Senin, 04 Agustus 2008

Kijang, Dulu dan Sekarang (1)



Kota yang Berawal dari Penggalian Bouksit

KOTA Kijang dan bouksit adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Cerita orang-orang tua di sana, Kijang hanya berawal dari pemukiman lima keluarga di Kampung Tun Tan, atau lebih dikenal dengan istilah Dapur Arang. Tapi kemudian, 1924, penjajah Belanda dengan semboyan gold, glory and gospel, mendaratkan ekpedisi pertama di daerah ini untuk mencari timah. Bagaimana ekspedisi itu kemudian menemukan “emas kuning”, kisah ini akan dituliskan secara bersambung.

MESIN tik tua buatan tahun 1970-an di ruang tamu rumah bercat kuning itu sudah mulai berdebu. Ada tumpukan kertas dan buku di sampingnya, yang juga tak kalah berdebu. Pemiliknya, Abdul Muin Husin (69) sesekali duduk di belakang mesin tik itu, sekedar membaca tumpukan buku, atau juga mengetik.

Muin, sapaan ayah dari enam anak dan kakek dari 19 cucu itu masih menyimpan semuanya. Ia tidak asli penduduk Kijang, tapi diingatannya, sejarah tentang kota yang kini menjadi pusat pemerintahan sementara Kabupaten Bintan itu tersimpan rapi. Kijang boleh saja terus berbenah, bahkan berlari kencang, dari sebuah kota kecamatan menjadi kota sedang dengan pabrik dan toko serba ada yang menghiasi sudut-sudutnya.

Tapi di mata Muin, Kijang tetaplah sebuah kota yang berawal dari sebuah tim ekpedisi Belanda untuk mencari timah di utara Pulau Bangka. Kisah itu semua bermula tahun 1920. Sebuah perusahaan Belanda yang mengeruk timah di Pulau Belitung, NV. GMB terus melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya kandungan biji timah di pulau-pulau yang berada di sebelah selatan Semenanjung Melaka. Dari berbagai kontak dengan penduduk setempat, termasuk di pulau Lingga, Singkep dan Karimun, diperoleh kabar positif. Karena itu penelitian pun dilakukan, termasuk sampai di Bintan.

“Tahun 1924 NV GMB mengirimkan tim ekpedisi,” tutur Muin, yang kini juga bergiat di Dewan Kesenian Kabupaten Bintan sebagai Ketua Bidang Seni dan Budaya. Pendaratan tim itu dilakukan di Kampung Tun Tan, yang masuk wilayah Sungai Enam Lama. Di kawasan ini selanjutnya berdiri tempat-tempat pembuatan arang dari kayu bakau yang diekspor ke Singapura. Karena itu kawasan ini kemudian dikenal dengan sebutan Dapur Arang.

Dalam penelitiannya tentang kandungan di perut bumi Bintan itu, tim menurut Muin menginap di rumah penduduk. Seorang penduduk, Amat S, cucu Lebai Idris, yang rumahnya juga ditumpangi pimpinan rombongan, akhirnya diajak bergabung dalam tim. Amat diajak bergabung karena diperlukan tenaganya sebagai penunjuk jalan. Dari Amat lah kemudian satu persatu sejarah itu terjadi.

Pertama sekali, Amat membawa rombongan menyeberang Sungai Kalang Tua dan menyusur jalan setapak menuju Sungai Kolak. Bunga Kolak yang tumbuh di sepanjang sungai akhirnya ditabalkan sebagai nama sungai itu oleh penduduk setempat. Sejak itu, kemudian kawasan di sekitar sungai itu pun dinamakan Sungai Kolak. “Itu sebelum diubah namanya menjadi Kijang,” kata Muin.

Setelah itu tim mendirikan barak-barak darurat di tepian sungai dan melakukan serangkaian penelitian topografi, pembuatan sumur uji, dan pengambilan sampel. Sample kemudian dikirim ke Belitung, yang waktu itu masih dilafalkan Billiton. Hasil penelitian di laboratorium NV GMB Billiton itulah yang akhirnya menyatakan bahwa kandungan perut bumi Bintan bukanlah timah, melainkan bouksit, yang jumlahnya mungkin bisa untuk membuat panci di dapur-dapur puluhan juta rumah di Eropa. (trisno aji putra/bersambung)

Senin, 21 Juli 2008

Siang, Lembah, Bukit dan Pepohonan

SETIAP melihat deretan perbukitan itu, aku selalu teringat pada lembah di kakinya. Tak ada kumpulan pohon yang tumbuh, kecuali semak belukar saja. Ada satu dua rumah, tapi tak ada petani.

