Sabtu, 17 Mei 2008

Perjalanan ke Timur Laut



KAKI-kaki rapuh kami akhirnya bisa melangkah di atas pasir Tanjunglelan, Pulau Jemaja...tak ada kehidupan, kecuali panas yang menyengat, juga ombak yang masih sekitar tiga meter. Angin selatan memukul pantai, dan kami pun melanjutkan perjalanan terus ke timur laut...

Minggu, 11 Mei 2008

Perjalanan ke Selatan

PULAU Penaah adalah tempat persinggahan para bule yang berkonvoi naik yacht dalam perjalanan mereka dari Singapura menuju Bali. Inilah pulau yang menjadi surga bagi nelayan. Jutaan ikan di sana membuat para pemancing dari berbagai penjuru jagat yang datang seperti mengail ikan di dalam kolam.

ORANG-orang Penaah sudah kumpul di tepi lapangan sepakbola ketika kami sampai. Mereka duduk, jongkok, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Jumlah mereka seratusan orang. Sudah berjam-jam mereka menunggu di pinggir lapangan. Bukan laga sepakbola antar kampung yang mereka tunggu. Tapi sebuah helikopter yang ditumpangi oleh Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang mereka tunggu.

“Kami belum pernah lihat helikopter,” kata seorang warga di tepi lapangan. Dan sekitar pukul 16.00 WIB, sebuah helikopter berwarna biru langit milik TNI AL meraung-raung di atas langit Penaah. Sebagian warga yang sudah menjauh untuk berteduh di pohon kontan berhamburan. Bocah-bocah kesil terselip di antara mereka yang berhamburan mendekat itu.

Bagi mereka, helikopter kemudian benda ajaib tercanggih yang pernah singgah di pulau dengan penduduk sekitar 371 orang. Begitu Ismeth turun para bocah berdiri di tepi jalan semen seluas satu setengah meter yang menghubungkan lapangan sepakbola dengan panggung tempat pembukaan acara Lingga Fishing Festival (LFF) 2008. Tapi baru beberapa detik Ismeth berlalu melewati jalan semen itu, para bocah kembali berhamburan, menuju lapangan bola, menjauhi panggung. Mereka mengelilingi helikopter dan memandangnya sampai berjam-jam. Gadis-gadis kampung yang sudah punya ponsel kamera asyik berpose dengan latar belakang benda ajaib yang punya baling-baling itu. Sementara pemuda kampung, dengan santai baring-baring di bawah pohon di tepi lapangan, sambil terus menatap helikopter itu.

Rupanya, persiapan penyambutan helikopter itu sudah dilakukan sejak sekitar satu bulan lalu. Warga kampung dengan sukarela membersihkan lapangan. “Kami juga tadi pagi tabur beras kencur di lapangan,” kata seorang warga lainnya. Mereka khawatir, helikopter canggih itu akan diganggu oleh makhluk halus yang terkenal ada di sekitar pulau yang luas kelilingnya hanya sekitar 1,3 kilometer itu.
Tapi jerih payah sebulan penuh itu terpuaskan sore itu. Benda yang hanya pernah mereka saksikan di film-film action Hollywood, sore itu singgah di kampung mereka juga. Hampir petang, helikopter itu terbang kembali meninggalkan kampung mereka dengan diiringi lambaian tangan bocah-bocah kampung.

Tapi lepas dari persoalan helikopter, sore itu, bocah-bocah kampung juga punya “mainan” baru, memelototi empat bule yang datang untuk ikut lomba mancing. Hasrat hati ingin mendekat, tapi di SD di kampung mereka itu, Bahasa Inggris belum diajarkan.

Alain, bule asal Prancis yang sudah setengah tahun menetap di Batam dan bekerja untuk PBB mengaku cukup terhibur dengan keramahan kampung dan keindahan Penaah. Ia mengaku hobi naik sepeda gunung. Tapi begitu seorang rekannya mengajak untuk ke Penaah ikut lomba memancing, Alain tak menolak. Maka Jumat (2/5) kemarin, ia pun menjadi satu dari sekitar 350 peserta lomba mancing. Selain Alain, ada tiga bule lainnya, sahabat Alain, yang ikut lomba yang diadakan tiap tahun itu.

Ketika acara pembukaan sedang berlangsung, Alain yang sudah terbiasa menghadapi forum seremonial, justru meluangkan waktu untuk berkeliling Penaah. “Saya tak pernah melihat pulau seindah ini di Prancis. Di sana ada pulau, tapi tak ada pohon kelapanya,” kata lelaki yang fasih bercerita soal Zinedine Zidane, bintang sepakbola legendaris asal Prancis yang sudah gantung sepatu itu. Karena itu, memancing sebenarnya bukan tujuan Alain. “Saya tak ada persiapan. Dan saya tak punya ambisi juara,” lanjutnya.

Sebenarnya Alain bukan bule pertama yang singgah di Penaah. September hingga Oktober adalah musim kunjungan para bule ke pulau yang terletak di ujung Selatan gugus kepulauan Senayang ini. Letak Penaah yang ada di persimpangan jalur yang menghubungkan Laut Bankga dengan Laut China Selatan itu menjadikan tempat ini pilihan singgah bagi para petualang laut dari berbagai sudut kolong jagat itu untuk singgah mengambil perbekalan air bersih. Mereka biasanya labuh jangka di Selat Kongki, sebuah laut sempt yang diapit oleh Pulau Kongki Besar dan Kongki Kecil. Ujung dari selat itu adalah Pulau Penaah.

