Hidup, Kata, Perjalanan...
Kapal, Rumah, Bukit
Tanjungpinang adalah kota tua yang teramat banyak menyimpan kenangan. Kota yang terus akan berubah ini masih menyisakan sejumlah eksotisme. Foto ini diambil oleh sahabat saya Nurul Iman (Inyonk)
Rabu, 07 Mei 2008
Perjalanan ke Selatan.......

KE selatan, orang-orang mengejar keheningan. Negeriku, Tanah Melayu, kini menjadi negeri yang terbelah...
Perjalanan ke selatan adalah perjalanan memungut kesunyian. Anak-anak nelayan berkisah tentang masa depannya yang masih samar. di utara sana, orang-orang Melayu telah membangun gedung bertingkat. Mereka mengubah rawa menjadi gedung pencakar langit di Singapura. Di Malaysia, mereka mengubah kebun sawit menjadi jalan aspal mulur beratus kilometer....
Tapi di sini, di selatan, aku hanya mendengarkan sejuta keluh kesah. Mereka, orang-orang negeriku itu, masih mewarisi dayung untuk mencari ikan ke laut menggunakan sampan. Tak ada gedung pencakar langit. Tapi, kadang aku perlu bersyukur, sebab di selatan sini, kesederhanaan dan kearifan lokal itu masih mereka simpan rapi.....
Jejak kemiskinan yang kutemukan sepanjang perjalanan ke selatan itu justru dibalut dengan eksotisme alam.... Negeriku,Tanah Melayu yang ada di selatan ini, kini menawarkan kisah tentang bagaimana mereka tetap menjaga kesunyian menjadi sebuah kekuatan panorama....
Aku selalu rindu untuk kembali ke selatan, menyusuri gugus-gugus pulau, dari Pulau Cempa sampai Penaah. Inilah negeriku, orang-orang Melayu di selatan....
Sabtu, 05 April 2008
Jejak Kemiskinan di Tepian Sungai Gesek...
SEI-Nyirih adalah kampung yang terbelah. Secara geografis, kampung itu masuk wilayah Kabupaten Bintan. Namun secara administrasi kependudukan, Sei Nyirih dijangkauan Kota Tanjungpinang. Pilkada Wali Kota Tanjungpinang kemarin, sekitar 53 kepala keluarga di kampung itu ikut menyoblos. Bagaimana kehidupan di kampung nelayan itu, ikuti petualangan ini.
INILAH perjalanan dari kampung ke kampung. Jalan tanah tanpa penanda membuat seluruh ruas Jalan Tembeling siang itu menjadi kumpulan teka-teki yang sulit dipecahkan. Hanya jalan berkelok-kelok yang lenggang, gundukan tanah merah di kiri-kanan jalan, serta tiang listrik yang menjulang langit. Semua itu bukan tempat bertanya yang bisa memberikan jawaban.
Maka Kampung Sei-Nyirih siang itu pun menjadi tujuan yang buram. Cara berpikir kontinental yang mengharuskan segala sesuatu dijangkau dari daratan memang telah membuat perjalanan ini makin sulit. Dulu, orang Melayu tradisional datang membangun kampung itu dengan naik sampan. Mereka tidak mengenal jalan tanah, sebab Melayu tempo dulu selalu identik dengan sampan, laut, dan nelayan. Cara berpikir mereka selalu bersifat archipelago, menjangkau sesuatu dari jalur laut.
Maka kedatangan lelaki pertama di Sei-Nyirih untuk mendirikan kampung di tepian Sungai Gesek itu datang dengan menumpang sampan, bukan sepeda motor seperti yang sedang kami tumpangi hari itu. Informasi awal yang kami dapatkan, cara tercepat mencapai kampung itu memang naik sampan, yakni dari Kampung Madung, di ujung perbukitan Senggarang. “Dari sana, langsung naik sampan saja,” kata seorang yang kami tanyai.
Tapi sampan kemudian menjadi persoalan. Sebab, tidak ada transportasi reguler yang menjangkau Sei-Nyirih. Artinya tidak ada pompong Madung-Sei Nyirih PP (pulang pergi). Maka perjalanan dari kampung ke kampung menuju Sei-Nyirih itu hanya diberi pilihan, menyewa pompong dari Madung atau naik sepeda motor Jepang menembus hutan belukar dari arah Jalan Tanjunguban, tepatnya di simpang Desa Toapaya.
Pada salah jalan yang kesekian, akhirnya jalan menuju kampung itu ditemukan. Orang yang kami temui di Pesantren Al-Madinah, Ceruk Ijo, Kecamatan Teluk Bintan, meminta kami untuk mencari kebun nanas dan gundukan pasir. Itulah dua pertanda alam yang harus ditemukan bila tak ingin sesat sampai di kampung. Bagi warga Tembeling atau Toapaya, Sei-Nyirih mereka kenal lewat dua buah perusahaan pasir yang beroperasi di sana. Namun keduanya kini sudah tutup, menyisakan gundukan pasir yang tingginya dua kali tiang listrik dan lebarnya satu halaman sepakbola di muka kampung itu.
Sahabat seperjalanan saya, Bung Ari Sastra langsung sumringah melihat gundukan pasir itu. Artinya perjalanan kami sudah dekat. Sejak tadi, Aris yang jabatannya Kepala Biro Harian "Tribun Batam" Tanjungpinang itu hanya duduk di jok belakang motor tanpa banyak bicara. Panas membuat energi bicaranya hilang. Dalam terkaman sinar matahari siang itu, sekilas ia seperti bangau Hokaido yang tak terawat, kuyu, lusuh, diam, tapi pakai tas pinggang bermerek. Hanya tas yang dibawanya itulah yang membuat ia demikian berharga, laiknya bangai Hokaido di gurun pasir gersang Sei-Nyirih. Tas itu selalu dibawanya ke mana saja. Tiga bulan yang lalu, seorang pejabat teras di Tanjungpinang meloakkan tas itu di sebuah pasar kaget. Si Bung Bangau itu pun langsung menyambar gesit. Calon pembeli lain terpana, dan sedikit iri, karena kalah cepat.
“Ya, ini Sei-Nyirih. Langsung saje ke bawah, ke rumah Pak RT. Pak Kasman namanya,” kata serorang ibu yang kami temui di muka kampung. Tak banyak yang berbeda dari kampung ini dengan kampung nelayan di pesisir lainnya. Rumah dibangun hanya beberapa jengkal dari laut, di depan rumah yang rata-rata berbentuk panggung itu dibuat beranda, untuk duduk santai, menikmati semilir angin pesisir.
Sebuah masjid bercat kuning yang dibangun di tengah kampung seperti menjadi sentra dari denyut nadi kehidupan kampung. Rumah-rumah warga dibangun di kanan kiri masjid, menyerupai lingkaran tak sempurna. Namun kalau dihitung, rumah bedinding papan mungkin tujuh kali lipat banyaknya dari pada rumah beton. Para warga hidup sebagai nelayan dan buruh kebun karet, serta buruh serabutan. Dulu, para pemuda kampung kerja sebagai buruh di penambangan pasir. “Tapi sejak lebaran Cina kemarin, perusahaan ditutup,” kata Sarifah (50), seorang warga kampung.
Terbelah
SEBELUMNYA, orang tidak pernah tahu nama kampung ini. Namun seiring dengan konflik tapal batas yang tak kunjung usai antara Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan, nama kampung ini pun mencuat.
Bahkan nama kampung ini sempat dibahas oleh sejumlah pejabat Pemprov Kepri, Pemkab Bintan dan Pemko Bintan di Kantor Gubernur Kepri pada Senin-Selasa (31/7-1/8/2006). Awal mula konflik sebenarnya muncul seiring pemekaran Tanjungpinang dan Kabupaten Kepri. Setelah Provinsi Kepri terbentuk dan Kabupaten Kepri menjelma menjadi Kabupaten Bintan, ternyata konflik tapal batas di Sei-Nyirih ini tak kunjung usai juga.
Koran Tribun pada edisi Juli-Agustus 2006 maupun Maret 2007 pernah mengangkat hasil pembahasan status Sei-Nyirih ini. Berdasarkan tapal batas wilayah, kawasan Sei- Nyirih diklaim oleh Pemkab Bintan masuk ke dalam teritorial mereka. Namun, selama ini untuk urusan adminsitrasi seperti surat-surat tanah dan dokumen kependudukan, masyarakat Sei-Nyirih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang.
Karena rapat yang difasilitasi Biro Pemerintahan Pemprov Kepri sempat tak kunjung sampai pada kata putus, maka Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan sepakat untuk membentuk Tim Khusus di bawah Biro Pemerintahan Kepri yang akan mengkaji dan menelusuri persoalan di dua wilayah tersebut.
