singapura adalah jalan hidup yang harus dilalui oleh Kiki Kosasih (41) sejak sekitar enam tahun lalu. Ia mendapat tawaran pekerjaan yang cukup menarik dari sebuah perusahaan produsen komputer ternama. Pada 1999 itu, Kiki yang asli Indonesia dan lama bermukim di Jakarta itu, bekerja sebagai konsultan tekhnologi informasi.

Tapi gaji lumayan tak membuat Kiki betah dengan profesinya. Di pertengahan tahun kelima di Singapura, setelah ia mengantongi predikat sebagai penduduk tetap (permanent resident), Kiki malah banting setir. Ia berhenti bekerja dan mulai berspekulasi untuk menjalankan bisnisnya sendiri.

Bukan tak ada yang dipertaruhkannya. Selain investasi untuk modal usaha awal, ia juga harus siap-siap angkat koper dari Singapura bila ternyata uang yang ditanamkannya tak membuahkan laba. Sekitar Juni 2006, Kiki memulai usahanya, membuka rumah makan "Ayam Bakar Ojolali". Nama Ojolali yang digunakan Kiki bukannya tanpa perhitungan. Memang di negeri yang juga sekaligus kota metropolis dengan penduduk sekitar empat juta jiwa, tentu orang Singapura sudah pasti tak begitu paham makna kata yang diambil dari kosakata Jawa itu. Orang Singapura mungkin lebih peduli bila nama rumah makan Kiki itu adalah "Don't Forget" yang makna harfiahnya sama dengan ojolali.

Tapi Kiki justru punya perhitungan bisnis yang jitu. Lima tahun tinggal di Singapura sebelum ia memulai bisnisnya itu, memberi banyak waktu bagi Kiki untuk mengamati berbagai kecendrungan di negeri tetangga itu. "Banyak orang Indonesia yang datang ke Singapura," kata Kiki, saat ditemui di rumah makan yang dikelolanya, di lantai tiga Lucky Plaza, sebuah mal di kawasan Orchard Road, jantung kota Singapura, pekan lalu.

Kiki sudah survei. Ternyata, kedatangan orang Indonesia ke Singapura tak sekedar mengikuti tren "window shoping" yang ditawarkan negeri Singa itu. Tidak juga sekedar pelesiran. "Mereka banyak yang datang berobat," lanjut ayah dari dua anak ini. Tersebutlah sebuah rumah sakit di sekitar Orchard Road, yang letaknya hanya beberapa langkah dari Lucky Plaza. Nama rumah sakit itu sudah cukup femiliar bagi orang Indonesia, termasuk warga Kepri: Mount Elizabeth Hospital. Bagi orang di negeri ini yang punya penghasilan lebih dan ingin merasakan sentuhan dokter Singapura, Mount Elizabeth adalah satu di antara sedikit pilihan favorit.

Mendapatkan pelayanan medis plus shoping menjadikan alasan orang Indonesia untuk tak sekedar menghabiskan waktu tanpa bermalam di Singapura. Dan pilihan bermalam favorit mereka adalah apartemen di atas Mal Lucky Plaza. Menariknya, di antara pemilik apartemen itu adalah orang Indonesia yang menikah dengan warga Singapura. Sebagai sentra perdagangan, bangunan jangkung Lucky Plaza hanya sekitar lima lantai paling bawah yang difungsikan untuk kawasan pertokoan. Lantai keenam sampai 31, difungsikan sebagai apartemen.

Setelah mendapat sentuhan medis dan puas memelototi aneka barang elektronik dan busana di sepanjang Orchard, tentu kebutuhan mendasar selanjutnya adalah makan. Nah, makan ini punya persoalan tersendiri. Lidah orang Indonesia kadang tak bisa menerima masakan Singapura. Ini menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi mereka yang mengutamakan cita rasa masakan sebagai satu di antara kebutuhan primer.

Dari tiga hal besar di atas itulah, kemudian Kiki beranjak mengambil lompatan besar ke impian masa depannya: menanamkan sekitar 150 ribu dolar Singapura, atau sekitar Rp 870 juta (kurs Rp 5800). Ia sewa sebuah ruangan dengan ukuran sekitar 11 X 8 meter. Harga sewa permeter persegi sekitar delapan dolar Singapura, atau Rp 46.400. "Biaya sewanya mahal, jadi investasinya harus besar," lanjut lelaki berkulit putih ini.

Meski ia teken kontrak sewa sampai tiga tahun, tapi Kiki tertolong dengan sistem pembayaran yang dipungut perbulan. Dari satu pengunjung ke seratus pengunjung, hingga sampai ribuan datang ke rumah makan Kiki yang meski ramping, tapi menyediakan kursi sekitar 25 buah. Berbagai menu disediakan, dari mulai ayam bakar sampai ikan bawal, juga gado-gado. Rasanya Indonesia sekali, sebab pelatih masak bagi karyawannya, didatangkan Kiki dari Jogja. Harga masakan juga bervariasi, dari mulai tiga sampai sekitar sembilan dolar Singapura.