Tapi tak sekedar mengambil perbekalan air bersih saja. Para bule itu sudah memasukkan dalam agenda perjalanan mereka nama Penaah. Pulau ini, selain menawarkan pantai pasir putih, sekaligus menyimpan terumbu karang indah di dasar lautnya. Para pengebom ikan yang pernah mencoba datang diusir oleh nelayan Penaah. Sehingga, sejak dulu, terumbu karang aneka warna dan jenis itu masih tersimpan rapi di dasar laut.

“Kedatangan mereka biasanya untuk menyelam,” kata Abang Azhari, Ketua RW 08 Pulau Penaah. September datang, rombongan konvoi yacht yang digunakan bule-bule itu jumlahnya sampai belasan, yang mengangkut puluhan penumpang. Tapi, mereka jarang singgah ke Penaah. Sesekali saja bila mereka ingin menikmati pulau kecil itu, mereka menjejakkan kaki di pasir putih pantai Penaah.

Penaah Terancam Tenggelam

PULAU Penaah adalah penanda, bahwa di gugus kepulauan Senayang, Kabupaten Lingga, ikan belum menjadi barang langka. Lautnya masih terjaga dari pengeboman liar, namun ada ancaman, pulau itu suatu saat akan tenggelam akibat abrasi dan pemanasan global global warming).

SEPANJANG mata memandang, hanyalah hamparan warna biru lautan yang berkilauan terpantul sinar matahari sore. Pulau Penaah seperti titik noktah kecil di atas hamparan biru lautan yang sesekali beriak.
Di ujung sana, anak-anak nelayan berlarian di pasir putih pantai. Satu dua canda tawa mereka masih terdengar dari ujung selatan, dekat lapangan sepakbola di tengah pulau.

Luas pulau itu hanya sekitar 1,3 kilometer apabila dikelilingi. Garis tengah pulau yang berbentuk lingkaran tak sempurna itu hanya 600 meter, dari ujung ke ujung. Rumah-rumah penduduk hanya di sisi sebelah barat, tepatnya memanjang dari barat laut sampai barat daya pulau. Pemukiman berakhir di pantai pasir putih di ujung utaranya. Pada sisi timur pulau yang ditumbuhi kelapa tak sampai seratusan batang ini, tak ada rumah, melainkan semak belukar.

Kini penduduk Penaah adalah generasi yang ketiga. Sejarah kehidupan di pulau itu berawal sewaktu Abang Akil datang ke pulau itu lebih dari 150 tahun lalu untuk membuka kebun kelapa. Abang Akil adalah warga Daek, Kabupaten Lingga. Kini, generasi ketiga dari keturunan Abang Akil, Abang Azhari dipilih menjadi Ketua RW 08. Tingkat birokrasi tertinggi di pulau berpenduduk 115 kepala keluarga (KK) tersebut hanyalah RW. Di bawah RW, ada dua RT. Adminstratif pulau ini masuk dalam wilayah Kelurahan Senayang, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga.

Kini setelah lebih dari 150 tahun pulau di ujung selatan gugus kepulauan Senayang itu ditempati, ada ancaman yang tengah mengintip. Di sisi selatan pulau terjadi abrasi terus menerus sepanjang tahun. Dulu, jalan semen dengan lebar sekitar satu setengah meter dibangun mengelilingi pulau. Pengunjung yang datang pun bisa menikmati keindahan seluruh pulau dengan berjalan kaki melewati jalan semen tadi.

Tapi itu cerita lima tahun lalu. Sejak tiga tahun terakhir, terjadi abrasi terus menerus, memanjang dari sisi timur laut sampai tenggara pulau. Tak ada jalan semen yang tersisa lagi, melainkan batu-batu karang.

Abang Azhari, Ketua RW 08 Pulau Penaah berujar, jalan itu hancur sekitar tiga tahun lalu. Pendapat Abang Azhari ini diperkuat oleh Khairul, seorang warga. “Dulu pulau ini luas. Kalau ada anak kecil nangis di perkampungan, kita tak bisa mendengarnya. Tapi sekarang, kalau kita berada di selatan pulau, atau di tenggara kita bisa dengar suara anak kecil nangis,” kata Khairul, mendeskripsikan bagaimana pulau itu dalam benaknya terasa semakin menciut.

Penyebab abrasi yang semakin berkepanjangan itu tak lain tamparan angin selatan. Kalau angin utara datang, meski terkenal kencang berhembus dari arah Laut China Selatan, tak terlalu berpengaruh. Ujung utara pulau ini dilindungi oleh dua pulau yang ukurannya lebih besar, yakni Pulau Kongki Besar dan Kongki Kecil. Meski secara ukuran kedua pulau lebih besar sampai empat hingga lima kali lipat Penaah, tetapi tak tampak satu pun pemukiman warga.