Asisten Satu Bidang Tata Praja Pemkab Bintan waktu itu, Yudha Inangsa, menjelaskan, bila muncul persoalan administratif maka dapat diselesaikan dengan cara memperbaikinya. Namun, selama ini, untuk batas wilayah, masing-masing sudah memiliki titik ordinat sendiri di dalam peta. Dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah memiliki peta tersebut.
Di awal pembentukan Kota Tanjungpinang sebagai daerah otonom beberapa tahun lalu, persoalan batas wilayah ini sudah pernah diajukan oleh Pemkab Bintan untuk dibahas. Namun sampai saat ini masih belum bisa dituntaskan. Sei-Nyiri, menurut Yudha, batasnya dipisahkan oleh sungai yang bermuara di Teluk Bintan. “Batas Kota Tanjungpinang itu diambil dari batas alam,” kata Yudha waktu itu.
Sementara itu, Dedy Chandra yang waktu itu mewakili Bagian Pemerintahan Pemko Tanjungpinang menjelaskan, sejak terbentuknya Kota Administratif (Kotif) Tanjungpinang pada sekitar 1983 sampai saat ini, masyarakat Sei-Nyirih dalam urusan kependudukan masih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang.
Awal Maret 2007, Raja Ariza yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Kepri ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa Tim Khusus sudah selesai bekerja. “Sei-Nyirih tetap masuk wilayah Kabupaten Bintan,” kata Raja Ariza.
Warga Pilih Tanjungpinang
Namun bagi masyarakat sendiri, mereka sebenarnya sudah nyaman berada di bawah naungan Pemko Tanjungpinang. Adalah sejarah yang mereka pegang. Bahwa sejak tiga generasi lalu, mereka memiliki ikatan yang kuat dnegan Kampung Madung, yang masuk wilayah Tanjungpinang. “Sejak tok saye, lalu bapak saye, semuanya sudah masuk Tanjungpinang,” kata Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih. Bahkan Kasman mengaku masih menyimpan KTP lama yang menunjukkan mereka masuk dalam wilayah Kota Adminsitratif Pemko Tanjungpinang.
Untuk mempertegas daerah tersebut sebagai bagian dari Tanjungpinang, warga pun membuat plang papan kecil di jalan yang menuju kampung. Di plang itu tertulis bahwa wilayah itu masuk Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota.
Sebagai bukti bahwa warga tetap ingin bergabung dengan Tanjungpinang, pada Pilwako Tanjungpinang Desember 2007 lalu, mereka pun datang ke tempat pemungutan suara dan mencoblos. “Banyak yang milih Ibu Wali di kampung ini,” kata seorang warga.
Bila Hujan, Para Siswa tak Sekolah
DI Sei-Nyirih, anak-anak berangkat ke sekolah naik sampan. Kalau hujan turun, mereka tak bisa berangkat ke sekolah. Sampan mungil mereka terlalu rapuh untuk menghadapi terjangan ombak. Sampan mereka pernah tenggelam Tapi budak-budak Melayu itu menyimpan rapi cerita itu, hingga para orangtua mereka tak ada satu pun yang tahu.
MEREKA adalah putra-putri para nelayan Melayu yang tangguh. Laut, ombak, dan sampan adalah sahabat keseharian mereka. Maka jangan heran bila budak-budak Melayu di Kampung Sei-Nyirih itu lincah mendayung sampan membelah laut menuju sekolah mereka di kampung seberang.
Pagi masih belum jadi ketika Icam kecil sudah melangkahkan kaki meninggalkan rumahnya, di tepian Sungai Gesek. Seragam putih-merah, sepatu, dan sebuah tas cangklong tergantung di pundaknya. Icam menuju ke dermaga kampung, yang berjarak tak sampai 73 langkah dari pintu rumahnya.
Tak berbeda dengan Icam, Ita, Hendra, dan Daniel juga melangkahkan kaki menembus kabut yang masih menggantung menuju dermaga beton dengan panjang tak sampai 50 meter itu. Sebuah sampan kayu sudah menunggu mereka di situ. Panjang sampan hanya sekitar empat meter dengan lebar tak sampai satu meter. Paling banyak, sampan itu bisa mengangkut empat anak.
Seperti hari-hari kemarin, pukul 06.00 WIB, mereka sudah sampai di dermaga. “Kite biase berangkat pukul enam. Pukul tujuh dah sampai kat sekolah,” kata Icam, yang bernama asli Samsi ini.
Sekolah mereka sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar tiga kelokan sungai. Icam, Ita, dan Hendra kini tercatat sebagai siswa SD 001 Madung, Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Sementara Daniel duduk di kelas dua sekolah yang sama.
Tapi tidak setiap hari perjalanan mereka ke sekolah mulus. “Kalau hujan lebat, kami tak sekolah,” kata Ita, yang bernama asli Mardiah. Adalah ombak yang tak bisa mereka lawan dengan sampan yang tingginya hanya dua setengah jengkal dari permukaan laut itu.
Selain itu, sampan mereka pun tak punya atap. Hujan telah menyurutkan langkah anak-anak kampung itu untuk menuntut ilmu. Tapi, kalau hari cerah, mereka melewati semua dengan kegembiraan. Bahkan mereka saling berebut untuk memegang dayung sewaktu berangkat ke sekolah.
Dengar saja pertikaian Icam dan Ita saat ditanya siapa yang memegang dayung sewaktu mereka berangkat ke sekolah. “Aku!” kata Ita, cepat. “Hei. Aku yang pegang. Budak betine mane bisa pegang dayung,” kata Icam sambil tersenyum ke Hendra dan Daniel. Ini bukan pertikaian gender. Tapi Ita memang diberi julukan oleh kawan-kawannya sebagai gadis cilik tomboi. Lihat saja siang itu. Ia lari ke laut sendiri dan mendayung sampan ke laut. Di tangannya, seekor bayi burung tergenggam.
Ita baru naik ke dermaga sewaktu Icam melompat ke sampannya. Dari keempatnya, hanya Daniel yang punya prestasi bagus di sekolah. Ia juara dua. Sementara Ita, Icam dan Hendra, cukup puas setelah menduduki rangking dua dan tiga dalam lomba makan kerupuk yang digelar saat Agustusan.
Mereka dikenal sebagai kawan karib. Bukti kesetiakawanan itu mereka wujudkan dalam bentuk menyimpan rapat-rapat kisah tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra di laut sewaktu mereka pulang sekolah.
Waktu itu, cerita Icam, sampan penuh air. Hendra tidak mau membuang air. Akibatnya sampan pun tenggelam. Namun mereka semua yang bergerak bersama untuk menolong Hendra. Anak-anak nelayan itu dikenal jago berenang. Kadang sewaku pulang sekolah, setelah menanggalkan seragam putih merah, mereka menyemplung ke laut. Ita yang perempuan tak ikut nyemplung. Ia yang menceritakan kelakuan teman-temannya itu. Tapi semua kisah kenakalan masa kecil itu mereka simpan rapat. Tak ada orangtua yang tahu. Sarifah maupuh Piah, dua warga kampung juga tak tahu saat ditanya tentang tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra.
Iuran Sampan Rp 15 Ribu
SAMPAI kapan budak-budak Melayu pesisir itu masih akan terus mendayung sampan ke sekolah, kita tak tahu. Mereka kini terselamatkan oleh adanya dana BOS, yang membuat orangtua mereka tak tak perlu membayar iuran sekolah. Tapi sekitar empat tahun lalu, sewaktu dana BOS belum ada, belasan budak-budak kampung putus sekolah. “Sekarang mereka bise sekolah karena tak bayar,” kata Maryam, ibunda Ita.
Tapi ternyata persoalan tak berhenti sampai di situ saja. Kini para orangtua siswa ternyata harus menanggung biaya transportasi untuk anak-anak mereka. Iyalah, Icam, Ita, Hendra maupun Daniel pagi hari bisa naik sampan gratis, karena milik seorang saudara mereka. Tapi saat pulang sekolah, bocah-bocah ini terpaksa dititipkan ke penambang sampan dengan iuran Rp 15 ribu per bulan per anak. Tak semua dari orangtua mereka punya sampan.
Piah, suami Maryam dan ayah Ita, begitu berharap agar Pemko Tanjungpinang bisa memberikan bantuan pompong untuk para anak sekolah ini Dulu, kata Piah, memang Pemko Tanjungpinang pernah memberikan bantuan pompong. Namun ukurannya besar dan memakan minyak dengan boros. Pompong itu kini sudah tinggal rongsokan. “Kalau bise, pompong kecil saje dah cukup. Agar tak boros,” kata Piah, setengah berharap.