Prediksi Kiki diawal, ia sudah cukup senang bila mampu menyedot pelanggan orang Indonesia yang sedang berkunjung ke Singapura. Namun dalam perjalanannya, justru warga Singapura mulau tertarik untuk singgah, kemudian malah jadi pengunjung tetap. Persentase pengunjung rumah makan tersebut kini cukup variatif. Kiki memperkirakan, 40 persen adalah warga Indonesia, 40 persen penduduk Singapura, dan 20 persen sisanya warga dari berbagai belahan dunia, seperti India, Eropa, Asia, Amerika, sampai Australia.

Kiki tersenyum. Hampir memasuki bulan ketiga ia membuka rumah makan itu, Kiki kembali berspekulasi untuk mengambil satu ruangan lain guna difungsikan sebagai sayap rumah makan tersebut. Jarak antara kedua rumah makan Kiki itu hanya terpisah oleh beberapa toko.

Tapi bukan hanya Kiki yang berspekluasi bisnis rumah makan masakan Indonesia di Singapura. Untuk di Lucky Plaza saja, setiap lantai mal tersedia rumah makan Indonesia. Di mulai pada lantai satu, orang Indonesia juga membuka rumah makan "Es Teler 77". Lalu di lantai dua ada "Resto Surabaya". Kemudian di lantai empat ada "Ayam Penyet Ria" dan di lantai enam, sebelum ditutup ada rumah makan "Aneka".

Bagaimana prosedur yang harus dilalui Kiki hingga ia sampai dapat izin membuka usaha di Singapura, menjadi bagian yang tak kalah menarik. Simak kelanjutan tulisan ini esok hari. (trisno aji putra/bersambung)

Selasa, 08 Januari 2008

Ali Achmad, Maestro Pantun Asal Tanjungpinang

TANYAKAN siapa Ali pada warga kota. Tak semua orang kenal. Tapi tambahkan embel-embel di belakangnya, “Pak Ali Tukang Pantun”. Dalam hitungan detik, orang pun langsung paham. Terlebih bagi warga kota yang pernah menikahkan anaknya dalam adat Melayu, mereka akan langsung teringat, siapa Ali Ipon.
Nama lengkapnya sebenarnya adalah Muhammad Ali Achmad. Ia pensiunan guru Bahasa Inggris di SMP 5 Tanjungpinang. Meski usianya sudah lewat kepala enam, tetapi ayah dari lima anak ini masih kocak. “Saye ni ngajar Bahasa Inggris. Tapi bise berpantun. Tak nyambungkan,” kata Ali, dalam logat Melayu. “Tak percaye?” Ali diam sejenak. Dalam hitungan detik, ia pun langsung mengucapkan pantun empat baris.
“If you want to go to United State/ You can go by plane that high speed/ Because the time is limited/ I just explain only a little bit,” kata Ali.

***
SIANG itu kami berpapasan di Jalan Lembah Purnama, sekitar 200 meter dari rumahnya. Ali tak ada di rumah waktu disambangi. “Kakek tadi pergi ke masjid,” kata seorang cucunya. Tapi waktu zuhur sudah lewat hampir satu jam, Ali belum pulang. Rupa-rupanya ada kesibukan lain yang dilakukan lelaki kelahiran Tanjungpinang 1 Maret 1941 ini.
“Saye dengar memang begitu. Tapi sampai sekarang saya belum mendapat kabar resminya,” kata-kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Ali begitu ditanyakan seputar terpilihnya ia menjadi satu dari 27 maestro budaya Indonesia. Ali dinobatkan sebagai maestro bidang pantun.
Obrolan pun berpindah ke ruang tamu rumahnya. Ali mengambil beberapa tumpukan kertas. Juga menunjukkan dua koran nasional yang didalamnya memuat berita Ali sebagai maestro pantun Indonesia. “Saye pun baru tahu dari koran. Waktu itu seorang kawan telpon saye, suruh beli koran ini. Saye pun beli. Memang tertulis ade name saya,” kata Ali sambil menunjukkan koran yang dimaksudnya.
Karena itu Ali pun masih ragu. Sebab, kalau pun benar ia dipilih sebagai maestro pantun Indonesia, ia yakin pastilah ada orang dari Jakarta yang akan menghubunginya. Padahal berita yang dimuat di dua Koran nasional itu terbit pada edisi minggu keemapt Desember lalu. “Entah buaye/entah kata/ Entah iye/entah tidak,” kata Ali berseloroh dalam pantun yang tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya.
Kehebatan Ali memang adalah reflek yang dimilikinya dalam mengolah kata hingga tersusun memiliki akhiran dengan bunyi yang sama. Hanya butuh hitungan detik, otaknya mengolah ribuan kata hingga meluncur empat baris kata yang terdengar enak di gendang telinga.
Tapi Ali mengakui, memang pada sekitar November 2007 lalu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Tanjungpinang Abdul Kadir Ibrahim (Akib) mengontaknya. Waktu itu, cerita Ali, Akib mengatakan bahwa Ny Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) ingin bertemu dengannya. Pudentia datang ke Tanjungpinang memang dalam rangka untuk mencari masukan, siapa-siapa saja ahli tradisi lisan dari daerah ini yang bisa diusulkan untuk menjadi maestro.
Ali pun sempat diwawancara langsung oleh Pudentia di sebuah hotel di Tanjungpinang. Ternyata Pudentia sebelumnya sudah sempat dua kali melihat Ali menunjukkan kemampuan olah kata menjadi bait pantun. Pertama sewaktu digelar acara revitalisasi Budaya Melayu di Senggarang tahun 2005, dan kedua pada sebuah acara di Gedung Daerah, Tanjungpinang.
Setelah itu, Ali pun diminta Pudentia untuk unjuk kemampuan pada sebuah atraksi acara meminang pengantin dalam tradisi Melayu. Atraksi itu langsung di syuting oleh kru Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