Dulu, hijaunya pepohonan adalah kesejukan ketika memandang di sepanjang siang yang terik. Tapi kini, satu persatu pohon hilang. Orang-orang menyebut lembah itu sebagai tempat tak bernama. Dan jalan kecil yang menghubungkan ke lembah itu, disebut Jalan tak Berujung.

Aku lewat situ siang tadi. Membawa Luqmaan kecil dan ibunya. Aku melihat kehidupan terus berlangsung. The Show Must Go On. Whatever would be happen, the live never turning back.

Dari kaca spion, aku melihat kedua bola mata Luqmaan. ada telaga teduh yang ia simpan. Telaga, yang kepada siapa melihatnya, akan mendapatkan kekuatan keteduhan. Sepuluh bulan usianya kini, ia sudah mulai mencoba untuk berdiri. Kakinya masih rapuh. Tapi semangatnya terus tumbuh. Aku melihat di telaga kecil di bola matanya, bahwa ia masih terus berjuang untuk melangkah, dengan kaki rapuhnya. Ia menyimpan telaga itu. Dan aku selalu datang kembali untuk melihat telaga itu, menyelaminya, dan mengambil titik titik keteduhan dari dalamnya....

Kamis, 22 Mei 2008

Pendaratan di Tanjunglelan…

MEREKA adalah orang-orang yang dicintai oleh laut. Orang biasa mungkin harus sampai muntah kuning saat mengarungi laut sejauh 1300 mil mengitari gugus-gugus pulau di Kepri. Tapi mereka, para awak kapal navigasi itu, justru mengisi waktu senggang di perjalanan dengan memancing, main catur, juga main domino. Inilah kisah perjalanan menempuh gelombang Laut Cina Selatan bersama Kapal Negara (KN) Adhara.

MATAHARI masih tepat di atas kepala ketika KN Adhara mulai mendekati Tanjunglelan, sebuah daratan yang menjorok ke laut di selatan Pulau Jemaja, Kabupaten Natuna. Ombak berada pada ketinggian dua sampai tiga meter terus menghantam badan kapal. Sementara air laut jernih yang berada di bawah menunjukkan gugusan karang laut dengan aneka warna.

Tak ada pilihan lain saat itu bagi para staf Distrik Navigasi Tanjungpinang, kecuali harus segera menurunkan pompong. Tak ada dermaga tempat bersandar kapal di Tanjunglelang. Jarak 200 meter, KN Adhara harus lego jangkar.

“Oke, kita turun,” kata Herman Pattiasina, pimpinan rombongan. Sehari-hari ia menjabat sebagai Kepala Seksi (Kasi) Operasional Sarana dan Prasarana di Kantor Distrik Navigasi Tanjungpinang. Tapi dalam perjalanan itu, lelaki yang akrab dipanggil “Kep” (kependekan dari captain, atau kapten) oleh para anak buah kapal (ABK) itu berperan sebagai pimpinan rombongan.

Pompong bercat merah dengan panjang empat meter itu pun diturunkan dari geladak KN Adhara. Satu persatu kami melompat. Laut yang terus bergelora membuat hati tak nyaman. Pompong tak bisa merapat ke badan KN Adhara karena terus menerus dipukul gelombang.

Setelah lima pegawai Distrik Navigasi berturut-turut melompat ke pompong, kapal kayu itu pun mulai bergerak pelan menunggangi gelombang menuju pasir pantai Tanjunglelang. Berkali-kali Herman yang duduk di bagian belakang pompong meminta Polala, seorang stafnya yang berdiri di depan untuk melihat karang di dasar laut. “Kalau mesin pompong ini menabrak karang, celaka kita. Sulit kembali ke kapal lagi,” kata Herman.

Perjalanan sekitar 200 meter itu terpaksa ditempuh selama 15 menit. Berkali-kali pompong berbelok, bergerak lincah di antara gelombang, menghindari karang. Setelah tamparan gelombang yang kesekian, akhirnya kaki-kaki kami berhasil menginjak pasir putih Tanjunglelan. Tak ada kehidupan di tanjung itu. Hanya ada tebing, keheningan, dan dua buah gubuk yang sudah bocor. Dulu mungkin ada penduduk Jemaja yang sempat berkebun di tempat itu.