Listrik Tidak Byar-Pett di Rumah Piah
KEBERADAAN listrik tenaga surya telah mengakhiri era malam-malam panjang dengan lampu teplok di rumah Piah dan enam warga lainnya. Tak seperti warga Tanjungpinang yang sebulan terakhir was-was listrik padam tanpa pemberitahuan, Piah yang tinggal di pelosok Kampung Sei-Nyirih itu tenang-tenang saja. Bahkan siang hari pun, ia bisa menghidupkan lampu neon 15 watt di ruang tengah rumah panggungnya.
“Ini, coba lihat sendiri. Hidup, kan,” kata Piah (34), setelah menekan saklar lampu. Lampu neon yang masih putih berkilau itu menyala, berebut dengan sinar matahari menerangi ruangan rumahnya. Di luar sana, panas terik seperti membakar ubun-ubun. Kalau orang Tanjungpinang tahu apa yang dilakukan Piah siang itu, wajar saja bila mereka iri pada lelaki yang berprofesi sebagai nelayan tradisional ini.
Rumah Piah, sejak tiga bulan terakhir tak pernah mati lampu. Dan hebatnya lagi, di tanggal 20 tiap bulannya, ia tak perlu berdesakan antri bayar listrik ke loket pembayaran terdekat. Matahari telah memberikan semua penerangan di rumah lelaki beranak dua itu secara gratis.
Padahal, tiga bulan yang lalu, Piah dan istrinya, Maryam (27) serta dua anak mereka yang masih kecil-kecil terpaksa melewati malam-malam panjang di rumah berdinding papan itu dengan pelita. Tak sampai malam pelita itu dihidupkan, sebab Piah mengaku tak kuat membeli minyak tanah. Jarak 100 meter dari rumahnya yang persis berbatasan dengan Sungai Gesek itu, rumah warga lainnya terang benderang sampai pukul 23.00 malam.
Sekitar setahun silam, Pemko Tanjungpinang mengucurkan bantuan dalam bentuk pembelian satu unit genset beserta jaringan kabel. Namun bantuan itu tidak termasuk pembelian solar. Akibatnya, warga yang ingin menyambung listrik harus mau membayar iuran beli solar saban akhir bulan.
“Satu neon iurannya Rp 15 ribu. Saya tak ada uang,” kata Piah. Tapi tiga bulan lalu, keinginan Piah untuk melihat rumahnya diterangi oleh bola lampu temuan Thomas Alfa Edison itu terwujud. Setelah lebih dari 300 tahun Alfa Edison menemukan bola ajaib yang bisa memancarkan sinar itu, akhirnya di kampung yang letaknya ribuan mil dari Eropa itu, Piah menikmati juga penemuan yang mengubah sejarah umat manusia itu.
Bantuan tersebut tak sekedar penampang listrik tenaga surya saja, tapi lengkap dengan tiga unit neon putih dan sebuah accu. Setelah tiga bulan berjalan, accu itu belum rusak. Sebenarnya, penampang kecil itu masih cukup daya bila sekedar menyalurkan energi listrik ke satu unit monitor televisi hitam putih. “Tapi kami belum punya uang untuk televisi,” kata Piah, yang setiap malam harus bergelut dengan air asin untuk menyuluh udang itu.
Itulah sepenggal kisah kehidupan seorang warga di kampung nelayan itu. Selain persoalan listrik yang tak byar-pett di rumah Piah itu, ada eksotisme lain yang ditawarkan oleh Kampung Sei-Nyirih itu. Kisah-kisah pernak-pernik kehidupan itu terkait dengan kehidupan para nelayan di kampung itu.
Naik Sampan ke Tanjungpinang
Syarifah (50) tak pernah puas bercerita sekedar beberapa menit tentang aktivitas yang dilakukannya sejak puluhan tahun silam. Istri Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih, Keluarahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota itu pernah menjalani bagaimana susahnya mendayung sampan menembus malam menuju Pasar Ikan di ujung Pelantar KUD, Tanjungpinang.
Syarifah adalah pengumpul ketam hitam di kampung itu. Nelayan lain banyak yang menyetor hasil tangkapannya kepada wanita asli Daik, Lingga ini. Maka setelah dirasakan jumlah ketam cukup, dinihari, sekitar pukul 02.00 WIB, ia mendayung sampan. “Sampai kat Pelantar KUD sekitar satu setengah jam. Kadang saye juge berangkat pukul tige pagi,” kata wanita yang kini membuka warung kelontongan di rumahnya itu. Hebatnya lagi, wanita berkulit putih itu melakukan pekerjaan mengantar hasil tangkapan laut itu seorang diri.
Tapi sejak dua tahun lalu, Syarifah pun dikalahkan oleh usia. “Saye sudah tak kuat lagi dayung sampan sendiri,” katanya. Maka ia pun memilih cara lain, yakni naik taksi Tembeling. Tauke taksi di pusat kecamatan Teluk Bintan itu bernama Tek Bun. “Kalau saye SMS, dia pasti singgah di kampung ini,” kata Syarifah. Kebetulan Sei Nyirih menjadi rute yang dilewati kendaraan dalam perjalanan dari Tembeling ke Tanjungpinang.
Tekhnologi ternyata telah memudahkan semua. Termasuk cara Syarifah meminta Tek Bun singgah. Tapi ternyata ongkosnya juga bukan kepalang. “Sekali jalan Rp 30 ribu,” kata Syarifah. Mungkin ongkos semahal itu dianggap Tek Bun wajar, sebab jarak tempuh Tembeling-Tanjungpinang bisa mencapai sekitar 45 kilometer.
INILAH perjalanan dari kampung ke kampung. Jalan tanah tanpa penanda membuat seluruh ruas Jalan Tembeling siang itu menjadi kumpulan teka-teki yang sulit dipecahkan. Hanya jalan berkelok-kelok yang lenggang, gundukan tanah merah di kiri-kanan jalan, serta tiang listrik yang menjulang langit. Semua itu bukan tempat bertanya yang bisa memberikan jawaban.
Maka Kampung Sei-Nyirih siang itu pun menjadi tujuan yang buram. Cara berpikir kontinental yang mengharuskan segala sesuatu dijangkau dari daratan memang telah membuat perjalanan ini makin sulit. Dulu, orang Melayu tradisional datang membangun kampung itu dengan naik sampan. Mereka tidak mengenal jalan tanah, sebab Melayu tempo dulu selalu identik dengan sampan, laut, dan nelayan. Cara berpikir mereka selalu bersifat archipelago, menjangkau sesuatu dari jalur laut.
Maka kedatangan lelaki pertama di Sei-Nyirih untuk mendirikan kampung di tepian Sungai Gesek itu datang dengan menumpang sampan, bukan sepeda motor seperti yang sedang kami tumpangi hari itu. Informasi awal yang kami dapatkan, cara tercepat mencapai kampung itu memang naik sampan, yakni dari Kampung Madung, di ujung perbukitan Senggarang. “Dari sana, langsung naik sampan saja,” kata seorang yang kami tanyai.
Tapi sampan kemudian menjadi persoalan. Sebab, tidak ada transportasi reguler yang menjangkau Sei-Nyirih. Artinya tidak ada pompong Madung-Sei Nyirih PP (pulang pergi). Maka perjalanan dari kampung ke kampung menuju Sei-Nyirih itu hanya diberi pilihan, menyewa pompong dari Madung atau naik sepeda motor Jepang menembus hutan belukar dari arah Jalan Tanjunguban, tepatnya di simpang Desa Toapaya.
Pada salah jalan yang kesekian, akhirnya jalan menuju kampung itu ditemukan. Orang yang kami temui di Pesantren Al-Madinah, Ceruk Ijo, Kecamatan Teluk Bintan, meminta kami untuk mencari kebun nanas dan gundukan pasir. Itulah dua pertanda alam yang harus ditemukan bila tak ingin sesat sampai di kampung. Bagi warga Tembeling atau Toapaya, Sei-Nyirih mereka kenal lewat dua buah perusahaan pasir yang beroperasi di sana. Namun keduanya kini sudah tutup, menyisakan gundukan pasir yang tingginya dua kali tiang listrik dan lebarnya satu halaman sepakbola di muka kampung itu.
Sahabat seperjalanan saya, Bung Ari Sastra langsung sumringah melihat gundukan pasir itu. Artinya perjalanan kami sudah dekat. Sejak tadi, Aris yang jabatannya Kepala Biro Harian "Tribun Batam" Tanjungpinang itu hanya duduk di jok belakang motor tanpa banyak bicara. Panas membuat energi bicaranya hilang. Dalam terkaman sinar matahari siang itu, sekilas ia seperti bangau Hokaido yang tak terawat, kuyu, lusuh, diam, tapi pakai tas pinggang bermerek. Hanya tas yang dibawanya itulah yang membuat ia demikian berharga, laiknya bangai Hokaido di gurun pasir gersang Sei-Nyirih. Tas itu selalu dibawanya ke mana saja. Tiga bulan yang lalu, seorang pejabat teras di Tanjungpinang meloakkan tas itu di sebuah pasar kaget. Si Bung Bangau itu pun langsung menyambar gesit. Calon pembeli lain terpana, dan sedikit iri, karena kalah cepat.
