Selasa, 07 Februari 2012

Melayu.....


Melayu

KEMARIN, mereka berkumpul di Daek, Lingga membicarakan tentang Melayu. Satu pengakuan disebut: bahwa Daek adalah Bunda Tanah Melayu.

Mungkin, membicarakan tentang Melayu di tengah gempuran budaya massa yang telah masuk jauh ke seluruh ruang kesadaran hidup kita, jelas bukanlah persoalan yang mudah. Bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun, mungkin Melayu adalah sebuah kebanggan. 

Mereka terlahir ketika mall, diskon, budaya pop, MTV, dan sejenis produk budaya massa belum menusuk masuk sampai ke sendi-sendi kehidupan.

Tapi bagi mereka yang kini masih berusia 20  tahun, jelas, Melayu adalah sebuah kealpaan.
Andai saja kemarin David Beckham datang ke Lingga dan ikut seminar tentang Melayu, mungkin ceritanya akan lain. Membandingkan seminar sejarah dan budaya di Lingga dengan kedatangan David Beckham ke Jakarta, jelas bukan hal yang adil. Segelintir media saja yang melakukan liputan di Lingga, dan gaungnya juga sebatas kepada mereka yang memang sedikit peduli dan menaruh harapan pada budaya dan sejarah. 

Tapi coba bandingkan dengan liputan kedatangan Beckham dua pekan lalu ke Jakarta. Saat itu, televisi bahkan lupa bahwa pada hari yang sama, masih banyak kasus korupsi yang belum dituntaskan, juga  masih banyak debat politik yang belum habis di negeri ini.

Untuk hari itu, tiba-tiba hampir seluruh media massa bersepakat dalam satu hal: mari kita lupakan sejenak kepedihan tentang negeri ini, dan nikmatilah kedatangan Beckham.

Beckham adalah juru bicara dari generasi yang dibesarkan oleh budaya massa. Ia menjadi dewa, dan sekaligus identitas. Lihat saja, begitu banyak anak muda yang kemudian mengubah gaya sisiran rambut mereka seperti Mohawk, begitu si Tuan Beckham melakukan hal itu.

Kini memang semua orang membutuhkan segala sesuatu yang berbau budaya massa. Mereka butuh diskon yang sampai nyaris seratus persen; mereka juga butuh membeli pembersih rambut yang sering ditampilkan dalam iklan di layar kaca; juga mereka butuh mendengarkan lagu yang temanya soal alamat itu.

Maka Melayu kemudian terlupakan. Tapi di tengah gempuran globalisasi, kita tetap butuh Melayu. Globalisasi membuat orang berbicara tentang penyeragaman. Di Eropa dimulai dari mata uang, setelah itu akan masuk ke wilayah lain. Namun penyeragaman, berarti adalah keuntungan bagi yang kuat dan siap. Sementara bagi yang lemah dan tidak siap, penyeragaman berarti juga bisa jadi sebuah penindasan.

Karena itulah, kita membutuhkan Melayu, sebagai sebuah identitas global kita. Bahwa dari tujuh miliar penghuni muka bumi ini, ada sekitar setengah miliarnya yang masuk kategori Melayu. Mereka tersebar dari penghujung timur Indonesia, sampai ke Afrika Selatan.

Setengah miliar berarti sebuah kekuatan, kekuatan untuk menjadi dan mengidentikan diri. Bahwa kemudian kita butuh identitas; bahwa kemudian kita butuh sekelompok orang yang merasa bisa senasib dan sepenanggungan; bahwa kemudian kita membutuhkan kegemilangan sejarah masa lampau sebagai  landasan melompat ke masa depan; bahwa kemudian kita butuh kerjasama-kerjasama yang bernama ekonomi dan keuntungan bersama; karena itulah, kita membutuhkan Melayu. (trisno aji putra)   

Kamis, 02 Februari 2012

Tomioka


Tomioka

BEBERAPA bulan lalu, masih ada 52 ribu orang yang menghuni kota itu. Tapi kini, Tomioka adalah kota hantu, dengan tak seorang pun berani tinggal di sana.

Adalah nuklir yang menjadi hantu itu. Kebocoran reaktor nuklir yang tak jauh dari kota, telah membuat pemerintah Jepang mengambil keputusan cepat: mengungsikan seluruh warga kota.

Kini, di depan batas kota, serdadu berjaga dengan moncong senapan terkokang. Tidak ada seorang pun boleh masuk ke dalam kota.

Seandainya kita bisa masuk ke sana, maka kita bisa berimajinasi bahwa kita menjadi orang yang serba “ter” di kota itu. Kita bisa mengatakan diri kita terkaya, tercantik, termuda, atau bahkan tertua di kota itu. Sebab, tak ada seorang pun lagi di sana yang bisa menjadi pembanding kita. Tapi siapakah yang berani masuk Tomioka sekarang?

Jalan-jalan kota menjadi lengang. Gedung bertingkat, mall, pasar, sampai tempat ibadah menjadi bisu. Buah peradaban manusia itu pun akhirnya bakal hancur oleh manusia itu sendiri.

Mari kita bayangkan sekarang: andai tak perlu ada rasa permusuhan, andai tidak ada ego intelektual, andai tak ada dana rakyat yang digunakan untuk membangun reaktor nuklir.

Dunia kini tengah tumbuh dalam rasa permusuhannya sendiri. Para petinggi negara dari belahan utara sampai selatan bisa duduk bareng dan menjadi anggota PBB. Setelah sidang, mereka bisa bersalam-salaman dan berpose dengan senyum perdamaian menghiasi wajah. Tapi ketika mereka pulang ke negerinya, maka para pemimpin negara itu pun meneken persetujuan untuk membangun persenjataan militer, dan mengucurkan dana untuk proyek nuklir.