Sementara, bila arah angin berbalik, yakni bertiup dari selatan, sama sekali Penaah tak terlindungi. Tamparan ombak ganas Laut Bangka langsung menyentuh pantai di sisi selatan dan tenggara Penaah. Karenanya, abrasi terus menerus pun terjadi.

Khairul pun punya firasat tak baik. Kalau tenggelam dalam waktu dekat, menurut lelaki itu masih sulit dicerna akal sehat. “Tapi mungkin di masa dia,” kata Khairul sambil menunjuk putrinya yang masih berusia sekitar lima tahun itu.

Dan bila itu terjadi, maka berakhirlah kisah tentang pulau penanda itu. Dan para turis, nelayan, pun akan kehilangan penanda ketika mereka mencari jutaan ikan yang bersarang di dasar laut Penaah. (trisno aji putra/bersambung)

Berburu Ikan Sunuk ke Penaah
NELAYAN Kepri sudah hafal di luar kepala di mana letak Pulau Penaah. Adalah Ikan Kerapu Sunuk (Plectrophomus Leopardus) yang selalu membuat para nelayan itu rindu untuk mengarungi riak-riak gelombang di lepas pantai Penaah.

Tak semua nelayan memang bisa beruntung mengail Sunuk dari dasar laut Penaah. Tapi kalau nasib lagi berpihak, dua kilo Sunuk sudah membuat modal solar pompong mereka kembali.

“Di sini, biasanya nelayan mencari Ikan Sunuk,” kata Abang Azhari, Ketua RW 08 Pulau Penaah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga. Sekilo Sunuk, menurut Azahari, harganya bisa menembus angka Rp 140 ribu. Artinya, bila sekali melaut dapat dua kilo saja, jumlah tersebut sudah cukup untuk membeli solar dan sedikit rezeki untuk diserahkan kepada istri di rumah. Karena Sunuk inilah, nelayan-nelayan dari Kijang, Kecamatan Bintan Timur yang jaraknya sekitar tujuh jam perjalanan laut pakai pompong sampai mau mengarungi gelombang menuju Penaah.

Sunuk sendiri adalah komoditas ekspor. Namun yang dicari pembeli yang kebanyakan dari Hongkong itu adalah Sunuk yang beratnya hanya berkisar empat sampai enam kilogram per ekornya. Kalau beratnya sudah sampai di atas satu kilogram, justru pembeli tak terlalu terpikat.

Di perarian lain di Kepri, sebenarnya ada juga Ikan Sunuk. Namun komunitasnya tak sebanyak di Penaah. Adalah kearifan lokal yang membuat Sunuk-Sunuk berharga ratusan ribu itu masih betah bertahan di Penaah.

Azhari maupun nelayan lain sudah hafal di luar kepala tentang adanya peraturan menangkap ikan yang tak tertulis di atas kertas. Saat musim angin selatan ada satu pulau yang bisa ditempuh sepuluh menit perjalanan laut dari Penaah. Pulau itu diberi nama Ceranggong. Namun penduduk setempat lebih senang mengganti huruf di depan nama pulau itu dengan “S’. Maka dalam lafal pengucapan orang Penaah, Ceranggong adalah Serangong.

Pulau itu hanyalah kumpulan batu karang kecil, yang luasnya tak sampai setengah hektar. Tak ada persediaan air bersih dan pemukiman di atasnya. Namun nelayan setempat mensakralkan pulau itu. Musim angin teduh, yakni musim selatan, tak dibenarkan seorang nelayanpun mendekat ke Ceranggong. Mereka harus mencari ikan ke laut lepas, sampai ke Laut Sayak, laut terjauh dari Penaah.

Cerenggong hanya boleh disentuh saat musim angin utara yang terkenal menyebabkan ombak setinggi sampai lebih dari empat meter. Saat itulah, nelayan boleh mendekat dan menangkap ikan di Ceranggong. Inilah kearifan tradisional yang diwariskan oleh datuk nenak moyang orang Penaah. Para pembuat nilai-nilai ini mengantisipasi, agar jangan sampai anak cucunya kelak tak bisa menangkap ikan saat ombak ganas. Maka dipilihlah sebuah pulau berkarang yang akan menjadi ekosistem laut menarik bagi para ikan.

Pancur, Hongkong Van Lingga
RATUSAN rumah berdiri menjajar di tepian Sungai Pancur. Aktivitas perdagangan bermula sejak pagi masih belum jadi, berlangsung hingga menjelang tengah malam di Pancur. Inilah kota, yang orang-orang Daek dengan bangga menggelarinya sebagai Hongkong-nya Lingga.

Pancur adalah jantung perekonomian di Pulau Lingga bagian utara. Denyut nadi ekonomi sudah berlangsung di sana sejak sebelum orang-orang republik mengibarkan bendera Merah-Putih dan memproklamirkan Indonesia. Dulu, aktivitas di Pancur berjaya seiring dengan kegiatan smokel. Mereka membawa barang dari Singapura sebelum didistribusikan ke berbagai kawasan terdekat, bahkan sampai Kuala Tungkal, Jambi. Dari Pancur, mereka membawa kayu, karet, sampai kopra ke Singapura.