“Ya, ini Sei-Nyirih. Langsung saje ke bawah, ke rumah Pak RT. Pak Kasman namanya,” kata serorang ibu yang kami temui di muka kampung. Tak banyak yang berbeda dari kampung ini dengan kampung nelayan di pesisir lainnya. Rumah dibangun hanya beberapa jengkal dari laut, di depan rumah yang rata-rata berbentuk panggung itu dibuat beranda, untuk duduk santai, menikmati semilir angin pesisir.
Sebuah masjid bercat kuning yang dibangun di tengah kampung seperti menjadi sentra dari denyut nadi kehidupan kampung. Rumah-rumah warga dibangun di kanan kiri masjid, menyerupai lingkaran tak sempurna. Namun kalau dihitung, rumah bedinding papan mungkin tujuh kali lipat banyaknya dari pada rumah beton. Para warga hidup sebagai nelayan dan buruh kebun karet, serta buruh serabutan. Dulu, para pemuda kampung kerja sebagai buruh di penambangan pasir. “Tapi sejak lebaran Cina kemarin, perusahaan ditutup,” kata Sarifah (50), seorang warga kampung.
Terbelah
SEBELUMNYA, orang tidak pernah tahu nama kampung ini. Namun seiring dengan konflik tapal batas yang tak kunjung usai antara Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan, nama kampung ini pun mencuat.
Bahkan nama kampung ini sempat dibahas oleh sejumlah pejabat Pemprov Kepri, Pemkab Bintan dan Pemko Bintan di Kantor Gubernur Kepri pada Senin-Selasa (31/7-1/8/2006). Awal mula konflik sebenarnya muncul seiring pemekaran Tanjungpinang dan Kabupaten Kepri. Setelah Provinsi Kepri terbentuk dan Kabupaten Kepri menjelma menjadi Kabupaten Bintan, ternyata konflik tapal batas di Sei-Nyirih ini tak kunjung usai juga.
Koran Tribun pada edisi Juli-Agustus 2006 maupun Maret 2007 pernah mengangkat hasil pembahasan status Sei-Nyirih ini. Berdasarkan tapal batas wilayah, kawasan Sei- Nyirih diklaim oleh Pemkab Bintan masuk ke dalam teritorial mereka. Namun, selama ini untuk urusan adminsitrasi seperti surat-surat tanah dan dokumen kependudukan, masyarakat Sei-Nyirih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang.
Karena rapat yang difasilitasi Biro Pemerintahan Pemprov Kepri sempat tak kunjung sampai pada kata putus, maka Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan sepakat untuk membentuk Tim Khusus di bawah Biro Pemerintahan Kepri yang akan mengkaji dan menelusuri persoalan di dua wilayah tersebut.
Asisten Satu Bidang Tata Praja Pemkab Bintan waktu itu, Yudha Inangsa, menjelaskan, bila muncul persoalan administratif maka dapat diselesaikan dengan cara memperbaikinya. Namun, selama ini, untuk batas wilayah, masing-masing sudah memiliki titik ordinat sendiri di dalam peta. Dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah memiliki peta tersebut.
Di awal pembentukan Kota Tanjungpinang sebagai daerah otonom beberapa tahun lalu, persoalan batas wilayah ini sudah pernah diajukan oleh Pemkab Bintan untuk dibahas. Namun sampai saat ini masih belum bisa dituntaskan. Sei-Nyiri, menurut Yudha, batasnya dipisahkan oleh sungai yang bermuara di Teluk Bintan. “Batas Kota Tanjungpinang itu diambil dari batas alam,” kata Yudha waktu itu.
Sementara itu, Dedy Chandra yang waktu itu mewakili Bagian Pemerintahan Pemko Tanjungpinang menjelaskan, sejak terbentuknya Kota Administratif (Kotif) Tanjungpinang pada sekitar 1983 sampai saat ini, masyarakat Sei-Nyirih dalam urusan kependudukan masih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang.
Awal Maret 2007, Raja Ariza yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Kepri ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa Tim Khusus sudah selesai bekerja. “Sei-Nyirih tetap masuk wilayah Kabupaten Bintan,” kata Raja Ariza.
Warga Pilih Tanjungpinang
Namun bagi masyarakat sendiri, mereka sebenarnya sudah nyaman berada di bawah naungan Pemko Tanjungpinang. Adalah sejarah yang mereka pegang. Bahwa sejak tiga generasi lalu, mereka memiliki ikatan yang kuat dnegan Kampung Madung, yang masuk wilayah Tanjungpinang. “Sejak tok saye, lalu bapak saye, semuanya sudah masuk Tanjungpinang,” kata Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih. Bahkan Kasman mengaku masih menyimpan KTP lama yang menunjukkan mereka masuk dalam wilayah Kota Adminsitratif Pemko Tanjungpinang.
Untuk mempertegas daerah tersebut sebagai bagian dari Tanjungpinang, warga pun membuat plang papan kecil di jalan yang menuju kampung. Di plang itu tertulis bahwa wilayah itu masuk Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota.
Sebagai bukti bahwa warga tetap ingin bergabung dengan Tanjungpinang, pada Pilwako Tanjungpinang Desember 2007 lalu, mereka pun datang ke tempat pemungutan suara dan mencoblos. “Banyak yang milih Ibu Wali di kampung ini,” kata seorang warga.
Bila Hujan, Para Siswa tak Sekolah
DI Sei-Nyirih, anak-anak berangkat ke sekolah naik sampan. Kalau hujan turun, mereka tak bisa berangkat ke sekolah. Sampan mungil mereka terlalu rapuh untuk menghadapi terjangan ombak. Sampan mereka pernah tenggelam Tapi budak-budak Melayu itu menyimpan rapi cerita itu, hingga para orangtua mereka tak ada satu pun yang tahu.
MEREKA adalah putra-putri para nelayan Melayu yang tangguh. Laut, ombak, dan sampan adalah sahabat keseharian mereka. Maka jangan heran bila budak-budak Melayu di Kampung Sei-Nyirih itu lincah mendayung sampan membelah laut menuju sekolah mereka di kampung seberang.
Pagi masih belum jadi ketika Icam kecil sudah melangkahkan kaki meninggalkan rumahnya, di tepian Sungai Gesek. Seragam putih-merah, sepatu, dan sebuah tas cangklong tergantung di pundaknya. Icam menuju ke dermaga kampung, yang berjarak tak sampai 73 langkah dari pintu rumahnya.
Tak berbeda dengan Icam, Ita, Hendra, dan Daniel juga melangkahkan kaki menembus kabut yang masih menggantung menuju dermaga beton dengan panjang tak sampai 50 meter itu. Sebuah sampan kayu sudah menunggu mereka di situ. Panjang sampan hanya sekitar empat meter dengan lebar tak sampai satu meter. Paling banyak, sampan itu bisa mengangkut empat anak.
Seperti hari-hari kemarin, pukul 06.00 WIB, mereka sudah sampai di dermaga. “Kite biase berangkat pukul enam. Pukul tujuh dah sampai kat sekolah,” kata Icam, yang bernama asli Samsi ini.
Sekolah mereka sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar tiga kelokan sungai. Icam, Ita, dan Hendra kini tercatat sebagai siswa SD 001 Madung, Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Sementara Daniel duduk di kelas dua sekolah yang sama.
Tapi tidak setiap hari perjalanan mereka ke sekolah mulus. “Kalau hujan lebat, kami tak sekolah,” kata Ita, yang bernama asli Mardiah. Adalah ombak yang tak bisa mereka lawan dengan sampan yang tingginya hanya dua setengah jengkal dari permukaan laut itu.
Selain itu, sampan mereka pun tak punya atap. Hujan telah menyurutkan langkah anak-anak kampung itu untuk menuntut ilmu. Tapi, kalau hari cerah, mereka melewati semua dengan kegembiraan. Bahkan mereka saling berebut untuk memegang dayung sewaktu berangkat ke sekolah.
Dengar saja pertikaian Icam dan Ita saat ditanya siapa yang memegang dayung sewaktu mereka berangkat ke sekolah. “Aku!” kata Ita, cepat. “Hei. Aku yang pegang. Budak betine mane bisa pegang dayung,” kata Icam sambil tersenyum ke Hendra dan Daniel. Ini bukan pertikaian gender. Tapi Ita memang diberi julukan oleh kawan-kawannya sebagai gadis cilik tomboi. Lihat saja siang itu. Ia lari ke laut sendiri dan mendayung sampan ke laut. Di tangannya, seekor bayi burung tergenggam.