Sampai saat ini, nuklir masih dianggap sebagai senjata pamungkas. Mirip dengan keris Tamin Sari yang pernah dimiliki Hang Tuah dulu. Amerika dan Israel kini mati-matian memojokkan Iran karena proyek nuklirnya. Tapi di dalam negeri mereka sendiri, dua negara itu pun membangun kekuatannya nuklirnya juga.      

Sejumlah futurolog pun kemudian mendeskripsikan masa depan kita yang suram: bahwa perang dunia ketiga akan dipungkasi oleh kehancuran global akibat nuklir. Setelah itu, bisa jadi kiamat datang.

Mari kita kembali ke Tomioka. Di antara 52 ribu penduduk kota di sana, terselip belasan ribu anak-anak yang langkahnya masih panjang. Kini nuklir telah merengut tempat bermain mereka, memindahkan mereka ke tenda-tenda pengungsian. Dan sebentar lagi, para sejarawan Jepang pun akan segera menghapus Tomioka dari peta negara itu.

Kota itu akan menjadi kota yang hilang, seperti halnya Atlantis dulu. Namun tidakkah kita pernah menyadari bahwa, kita akan selalu gagal untuk menghapus kota itu dari ingatan belasan ribu anak-anak Tomioka. Setiap kita pasti memiliki kenangan masa kecil yang indah, tempat di mana kita tumbuh dalam keceriaan. Dan tempat itulah yang tak akan pernah bisa terengut dari ingatan kita, sampai maut kemudian datang ke dalam diri kita. *  

Selasa, 01 November 2011

Penduduk Bumi


SEMALAM, bumi yang kita tempati ternyata telah berisi tujuh miliar manusia. Ada pesta yang berlangsung, tapi lebih banyak kecemasan.

Di Zambia, sebuah negara di Afrika, kedatangan manusia ketujuh miliar itu disambut dengan lomba cipta lagu bertema tujuh miliar. Sesama negara Afrika lainnya, Pantai Gading, bikin acara komedi. Di utara, dari Rusia, pemerintah setempat menyiapkan kado untuk menyambut manusia ketujuh miliar. Sementara di Vietnam, ada konser 7B:
 Counting On Each Other.

Tapi tak semua senang. Sekjen PBB Ban Ki-moon justru muram. "Siapapun yang lahir, dia akan lahir dalam dunia yang penuh kontradiksi. Banyak makanan, tapi miliaran orang kelaparan. Banyak yang hidup mewah, tapi masih banyak yang hidup tidak sejahtera," katanya.

Saya jadi teringat pelajaran ekonomi sewaktu masih bersekolah di SMA Negeri 2 Tanjungpinang dulu. Guru ekonomi saya bercerita tentang Thomas Robert Malthus. Saya tak kenal Malthus. Tapi teorinya cukup menggelitik. Bahwa pertambahan manusia sesuai dengan deret ukur (misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya). Sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara deret hitung (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya).

Akibatnya jelas, suatu saat, kelaparan akan menjadi persoalan terbesar hidup manusia. Dan kelaparan, dalam sejarah, adalah tragedi besar yang tak pernah terselesaikan. Bisa saja kita membuka lahan persawahan jutaan hektar, tapi besok, atau lusa, siapa yang bisa menjamin semua lahan itu tidak mengalami gagal panen.

Karena itu, Ban Ki-moon pun benar, ketika mengatakan banyak makanan, tapi masih ada yang kelaparan. Somalia kini tengah dalam tragedi kelaparan. Seperti sebait lirik lagu Iwan Fals, hitam kulitmu, sehitam nasibmu, kawan.

Tapi itu di Somalia, nun jauh di Afrika sana. Benarkah masih ada yang kelaparan di sekitar kita? Setahun yang lalu, saya membaca koran, seorang ibu dan anak tewas karena kepalaran di Tanjunguban.   

Lepas dari persoalan kelaparan, berarti apakah angka tujuh miliar itu bagi kita? Jelas, bumi akan semakin gaduh. Ia tidak lagi menjadi ruang yang sepi untuk kontemplasi. Bahkan beberapa hari lalu, rapat para menteri Nepal digelar di tempat terbuka, di punggung Gunung Himalaya. Tak ada lagi tempat kontemplasi.

Tapi angka tujuh miliar itu bisa macam-macam. Bila Anda seorang politisi, maka tujuh miliar berarti suara potensial yang bisa mengantarkan Anda ke puncak kekuasaan. Bila Anda seorang marketing, tujuh miliar berarti adalah pangsa pasar yang semakin besar. Bila Anda seorang pelawak, maka tugas akan semakin berat. Membuat satu orang tertawa saja sudah susah di zaman ketika harga-harga melambung tinggi. Apalagi tujuh miliar. Lain halnya bila Anda berbalik: menertawakan angka tujuh miliar itu.

Dan bagi Anda seorang psikiater, tujuh miliar manusia berarti adalah tujuh miliar tingkah laku. Bayangkan, untuk memahami seorang yang telah hidup bersama kita bertahun-tahun saja, kadang masih sulit. Apalagi ketika kita harus berbagi dengan tujuh miliar perilaku yang berbeda.

Lantas apakah sebenarnya makna tujuh miliar itu? Kita mungkin sampai saat ini tidak akan pernah paham kapan umur bumi akan berakhir. Tapi yang kita pahami bahwa, perang, kelaparan, kejahatan, adalah bagian tak terpisahkan dari masa depan bumi yang semakin suram ini. Ketika melihat aneka perilaku manusia yang kelewat batas itu, kita mungkin akan segera memahami bahwa, mengapa kemudian agama diturunkan untuk manusia. Bayangkan, dengan agama saja, perang masih terjadi, kelaparan masih merajalela, ketidakadilan terus berlangsung, dan penindasan seperti tanpa akhir. Apalagi kalau tidak ada agama?