***
ALI, pantun, dan acara perwkawinan adalah tiga bagian berbeda yang ternyata membentuk kesatuan dalam hidup lelaki lulusan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) Tanjungpinang ini. Nama Ali jadi berkibar sebagai “Laksemana Pantun” di Tanjungpinang karena kesatuan dari tiga hal tersebut. Tiap akhir pekan, Ali sulit dihubungi, karena mesti memainkan peran sebagai Penghulu Adat di sejumlah acara pernikahan. Penghulu Adat berperan sebagai orang yang mewakili mempelai wanita dalam perkawinan tradisi Melayu. Si Penghulu Adat akan menerima mempelai laki-laki dengan melontarkan sejumlah pantun.
Peran sebagai penghulu adat itu terjadi kebetulan saja dalam hidup Ali.
Ia masih ingat, waktu itu sekitar tahun 1970-an awal. Temannya, yang juga tetangganya, menikahkan anak perempuannya. Ketika mempelai laki-laki sudah hampir tiba, mendadak ternyata tukang pantung yang telah disiapkan mengundurkan diri. Maka sang teman pun memohon agar Ali yang menggantikannya. Dalam situasi darurat serta seperti tak diberi pilihan lain, Ali pun memberanikan diri menerima tawaran itu. “Saye waktu itu seperti bidang terjun, he-he-he,” katanya, terkekeh.
“Untungnya mempelai laki-laki waktu itu Orang Jawa. Jadi tak terlalu paham pantun,” kata Ali tersenyum, sambil mengenang kisah tiga dekade lalu. Maka Ali pun ambil ancang-ancang. “Buah cempedak di tepi pagar/Ambil galah tolong jolokkan/Saye ni budak baru belajar/Kalau salah, tolong ditunjukkan,” itulah pantun pertama yang diucapkan Ali dalam sebuah acara formal.
Ternyata yang punya hajat merasa cukup senang dengan Ali. Dan cerita kehebatan Ali berpantun tersebar dari mulut ke mulut. Mula-mula, ponakannya menikah. Ali pun diminta menjadi penghulu adat. Lalu saudaranya yang lain, hingag kemudian tetangga dan akhirnya masyarakat satu Tanjungpinang pun meminta bantuannya. Kini dalam sebulan, tak kurang dari 15 panggilan untuk menjadi Penghulu Adat dijalankan Ali.
Tapi justru peran itu membawa berkah rezeki tersendiri dalam hidup Ali. Ia pun membisikkan, berapa uang yang ia terima sebagai “honor” atas kemampuannya membawakan pantun dalam setiap acara perkawinan. Jumlahnya pun tidak sedikit, dan jauh lebih besar dari uang pensiun bulanan PNS yang diterimanya.
Tapi Ali tak memperdulikan persoalan honor. Baginya, itu merupakan kepuasan tersendiri, karena masih bisa memasyarakatkan pantun di zaman ketika globalisasi datang seperti tanpa bisa dilawan. “Anak-anak dan cucu-cucu saye saja sudah tidak bisa berpantun,” kata Ali, sedikit menerawang.