Ita baru naik ke dermaga sewaktu Icam melompat ke sampannya. Dari keempatnya, hanya Daniel yang punya prestasi bagus di sekolah. Ia juara dua. Sementara Ita, Icam dan Hendra, cukup puas setelah menduduki rangking dua dan tiga dalam lomba makan kerupuk yang digelar saat Agustusan.
Mereka dikenal sebagai kawan karib. Bukti kesetiakawanan itu mereka wujudkan dalam bentuk menyimpan rapat-rapat kisah tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra di laut sewaktu mereka pulang sekolah.
Waktu itu, cerita Icam, sampan penuh air. Hendra tidak mau membuang air. Akibatnya sampan pun tenggelam. Namun mereka semua yang bergerak bersama untuk menolong Hendra. Anak-anak nelayan itu dikenal jago berenang. Kadang sewaku pulang sekolah, setelah menanggalkan seragam putih merah, mereka menyemplung ke laut. Ita yang perempuan tak ikut nyemplung. Ia yang menceritakan kelakuan teman-temannya itu. Tapi semua kisah kenakalan masa kecil itu mereka simpan rapat. Tak ada orangtua yang tahu. Sarifah maupuh Piah, dua warga kampung juga tak tahu saat ditanya tentang tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra.
Iuran Sampan Rp 15 Ribu
SAMPAI kapan budak-budak Melayu pesisir itu masih akan terus mendayung sampan ke sekolah, kita tak tahu. Mereka kini terselamatkan oleh adanya dana BOS, yang membuat orangtua mereka tak tak perlu membayar iuran sekolah. Tapi sekitar empat tahun lalu, sewaktu dana BOS belum ada, belasan budak-budak kampung putus sekolah. “Sekarang mereka bise sekolah karena tak bayar,” kata Maryam, ibunda Ita.
Tapi ternyata persoalan tak berhenti sampai di situ saja. Kini para orangtua siswa ternyata harus menanggung biaya transportasi untuk anak-anak mereka. Iyalah, Icam, Ita, Hendra maupun Daniel pagi hari bisa naik sampan gratis, karena milik seorang saudara mereka. Tapi saat pulang sekolah, bocah-bocah ini terpaksa dititipkan ke penambang sampan dengan iuran Rp 15 ribu per bulan per anak. Tak semua dari orangtua mereka punya sampan.
Piah, suami Maryam dan ayah Ita, begitu berharap agar Pemko Tanjungpinang bisa memberikan bantuan pompong untuk para anak sekolah ini Dulu, kata Piah, memang Pemko Tanjungpinang pernah memberikan bantuan pompong. Namun ukurannya besar dan memakan minyak dengan boros. Pompong itu kini sudah tinggal rongsokan. “Kalau bise, pompong kecil saje dah cukup. Agar tak boros,” kata Piah, setengah berharap.
Listrik Tidak Byar-Pett di Rumah Piah
KEBERADAAN listrik tenaga surya telah mengakhiri era malam-malam panjang dengan lampu teplok di rumah Piah dan enam warga lainnya. Tak seperti warga Tanjungpinang yang sebulan terakhir was-was listrik padam tanpa pemberitahuan, Piah yang tinggal di pelosok Kampung Sei-Nyirih itu tenang-tenang saja. Bahkan siang hari pun, ia bisa menghidupkan lampu neon 15 watt di ruang tengah rumah panggungnya.
“Ini, coba lihat sendiri. Hidup, kan,” kata Piah (34), setelah menekan saklar lampu. Lampu neon yang masih putih berkilau itu menyala, berebut dengan sinar matahari menerangi ruangan rumahnya. Di luar sana, panas terik seperti membakar ubun-ubun. Kalau orang Tanjungpinang tahu apa yang dilakukan Piah siang itu, wajar saja bila mereka iri pada lelaki yang berprofesi sebagai nelayan tradisional ini.
Rumah Piah, sejak tiga bulan terakhir tak pernah mati lampu. Dan hebatnya lagi, di tanggal 20 tiap bulannya, ia tak perlu berdesakan antri bayar listrik ke loket pembayaran terdekat. Matahari telah memberikan semua penerangan di rumah lelaki beranak dua itu secara gratis.
Padahal, tiga bulan yang lalu, Piah dan istrinya, Maryam (27) serta dua anak mereka yang masih kecil-kecil terpaksa melewati malam-malam panjang di rumah berdinding papan itu dengan pelita. Tak sampai malam pelita itu dihidupkan, sebab Piah mengaku tak kuat membeli minyak tanah. Jarak 100 meter dari rumahnya yang persis berbatasan dengan Sungai Gesek itu, rumah warga lainnya terang benderang sampai pukul 23.00 malam.
Sekitar setahun silam, Pemko Tanjungpinang mengucurkan bantuan dalam bentuk pembelian satu unit genset beserta jaringan kabel. Namun bantuan itu tidak termasuk pembelian solar. Akibatnya, warga yang ingin menyambung listrik harus mau membayar iuran beli solar saban akhir bulan.
“Satu neon iurannya Rp 15 ribu. Saya tak ada uang,” kata Piah. Tapi tiga bulan lalu, keinginan Piah untuk melihat rumahnya diterangi oleh bola lampu temuan Thomas Alfa Edison itu terwujud. Setelah lebih dari 300 tahun Alfa Edison menemukan bola ajaib yang bisa memancarkan sinar itu, akhirnya di kampung yang letaknya ribuan mil dari Eropa itu, Piah menikmati juga penemuan yang mengubah sejarah umat manusia itu.
Bantuan tersebut tak sekedar penampang listrik tenaga surya saja, tapi lengkap dengan tiga unit neon putih dan sebuah accu. Setelah tiga bulan berjalan, accu itu belum rusak. Sebenarnya, penampang kecil itu masih cukup daya bila sekedar menyalurkan energi listrik ke satu unit monitor televisi hitam putih. “Tapi kami belum punya uang untuk televisi,” kata Piah, yang setiap malam harus bergelut dengan air asin untuk menyuluh udang itu.
Itulah sepenggal kisah kehidupan seorang warga di kampung nelayan itu. Selain persoalan listrik yang tak byar-pett di rumah Piah itu, ada eksotisme lain yang ditawarkan oleh Kampung Sei-Nyirih itu. Kisah-kisah pernak-pernik kehidupan itu terkait dengan kehidupan para nelayan di kampung itu.
Naik Sampan ke Tanjungpinang
Syarifah (50) tak pernah puas bercerita sekedar beberapa menit tentang aktivitas yang dilakukannya sejak puluhan tahun silam. Istri Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih, Keluarahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota itu pernah menjalani bagaimana susahnya mendayung sampan menembus malam menuju Pasar Ikan di ujung Pelantar KUD, Tanjungpinang.
Syarifah adalah pengumpul ketam hitam di kampung itu. Nelayan lain banyak yang menyetor hasil tangkapannya kepada wanita asli Daik, Lingga ini. Maka setelah dirasakan jumlah ketam cukup, dinihari, sekitar pukul 02.00 WIB, ia mendayung sampan. “Sampai kat Pelantar KUD sekitar satu setengah jam. Kadang saye juge berangkat pukul tige pagi,” kata wanita yang kini membuka warung kelontongan di rumahnya itu. Hebatnya lagi, wanita berkulit putih itu melakukan pekerjaan mengantar hasil tangkapan laut itu seorang diri.
Tapi sejak dua tahun lalu, Syarifah pun dikalahkan oleh usia. “Saye sudah tak kuat lagi dayung sampan sendiri,” katanya. Maka ia pun memilih cara lain, yakni naik taksi Tembeling. Tauke taksi di pusat kecamatan Teluk Bintan itu bernama Tek Bun. “Kalau saye SMS, dia pasti singgah di kampung ini,” kata Syarifah. Kebetulan Sei Nyirih menjadi rute yang dilewati kendaraan dalam perjalanan dari Tembeling ke Tanjungpinang.
Tekhnologi ternyata telah memudahkan semua. Termasuk cara Syarifah meminta Tek Bun singgah. Tapi ternyata ongkosnya juga bukan kepalang. “Sekali jalan Rp 30 ribu,” kata Syarifah. Mungkin ongkos semahal itu dianggap Tek Bun wajar, sebab jarak tempuh Tembeling-Tanjungpinang bisa mencapai sekitar 45 kilometer.
Minggu, 30 Maret 2008
Lautan Gamis di Baiturahman...