Bermula dari sebuah rumah di satu sisi sungai, puluhan tahun kemudian, tak kurang dari 500 rumah sudah berdiri di sepanjang tepian sungai, baik di sisi kanan maupun di sisi kiri. Bangunan rumah-rumah papan itu terus memanjang ke laut. “Sebenarnya kalau masih bisa ditambah, pasti dibangun rumah lagi. Tapi dasar lautnya ada seperti ceruk. Jadi tak bisa dipancang tiang lagi,” kata seorang warga.

Dari rumah pertama di hulu sungai, sampai rumah terakhir yang berbatasan
langsung dengan laut, panjangnya tak kurang 600 meter. Selain karena dianggap mudah untuk menggerakkan aktivitas perekonomian, pembangunan rumah panggung di atas laut itu juga menjadi pilihan mengingat tepian laut langsung berbatasan dengan sebuah bukit terjal.

Camat Lingga Utara Rusli bercerita, pembangunan rumah di atas laut itu diawali dari aktivitas perekonomian. Kala itu, para nelayan kesulitan bila harus mengangkat hasil tangkapannya ke darat. Maka dibangunlah satu-dua buah rumah di atas laut. Namun lama kelamaan, rumah-rumah lain bermunculan. Apalagi Lingga sendiri dikenal sebagai daerah penghasil kayu di Kepri, sehingga mereka tak kesulitan untuk mencari bahan bangunan rumah papan tersebut.

Di antara rumah yang saling berhadap-hadapan itu mengalir air Sungai Pancur, yang sayangnya sudah mulai tercemar akibat perilaku membuang sampah tak pada tempatnya. Ada empat buah jembatan gantung di sepanjang sungai. Jembatan ini memperindah pemandangan menelusuri Sungai Pancur. “Orang menggelarinya Hongkongnya Lingga, karena memang mirip seperti di Hongkong,” lanjut Rusli.

Bila air sungai pancur jernih, mungkin bukan lagi orang menggelari Pancur sebagai Hongkong-nya Lingga, melainkan Venesia-nya Lingga. Keberanian orang-orang membangun rumah di atas laut itu tak lain karena ada beberapa pulau besar dan kacil di depan Pancur yang melindungi daerah ini dari terpaan angin Utara. Karenanya, dulu, banyak kapal dalam perjalanan dari Selat Melaka menuju Jawa lebih memilih singgah di Pancur untuk mengambil air bersih. Dermaga Pancur yang terlindung dari hantaman ombak besar adalah alasan utama para nakhoda kapal untuk singgah.

Di sisi kanan dan kiri sungai, rumah-rumah warga sekaligus difungsikan sebagai pusat pertokoan. Carilah apapun, semua ada di sana. Dari mulai baju baru sampai baju second, aneka sembako, sampai penginapan. Tarif penginapan di losmen-losmen kayu itu bervariasi, anatar Rp 30 ribu-Rp 14 ribu satu malam. Siapa pun yang ingin menikmati Hongkong tapi belum kesampaian, agaknya singgah di Pancur bisa sedikit mengobati keinginan itu. (trisno aji putra)

Rabu, 07 Mei 2008

Senja di Selatan

Perjalanan ke Selatan.....

Perjalanan ke Selatan.......



KE selatan, orang-orang mengejar keheningan. Negeriku, Tanah Melayu, kini menjadi negeri yang terbelah...

Perjalanan ke selatan adalah perjalanan memungut kesunyian. Anak-anak nelayan berkisah tentang masa depannya yang masih samar. di utara sana, orang-orang Melayu telah membangun gedung bertingkat. Mereka mengubah rawa menjadi gedung pencakar langit di Singapura. Di Malaysia, mereka mengubah kebun sawit menjadi jalan aspal mulur beratus kilometer....

Tapi di sini, di selatan, aku hanya mendengarkan sejuta keluh kesah. Mereka, orang-orang negeriku itu, masih mewarisi dayung untuk mencari ikan ke laut menggunakan sampan. Tak ada gedung pencakar langit. Tapi, kadang aku perlu bersyukur, sebab di selatan sini, kesederhanaan dan kearifan lokal itu masih mereka simpan rapi.....

Jejak kemiskinan yang kutemukan sepanjang perjalanan ke selatan itu justru dibalut dengan eksotisme alam.... Negeriku,Tanah Melayu yang ada di selatan ini, kini menawarkan kisah tentang bagaimana mereka tetap menjaga kesunyian menjadi sebuah kekuatan panorama....

Aku selalu rindu untuk kembali ke selatan, menyusuri gugus-gugus pulau, dari Pulau Cempa sampai Penaah. Inilah negeriku, orang-orang Melayu di selatan....

Perjalanan ke Selatan...


Sabtu, 05 April 2008

Jejak Kemiskinan di Tepian Sungai Gesek...

SEI-Nyirih adalah kampung yang terbelah. Secara geografis, kampung itu masuk wilayah Kabupaten Bintan. Namun secara administrasi kependudukan, Sei Nyirih dijangkauan Kota Tanjungpinang. Pilkada Wali Kota Tanjungpinang kemarin, sekitar 53 kepala keluarga di kampung itu ikut menyoblos. Bagaimana kehidupan di kampung nelayan itu, ikuti petualangan ini.