Akan lain halnya kalau kemudian manusia mulai berbicara tentang konsep berbagi. Bahwa, Senin kemarin, di dalam benak kita harus segera terlintas bahwa setiap apapun yang kita miliki, harus kita bagi menjadi sepertujuh miliar. Ketika kita melihat sebuah hamparan tanah, maka kita pun harus berpikir, bahwa ada hak tujuh miliar orang di sana. Maka kita pun hanya boleh mempergunakan sepertujuh miliar saja dari tanah tersebut. Mungkin persoalannya akan selesai, dan bumi menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Tapi apakah itu mungkin?

Bumi, dengan tujuh miliar penghuninya, kini ternyata menjelma menjadi gagasan yang suram. Ban Ki-moon tidak salah. Tujuh miliar bukan berarti pesta hura-hura, melainkan adalah sebuah tonggak kesadaran kita, bahwa sudah saatnya kita harus membagi hidup kita dengan tujuh miliar orang lainnya. (*)   


Minggu, 28 Agustus 2011

Dzeko, The New Legend of City


(foto: bola.net)


"Beri dia kesempatan. Sulit bagipemain untuk berkembangketika pindah di tengah musim. Tahun depan dia akan mengubah segalanya," kata Steve Mc Laren, pelatih Wolfsbug, klub lama Edin Dzeko.


Dan Steve benar. Dalam kelanjutan Liga Inggris Minggu (28/8) malam, Dzeko tampil menggila. Ia menyarangkan empat gol ke gawang Friedl, kiper Totenham Hotspur.

30 menit pertama pertandingan, Dzeko tak tergambar, alias tak tampak di layar kaca. Tapi setelah itu, ia menjadi mimpi buruk bagi barisan pertahanan Totenham, klub yang musim lalu berada di peringkat lima Liga Inggris. Menit 32, ia mencetak gol pertamanya, setelah menerima umpan matang dari Samir Nasri, rekannya yang tampil dalam debut memakai seragam City itu. Menjelang turun minum, kembali dengan umpan matang Nasri, Dzeko membuat gol kedua dengan kepalanya.

Sampai di situ, sorot kamera pun mengarah kepadanya saat turun minum. Bayangkan, di tiga laga perdana Liga Inggris 2011/2012 ini, ia tak jeda membuat gol. Satu gol ia sarangkan ke gawang Swansea City, lalu lima hari kemudian giliran gawang Bolton yang ia jebol. Bila dihitung dengan laga pembuka, yakni Community Shield melawan Manchester United, praktis Dzeko sudah membuat lima gol di empat pertandingan pertamanya. Rekor ini sebenarnya pernah dilakukan oleh Gabriel Omar Batistuta sewaktu membela Fiorentina dulu.

Saat memasuki babak kedua, Dzeko tampil lebih kalem. Bersama tandem barunya, Sergio Kun Aguero, mereka terus mencoba menciptakan ruang untuk menjebol gawang Totenham. Dan kembali, umpan terobosan yang dibuat oleh Yaya Toure, dengan dingin ditendang oleh Dzeko. Hasilnya, ia mencetak hatrick, dan membawa City unggul 3-0.

Aguero yang tak mau ketinggalan, kemudian ikut membobol gawang Totenham kembali. Lagi-lagi lewat asist Samir Nasri dari sayap kiri lapangan. Setelah itu, City pun tampil lebih santai. Mereka menguatkan pertahanan dari lini tengah ke belakang. Dzeko pun tampak sering turun ke bawah membantu pertahanan. Namun Totenham berhasil mencuri satu gol lewat Younis Kaboul.

Mancini, sang pelatih yang dikenal dengan gaya sepakbola defensifnya musim lalu pun menarik keluar Aguero, memasukkan Savic, seorang bek. Alhasil, City menempatkan lima bek sekaligus. Wajar strategi ini ditempuh, mengingat apalagi yang akan dikejar oleh sebuah tim yang sudah unggul 4-1. Dzeko pun diletakkan sendirian di depan. Tapi yang terjadi kemudian adalah serangan balik yang menghentak. Gereth Barry mengirim bola ke Dzeko, dan dengan dingin, si pemuda muslim asal Bosnia ini pun menendang dari luar kotak pinalti. Hasilnya, kembali satu gol tercipta di masa injury time. Quatrick untuk Dzeko.

Dulu, ketika baru merumput di Liga Jerman, Dzeko butuh satu musim untuk beradaptasi. Ia tidak bisa melakukan banyak hal. Namun di musim keduanya, ia mencetak lebih dari 20 gol dan menjadi top skorer Liga Jerman. Hal inilah yang membuat Steve Mc Laren meminta Mancini dan fans City bersabar ketika melihat Dzeko tidak juga membuat banyak gol di pertengahan musim lalu. Dan Steve benar. Dzeko butuh waktu menyesuaikan diri. Setelah enam bulan lebih bersama rekan-rekannya, ia jadi paham karakter Liga Inggris yang keras.

Di awal musim, Dzeko berjanji bahwa ia akan mencetak banyak gol pada musim ini. Dan janji itu ditepati oleh pemuda yang dikenal oleh para mantan pelatihnya ini sebagai sosok yang santun dan tidak banyak mencari kontroversi.