Di ketinggian sekitar 200 meter dari tebing, ada sebuah rambu suar yang dipasang oleh Navigasi. Rambu ini menjadi penunjuk arah sekaligus penanda pada nakhoda kapal yang mengarungi Laut Cina Selatan di malam hari. Total, untuk wilayah Kepri, terdapat 112 tanda suar. 57 unit di antaranya adalah rambu suar. Sedangkan 24 unit lainnya adalah menara suar, dan 31 unit lagi berbentuk pelampung suar. Berbeda dengan menara suar, rambu suar sama sekali tidak memiliki penjaga.

Pendaratan di Tanjunglelang dengan tingkat kesulitan seperti itu ternyata menjadi santapan rutin awak Distrik Navigasi Tanjungpinang. Setiap tahun, dua kali mereka harus singgah di tempat tersebut. “Tingkat kesulitannya baru 10 persen saja,” kata Herman. Ada lagi yang lebih sulit, yakni pendaratan menuju Menara Suar di Tanjungsekatung, sebuah pulau terluar RI yang masih masuk wilayah Natuna. Di tempat itu, bahkan kapal kadang tidak bisa merapat. “Kami terpaksa mengirimkan suplai makanan dengan melemparnya ke laut. Makanan kami ikat dengan tali. Setelah itu kita berenang menuju pantai,” lanjut Herman yang 20 tahun dari 46 tahun usianya dihabiskan di laut itu. (trisno aji putra/bersambung)

Selasa, 20 Mei 2008

Cara Laut Berkenalan...

Terhitung baru tiga jam kami berada di atas geladak KN Adhara, satu dari dua unit kapal milik Distrik Navigasi Tanjungpinang. Laju kapal masih di bawah kecepatan sembilan knot. Semua terasa biasa-biasa saja saat kami melintasi perairan Selat Kijang.
Tapi lepas tiga jam pertama perjalanan yang dimulai lepas adzan maghrib Kamis (15/5) pekan lalu itu, tiba-tiba keadaan berubah tak nyaman. Pulau Merapas, yang menjadi pulau terakhir sebelum KN Adhara mengarungi gelombang Laut Cina Selatan menuju Pulau Jemaja, Natuna, sekaligus menjadi penanda tak bersahabatnya laut di pertengahan Mei itu.
Gelombang di musim angin selatan memang masih di bawah ketinggian tiga meter. Tapi alur yang membuat kapal besi itu menjadi tak nyaman dinaiki. Gelombang yang menghantam haluan membuat kapal terus menerus oleng, bergoyang-goyang tanpa henti, seperti ayunan yang tak pernah berhenti bergerak.
Maka kemudian, 19 dari 20 jam perjalanan menuju Jemaja itu pun harus kami lalui dengan berbaring, menghindari mabuk laut. Ah, laut kadang punya caranya sendiri untuk berkenalan dengan manusia.....

Senin, 19 Mei 2008

Perjalanan ke Timur Laut (2)

Cukong dari Singapura Buru Barang Antik

JEMAJA ternyata cukup digambarkan dengan tiga kata saja: barak-barak bekas pengungsi Vietnam, sendratari gubang, dan tumpukan harta karun yang tertimbun di pasir putih Pantai Melang. Selebihnnya, Jemaja tak ubahnya seperti gugus pulau-pulau yang dulu dikenal dengan sebutan Pulau Tujuh: perkampungan nelayan di tepi pantai, pelaut-pelaut tangguh, dan ombak yang menggulung sampai lima meter di musim angin utara.


Karena tiga kata itulah nama Jemaja pun mengglobal ke seantero Asia Tenggara. Bagi orang-orang di Vietnam, Jemaja adalah kenangan masa lalu mereka. Kala itu, pendulum waktu masih bergerak di angka sekitar tahun 1975. Ribuan, bahkan puluhan ribu orang-orang Vietnam yang tidak sepakat dengan rezim yang berkuasa nekat kabur lewat jalur laut dari negeri itu.

Mereka menuju negeri di selatan, Australia. Dari kabar yang mereka terima samar-samar, hidup di Australia lebih bebas. Naik perahu kayu, mereka pun menuju negeri di selatan. Tapi negeri yang dituju itu teramat jauh. Sementara daratan pertama yang mereka temui dalam perjalanan itu adalah Jemaja. Banyak pelarian Vietnam saat itu berpikir untuk menetap di Jemaja saja, karena mereka menganggap yang penting sudah lepas dulu dari cengkeraman rezim yang berkuasa.