***
TANJUNGPINANG sekitar tahun 1950-an adalah Tanjungpinang yang akrab dengan pantun. Anak-anak sekolah bercanda gurau, saling mengejek, bahkan menembak gadis idaman dengan menggunakan pantun. Beda dengan kini. Mereka lebih akrab dengan mal, lagu top forty Amerika, film Hollywood, dan saban akhir pekan nonton sepak bola Liga Inggris.
Ali dibesarkan dalam buaian irama kata yang menghasilkan bunyi eksotis di tiap akhir baitnya. Ali berkisah tentang ibundanya tercinta. Ketika usia enam tahun, Emaknya akan menghantarkan Ali kecil tertidur dengan untaian kata yang dikemas dalam pantun dan syair. Semua itu kemudian tertanam dalam alam bawah sadarnya. Maka ketika ditanyakan kepadanya, mengapa hanya dalam hitungan detik ia sudah bisa menemukan kalimat untuk membalas pantun yangdilontarkan kepadanya, maka jawabannya adalah kenangan masa kecilnya. Emaknya menanamkan semua kemampuan itu ketika ia masih berada dalam buaian.
Selain itu, Ali juga melihat bahwa pantun yang menjadi bagian dari tradisi lisan mulai tersisihkan oleh seni sejenis, seperti puisi dan syair. Ali tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun tahun-tahun belakangan, ia melihat ada perkembangan yang berarti. Para pejabat di daerah ini mulai sering melontarkan pantun untuk mengakhiri pidatonya. Dan Ali pun kadang dimintai olehpara pejabat tersebut untuk membuat pantun sebagai pelengkap kata sambutan. Lumayan, kadang ia mendapatkan honor tak sedikit atas kemampuannya itu.
Itulah kisah Ali, sang maestro pantun yang kocak. Kalau seandainya nanti ia akan dinobatkan menjadi maestro pantun, maka obsesi Ali pun hanya satu: memasyarakatkan pantun. (trisno aji putra)

Senin, 31 Desember 2007

Senjakala Dunia Pariwisata Tanjungpinang

INILAH senjakala dunia pariwisata Tanjungpinang. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Tanjungpinang, terjadi penurunan angka wisatawan yang signifikan sejak tahun 2002 lalu.
Sepanjang 2004, angka kunjungan wisatawan asing ke Tanjungpinang mencapai 174.038. Lalu 2005, turun menjadi 141.339, dan turun lagi pada tahun 2006 menjadi 130.021. Dan tahun 2007 ini, seperti sudah bisa ditebak, terjadi lagi penurunan. Sampai pukul 14.00 WIB 31 Desember sore, Ketua PHRI Tanjungpinang Rudy Chua menjelaskan bahwa angka kunjungan belum sampai 120 ribu orang.
Mungkin, Anda yang sempat menikmati hidup di Tanjungpinang pada sekitar 1992-2002 lalu masih ingat, betapa surganya kota kecil ini bagi wisatawan asing. Apalagi pada dekade 1990-an, para backpacker, petualang dari seluruh kolong jagat, menjadikan Lorong Bintan sebagai daerah yang wajib mereka singgahi dalam traveling mereka dari Asia menuju Australia, ataupun sebaliknya. Lalu penghujung 1990-an, giliran wisatawan Singapura dan Malaysia yang mengembangkan budaya weekend saban minggu dengen plesiran di Tanjungpinang.