Kini, ia sudah mencetak enam gol dari tiga pertandingan awal Liga Inggris. Berarti, rata-rata Dzeko mencetak dua gol dalam satu pertandingan. Sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah ketatnya Liga Inggris. Apakah ia akan mencetak lebih banyak gol lagi di musim ini, waktu yang akan menjawabnya. Yang jelas, dengan kekuatan lini tengah City, tentu Dzeko akan dimanjakan oleh umpan-umpan memikat. Lihat saja di lini tengah City, ada David Silva, Samir Nasri, Yaya Toure, Gereth Barry, James Milner, Adam Jhonson, dan juga Nigel de Jong: nama-nama yang akan membuat barisan pertahanan lawan ketar-ketir menunggu ke mana arah bola yang akan mereka lesakkan dari kaki mereka.

Itulah jejak perjalanan si pemuda Bosnia ini. Tak banyak yang tahu bahwa Dzeko nyaris kehilangan mimpinya menjadi pemain sepakbola akibat perang. Tentara Serbia melumat kampung halamannya. Ia dan jutaan muslim Bosnia lainnya pun menjadi pengungsi perang. "Tapi masa lalu saya membuat saya kuat," kata Dzeko. Ya, pemuda ini lahir dengan mental yang diasah oleh perang. Siapa pun akan tahu bahwa perang hanya akan melahirkan dua jenis mental manusia: mereka yang depresi dan kehilangan harapan, dan satu kelompok lagi adalah mereka yang liat, kuat, dan tidak mudah patah semangat. Mungkin Dzeko masuk dalam kelompok yang kedua ini.

Ketika memulai debutnya di Liga Inggris Januari silam, ia memang tidak membuat gol. Ia hanya mampu membuat asist untuk Tevez. Namun sejumlah pengamat memuji penampilannya. Dan sejumlah pengamat memprediksi bahwa ia akan menjadi legenda baru di Etihad Stadium. Apakah prediksi itu akan terbukti? Mari kita sama-sama tunggu hingga akhir musim ini...... (trisno aji putra)

Minggu, 21 Agustus 2011

Dzeko: One Game, One Goal

Edin Dzeko kembali menunjukkan ketajamannya di lini depan Manchester City. Ini adalah musim kedua ia membela Biru Langit. Melawan Swansea pekan lalu, Dzeko menyumbang satu gol untuk kemanangan City 4-0 atas Swansea. Barusan kembali ia menyumbang satu gol saat City melumat Bolton 3-2.


Bila ada pertanyaan, siapa calon top skorer Priemer League musim ini, maka kandidatnya hanya berkutat pada beberapa nama: Dzeko, Aguero dan Rooney. Namun kans Dzeko terbesar, bila ia tidak dibelit cedera sepanjang musim ini. Bayangkan, Dzeko didukung oleh lini tengah City yang luar biasa menakutkan. Di sana ada David Silva, pemain dengan visi bermain yang luar biasa cerdas. Setiap serangan City selalu bermula dari kaki Silva.

Selain itu, juga masih ada Milner dan Adan Jhonson dari sayap, yang siap mensuplai bola ke kaki Dzeko. Dan tandemnya pun luar biasa, ada Aguero, Tevez, dan Balotelli.

So...siapa yang akan keluar sebagai yang terbaik musim ini, layak untuk ditunggu. Dan Dzeko adalah The Man to Watch Out!

Selasa, 16 Agustus 2011

Manc City Vs Manc United

Setidaknya, Liga Inggris musim ini adalah pertarungan antara dua tim di satu kota yang sama: Manc City dan Manc United. Jelas MU lebih glamour dalam urusan piala, sebab City baru berhasil mengkoleksi Piala FA pada musim lalu, setelah puasa gelar selama 35 tahun terakhir.

Namun semuanya bakal berubah pada musim ini. Terbukti dalam laga perdana City Vs Swansea City, 16 Agustus dinihari, sebelas pemain City menunjukkan perkembangan positif, baik dari aspek teknik, mental, maupun kerjasama tim di lapangan. Sejumlah pengaman memprediksi, andai City mampu menjaga konsistensi sepanjang musim, maka fans City di akhir musim bisa dengan santai menyatakan: Goodbye MU!

Setidaknya, ada sejumlah pemain City yang diprediksi bakal bersinar musim ini. Mereka adalah Edin Dzeko, Sergio Kun Aguero, David Silva, Yaya Toure, dan Joe Hart.

Apa yang akan terjadi dengan City sepanjang musim ini, tentu menarik untuk disimak. Namun yang jelas, satu jargon yang harus kita usung adalah:

MU ADALAH TIM DENGAN MASA LALU, MANC CITY ADALAH TIM DENGAN MASA DEPAN

Bersediakan Anda bergabung dengan masa depan? Bila iya, maka jawabannya adalah lupakan MU, dan lihatlah City. HANYA ADA SATU MANCHESTER DI MANCHESTER, DAN ITU ADALAH CITY.....

Hehehe..untuk para pendukung MU, take it easy bro....


Berikut liputan ttg City di Bola.net


16-08-2011 04:10
Bola.net - Diwarnai dengan pembuktian gol debut dari Sergio Aguero, Manchester City kini siap mengancam klub-klub pemburu gelar Liga Premier Inggris 2011-2012 dengan mengalahkan Swansea City 4-0 di Etihad Stadium, Selasa (16/8).

Di babak pertama, Swansea, yang notabene merupakan klub promosi, menunjukkan kalau mereka siap untuk bersaing di liga tertinggi di Inggris ini. Kolektifitas tim mereka tunjukkan dengan mengimbangi permainan tim tuan rumah. Bahkan, mereka menguasai jalannya pertandingan dengan unggul ball possesion sebesar 55% di babak pertama ini.