SEJAK Sabtu (29/3) pagi, kesunyian Masjid Baiturahman itu sudah terenggut. Lepas sholat Subuh, mereka sudah bekerja, ada yang memasak, merapikan masjid, juga sekaligus menyambut tamu. Ada hajatan besar yang berlangsung Sabtu malam hingga Minggu (30/3) pagi.
Masjid yang berlokasi di kawasan Sungaijang, Tanjungpinang itu terpilih sebagai tempat bertemunya sekitar seribuan anggota Jemaah Tabligh dari pelosok Kepri. Mereka datang Sabtu pagi. Bahkan yang dari Malaysia, sekitar sepuluh orang jumlahnya, sudah datang sejak Jumat kemarin.
Ini pertemuan pertama di tahun ini, setelah pada akhir tahun lalu, mereka menggelar pertemuan serupa di Tanjungbalai Karimun. Pertemuan sendiri digelar tiap empat bulan sekali, berpindah-pindah, dari Tanjungpinang, Batam, hingga Tanjungbalai Karimun.
Berkumpulnya mereka di Masjid Baiturahman mengundang ketertarikan tersendiri bagi warga yang melintas. Sejak dulu, seantero kota sudah paham bahwa masjid itu adalah tempat bertemunya para anggota Jemaah Tabligh.
Sabtu pagi itu, orang-orang yang mencintai Tuhannya itu datang dengan memakai gamis putih-putih. Celana mereka tak menyentuh mata kaki, tergantung sejengkal dari telapak kaki. Sementara baju mereka yang juga berwarna putih terjulur sampai beberapa jengkal dari atas lutut. Janggut mereka panjang, dan banyak dari mereka memakai kopiah bulat.
Orang menyebut mereka dengan nama Jemaah Tabligh. Bahkan ada yang memberikan julukan tak sedap “Jemaah Kompor”. Munculnya sebutan ini karena setiap melakukan perjalanan dari masjid ke masjid, para lelaki bergamis itu selalu membawa kompor dan alat masak lainnya.
Namun mereka sendiri tidak menamakan diri mereka apapun. Semua sebutan itu diberikan oleh orang luar. “Kami ini tak ada nama. Jemaah saja. Tapi orang serings ebut Jemaah Tabligh. Tak apalah,” kata Huzrin Hood, mantan Bupati Kepri yang merupakan satu di antara sekian tokoh utama di Jemaah Tabligh Masjid Baiturahman.
Lantas apa tujuan pertemuan tersebut? Huzrin yang ditemui Sabtu pagi saat mempersiapkan penyambutan kedatangan seribuan jemaah itu mau berbagi cerita sedikit. Menurutnya, pertemuan itu tak lain untuk bermusyawarah sekaligus berdakwah dan bersilaturahmi sesama umat muslim.
Termasuk di dalamnya akan dibahas pengiriman jemaah untuk berdakwah ke berbagai pelosok. “Ke seluruh dunia,” kata Huzrin, tersenyum. Seluruh dunia yang dimaksud oleh Huzrin berpatokan pada kemampuan ekonomi para jemaah. Bila kondisi keuangan mereka belum cukup, maka seluruh dunia yang dimaksud bisa diterjemahkan menjadi ke berbagai pulau-pulau di Kepri. “Sampai ke Pulau Laut, di Natuna sana,” lanjutnya.
Selain itu, pertemuan ini juga sekaligus untuk mempersiapkan delegasi mereka yang akan dikirim mengikuti pertemuan Jemaah Tabligh se-Indonesia yang rencananya di gelar Agustus mendatang di Bumi Serpong Damai, Jakarta.
Tapi di balik semua persiapan itu, Muhamad Farouq menjadi orang paling sibuk. Ia dipercaya mengurusi makanan sekitar seribuan jemaah. Maka ia meminta sekitar 40 rekannya untuk membantu membuat dapur umum, di bagian samping masjid.
“Kita potong 10 ekor kambing,” kata Farouq. Makan dibagi menjadi tiga kali. Selain kambing, menunya adalah ayam. Lantas dari mana semua dana ini di dapat? Hendri Kurniawan, seorang anggota panitia menyebut, dana itu didapat dari sumbangan sukarela antarmereka. Kalau sanggup, ada yang menyumbang Rp 10 ribu, ada juga yang Rp 100 ribu. “Semuanya dengan keikhlasan saja,” kata Hendri. (trisno aji putra)
Masjid yang berlokasi di kawasan Sungaijang, Tanjungpinang itu terpilih sebagai tempat bertemunya sekitar seribuan anggota Jemaah Tabligh dari pelosok Kepri. Mereka datang Sabtu pagi. Bahkan yang dari Malaysia, sekitar sepuluh orang jumlahnya, sudah datang sejak Jumat kemarin.
Ini pertemuan pertama di tahun ini, setelah pada akhir tahun lalu, mereka menggelar pertemuan serupa di Tanjungbalai Karimun. Pertemuan sendiri digelar tiap empat bulan sekali, berpindah-pindah, dari Tanjungpinang, Batam, hingga Tanjungbalai Karimun.
Berkumpulnya mereka di Masjid Baiturahman mengundang ketertarikan tersendiri bagi warga yang melintas. Sejak dulu, seantero kota sudah paham bahwa masjid itu adalah tempat bertemunya para anggota Jemaah Tabligh.
Sabtu pagi itu, orang-orang yang mencintai Tuhannya itu datang dengan memakai gamis putih-putih. Celana mereka tak menyentuh mata kaki, tergantung sejengkal dari telapak kaki. Sementara baju mereka yang juga berwarna putih terjulur sampai beberapa jengkal dari atas lutut. Janggut mereka panjang, dan banyak dari mereka memakai kopiah bulat.
Orang menyebut mereka dengan nama Jemaah Tabligh. Bahkan ada yang memberikan julukan tak sedap “Jemaah Kompor”. Munculnya sebutan ini karena setiap melakukan perjalanan dari masjid ke masjid, para lelaki bergamis itu selalu membawa kompor dan alat masak lainnya.
Namun mereka sendiri tidak menamakan diri mereka apapun. Semua sebutan itu diberikan oleh orang luar. “Kami ini tak ada nama. Jemaah saja. Tapi orang serings ebut Jemaah Tabligh. Tak apalah,” kata Huzrin Hood, mantan Bupati Kepri yang merupakan satu di antara sekian tokoh utama di Jemaah Tabligh Masjid Baiturahman.
Lantas apa tujuan pertemuan tersebut? Huzrin yang ditemui Sabtu pagi saat mempersiapkan penyambutan kedatangan seribuan jemaah itu mau berbagi cerita sedikit. Menurutnya, pertemuan itu tak lain untuk bermusyawarah sekaligus berdakwah dan bersilaturahmi sesama umat muslim.
Termasuk di dalamnya akan dibahas pengiriman jemaah untuk berdakwah ke berbagai pelosok. “Ke seluruh dunia,” kata Huzrin, tersenyum. Seluruh dunia yang dimaksud oleh Huzrin berpatokan pada kemampuan ekonomi para jemaah. Bila kondisi keuangan mereka belum cukup, maka seluruh dunia yang dimaksud bisa diterjemahkan menjadi ke berbagai pulau-pulau di Kepri. “Sampai ke Pulau Laut, di Natuna sana,” lanjutnya.
Selain itu, pertemuan ini juga sekaligus untuk mempersiapkan delegasi mereka yang akan dikirim mengikuti pertemuan Jemaah Tabligh se-Indonesia yang rencananya di gelar Agustus mendatang di Bumi Serpong Damai, Jakarta.
Tapi di balik semua persiapan itu, Muhamad Farouq menjadi orang paling sibuk. Ia dipercaya mengurusi makanan sekitar seribuan jemaah. Maka ia meminta sekitar 40 rekannya untuk membantu membuat dapur umum, di bagian samping masjid.
“Kita potong 10 ekor kambing,” kata Farouq. Makan dibagi menjadi tiga kali. Selain kambing, menunya adalah ayam. Lantas dari mana semua dana ini di dapat? Hendri Kurniawan, seorang anggota panitia menyebut, dana itu didapat dari sumbangan sukarela antarmereka. Kalau sanggup, ada yang menyumbang Rp 10 ribu, ada juga yang Rp 100 ribu. “Semuanya dengan keikhlasan saja,” kata Hendri. (trisno aji putra)
Kamis, 27 Maret 2008
Kisah Perjalanan Marwah di Sei-Dompak
AGOES Soemarwah bisa jadi adalah lelaki Semarang pertama di awal tahun ini yang naik sampan kotak di Sungai Dompak itu. Maka kemudian ia pun luar biasa menunjukkan kekagumannya pada penemuan asli orang-orang Dompak itu.