INILAH perjalanan dari kampung ke kampung. Jalan tanah tanpa penanda membuat seluruh ruas Jalan Tembeling siang itu menjadi kumpulan teka-teki yang sulit dipecahkan. Hanya jalan berkelok-kelok yang lenggang, gundukan tanah merah di kiri-kanan jalan, serta tiang listrik yang menjulang langit. Semua itu bukan tempat bertanya yang bisa memberikan jawaban.

Maka Kampung Sei-Nyirih siang itu pun menjadi tujuan yang buram. Cara berpikir kontinental yang mengharuskan segala sesuatu dijangkau dari daratan memang telah membuat perjalanan ini makin sulit. Dulu, orang Melayu tradisional datang membangun kampung itu dengan naik sampan. Mereka tidak mengenal jalan tanah, sebab Melayu tempo dulu selalu identik dengan sampan, laut, dan nelayan. Cara berpikir mereka selalu bersifat archipelago, menjangkau sesuatu dari jalur laut.

Maka kedatangan lelaki pertama di Sei-Nyirih untuk mendirikan kampung di tepian Sungai Gesek itu datang dengan menumpang sampan, bukan sepeda motor seperti yang sedang kami tumpangi hari itu. Informasi awal yang kami dapatkan, cara tercepat mencapai kampung itu memang naik sampan, yakni dari Kampung Madung, di ujung perbukitan Senggarang. “Dari sana, langsung naik sampan saja,” kata seorang yang kami tanyai.

Tapi sampan kemudian menjadi persoalan. Sebab, tidak ada transportasi reguler yang menjangkau Sei-Nyirih. Artinya tidak ada pompong Madung-Sei Nyirih PP (pulang pergi). Maka perjalanan dari kampung ke kampung menuju Sei-Nyirih itu hanya diberi pilihan, menyewa pompong dari Madung atau naik sepeda motor Jepang menembus hutan belukar dari arah Jalan Tanjunguban, tepatnya di simpang Desa Toapaya.

Pada salah jalan yang kesekian, akhirnya jalan menuju kampung itu ditemukan. Orang yang kami temui di Pesantren Al-Madinah, Ceruk Ijo, Kecamatan Teluk Bintan, meminta kami untuk mencari kebun nanas dan gundukan pasir. Itulah dua pertanda alam yang harus ditemukan bila tak ingin sesat sampai di kampung. Bagi warga Tembeling atau Toapaya, Sei-Nyirih mereka kenal lewat dua buah perusahaan pasir yang beroperasi di sana. Namun keduanya kini sudah tutup, menyisakan gundukan pasir yang tingginya dua kali tiang listrik dan lebarnya satu halaman sepakbola di muka kampung itu.

Sahabat seperjalanan saya, Bung Ari Sastra langsung sumringah melihat gundukan pasir itu. Artinya perjalanan kami sudah dekat. Sejak tadi, Aris yang jabatannya Kepala Biro Harian "Tribun Batam" Tanjungpinang itu hanya duduk di jok belakang motor tanpa banyak bicara. Panas membuat energi bicaranya hilang. Dalam terkaman sinar matahari siang itu, sekilas ia seperti bangau Hokaido yang tak terawat, kuyu, lusuh, diam, tapi pakai tas pinggang bermerek. Hanya tas yang dibawanya itulah yang membuat ia demikian berharga, laiknya bangai Hokaido di gurun pasir gersang Sei-Nyirih. Tas itu selalu dibawanya ke mana saja. Tiga bulan yang lalu, seorang pejabat teras di Tanjungpinang meloakkan tas itu di sebuah pasar kaget. Si Bung Bangau itu pun langsung menyambar gesit. Calon pembeli lain terpana, dan sedikit iri, karena kalah cepat.

“Ya, ini Sei-Nyirih. Langsung saje ke bawah, ke rumah Pak RT. Pak Kasman namanya,” kata serorang ibu yang kami temui di muka kampung. Tak banyak yang berbeda dari kampung ini dengan kampung nelayan di pesisir lainnya. Rumah dibangun hanya beberapa jengkal dari laut, di depan rumah yang rata-rata berbentuk panggung itu dibuat beranda, untuk duduk santai, menikmati semilir angin pesisir.

Sebuah masjid bercat kuning yang dibangun di tengah kampung seperti menjadi sentra dari denyut nadi kehidupan kampung. Rumah-rumah warga dibangun di kanan kiri masjid, menyerupai lingkaran tak sempurna. Namun kalau dihitung, rumah bedinding papan mungkin tujuh kali lipat banyaknya dari pada rumah beton. Para warga hidup sebagai nelayan dan buruh kebun karet, serta buruh serabutan. Dulu, para pemuda kampung kerja sebagai buruh di penambangan pasir. “Tapi sejak lebaran Cina kemarin, perusahaan ditutup,” kata Sarifah (50), seorang warga kampung.

Terbelah

SEBELUMNYA, orang tidak pernah tahu nama kampung ini. Namun seiring dengan konflik tapal batas yang tak kunjung usai antara Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan, nama kampung ini pun mencuat.