Selain itu, rapatnya pertahanan serta gemilangnya penampilan kiper Michel Vorm membuat City yang bertindak sebagai tuan rumah harus sedikit frustasi dengan mencetak peluang dari tendangan luar kotak penalti saja. Apalagi, mistar gawang terlihat bersahabat dengan Swansea. Tercatat dua kali tendangan City melalui Gareth Barry dan David Silva terpaksa membentur mistar.

Setelah bermain tanpa gol di babak pertama, entah apa yang diinstruksikan Roberto Mancini di ruang ganti. The Citizen menggila di babak kedua.

Edin Dzeko menjadi pemecah kebuntuan City di laga ini. Tepat pada menit ke-57 ia mampu membawa tim tuan rumah setelah memanfaatkan bola muntah hasil tendangan Adam Johnson yang gagal ditangkap dengan baik oleh Michael Vorm. City pun unggul 1-0.

Gol itu tadi seakan meruntuhkan mental dari Swansea. Lebih-lebih, Mancini memasukkan Sergio Aguero menggantikan gelandang bertahan Manchester Blue, Nigel de Jong, semenit usai gol tersebut.

Masuk di babak kedua ,tak membuat Kun gugup atau telat beradaptasi dengan permainan. Baru semenit ia masuk, menantu Diego Maradona ini langsung menebar ancaman dengan mencetak peluang yang masih bisa digagalkan Vorm.

Sebuah debut indah dijalani Sergio Aguero. Gol kedua City, yang memang tinggal menunggu waktu saja, akhirnya terlahir dari kaki kirinya pada menit ke-68. Berawal dari overlap yang dilakukan bek kanan, Micah Richards, dan diakhiri dengan umpan silang mendatar, Kun yang tak terjaga akhirnya mencetak gol perdananya di Liga Premier Inggris. City 2, dan Swansea masih 0.

Bukan jago mencetak gol saja. Kun kali ini juga turut menyumbangkan assist untuk gol ketiga City yang dicetak oleh David Silva tiga menit berselang.

Tim tamu yang seolah habis di babak kedua ini akhirnya harus rela pulang dengan kekalahan telak 4-0, setelah Sergio Aguero dengan gol indahnya dari luar kotak penalti menutup pesta gol City di injury time.

Bukan hanya menjadi pemuncak klasemen bersama Bolton, kemenangan ini seakan menahbiskan City sebagai tim yang siap mengancam tim-tim besar lainnya untuk memburu gelar Liga Premier. Terutama rival satu kota mereka, Manchester United. (bola/mxm)

Minggu, 14 Agustus 2011

Nasionalisme dan Perbatasan

Nasionalisme di Perbatasan Kepri

Kantor Berita Antara, Minggu, 14 Agustus 2011 16:56 WIB | Profil | Dibaca 55 kali
Oleh: Henky Mohari
Warga negara di daerah perbatasan seringkali dinilai kurang memiliki rasa nasionalisme ketimbang warga yang jauh dari perbatasan negara.

Dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, warga masyarakat di sana sering menunjukkan rasa cinta Tanah Air dan nasionalisme yang tinggi dengan berunjuk rasa serta membuat pernyataan sikap jika terjadi pergesekan atau tindakan semena-mena oleh negara tetangga.

Berbeda dengan warga perbatasan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sangat jarang terlihat melakukan tindakan-tindakan atau pernyataan sikap yang menunjukkan rasa cinta Tanah Air dan nasionalisme yang tinggi.

Padahal Kepri langsung berbatasan dengan negara yang selalu diperdebatkan dengan segala tindakannya yang terkadang mengancam kedaulatan dan martabat bangsa.

Apakah rasa nasionalisme masyarakat Kepri sudah hilang dan luntur akibat gemerlap negara tetangga yang sangat menjanjikan kesejahteraan?.

Pertanyaan itu terkadang muncul dari teman-teman di pusat atau daerah lain yang tidak berbatasan langsung dengan negara tetangga yang misalnya sedang diperbincangkan hangat akibat tindak tanduknya.

Rasa nasionalisme daerah perbatasan khususnya di Kepri yang berbatasan dengan Singapura, Malaysia, Kamboja dan Vietnam tidak bisa disamakan dengan daerah lain atau Jakarta, kata pakar politik Zamzami A Karim.

"Orang Jakarta mengukur nasionalisme dari ukuran Jakarta, tidak pernah melihat dari perspektif masyarakat perbatasan. Terkadang maksud nasionalisme itu adalah yang menguntungkan Jakarta, tidak peduli dengan nestapa yang dirasakan masyarakat di perbatasan," kata Zamzami yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Raja Haji Tanjungpinang.

Pengalaman sejarah antara Jakarta dan Jawa dengan komunitas daerah perbatasan menurut dia sangat jauh berbeda, terutama di Kepri.

"Dari dulu Kepri merupakan daerah yang sangat terbuka dan plural, sehingga makna nasionalisme Indonesia yang mereka rasakan tidak terlalu 'chauvinis' seperti Jakarta dengan jargon 'right or wrong is my country'," katanya.

"Pengalaman sejarah yg berbeda juga membuat ekspresi nasionalisme yang beda pula, bukan berati tidak Cinta Tanah Air," kata Zamzami.

Menurut dia, pemerintah pusat harus menunjukkan kewibawaannya berhadapan dengan negara tetangga dimulai dari kawasan perbatasan agar kepentingan nasional benar-benar dilindungi.

Negara harus berwibawa, jangan justru tunduk pada kepentingan negara lain yang membuat kita malu sebagai warga negara, katanya.