Dari satu perahu, kemudian diikuti perahu lain, hingga jumlah pastinya semakin tak terdata. Dari satu keluarga, kemudian Jemaja dihuni sampai ribuan keluarga Vietnam. “Jumlah mereka lebih banyak dari pada jumlah penduduk Jemaja sendiri,” kata Thamrin, seorang warga Jemaja.

Kondisi kehidupan di Jemaja zaman pelarian Vietnam itu masih lekat dalam ingatan Thamrin. Namun seiring bergurlirnya waktu, pengungsi itu setelah dibawa ke Pulau Galang, kemudian dikembalikan ke negaranya. Kini tak ada yang tersisa, kecuali puing-puing barak. Tapi Thamrin masih menyimpan peninggalan yang tersisa dari pelarian Vietnam itu. “Beberapa masyarakat Jemaja sampai kini masih bisa berbahasa Vietnam,” kata lelaki yang sehari-hari bekerja membuka bengkel di Letung ini.

Sewaktu Vietnam masih ramai di Jemaja, Thamrin melihat peluang ekonomi. Sehari-hari ia berjualan makanan keliling barak. Ia pun melakukan kontak dan belajar bahasa mereka. Zaman itu, orang-orang Jemaja ada yang kaya mendadak. Sebab, saking mungkin sudah sangat kelaparan, ada orang Vietnam yang rela menukarkan seuntai kalung emas dengan sebungkus nasi.

Keramik Dinasti Song

Kisah tentang pelarian Vietnam itu melengkapi satu lagi daya pikat Jemaja di mata orang-orang di Asia Tenggara. Bagi orang di Malaysia maupun Singapura, Jemaja mereka kenal sebagai surga barang antik. Cukong-cukong benda-benda antik dari kedua negeri jiran itu kerap mendatangi pulau yang terpisah sekitar 20 jam perjalanan laut naik kapal besi dari Tanjungpinang ini.

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Jemaja Andrin Ali Muhammad adalah seorang saksi dari bagaimana kegigihan para pemburu harta karun itu di Jemaja. Tersebutlah sebuah pantai di utara Jemaja. Orang-orang memberikan nama pantai yang sejauh mata memandang hanya hamparan pasir putih itu dengan sebutan Pantai Melang. Kini pantai itu menjadi objek wisata bagi orang Letung, karena hanya 15 menit jarak tempuhnya dari kota kecamatan itu.

Pantai itu kini memang hanya tempat rekreasi. Tapi sampai sekitar tahun 1960-an, pantai itu dikenal sebagai tempat penemuan keramik-keramik kuno. Banyak penggalian yang dilakukan di sana. Dari beberapa keramik yang pernah ditemukan Andrin, di antaranya ada yang menunjukkan bahwa benda-benda bernilai jual tinggi itu ada yang dibuat pada zaman Dinasti Ming, yang diperkirakan berkuasa di Cina sekitar periode tahun 1368-1644. “Tapi ada juga pernah saya temukan keramik yang berasal dari zaman Dinasti Song,” kata Andrin lagi.

Kalau lah benar demikian adanya, maka usia keramik yang ditemukan di Pantai Melang itu sudah cukup tua. Sebab berdasarkan catatan sejarah, Dinasti Song sendiri berkuasa sekitar tahun 960-1268. Berapa banyak keramik yang tersimpan di dasar pasir Pantai Melang, belum ada yang menghitung. Tapi, Serain, seorang warga Letung memberikan ilustrasi. Di zaman ketika ia masih bersekolah SMP, sekitar akhir dekade 1960-an, ia sering mengunjungi Pantai Melang. “Kalau kita menginjakkan kaki di pasir, seperti ada suara gema. Artinya di sepanjang pasir pantai itulah terkubur keramik-keramik tua itu,” kata Serain.

Tak hanya keramik tua saja yang tersimpan di Pantai Melang. “Juga ada emas batangan, mahkota dan lainnya,” kata Serain. Penduduk setempat pernah menemukan itu. Diperkirakan, emas batangan ini adalah simpanan para bajak laut yang zaman dulu kerap melintas perairan lepas pantai Jemaja.

Dari mana keramik itu bersumber? Andrin memperkirakan, keramik itu berasal dari kapal-kapal yang karam di sekitar lepas pantai Jemaja. Pantai Melang yang menghadap ke utara, persis berada di jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Cina di utara dengan Jawa di selatan.