“Biasanya orang membuat kapal itu kan dengan perhitungan rinci tentang berat dan lainnya, sehingga ketika berada di air tak tenggelam. Tapi apakah mereka juga pernah menghitung seperti itu ya,” tanya Marwah, panggilan akrabnya, tanpa melepas pandang pada sampan yang berbentuk persegi panjang berukuran panjang lima meter dan lebar sekitar dua meter itu.
Pakcik Rustam, penambang sampan kotak itu diam, seperti tak ingin menjawab pertanyaan Marwah. Sebab, ia yakin, lelaki berkaca mata minus dua yang posturnya sekilas mirip kelapa hibrida tak subur itu sudah tahu jawabannya. Mereka, para nelayan tradisional itu sudah pasti tidak punya perhitungan tekhnis tentang itu. Yang mereka punya hanya naluri.
Dan naluri itulah yang kemudian menjadi sejarah awal lahirnya empat sampan kotak di penyeberangan yang menghubungkan Kampung Dompak Lama dan Kampung Dompak Seberang. Kedua kampung yang berada di Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari, Tanjungpinang ini dipisahkan oleh sebuah selat pendek sejarak sekitar 200 meter.
Karena selat pendek yang tak bernama itulah, perjalanan menggunakan sepeda motor yang menghubungkan kedua kampung yang punya sejarah yang mirip ini pun menjadi panjang. Pengendara sepeda motor, setahun lalu, sebelum era kelahiran sampan kotak itu, meski memutar sejauh sampai sekitar 30 kilometer, melalui kawasan Wacopek, untuk sampai ke Kampung Dompak Seberang. Padahal bila naik sampan kotak, jarak tempuh tak sampai lima menit.
Adalah Pakcik Pade, lelaki asal Kampung Dompak Seberang yang memulai sejarah sampan kotak itu. Semuanya bermula dari kebetulan. Setahun lalu, ada turnamen sepakbola antar-kampung di Dompak Lama. Para warga Dompak Seberang punya kesebelasan kesayangan yang bertanding dalam turnamen tanpa piala itu. Mereka ingin menonton, namun terpaksa meletakkan motor di pinggir sungai karena tak bisa dibawa menyeberang.
Pakcik Pade, yang sudah puluhan tahun mencari Ketam Renjong di Sei Dompak pun menangkap peluang bisnis itu. Setelah ketam sulit dicari, apalah daya nelayan Melayu tradisional itu. Maka Pakcik Pade pun bereksperimen, menyulap sampan tangkap ketamnya menjadi alat transportasi penyeberangan, laiknya kapal motor roro (roll-on/roll off).
Diberi nama sampan kotak, karena memang bentuk papan yang bisa mengapung itu mirip kotak, tapi tak bujur sangkar, melainkan persegi panjang. Lebih tepatnya kotak lonjong. Tapi orang Melayu terkenal sebagai orang-orang yang sederhana, termasuk sederhana dan efisien dalam memberi nama benda dan tempat di sekitar mereka. Nama sampan kotak lonjong tentu terlalu panjang, lebih singkat bila sekedar sampan kotak. “Kami sebut kotak saje. Tapi sebut sampan kotak pon boleh juge-lah,” kata Pakcik Rustam, sambil mendayung.
Sekali angkut, sampan kotak Pakcik Rustam bisa membawa tiga sepeda motor sekaligus. Atau kalau pemilik motornya punya nyali, empat sepeda motor pun pernah Pakcik Rustam angkut. Tapi kalau pemilik sepeda motor buatan Jepang dan Cina itu masih pikir panjang, lebih baik bersabar menunggu sampan kotak lain, dari pada berdesakan. Maklum, tak ada asuransi di penyeberangan Roro Seungai Dompak itu.
Sekali Nyebrang, Tarifnya Lima Ribu
SAMPAN kotak itu kemudian telah mengubah sejarah hidup Syahrir, Pakcik Pade, Pakcik Rustam, maupun Meijan. Mereka dulu nelayan pemburu ketam renjong di Sungai Dompak. Namun sejak Pakcik Pade menemukan kapal Roro (roll on-roll off) made in Dompak, mereka berempat pun beralih profesi sebagai penambang sampan kotak.
Ketam renjong kini menjadi komoditas langka di kawasan pesisir Tanjungpinang itu. Dulu, sekali turun ke laut, 10 kilo ketam renjong yang ditangkap dengan menggunakan bubu, bisa didapat. Tapi kini, berharap membawa pulang sekeranjang ketam renjong itu pun sudah terlalu muluk.
Bakaruddin, nelayan pemburu ketam renjong yang tinggal di Kampung Kelam Pagi, Dompak Seberang bertutur tentang sulitnya berburu ketam renjong. “Kadang saya pulang hanya bawa seekor ketam saje,” kata Bakaruddin. Kalau nasib baik, paling banyak ia bisa menangkap satu kilogram ketam renjong, yang dijual seharga Rp 28-Rp 30 ribu di pasar.
Dengan demikian, bisa dibayangkan penghasilan yang bisa dibawa pulang Syahrir, Pakcik Pade dan lainnya sewaktu masih menjadi menjadi nelayan ketam renjong dulu. Bandingkan kini misalnya, dengan penghasilan mereka setelah menjadi penambang sampan kotak. “Sehari saye bisa dapat Rp 50 ribu,” kata Syahrir, yang menekuni pekerjaan itu sejak sekitar setahun lalu itu. Sekali menyeberang, sebuah sepeda motor dikenakan tarif lima ribu rupiah.
Uang sejumlah itu menjadi sambungan nafas bagi Syahrir untuk berbelanja kebutuhan pokok di tengah melonjaknya harga-harga seperti saat ini. Kalau lagi ada hajatan atau turnamen sepakbola antarkampung, penghasilan Syahrir tambah bengkak. “Kadang sehari bisa sampai Rp 100 ribu,” kata lelaki bertubuh gempal ini.
Modal mereka pun tak besar. Mereka hanya perlu membuat sampan kotak berukuran panjang sekitar lima meter dan lebar tiga meter. Memang, bila dilihat sekilas, orang yang tak pernah menyeberang naik Kapal Roro khas buatan Dompak ini mungkin akan khawatir. Seperti misalnya bagi Agus.
Agus terlahir di daratan Jawa, dan mungkin seumur hidupnya tak pernah melihat sampan kotak jenis seperti ini. Yang ia tahu model kapal roro adalah seperti di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, yang menghubungkan Banyuwangi dengan Bali. Padahal di penyeberangan tersebut, besar kapal roro mungkin 49 kali lipat dari kapal sampan kotak itu. Kapal roro di penyeberangan Banyuwangi-Bali sekali jalan bisa mengangkut belasan kendaraan roda empat. Sementara sampan kotak, sekali jalan maksimal hanya bisa mengangkut tiga sepeda motor. Itu pun sudah membuat Pakcik Pade dan Pakcik Rustam kelelahan mendayung sampan kotak itu.
Hebatnya, sampan kotak itu pun sampai setelah setahun lebih beroperasi, belum pernah punya sejarah tenggelam seperti kapal Tampomas. Maka seperti bebek menemukan kolam, sesenang itulah Agus begitu menemukan adanya sampan kotak di Sungai Dompak itu. Lebih dari sepuluh menit Agus terus mengamati bentuk sampan kotak, sambil terus menghitung berat jenis sampan, sehingga masih tetap mengapung di permukaan air, meski mengangkut tiga sepeda motor dengan tiga pengendaranya sekaligus.
Karena begitu terkesima, lelaki yang baru setahun menetap di Tanjungpinang itu pun sampai dua kali mencoba menyeberang dengan sampan kotak, bolak-balik, seperti strika baju.
Yang lebih membuat Agus semakin kagum adalah pembagian sistem kerja di antara empat penambang sampan kotak. Di ujung Kampung Dompak Lama, dua orang penambang sampan kotak, Syahrir dan rekannya siaga menunggu penumpang. Sementara di ujung sebelah satunya lagi, yakni di Dompak Seberang, Pakcik Pade yang siaga. Begitu Syahrir mengangkut penumpang ke Dompak Seberang, maka ketika kembali ia tidak dibenarkan membawa penumpang. Sebab penumpang dari Dompak Seberang ke Dompak Lama adalah jatah Pakcik Pade. Karena itu, setahun pun mereka sama-sama mencari nafkah, tidak pernah timbul persaingan usaha tidak sehat. Bahkan ketika Syahrir mengayuh sampan kotak sampai bertemu Pakcik Rustam, ia terkekeh dan memberikan gelar Pakcik Rustam sebagai lelaki penambang sampan yang menyeramkan. Pakcik Rustam pun terkekeh, mengisap dalam-dalam rokok kereteknya. (trisno aji putra)
“Biasanya orang membuat kapal itu kan dengan perhitungan rinci tentang berat dan lainnya, sehingga ketika berada di air tak tenggelam. Tapi apakah mereka juga pernah menghitung seperti itu ya,” tanya Marwah, panggilan akrabnya, tanpa melepas pandang pada sampan yang berbentuk persegi panjang berukuran panjang lima meter dan lebar sekitar dua meter itu.