Sebagai contoh menurut dia, pemerintah tidak berdaya menghadapi penjarahan pasir, ikan, bauksit, bahkan hasil minyak bumi dan gas sehingga masyarakat tidak tahu berapa yang mengalir ke luar negeri, jangankan untuk ikut menikmatinya. "Menyedihkan," ungkapnya.

"Agar kecintaan kita terhadap Indonesia terbalaskan, kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka yang harus ditegakkan," tegasnya.

Menurut seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi International Gurindam Archipelago Tanjungpinang, Pramono, rasa nasionalisme di perbatasan akan muncul apabila terdapat persengketaan fisik yang mengganggu stabilitas dan kenyamanan bersifat ekonomi.

"Tapi kalau hanya sekedar perang urat syaraf dan perang opini, nasionalisme itu sulit muncul," kata Pramono.

Walaupun masyarakat perbatasan khususnya di Kepri menurut dia punya obsesi menjadi bagian dari negara tetangga yang lebih makmur, namun hal itu akan berangsur terkikis apabila negara mampu memperbaiki taraf hidup dan ekonomi mereka yang di perbatasan itu.

"Kunci nasionalisme adalah domain negara dan negara bertanggung jawab untuk menumbuhkembangkan rasa nasionalisme warga negara," katanya.

Pengaruh Budaya

Rasa nasionalisme di Kepri tidak lepas dari pengaruh kesamaan budaya dan rasa persaudaraan seperti dengan negara tentangga Singapura dan Malaysia.

Kepri secara historis memiliki hubungan emosional dengan Malaysia dan Singapura. Bahkan dulu wilayah Malaysia, Singapura adalah satu bagian kesultanan Melayu yang tak terpisahkan.

"Karena adanya hubungan emosional itulah, makanya orang di Kepri tidak terlalu berlebihan menyikapi sentimen yang berkembang di antara negara," kata Trisno Aji Putra yang juga dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi International Gurindam Archipelago Tanjungpinang.

Namun tetap saja menurut dia yang harus digarisbawahi adalah Kepri sudah memutuskan menjadi bagian tak terpisahkan dengan Indonesia, sementara pada sisi lain warga Kepri tetap menganggap orang Malaysia dan Singapura adalah bagian dari saudara mereka.

"Ini yang harus dilihat secara lebih mendalam," ujarnya.

Jadi untuk memandang nasionalisme di Kepri, bisa dilihat dari teori kedaulatan di perbatasan. Bahwa terkadang kawasan perbatasan agak "aneh" dibanding kawasan lain, sebab di perbatasan bukannya nasionalisme sudah luntur, tetapi karena adanya hubungan emosional, sejarah, budaya dan lain sebagainya yang terjadi di masa lalu.

Kawasan di Kepri juga sedikit unik, satu sisi mengakui bagian dari Indonesia, namun terkadang mata uang yang digunakan adalah dolar Singapura dalam bertransaksi.

Kecenderungan masyarakat Kepri yang suka produk Singapura atau Malaysia, menurut dia bukan persoalan nasionalisme, tetapi lebih kepada motif ekonomi.

"Pembeli tentu ingin mencari barang yang lebih murah dan berkualitas dibanding yang mahal, karena dekat secara geografis, maka itu membuat barang dari Singapura dan Malaysia harganya lebih murah dibanding produk serupa dari Jakarta. Jadi itu murni motif ekonomi, bukan persoalan lunturnya nasionalisme," katanya menegaskan.

Pramono juga menilai kesamaan budaya secara kasat mata mempengaruhi perilaku masyarakat perbatasan di Kepri, karena menyangkut pertalian sejarah budaya.

"Pertalian budaya dan adanya hubungan emosional lebih kental dibanding kesadaran bela negara. Kekuatan kesamaan kultur itu mengalahkan kekuatan ideologi dan teritorial," kata Pramono.

Selain itu, masyarakat tempatan (asli) menurut dia lebih bersifat semangat kedaerahan dibadingkan dengan masyarakat pendatang di Kepri karena pertalian sejarah itu.

Namun Pramono berharap rasa nasionalisme bisa dipupuk di perbatasan karena masyarakat perbatasan adalah benteng terkhir wilayah otritas negara.

Tetap Tinggi

Rasa nasionalisme warga Kepri menurut Zamzami tetap tinggi, walaupun mereka selalu membandingkan nasib mereka dengan saudara-saudara mereka di negara tetangga.

Hal itu menurut dia juga ditunjukkan dengan tidak banyak warga yang secara serius mau pindah kewarganegaraan hanya karena perbedaan kesejahteraan.

"Sepatutnya hal itu bisa mendorong pemerintah pusat agar menaruh perhatian besar kepada kesejahteraan masyarakat perbatasan, terutama meningkatkan infrastruktur, agar mendapat kemudahan akses ke berbagai pusat ekonomi," katanya.

Usaha pemerintah saat ini menurut dia sudah ada, tetapi mungkin belum sistematis karena selalu muncul program yang sifatnya tidak berjangka panjang dan berkelanjutan. Misalnya membantu nelayan dengan alat tangkap dan perahu, permodalan usaha, atau bedah rumah.

"Itu semua hanya bersifat jangka pendek, dan biasanya tidak 'sustainable' (berkesinambungan) agar bisa diukur dampak program-program tersebut dari tahun ke tahun yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat perbatasan," ujarnya.

Salah seorang pegawai di Pemerintahan Provinsi Kepri, Patrick Nababan mengatakan nasionalisme itu tidak dilihat dari sisi yang sempit dan juga bukan hanya dengan turun ke jalan-jalan meneriakkannya.