Lantas bagaimana perburuan benda-benda antik itu? Andrin berkisah bahwa ia beberapa kali didatangi tamu asing yang tak dikenal. Di antaranya ada yang mengaku dari Jakarta, Singapura maupun Malaysia. Pernah ada seorang cukong benda antik dari Singapura yang mau membeli keramik kuno berbentuk vas bunga setinggi 30 sentimeter dengan harga 60 ribu dolar Singapura (atau Rp 390 juta dengan kurs Rp 6.500 per dolarnya).

Itulah Jemaja, pulau yang masuk dalam gugusan Pulau Tujuh. Banyak kisah tua yang pernah berlangsung di sana. Namun setelah semua kisah itu berlalu, ekonomi Jemaja ternyata masih bergerak pelan. Orang-orang Jemaja kini tengah sibuk berbicara tentang pembentukan Kabupaten Anambas, dari pada mengingat pelarian Vietnam maupun benda-benda kuno. (trisno aji putra)

Perjalanan ke Timur Laut (1)

Letung, Saksi Bisu Kepunahan Bahasa Jemaja

SEMUA itu sudah samar dalam ingatan Serain (49). Hanya beberapa kosakata yang masih diingatnya, itu pun warisan cerita ibunya dulu. Orang-orang Letung itu kini adalah saksi bisu punahnya Bahasa Jemaja, sebuah bahasa yang pernah menjadi alat komunikasi di pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Natuna itu.

HAMPIR malam di Letung, ketika Kapal Negara (KN) Adhara yang kami tumpangi merapat di dermaga. Orang-orang Letung sudah menunggu di tepian, membawa sepeda motor. Mereka mengantarkan kami satu persatu ke perkampungan penduduk yang memanjang sekitar beberapa kilometer di tepian pantai.

Di Letung, orang masih belum menjadikan uang sebagai falsafah hidup tertinggi. Kami dijemput sepeda motor dan diantar sampai tujuan dengan gratis. Bahkan seorang tokoh pemuda setempat, Zulfahmi, tak keberatan mengantar kami sampai ke rumah Andrin Ali Muhammad (58), Ketua Lembaga Adat Melayu Kecamatan Jemaja, Kabupaten Natuna.

Setumpuk data sudah ada di meja Andrin sewaktu kami datang. Lelaki bertubuh gempal itu membangun rumah di pelantar, menjorok ke laut. Angin sore, senja yang mulai turun di barat Jemaja, serta sebuah keakraban menemani pembicaraan kami.

Andrin adalah seorang pencari. Puluhan tahun dari hidupnya dihabiskan untuk melihat, mendengar dan mencatat. Di balik rambutnya yang sudah memutih itu, tersimpan ratusan, bahkan ribuan data tentang Jemaja, tanah kelahirannya. Ia berkeliling seluruh Jemaja, berbicara dengan ribuan orang, dan mencatat begitu banyak peristiwa yang nyaris terlupakan.

Orang-orang yang terlahir dalam zaman Pentium IV kini mengalami masalah ingatan. Banyak kearifan lokal yang sudah mulai terlupakan karena ketidaksediaan untuk mengingat itu. Satu di antara catatannya tentang masalah kealpaan itu juga terjadi di Pulau Jemaja. Sampai sekitar tiga generasi lalu, di pesisir timur Jemaja, orang-orang Jemaja masih punya bahasa sendiri, yang berbeda dengan bahasa Melayu yang mereka gunakan kini.

Namun kini, mungkin hanya Andrin, Serain, dan segelintir orang tua di Jemaja yang masih ingat tentang bahasa itu. Itu pun hanya beberapa kosakata saja. Tapi mereka pun sudah tak mampu lagi merangkai kata itu menjadi kalimat. Maka bahasa Jemaja pun punah bersama kealpaan ingatan itu.

“Bahasa ini diucapkan oleh orang-orang di Jemaja Timur. Tepatnya di David,” kata Andrin. David yang dimaksud oleh Andrin bukanlah nama tokoh cerita rakyat Timur Tengah yang berhasil mengalahkan Goliath. David adalah nama perkampungan, yang karena pemekaran kecamatan, kemudian dijadikan sebagai ibukota Kecamatan Jemaja Timur.

Tercatat, memang kampung-kampung tua di Jemaja awalnya berada di Jemaja Timur, di daerah sekitar Ulu Maras. Kampung tertua di pulau yang kini berpenduduk sekitar sepuluh ribu jiwa itu adalah Kampung Ulu Maras. Namun dalam perkembangannya kemudian, persebaran penduduk justru lebih mengarah ke Letung, yang berada di pesisir. Kini Letung menjadi bandar kecamatan teramai di Kecamatan Jemaja.