Bahkan saking seringa mereka berkunjung ke Tanjungpinang, tidak sedikit dari wisatawan itu yang akhirnya menikahi perempuan-perempuan yang mereka temukan di Tanjungpinang. Ringgit dan dolar Singapura pun mereka hamburkan saat menikmati Sabtu dan Minggu di Tanjungpinang.
Tapi itu dulu. Semua kisah surga pariwisata itu berhenti ketika pendulum waktu sampai pada 2002. Terakhir, angka kunjungan wisatawan asing tahun 2002 mencapai 197.508 orang. Sebelum 2002, angkanya jauh lebih tinggi, bahkan bisa melampaui di atas 250 ribu jiwa pertahunnya.
Rudy Chua yang juga pengelola beberapa hotel di Tanjungpinang ini masih ingat betul bagaimana pada era 1992-2002, seluruh kamar hotel terisi penuh tiap penghujung minggu. Bahkan tidak ada kamar yang diistirahatkan oleh pengelola hotel. Padahal jumlah kamar hotel di Tanjungpinang saat itu mencapai angka sekitar 1300 kamar. Bagi yang punya modal besar, mereka bangun hotel berbintang, sementara yang modal pas-pasan, membangun hotelk melati. Dunia perhotelan menmggeliat karena terimbas dari tingginya angka kunjungan wisatawan asing.
Tapi mari kita simak lagi data PHRI Tanjungpinang 2007. Bila pada masa emas 1992-2002 itu, dari 1300 kamar hotel, 90 persennya diisi oleh wisatawan asing dan 10 persennya lokal, kini justru terbalik. Hanya sepuluh persen wisatawan asing yang singgah di Tanjungpinang dan menginap di hotel. Sementara 90 persennya lebih mengandalkan tamu lokal. Untunglah pusat pemerintahan Kepri di pindah ke Tanjungpinang, sehingga banyak tamu lokal yang datang ke kota ini danmenginap di hotel. Selain itu, pengelola juga menyediakan jasa ruang pertemuan yang sering dipakai oleh Pemda untuk mengelar acara. Itu strategi mereka bertahan hidup saat ini. Selebihnya, tidak ada.
Maka dalam refleksi akhir tahun dunia pariwisata Tanjungpinang ini, PHRI menurut Rudy terus berharap ada mukjizat di tahun 2008. Mukjizat bukan untuk mengembalikan kejayaan dunia pariwisata Tanjungpinang seperti era 1992-2002. “Kalau penurunan angka kunjungan wisatawan asing ini bisa dihentikan, itu sudah lebih dari cukup,” kata Rudy berseloroh. Artinya, ia melihat, memang terlalu muluk untuk melihat Tanjungpinang akan dibanjiri wisatawan lagi, seperti pada era 1992-2002. Jadi, bisa dihentikannya laju penurunan angka kunjungan wisatawan tahunan saja, menurut Rudy sudah bisa membuat pengelola dunia pariwisata merasa cukup senang.
Rudy berusaha menghitung angka kasar, berapa besar kerugian yang harus diterima oleh Tanjungpinang akibat dari menurunnya angka kunjungan wisatawan ini. Berdasarkan data nasional, satu wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia rata-rata akan menghabiskan dana empat sampai enam juta. “Nah, untuk Tanjungpinang, kita ambil saja angka satu juta rupiah per satu wisatawan asing,” kata Rudy. Berarti, bila terjadi penurunan jumlah wisatawan sampai sekitar 80 ribu orang selang waktu lima tahun terakhir, Rudy menaksir, sudah ada sekitar Rp 80 milyar yang hilang. Itulah potensi dana segar yang lenyap dari Kota Tanjungpinang lima tahun terakhir. (trisno aji putra)