"Dengan kita bekerja, membangun membangun daerah berarti kita sudah berusaha mempertahankan dan memberikan kemakmuran bangsa dan negara. Masyarakat perbatasan adalah masyarakat yang sangat nasionalis," katanya.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Junaidi Fajri mengatakan rasa nasionalisme warga perbatasan memiliki grafik yang berdeda-beda, ada yang rendah, tinggi atau sedang.

"Hal itu dipengaruhi oleh faktor kemajuan sebuah daerah yang meliputi tingkat pendidikan, ekonomi, atau perkembangan sebuah kawasan tersebut," kata Junaidi.

"Tingkat kemajuan sangat berperan penting dengan sebuah rasa nasionalisme, dan hal yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah lebih pro aktif melihat keadaan masyarakat untuk mensejahterakannya serta membuat suatu kawasan tersebut dapat bersaing dengan daerah tetangga yang lebih maju," tambahnya.

Trisno Aji Putra yang juga mantan wartawan harian lokal di Kepri menambahkan, yang harus dipikirkan pemerintah pusat adalah membangun kawasan perbatasan yang menjadi pintu gerbang Indonesia.

Kalau gerbangnya sejahtera, maka dipastikan tidak akan ada masalah di perbatasan, dengan kata lain nasionalisme di perbatasan itu meningkat seiring meningkatnya pembangunan atau pemberdayaan masyarakatnya," katanya yang juga seorang penulis buku.

Godaan terbesar suatu daerah ingin lepas dari negara kesatuan adalah persoalan kesejahteraan dan keadilan, bila dua masalah itu terselesaikan, maka tidak akan ada gejolak di perbatasan, katanya.

Kepri menurut dia sudah tuntas membahas masalah tersebut sehingga sudah diputuskan Kepri bagian dari Indonesia.

"Kalau pun ada riak, itu hanya karena persoalan kesejahteraan bukan karena rasa nasionalisme luntur," ujarnya.

(ANT-HM/B009/Btm3)

COPYRIGHT © 2011

Rabu, 22 Desember 2010

Sebuah Buku, Delapan Tahun Lalu





BUKU ini lahir delapan tahun yang lalu, pada 2002. Sebuah perjalanan panjang delapan tahun, banyak yang tertulis, juga banyak yang terlupakan. Aku tiba-tiba teringat letak buku ini. Buku ini berkisah singkat saja, tentang sejumlah gagasan dari berbagai bidang ilmu untuk mencapai sebuah tujuan: mensejahterakan masyarakat Kepri. Apakah gagasan itu masih kontekstual dengan Kepri di tahun 2010, aku pikir, hanya pembaca dan para pengamat sajalah yang berhak menilainya. Selebihnya, adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung usai.

Selasa, 01 Juni 2010

Kanisa, Setahun yang Lalu

30 MENIT LALU, SETAHUN YANG LALU. Aku masih ingat benar saat itu, ketika pergantian hari baru terlewati. Dee terbaring di Klinik Pamedan, menunggu detik-detik itu. Aku pamit sebentar, dan pergi ke masjid 200 meter dari klinik. Saat aku kembali ke klinik, gadis kecil itu sudah lahir.

Kami memanggilnya Kanisa. Ia lahir pada 1 Juni 2009, saat adzan maghrib mengumandang. Abangnya, Luqmaan, dulu lahir pagi hari, sekitar pukul 08.10 WIB.

Siang sebelum kehadirannya, aku membawa Dee ke klinik. Proses kelahirannya lebih mudah dan cepat dari Luqmaan. Orang-orang tua selalu mengatakan begitu, proses kelahiran anak pertama selalu lebih sulit. Dan untuk yang satu ini, aku percaya penuh.

Kini, di satu tahun usianya, dihabiskan Kanisa dengan belajar berjalan. Ia sudah mampu berdiri, dan melangkah tidak lebih dari lima, sebelum jatuh kembali. Dan Luqmaan sekarang punya kesibukan baru: menganggu adiknya.

Dalam banyak hal, selalu Kanisa menangis ketika Luqmaan menganggunya. Namun dalam satu hal, mereka berdua kompak. Saat bangun tidur, entah siapa dulu yang bangun, maka dia akan langsung mengambil inisiatif untuk menganggu yang lain, agar bangun juga.

Rumah kecil yang kami tempati kini penuh warna, warna teriakan, tangisan, rengekan, dan kesibukan bermain mereka. Luqmaan saat ini terus sibuk membeli mum-mum, sementara Kanisa, selalu sibuk membongkar kotak mainan sang abang.

Namun meski lebih sering Luqmaan yang membuat Kanisa menangis, dalam satu hal, justru Luqmaan yang KO dibuatnya. Kalau Luqmaan sedang nonton Upin dan Ipin, kadang Kanisa iseng, berdiri di depan TV dan mulai mengganti siaran televisi. Saat itulah Luqmaan akan berteriak meminta bantuan Dee. Terus kalau Luqmaan sedang minum Milo kesukaannya, plus roti yang dicelupkan, kadang Kanisa yang datang dan berusaha merebut roti itu. Pada titik itulah, Luqmaan kembali akan berteriak.

Kadang, aku berpikir dan bilang pada Dee. Kanisa itu seperti kotak mainan yang ada di depan swalayan, begitu dimasukkan koin, maka ia akan bernyani dan membuat orang yang melihatnya jadi senang. Dee protes. Aku menjelaskan, bahwa itu adalah bahasa yang kugunakan untuk menggambarkan bagaimana mudahnya membuat Kanisa tersenyum dan tertawa.

Anyway, banyak kisah yang kami lalui kini. Semoga, kisah-kisah bahagia ini akan terus berlanjut, dan tanpa akhir....


Selamat ulang tahun, Kanisa....(Aku dan Dee bersepakat bahwa kami menolak untuk merayakan ulang tahun. Namun sebuah ucapan, aku rasa, itu tidak berlebihan).