Bahkan nama kampung ini sempat dibahas oleh sejumlah pejabat Pemprov Kepri, Pemkab Bintan dan Pemko Bintan di Kantor Gubernur Kepri pada Senin-Selasa (31/7-1/8/2006). Awal mula konflik sebenarnya muncul seiring pemekaran Tanjungpinang dan Kabupaten Kepri. Setelah Provinsi Kepri terbentuk dan Kabupaten Kepri menjelma menjadi Kabupaten Bintan, ternyata konflik tapal batas di Sei-Nyirih ini tak kunjung usai juga.

Koran Tribun pada edisi Juli-Agustus 2006 maupun Maret 2007 pernah mengangkat hasil pembahasan status Sei-Nyirih ini. Berdasarkan tapal batas wilayah, kawasan Sei- Nyirih diklaim oleh Pemkab Bintan masuk ke dalam teritorial mereka. Namun, selama ini untuk urusan adminsitrasi seperti surat-surat tanah dan dokumen kependudukan, masyarakat Sei-Nyirih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang.

Karena rapat yang difasilitasi Biro Pemerintahan Pemprov Kepri sempat tak kunjung sampai pada kata putus, maka Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan sepakat untuk membentuk Tim Khusus di bawah Biro Pemerintahan Kepri yang akan mengkaji dan menelusuri persoalan di dua wilayah tersebut.

Asisten Satu Bidang Tata Praja Pemkab Bintan waktu itu, Yudha Inangsa, menjelaskan, bila muncul persoalan administratif maka dapat diselesaikan dengan cara memperbaikinya. Namun, selama ini, untuk batas wilayah, masing-masing sudah memiliki titik ordinat sendiri di dalam peta. Dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah memiliki peta tersebut.

Di awal pembentukan Kota Tanjungpinang sebagai daerah otonom beberapa tahun lalu, persoalan batas wilayah ini sudah pernah diajukan oleh Pemkab Bintan untuk dibahas. Namun sampai saat ini masih belum bisa dituntaskan. Sei-Nyiri, menurut Yudha, batasnya dipisahkan oleh sungai yang bermuara di Teluk Bintan. “Batas Kota Tanjungpinang itu diambil dari batas alam,” kata Yudha waktu itu.

Sementara itu, Dedy Chandra yang waktu itu mewakili Bagian Pemerintahan Pemko Tanjungpinang menjelaskan, sejak terbentuknya Kota Administratif (Kotif) Tanjungpinang pada sekitar 1983 sampai saat ini, masyarakat Sei-Nyirih dalam urusan kependudukan masih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang.

Awal Maret 2007, Raja Ariza yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Kepri ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa Tim Khusus sudah selesai bekerja. “Sei-Nyirih tetap masuk wilayah Kabupaten Bintan,” kata Raja Ariza.

Warga Pilih Tanjungpinang

Namun bagi masyarakat sendiri, mereka sebenarnya sudah nyaman berada di bawah naungan Pemko Tanjungpinang. Adalah sejarah yang mereka pegang. Bahwa sejak tiga generasi lalu, mereka memiliki ikatan yang kuat dnegan Kampung Madung, yang masuk wilayah Tanjungpinang. “Sejak tok saye, lalu bapak saye, semuanya sudah masuk Tanjungpinang,” kata Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih. Bahkan Kasman mengaku masih menyimpan KTP lama yang menunjukkan mereka masuk dalam wilayah Kota Adminsitratif Pemko Tanjungpinang.

Untuk mempertegas daerah tersebut sebagai bagian dari Tanjungpinang, warga pun membuat plang papan kecil di jalan yang menuju kampung. Di plang itu tertulis bahwa wilayah itu masuk Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota.

Sebagai bukti bahwa warga tetap ingin bergabung dengan Tanjungpinang, pada Pilwako Tanjungpinang Desember 2007 lalu, mereka pun datang ke tempat pemungutan suara dan mencoblos. “Banyak yang milih Ibu Wali di kampung ini,” kata seorang warga.

Bila Hujan, Para Siswa tak Sekolah

DI Sei-Nyirih, anak-anak berangkat ke sekolah naik sampan. Kalau hujan turun, mereka tak bisa berangkat ke sekolah. Sampan mungil mereka terlalu rapuh untuk menghadapi terjangan ombak. Sampan mereka pernah tenggelam Tapi budak-budak Melayu itu menyimpan rapi cerita itu, hingga para orangtua mereka tak ada satu pun yang tahu.

MEREKA adalah putra-putri para nelayan Melayu yang tangguh. Laut, ombak, dan sampan adalah sahabat keseharian mereka. Maka jangan heran bila budak-budak Melayu di Kampung Sei-Nyirih itu lincah mendayung sampan membelah laut menuju sekolah mereka di kampung seberang.

Pagi masih belum jadi ketika Icam kecil sudah melangkahkan kaki meninggalkan rumahnya, di tepian Sungai Gesek. Seragam putih-merah, sepatu, dan sebuah tas cangklong tergantung di pundaknya. Icam menuju ke dermaga kampung, yang berjarak tak sampai 73 langkah dari pintu rumahnya.