Sabtu, 29 Desember 2007

Waktu Menghentikan Mereka...

SEBENARNYA, malam itu adalah malam kecemasan. Melalui caranya sendiri, para seniman Kepri yang tampil di Gedung Aisyah Sulaiman, Tanjungpinang, Jumat (28/12) malam dalam kegiatan refleksi budaya akhir tahun yang digelar Dewan Kesenian Provinsi Kepri (DKPK), membahasakan kecemasannya.
Ada penyair-sastrawan Mahzumi Dawood, juga Teja, Iben, Akib serta lainnya yang membacakan syair. Juga ada pidato lepas dari Hoesnizar Hood, penyair yang kini menjabat sebagai Ketua DKPK. Mereka sampai kini masih setia menjaga amanah besar itu: menjaga kejayaan budaya Melayu.
Para penerus Raja Ali Haji itu sebenarnya kini tengah dihadapkan pada kondisi, ketika zaman yang cepat berubah membuat anak-anak muda Tanah Melayu mulai berlari dari budaya warisan zaman Riau-Linga dulu. Kini, mereka lebih akrab dengan sebuah budaya baru yang memang hadir dalam konteks zaman mereka: budaya massa yang mencari simbolisasi pada pola hedonisme dan konsumerisme.
Dulu, sekitar seabad silam, para pujangga, intelektual, penyair, seniman, dan lainnya berkumpul saban hari untuk bnerdiskusi tentang budaya dan kemajuan masyarakat. Terbentuklah Rusdiyah Club, sebuah klub yang dirintis oleh para pemikir dan budayawan di Pulau Penyengat, yang saat itu menjadi satu di antara pusat tamadun Melayu Kepri.
Dari tangan dingin anggota Rusdiyah Club itu, lahirlah ratusan, atau bahkan ribuan karya yang kini tercecer dan hanya sedikit yang kini masih bisa terselamatkan. “Dalam setahun, setidaknya seratusan karya mereka diterbitkan,” kata Hoesnizar, dalam obrolan santai di sela-sela berlangsungnya acara yang mengambil tema “Kataku, Bangsaku, Negeriku” itu.
Tapi kini, jumlah itu terus menciut. Bahkan ada masa ketika benar-benar tahun-tahun berlalu dengan karya yang bisa dihitung dengan jari. Sepanjang 2007 ini, menurut data dari DKPK, paling hanya ada belasan karya yang lahir. Memang ada yang membanggakan. “Mulai muncul penulis-penulis muda belia,” kata Hoesnizar lagi.
Tapi apakah ini cukup? Hoesnizar mencoba membandingkan antara angka ratusan dengan angka belasan itu. Padahal, zaman Rusdiyah Club dulu, lanjutnya, jumlah penduduk di wilayah Kepri paling hanya 200 ribu jiwa saja. Tapi kini, di tahun 2007 yang hanya melahirkan karya berjumlah belasan itu, jumlah penduduk membengkak sampai sekitar tujuh kali lipatnya. Ada sekitar 1,4 juta jiwa penduduk yang kini mendiami bumi Melayu Kepri.
Lantas di mana salahnya? Memang, seniman tidak bisa lahir lewat proses mekanik. “Orang yang kuliah di Fakultas Sastra saja belum tentu jadi penyair,” kata Hoesnizar. Seniman lahir dalam kesunyiannya masing-masing. Di tengah zaman yang semakin hingar bingar, mereka bekerja sendiri-sendiri, berbicara dengan kesunyian dan mengkritik hingar bingar zaman yang semakin bermusuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan itu.
Setiap zaman pasti memiliki senimannya sendiri-sendiri, dan setiap seniman, pasti memiliki kritiknya sendiri terhadap zaman itu. Hoesnizar percaya itu. Karenanya menciptakan seniman lewat proses mekanik ala mesin industrialiasasi hanya akan melahirkan seniman-seniman instan, yang cepat melejit, lalu segera hilang dalam proses pergantian waktu.
Tapi kemudian, masyarakat juga harus menciptakan pra kondisi yang nyaman bagi lahirnya Raja Ali Haji-Raja Ali Haji baru itu. Setidaknya, Hoesnizar percaya, apabila adanya gedung kesenian, digiatkannya lomba-lomba serta kurikulum pendidikan yang memberi porsi lebih bagi sastra dan budaya akan menjadi stimulan. “Juga, media pun harus berani untuk sedikit berkorban guna menyediakan ruang budaya,” katanya.
“Kita sekarnag sedang dalam proses back to the top, kembali ke puncak. Dulu, kita pernah berjaya, tapi kemudian terjatuh. Kini kita sedang bangkit.” Tapi sampai kapan? “Mungkin sampai 2020 nanti, kita akan back to the top,” demikian keyakinan Hoesnizar. (trisno aji putra)