Pakcik Rustam, penambang sampan kotak itu diam, seperti tak ingin menjawab pertanyaan Marwah. Sebab, ia yakin, lelaki berkaca mata minus dua yang posturnya sekilas mirip kelapa hibrida tak subur itu sudah tahu jawabannya. Mereka, para nelayan tradisional itu sudah pasti tidak punya perhitungan tekhnis tentang itu. Yang mereka punya hanya naluri.
Dan naluri itulah yang kemudian menjadi sejarah awal lahirnya empat sampan kotak di penyeberangan yang menghubungkan Kampung Dompak Lama dan Kampung Dompak Seberang. Kedua kampung yang berada di Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari, Tanjungpinang ini dipisahkan oleh sebuah selat pendek sejarak sekitar 200 meter.
Karena selat pendek yang tak bernama itulah, perjalanan menggunakan sepeda motor yang menghubungkan kedua kampung yang punya sejarah yang mirip ini pun menjadi panjang. Pengendara sepeda motor, setahun lalu, sebelum era kelahiran sampan kotak itu, meski memutar sejauh sampai sekitar 30 kilometer, melalui kawasan Wacopek, untuk sampai ke Kampung Dompak Seberang. Padahal bila naik sampan kotak, jarak tempuh tak sampai lima menit.
Adalah Pakcik Pade, lelaki asal Kampung Dompak Seberang yang memulai sejarah sampan kotak itu. Semuanya bermula dari kebetulan. Setahun lalu, ada turnamen sepakbola antar-kampung di Dompak Lama. Para warga Dompak Seberang punya kesebelasan kesayangan yang bertanding dalam turnamen tanpa piala itu. Mereka ingin menonton, namun terpaksa meletakkan motor di pinggir sungai karena tak bisa dibawa menyeberang.
Pakcik Pade, yang sudah puluhan tahun mencari Ketam Renjong di Sei Dompak pun menangkap peluang bisnis itu. Setelah ketam sulit dicari, apalah daya nelayan Melayu tradisional itu. Maka Pakcik Pade pun bereksperimen, menyulap sampan tangkap ketamnya menjadi alat transportasi penyeberangan, laiknya kapal motor roro (roll-on/roll off).
Diberi nama sampan kotak, karena memang bentuk papan yang bisa mengapung itu mirip kotak, tapi tak bujur sangkar, melainkan persegi panjang. Lebih tepatnya kotak lonjong. Tapi orang Melayu terkenal sebagai orang-orang yang sederhana, termasuk sederhana dan efisien dalam memberi nama benda dan tempat di sekitar mereka. Nama sampan kotak lonjong tentu terlalu panjang, lebih singkat bila sekedar sampan kotak. “Kami sebut kotak saje. Tapi sebut sampan kotak pon boleh juge-lah,” kata Pakcik Rustam, sambil mendayung.
Sekali angkut, sampan kotak Pakcik Rustam bisa membawa tiga sepeda motor sekaligus. Atau kalau pemilik motornya punya nyali, empat sepeda motor pun pernah Pakcik Rustam angkut. Tapi kalau pemilik sepeda motor buatan Jepang dan Cina itu masih pikir panjang, lebih baik bersabar menunggu sampan kotak lain, dari pada berdesakan. Maklum, tak ada asuransi di penyeberangan Roro Seungai Dompak itu.
Sekali Nyebrang, Tarifnya Lima Ribu
SAMPAN kotak itu kemudian telah mengubah sejarah hidup Syahrir, Pakcik Pade, Pakcik Rustam, maupun Meijan. Mereka dulu nelayan pemburu ketam renjong di Sungai Dompak. Namun sejak Pakcik Pade menemukan kapal Roro (roll on-roll off) made in Dompak, mereka berempat pun beralih profesi sebagai penambang sampan kotak.
Ketam renjong kini menjadi komoditas langka di kawasan pesisir Tanjungpinang itu. Dulu, sekali turun ke laut, 10 kilo ketam renjong yang ditangkap dengan menggunakan bubu, bisa didapat. Tapi kini, berharap membawa pulang sekeranjang ketam renjong itu pun sudah terlalu muluk.
Bakaruddin, nelayan pemburu ketam renjong yang tinggal di Kampung Kelam Pagi, Dompak Seberang bertutur tentang sulitnya berburu ketam renjong. “Kadang saya pulang hanya bawa seekor ketam saje,” kata Bakaruddin. Kalau nasib baik, paling banyak ia bisa menangkap satu kilogram ketam renjong, yang dijual seharga Rp 28-Rp 30 ribu di pasar.
Dengan demikian, bisa dibayangkan penghasilan yang bisa dibawa pulang Syahrir, Pakcik Pade dan lainnya sewaktu masih menjadi menjadi nelayan ketam renjong dulu. Bandingkan kini misalnya, dengan penghasilan mereka setelah menjadi penambang sampan kotak. “Sehari saye bisa dapat Rp 50 ribu,” kata Syahrir, yang menekuni pekerjaan itu sejak sekitar setahun lalu itu. Sekali menyeberang, sebuah sepeda motor dikenakan tarif lima ribu rupiah.
Uang sejumlah itu menjadi sambungan nafas bagi Syahrir untuk berbelanja kebutuhan pokok di tengah melonjaknya harga-harga seperti saat ini. Kalau lagi ada hajatan atau turnamen sepakbola antarkampung, penghasilan Syahrir tambah bengkak. “Kadang sehari bisa sampai Rp 100 ribu,” kata lelaki bertubuh gempal ini.
Modal mereka pun tak besar. Mereka hanya perlu membuat sampan kotak berukuran panjang sekitar lima meter dan lebar tiga meter. Memang, bila dilihat sekilas, orang yang tak pernah menyeberang naik Kapal Roro khas buatan Dompak ini mungkin akan khawatir. Seperti misalnya bagi Agus.
Agus terlahir di daratan Jawa, dan mungkin seumur hidupnya tak pernah melihat sampan kotak jenis seperti ini. Yang ia tahu model kapal roro adalah seperti di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, yang menghubungkan Banyuwangi dengan Bali. Padahal di penyeberangan tersebut, besar kapal roro mungkin 49 kali lipat dari kapal sampan kotak itu. Kapal roro di penyeberangan Banyuwangi-Bali sekali jalan bisa mengangkut belasan kendaraan roda empat. Sementara sampan kotak, sekali jalan maksimal hanya bisa mengangkut tiga sepeda motor. Itu pun sudah membuat Pakcik Pade dan Pakcik Rustam kelelahan mendayung sampan kotak itu.
Hebatnya, sampan kotak itu pun sampai setelah setahun lebih beroperasi, belum pernah punya sejarah tenggelam seperti kapal Tampomas. Maka seperti bebek menemukan kolam, sesenang itulah Agus begitu menemukan adanya sampan kotak di Sungai Dompak itu. Lebih dari sepuluh menit Agus terus mengamati bentuk sampan kotak, sambil terus menghitung berat jenis sampan, sehingga masih tetap mengapung di permukaan air, meski mengangkut tiga sepeda motor dengan tiga pengendaranya sekaligus.
Karena begitu terkesima, lelaki yang baru setahun menetap di Tanjungpinang itu pun sampai dua kali mencoba menyeberang dengan sampan kotak, bolak-balik, seperti strika baju.
Yang lebih membuat Agus semakin kagum adalah pembagian sistem kerja di antara empat penambang sampan kotak. Di ujung Kampung Dompak Lama, dua orang penambang sampan kotak, Syahrir dan rekannya siaga menunggu penumpang. Sementara di ujung sebelah satunya lagi, yakni di Dompak Seberang, Pakcik Pade yang siaga. Begitu Syahrir mengangkut penumpang ke Dompak Seberang, maka ketika kembali ia tidak dibenarkan membawa penumpang. Sebab penumpang dari Dompak Seberang ke Dompak Lama adalah jatah Pakcik Pade. Karena itu, setahun pun mereka sama-sama mencari nafkah, tidak pernah timbul persaingan usaha tidak sehat. Bahkan ketika Syahrir mengayuh sampan kotak sampai bertemu Pakcik Rustam, ia terkekeh dan memberikan gelar Pakcik Rustam sebagai lelaki penambang sampan yang menyeramkan. Pakcik Rustam pun terkekeh, mengisap dalam-dalam rokok kereteknya. (trisno aji putra)
Langganan:
Postingan (Atom)