Tak berbeda dengan Icam, Ita, Hendra, dan Daniel juga melangkahkan kaki menembus kabut yang masih menggantung menuju dermaga beton dengan panjang tak sampai 50 meter itu. Sebuah sampan kayu sudah menunggu mereka di situ. Panjang sampan hanya sekitar empat meter dengan lebar tak sampai satu meter. Paling banyak, sampan itu bisa mengangkut empat anak.

Seperti hari-hari kemarin, pukul 06.00 WIB, mereka sudah sampai di dermaga. “Kite biase berangkat pukul enam. Pukul tujuh dah sampai kat sekolah,” kata Icam, yang bernama asli Samsi ini.

Sekolah mereka sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar tiga kelokan sungai. Icam, Ita, dan Hendra kini tercatat sebagai siswa SD 001 Madung, Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Sementara Daniel duduk di kelas dua sekolah yang sama.

Tapi tidak setiap hari perjalanan mereka ke sekolah mulus. “Kalau hujan lebat, kami tak sekolah,” kata Ita, yang bernama asli Mardiah. Adalah ombak yang tak bisa mereka lawan dengan sampan yang tingginya hanya dua setengah jengkal dari permukaan laut itu.

Selain itu, sampan mereka pun tak punya atap. Hujan telah menyurutkan langkah anak-anak kampung itu untuk menuntut ilmu. Tapi, kalau hari cerah, mereka melewati semua dengan kegembiraan. Bahkan mereka saling berebut untuk memegang dayung sewaktu berangkat ke sekolah.

Dengar saja pertikaian Icam dan Ita saat ditanya siapa yang memegang dayung sewaktu mereka berangkat ke sekolah. “Aku!” kata Ita, cepat. “Hei. Aku yang pegang. Budak betine mane bisa pegang dayung,” kata Icam sambil tersenyum ke Hendra dan Daniel. Ini bukan pertikaian gender. Tapi Ita memang diberi julukan oleh kawan-kawannya sebagai gadis cilik tomboi. Lihat saja siang itu. Ia lari ke laut sendiri dan mendayung sampan ke laut. Di tangannya, seekor bayi burung tergenggam.
Ita baru naik ke dermaga sewaktu Icam melompat ke sampannya. Dari keempatnya, hanya Daniel yang punya prestasi bagus di sekolah. Ia juara dua. Sementara Ita, Icam dan Hendra, cukup puas setelah menduduki rangking dua dan tiga dalam lomba makan kerupuk yang digelar saat Agustusan.

Mereka dikenal sebagai kawan karib. Bukti kesetiakawanan itu mereka wujudkan dalam bentuk menyimpan rapat-rapat kisah tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra di laut sewaktu mereka pulang sekolah.

Waktu itu, cerita Icam, sampan penuh air. Hendra tidak mau membuang air. Akibatnya sampan pun tenggelam. Namun mereka semua yang bergerak bersama untuk menolong Hendra. Anak-anak nelayan itu dikenal jago berenang. Kadang sewaku pulang sekolah, setelah menanggalkan seragam putih merah, mereka menyemplung ke laut. Ita yang perempuan tak ikut nyemplung. Ia yang menceritakan kelakuan teman-temannya itu. Tapi semua kisah kenakalan masa kecil itu mereka simpan rapat. Tak ada orangtua yang tahu. Sarifah maupuh Piah, dua warga kampung juga tak tahu saat ditanya tentang tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra.

Iuran Sampan Rp 15 Ribu

SAMPAI kapan budak-budak Melayu pesisir itu masih akan terus mendayung sampan ke sekolah, kita tak tahu. Mereka kini terselamatkan oleh adanya dana BOS, yang membuat orangtua mereka tak tak perlu membayar iuran sekolah. Tapi sekitar empat tahun lalu, sewaktu dana BOS belum ada, belasan budak-budak kampung putus sekolah. “Sekarang mereka bise sekolah karena tak bayar,” kata Maryam, ibunda Ita.

Tapi ternyata persoalan tak berhenti sampai di situ saja. Kini para orangtua siswa ternyata harus menanggung biaya transportasi untuk anak-anak mereka. Iyalah, Icam, Ita, Hendra maupun Daniel pagi hari bisa naik sampan gratis, karena milik seorang saudara mereka. Tapi saat pulang sekolah, bocah-bocah ini terpaksa dititipkan ke penambang sampan dengan iuran Rp 15 ribu per bulan per anak. Tak semua dari orangtua mereka punya sampan.

Piah, suami Maryam dan ayah Ita, begitu berharap agar Pemko Tanjungpinang bisa memberikan bantuan pompong untuk para anak sekolah ini Dulu, kata Piah, memang Pemko Tanjungpinang pernah memberikan bantuan pompong. Namun ukurannya besar dan memakan minyak dengan boros. Pompong itu kini sudah tinggal rongsokan. “Kalau bise, pompong kecil saje dah cukup. Agar tak boros,” kata Piah, setengah berharap.

Listrik Tidak Byar-Pett di Rumah Piah

KEBERADAAN listrik tenaga surya telah mengakhiri era malam-malam panjang dengan lampu teplok di rumah Piah dan enam warga lainnya. Tak seperti warga Tanjungpinang yang sebulan terakhir was-was listrik padam tanpa pemberitahuan, Piah yang tinggal di pelosok Kampung Sei-Nyirih itu tenang-tenang saja. Bahkan siang hari pun, ia bisa menghidupkan lampu neon 15 watt di ruang tengah rumah panggungnya.