Rabu, 26 Desember 2007

Hidup Tanpa "Byar-Pet" di Pedalaman

HAMPIR malam di Kampung Jibut, Desa Ekang Anculai, Kabupaten Bintan. Suyati menuju dapur di bagian belakang rumahnya. Dua buah kabel ia tancapkan di sebuah accu. Hanya beberapa detik berselang, lima lampu di beberapa ruangan rumahnya pun menyala. Ia tersenyum. “Sudah sembilan tahun saya menggunakan listrik tenaga surya ini,” kata wanita asal Pacitan, Jawa Timur, yang sejak muda sudah merantau ke Pulau Bintan itu.
Rumah yang ditempati oleh Suyati dan suaminya, Untung, itu memang berada di pedalaman. Untuk sampai ke sana, harus menempuh perjalanan sekitar 62 kilometer dari Tanjungpinang. Kemudian disambung lagi dengan melewati jalan tanah kecil yang meliuk-liuk membelah hutan bekas perkebunan gambir sejauh sekitar tujuh kilometer. Listrik belum masuk ke kampung itu. Lokasi kampung yang berada di pedalaman menyulitkan pembangunan jaringan listrik.
Tapi Sayuti tak patah arang. Ia berniat mengakhiri era lampu teplok di rumahnya dengan penerangan listrik sejak awal 1990-an. Dan niat itu kesampaian begitu ia memutuskan pulang ke kampung halamannya di Pacitan pada sekitar tahun 1998. Seorang saudaranya menyarankan agar ia membeli sebuah penampang listrik tenaga surya. “Saat itu saya membelinya seharga sekitar satu juta rupiah. Saya beli di Pacitan,” kata Suyati lagi.
Suyati berspekulasi saja. Yang ia yakini saat membeli penampang listrik tenaga surya itu adalah cara kerjanya yang mudah, sehingga kemungkinan besar tak akan menyulitkan ketika ia bawa ke Bintan.
Dan spekulasi Suyati ternyata berhasil. Sejak kembali ke Tanjungpinang pada tahun 1998 sampai akhir 2007 ini, penampang yang berukuran sekitar satu kali satu meter itu tak pernah rusak. Setiap malam, rumahnya pun mendapatkan penerangan lampu pijar. “Memang saya belum bisa menonton televisi warna. Penampang listriknya kecil. Jadi hanya bisa televisi hitam putih. Tapi tak apa, sudah cukuplah. Dari pada pakai lampu teplok,” katanya
Apa yang dilakukan Suyati ini sebenarnya sederhana saja. Tapi di balik itu, ternyata ia telah berhasil menciptakan kemandirian dalam mendapatkan sumber energi listrik alternatif. Kalau ia hanya menunggu dan berharap PLN memasang jaringan sampai ke kampungnya, pasti sampai saat ini Suyati masih mengandalkan lampu teplok sebagai penerangan rumahnya di malam hari.
Di Pulau Bintan, masih ada 11 ribu rumah tangga yang kini tengah berharap rumahnya dapat menikmati listrik. Pulau Bintan sendiri saat ini tengah mengalami krisis listrik. Berdasarkan data yang ada di PLN Tanjungpinang, total warga yang sudah masuk daftar tunggu untuk pemasangan baru jaringan listrik kini mencapai sekitar 11 ribu rumah tangga.
Asisten Manajer Pembangkitan PT PLN Cabang Tanjungpinang Taufik Eko W menjelaskan, daya yang dimiliki mereka saat ini hanya sekitar 35 megawatt. Sementara, sekitar pukul 18.00 WIB sampai 23.00 WIB, kalau menjelang malam, beban puncak yang harus ditanggung pembangkit listrik tersebut mencapai 32 sampai 34 megawatt. Daya yang berjumlah 35 megawatt tak bisa digunakan semuanya karena PLN harus menyediakan cadangan.
SEORANG rekan wartawan di Singapura beberapa waktu lalu bercerita, bahwa di negaranya, padamnya listrik selama beberapa jam saja telah menjadi headline surat kabar di sana. Lantas bagaimana dengan Kepri, yang sampai saat ini masih dihantui oleh krisis listrik berkepanjangan. Praktis hanya Batam saja yang luput dari hantaman krisis listrik. Sementra kabupaten/kota lain, justru masih menjalani era “byar pet”.
Kisah Suyati, warga pedalaman Bintan yang menggunakan energi listrik alternatif berbasis tenaga surya setidaknya dapat memberikan banyak inspirasi kepada warga Pulau Bintan dan Kepri. Wanita itu sudah menunjukkan bahwa kemandirian masyarakat adalah langkah praktis untuk mengatasi krisis listrik di Kepri. Andai masih banyak Suyati-Suyati lain, tentu warga Kepri dapat segera mengakhiri era krisis listriknya.
Hambatan yang dihadapi Suyati tak lain karena daya listrik yang dihasilkan dari penampang tersebut terlampau kecil, sehingga tak bisa mencukupi untuk menyetel televisi warna. “Tapi kalau mau dayanya besar, ya beli penampang yang lebih besar. Harganya memang lebih mahal,” katanya.
Apakah ini persoalan baru? Tentunya tidak. Sebab, setiap persoalan justru akan berubah menjadi peluang bila dilihat dari sudut pandang yang tepat. Kembali, kemandirian warga dituntut untuk menjadi jalan keluarnya. Dalam satu kampung, mereka dapat membentuk wadah yang beranggotakan beberapa rumah. Kemudian mereka membeli penampang listrik yang besar dengan cara patungan. Tentu harga yang harus ditanggung oleh tiap-tiap rumah tangga jadi tak terlalu besar.
Demikian, dari satu kampung, virus kebaikan itu akan terus menjalar ke kampung lain. Kemudian dari satu pulau, akan menjalar ke pulau lain. Hingga akhirnya warga Kepri bisa menikmati penerangan listrik berkat kemandirian mereka.
Lantas apa peran pemerintah daerah (pemda) dan PLN? Tentu pemda dan PLN punya porsi pekerjaan tersendiri, yang jauh lebih besar. Setidaknya ancaman yang paling nyata bila krisis listrik di Kepri ini tak bisa diatasi adalah mundurnya calon investor yang akan menanamkan modalnya di kawasan ini. Padahal kawasan Bintan bersama Batam dan Karimun (BBK) kini sedang dikaji oleh DPR RI untuk disahkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau lebih populer sering disebut special economic zone (SEZ).
Nah, pemerintah dan PLN tentu harus memikirkan solusi terkait masalah ini. Saat ini, PLN bersama Pemprov Kepri tengah melakukan kajian seputar wacana interkoneksi listrik Batam-Bintan. Konsekuensinya, akan diterapkan tarif regional. Artinya, tugas utama dari pemda dan PLN tak lain adalah memastikan ketersediaan listrik dalam jumlah besar, untuk mencukupi kebutuhan industri dan rumah tangga yang membutuhkan pasokan daya dalam jumlah besar. (trisno aji putra)