Tak Berbekas

KAMI berusaha melakukan penelusuran untuk menggali sisa-sisa bahasa Jemaja yang mungkin sudah punah itu. Sepanjang jalan, kami mencari anak-anak muda yang berasal dari Jemaja Timur. Tapi tak satu pun dari mereka mengerti bahwa sempat tumbuh sebuah bahasa yang kini punah di tanah kelahiran mereka itu. Hampir semua dari mereka hanya menggeleng ketika kami tanyakan tentang bahasa Jemaja.

Andrin sendiri tak banyak mencatat kosakata bahasa Jemaja tersebut. Namun menurutnya, bahasa itu sekilas kedengaran seperti menyingkat kalimat bahasa Melayu. Seperti misalnya untuk menyebutkan kalimat, “mau ke mana?”, orang-orang Jemaja tempo dulu hanya mengucapkan, “nak kemar?”. Atau misalnya untuk kalimat membenarkan sebuah pernyataan seperti, “iya juga.” Orang-orang Jemaja dulu mengucapkannya hanya, “iye ga.”

Pencarian itu akhirnya mempertemukan kami dengan Serain. Lelaki asli Letung yang kini bekerja di Kantor Navigasi Kelas I Tanjungpinang itu sebenarnya adalah teman seperjalanan di KN Adhara. Di sepanjang jalan, Serain banyak bercerita tentang kampungnya. Dari mulai eksotisme Pantai Melang, kehidupan pengungsi Vietnam di Jemaja, sampai keramik-keramik kuno peninggalan zaman dinasti-dinasti kerajaan Tiongkok dulu. Tapi tak satu pun cerita itu mengarah pada bahasa yang telah punah itu.

“Saya tak tahu banyak. Hanya cerita ibu saya, dulu memang ada bahasa itu,” kata Serain, sewaktu kami mengobrol di buritan kapal, dalam perjalanan pulang ke Tanjungpinang. Di antara kosakata bahasa itu yang masih diingat Serain adalah seperti man sebagai pengganti penyebutan orang pertama, saya. Atau misalnya kata camce untuk menyebut sendok, belek untuk menyebut botol, dan kehawe untuk menyebut kopi.

Satu kosakata lagi yang masih diingat oleh Serain adalah penyebutan tentang waktu. Bahasa Jemaja itu hanya mengenal penyebutan masa lampau sebetas tiga hari yang lalu saja. “Mereka bilang tiga hari lalu itu dengan kata marenti,” kata Serain. Lebih dari itu, Serain sudah tak ingat lagi kosakatanya.

Masuknya Pengaruh Luar

PARA ahli linguistik memperkirakan bahwa dalam setahun, ada sekitar sepuluh bahasa di dunia ini yang punah. Kepunahan sebuah bahasa itu karena tidak didukung jumlah masyarakat pengucapnya. Jika memang pandangan ini benar, maka bisa jadi Bahasa Jemaja adalah satu dari sepuluh bahasa yang punah setiap tahunnya itu.

Baik Andrin maupun Serain sependapat bahwa faktor utama kepunahan Bahasa Jemaja itu karena semakin kuat masuknya pengaruh luar. Sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt, pulau-pulau terpencil berhasil dijelajahi manusia. Termasuk Pulau Jemaja. Kontak dengan dunia luar pun terjadi, yang menyebabkan masuknya budaya luar. “Sekarang banyak anak-anak sini yang merantau ke luar, dan orang luar pun banyak datang kemari,” kata Serain.

Namun, seorang kawan di Tanjungpinang punya pendapat lain tentang punahnya bahasa Jemaja itu. “Saya menduga bahwa itu hanya merupakan dialek dari bahasa Melayu saja. Artinya bukan bahasa yang berbeda dengan bahasa Melayu,” kata Ari Sastra, jebolan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.

Faktor iklim, geografis, sosial budaya adalah sejumlah penyebab terjadinya perubahan dialek dalam sebuah bahasa. “Buktinya, orang-orang Letung saja masih paham dengan arti kalimat mereka,” kata Ari lagi. (trisno aji putra/bersambung)

Sabtu, 17 Mei 2008

Di Tanjunglelan, Natuna....



Tak ada kehidupan, hanya ombak, tebing, pasir putih, dan terik matahari....Waktu seperti berhenti di sini....Kawan-kawan, nanti akan kutuliskan kisah perjalanan ke Timur Laut ini dalam blog ini.....Sepanjang jalan, aku hanya memungut gelombang.....