“Ini, coba lihat sendiri. Hidup, kan,” kata Piah (34), setelah menekan saklar lampu. Lampu neon yang masih putih berkilau itu menyala, berebut dengan sinar matahari menerangi ruangan rumahnya. Di luar sana, panas terik seperti membakar ubun-ubun. Kalau orang Tanjungpinang tahu apa yang dilakukan Piah siang itu, wajar saja bila mereka iri pada lelaki yang berprofesi sebagai nelayan tradisional ini.

Rumah Piah, sejak tiga bulan terakhir tak pernah mati lampu. Dan hebatnya lagi, di tanggal 20 tiap bulannya, ia tak perlu berdesakan antri bayar listrik ke loket pembayaran terdekat. Matahari telah memberikan semua penerangan di rumah lelaki beranak dua itu secara gratis.

Padahal, tiga bulan yang lalu, Piah dan istrinya, Maryam (27) serta dua anak mereka yang masih kecil-kecil terpaksa melewati malam-malam panjang di rumah berdinding papan itu dengan pelita. Tak sampai malam pelita itu dihidupkan, sebab Piah mengaku tak kuat membeli minyak tanah. Jarak 100 meter dari rumahnya yang persis berbatasan dengan Sungai Gesek itu, rumah warga lainnya terang benderang sampai pukul 23.00 malam.

Sekitar setahun silam, Pemko Tanjungpinang mengucurkan bantuan dalam bentuk pembelian satu unit genset beserta jaringan kabel. Namun bantuan itu tidak termasuk pembelian solar. Akibatnya, warga yang ingin menyambung listrik harus mau membayar iuran beli solar saban akhir bulan.

“Satu neon iurannya Rp 15 ribu. Saya tak ada uang,” kata Piah. Tapi tiga bulan lalu, keinginan Piah untuk melihat rumahnya diterangi oleh bola lampu temuan Thomas Alfa Edison itu terwujud. Setelah lebih dari 300 tahun Alfa Edison menemukan bola ajaib yang bisa memancarkan sinar itu, akhirnya di kampung yang letaknya ribuan mil dari Eropa itu, Piah menikmati juga penemuan yang mengubah sejarah umat manusia itu.

Bantuan tersebut tak sekedar penampang listrik tenaga surya saja, tapi lengkap dengan tiga unit neon putih dan sebuah accu. Setelah tiga bulan berjalan, accu itu belum rusak. Sebenarnya, penampang kecil itu masih cukup daya bila sekedar menyalurkan energi listrik ke satu unit monitor televisi hitam putih. “Tapi kami belum punya uang untuk televisi,” kata Piah, yang setiap malam harus bergelut dengan air asin untuk menyuluh udang itu.

Itulah sepenggal kisah kehidupan seorang warga di kampung nelayan itu. Selain persoalan listrik yang tak byar-pett di rumah Piah itu, ada eksotisme lain yang ditawarkan oleh Kampung Sei-Nyirih itu. Kisah-kisah pernak-pernik kehidupan itu terkait dengan kehidupan para nelayan di kampung itu.

Naik Sampan ke Tanjungpinang

Syarifah (50) tak pernah puas bercerita sekedar beberapa menit tentang aktivitas yang dilakukannya sejak puluhan tahun silam. Istri Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih, Keluarahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota itu pernah menjalani bagaimana susahnya mendayung sampan menembus malam menuju Pasar Ikan di ujung Pelantar KUD, Tanjungpinang.

Syarifah adalah pengumpul ketam hitam di kampung itu. Nelayan lain banyak yang menyetor hasil tangkapannya kepada wanita asli Daik, Lingga ini. Maka setelah dirasakan jumlah ketam cukup, dinihari, sekitar pukul 02.00 WIB, ia mendayung sampan. “Sampai kat Pelantar KUD sekitar satu setengah jam. Kadang saye juge berangkat pukul tige pagi,” kata wanita yang kini membuka warung kelontongan di rumahnya itu. Hebatnya lagi, wanita berkulit putih itu melakukan pekerjaan mengantar hasil tangkapan laut itu seorang diri.

Tapi sejak dua tahun lalu, Syarifah pun dikalahkan oleh usia. “Saye sudah tak kuat lagi dayung sampan sendiri,” katanya. Maka ia pun memilih cara lain, yakni naik taksi Tembeling. Tauke taksi di pusat kecamatan Teluk Bintan itu bernama Tek Bun. “Kalau saye SMS, dia pasti singgah di kampung ini,” kata Syarifah. Kebetulan Sei Nyirih menjadi rute yang dilewati kendaraan dalam perjalanan dari Tembeling ke Tanjungpinang.

Tekhnologi ternyata telah memudahkan semua. Termasuk cara Syarifah meminta Tek Bun singgah. Tapi ternyata ongkosnya juga bukan kepalang. “Sekali jalan Rp 30 ribu,” kata Syarifah. Mungkin ongkos semahal itu dianggap Tek Bun wajar, sebab jarak tempuh Tembeling-Tanjungpinang bisa mencapai sekitar 45 kilometer.