Minggu, 09 Desember 2007

Home Sweet Home


HIDUP kemudian adalah kumpulan perjalanan. Dan perjalanan selalu bermula dari sebuah kata: pergi.
Tapi setiap kepergian pasti akan menemukan jalan pulangnya sendiri. Orang-orang di dataran tinggi Tibet di awal permulaan hari melangkahkan kaki, meninggalkan rumah. Mereka yakin, bahwa setiap perjalanan jauh adalah sebuah bentuk dari penyucian diri tertinggi. “Perjalanan adalah upaya untuk penghapusan dari dosa yang melekat dalam setiap denyut nadi, mengalir bersama darah,” begitu keyakinan mereka.
Tapi pada akhirnya mereka akan pulang. Setelah puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kilo meter mereka berjalan, mereka tetap akan pulang. Bahwa penyucian dosa mungkin bisa dilakukan bertahap, kita tidak tahu. Sebab itu adalah wilayah Zat Maha Suci yang mungkin tak bisa kita tafsirkan dengan logika manusia yang serba terbatas. Tapi mereka pulang untuk kemudian pergi lagi. Dan pergi lagi untuk kemudian pulang. Begitu seterusnya, sampai akhirnya waktu menghentikan langkah mereka. Orang-orang di dataran tinggi Tibet terus melakukan itu, bahkan sejak puluhan, ratusan, atau ribuan tahun lalu.
Dan setiap kepulangan kemudian berarti adalah rumah….
Sebuah rumah kecil di kaki bukit, beratap jerami berpagar anyaman, atau sebuah rumah terakhir berbatu nisan putih, tetap adalah sebuah rumah. Rumah tempat setiap pejalan akan kembali, beristirah, menghitung langkah, dan mungkin meratapi kesalahan.
Setiap kita pasti akan sampai di rumah. Dan setiap petualang pasti akan merindukan pulang. Tawa, canda, kehangatan dari orang-orang terkasih; cangkul, parang dan ilalang; sinar cahaya tipis dari lampu teplok yang tergantung di pojok ruangan; atau bisa juga tumpukan buku berdebu yang yang belum terselesaikan dibaca. Atau lainnya. Tapi semua itu adalah alasan yang membuat setiap kita pasti merindukan rumah.
Adalah rumah yang kemudian membuat kita akan menjadi “ada”. Industrialisme yang berpangkal dari kapitalisme kemudian melahirkan sikap individualistik. Kita kemudian memang pernah mengutuk, mengapa harus hidup dalam zaman yang teramat sinis ini. Dalam zaman ketika tetangga hanyalah sebuah penanda, bahwa di samping rumah kita bukanlah tanah kosong, melainkan rumah orang lain.
Kemudian manusia diterjemahkan menjadi sekedar sekumpulan objek untuk mendatangkan laba. Maka kemudian orang-orang pun berjalan dengan kepala tertengadah.
Dan seorang wanita muda di dataran tinggi Tibet pernah berkata kepada Heinrich Harrer, “Yang membedakan ‘kami’ dengan ‘kalian’ adalah bahwa ‘kalian’ selalu melihat ke atas. Sedangkan ‘kami’ sebaliknya.”
Tujuh tahun Heinrich menghabiskan hidupnya untuk sekedar menaklukan Mount Everest, puncak tertinggi di Himalaya. Dan ia mencatat dengan baik setiap detik yang terlewati di tempat itu, dalam sebuah buku harian kusamnya. Di buku itu kemudian tertulis bahwa Heinrich ternyata selama tujuh tahun itu tidak pernah berhasil menjejakkan kakinya di Puncak Everest, yang berada pada ketinggian lebih dari delapan ribu kaki dari permukaan laut.
Tapi Heinrich ternyata mampu menjejakkan kakinya di puncak yang lebih tinggi dari sekedar Puncak Everest: sebuah puncak kearifan dalam memandang hidup. Tujuh tahun setelah itu ia pulang dengan sebuah kesadaran, sebuah kesadaran yang ia temukan dari tuturan perempuan muda Tibet itu.
Lelaki Jerman itu kemudian berdamai dengan kenyataan. Ia yakin bahwa setiap kepergian pasti berarti pulang, dan setiap petualang pasti selalu merindukan rumah. Ia bisa melawan dinginnya salju di kaki Himalaya, ia juga bisa melawan kelaparan yang berlangsung di sepanjang jalan. Tapi satu hal yang tak bisa ia lawan adalah kerinduannya untuk pulang: memeluk bocah lelakinya yang bahkan belum pernah ia lihat sejak terlahir ke dunia. Heinrich meninggalkan rumah ketika usia kandungan sang mantan istrinya sudah berusia empat bulan.
Hidup kemudian terkadang sekedar kumpulan kisah sedih yang berakhir dengan kebahagiaan abadi. Tapi ada jurang terjal di setiap tikungan yang siap mengintip, dan kerikil-kerikil tajam yang melukai hati. Heinrich pulang untuk mendapati bahwa satu-satunya anak lelaki yang dilahirkan dari rahim mantan istrinya itu bahkan tak kenal dengan dirinya. Yang diketahui bocah itu, berdasarkan kisah ibunya, bahwa ayahnya sudah meninggal di dataran tinggi Tibet sewaktu hendak menaklukan Himalaya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Heinrich untuk meyakinkan sang bocah, bahwa ia adalah sang ayah biologisnya. Seperti bisa diduga pada akhir film “Seven Years in Tibet” yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Heinrich Harrer itu, ia berhasil mengajak sang buah hati mendaki Puncak Everest, tetapi bukan untuk menaklukannya, melainkan sekedar mencari kearifan hidup...