Rabu, 04 November 2009

ANAKKU, debu-debu di jalanan ini ternyata banyak bercerita tentang jarak. Kadang ia menjelma menjadi angka, yang kita temukan pada batu penanda di pinggir-pinggir jalan. Dan debu di jalanan ini, sekaligus adalah sebuah pertanda, bahwa semuanya akan hilang begitu saja, dengan ringan, seakan tak terpenjara gravitasi.

Senin, 19 Oktober 2009

The Letter to My Children .... (1)

ANAKKU, setiap kepergian selalu akan melahirkan kehilangan. Dan kehilangan itu selalu berawal dari sebuah kenangan tentang tawa, canda, dan juga harapan.

Apa yang kemudian kita harapkan dari perjalanan ini, ternyata hanya satu, Anakku: pulang. Dan pada setiap kepergian, selalu ada kata pulang. Tak banyak oleh-oleh dari seorang pejalan yang kesepian, Anakku, kecuali kisah dan cerita, tentang kegetiran hidup; tentang kebahagiaan yang berlangsung dari hal-hal yang kecil; juga tentang kesederhanaan. Dan, kepada semua kisah itulah, seorang pejalan akan semakin belajar untuk memahami dan mendalami hidup.

Luqmaan dan Kanisa, ayah menuliskan ini ketika ayah teramat jauh dari kalian. Jarak ini memisahkan kita, namun senyum polos dan lucu kalian, selalu ayah temui di antara kerikil-kerikil tajam di jalanan ini. Dan di perjalanan ini, ayah semakin menemukan ruang hampa itu. Sebuah ruang hampa yang selalu kalian isi, ketika ayah ada di samping kalian.

Dan, ternyata, adalah begitu menyakitkan bila kita terus hidup dihantui ruang kosong itu....

Dulu, saat sebelum Perang Dunia Kedua meletus, ada sebuah kisah nyata tentang kehidupan Heinrich Harrer, pendaki Himalaya yang harus kehilangan banyak hal berharga dalam hidupnya, ketika memutuskan menaklukan puncak Everest, puncak tertinggi di dunia. Tujuh tahun Heinrich habiskan hidupnya di Himalaya, sebagai orang yang nyaris kehilangan hidup. Ia meninggalkan istrinya, saat wanita itu tengah mengandung anak pertamanya. Heinrich, pemuda yang penuh ambisi itu, hanya berjanji kepada sang istri, bahwa ia sudah akan menaklukan Himalaya sebelum kelahiran anak mereka.

Namun nasib berkata lain. Heinrich ditangkap tentara Inggris, dan harus melewati ratusan hari dalam kamp tawanan. Heinrich gagal menepati janji, dan ia semakin kehilangan jejak hidupnya ketika datang surat permohonan cerai dari sang istri. "Kalau anak kita sudah besar nanti bertanya, aku akan katakan bahwa ayahnya sudah hilang di Himalaya," begitu tulis sang istri. Dan dari sanalah kekosongan itu berlangsung setiap detik dalam hidup Heinrich.

Satu-satunya cara ia ingin menebus kesalahannya terhadap sang istri dan sang anak, hanyalah menuliskan seluruh ungkapan hatinya di sebuah buku harian kumal yang terus ia bawa. Dan di perjalanan itu, Heinrich berhasil bertemu, kemudian bersahabat dengan Dalai Lama kecil. Di mata bocah yang menurut keyakinan Tibet akan menjadi pemimpin spiritual itulah, Heinrich menemukan kedua bola mata anaknya, yang bahkan belum pernah ia lihat setelah terlahir ke dunia. Juga Heinrich akhirnya belajar tentang kearifan dari bocah kecil itu.

Perjalanan, anakku, selalunya memang akan melahirkan kearifan. Tapi juga sekaligus melahirkan kesombongan. Bagi mereka yang berhasil membawa kearifan itu pulang, maka mereka akan mendapat makna hidup terdalam. Namun ternyata, sebenarnya, kearifan tidak selalu dapat ditemukan dalam perjalanan. Dalam agama kita yang mengajarkan begitu banyak kesederhanaan, kita sebenarnya bisa mendapat sumber kearifan teragung. Namun mata hati kita selalu ditutupi oleh ambisi dan kesombongan, dua hal yang pada akhirnya membuat kita gagal untuk menggali nilai terdalam dari sebuah ajaran agama.

Dan bagaimana kisah Heinrich itu berakhir, ternyata sederhana. Ia memutuskan untuk lari dari ruang kosong yang tujuh tahun menghantui perjalanannya itu. Dengan sebuah kegetiran, sekaligus kengerian, ia putuskan untuk pulang dan menghadapi kenyataan. Ia tak berharap banyak, bahwa ketika bertemu dengan sang anak, maka bocah itu akan memanggilnya dengan sebutan: ayah. Tapi sudah ia putuskan, apapun yang akan ia hadapi, ia harus pulang dan menebus semua kesalahan masa lalunya, terhadap sang istri tercinta dan anak yang lahir dari rahimnya.

Heinrich pada akhirnya berhasil mengisi ruang kosong itu kembali. Setelah beberapa kali pertemuan, sang anak akhirnya memanggilnya dengan sebutan, ayah....


Dan kisah Heinrich adalah kengerian yang luar biasa dalam diri setiap pejalan. Pada akhirnya, setiap saat, kadang ayah selalu dihantui oleh kengerian itu. Beberapa teman sudah meledek dengan lelucon pahit: suatu saat, ketika kau sampai di pintu rumah, maka anak-anakmu akan menyapamu dengan kalimat pendek, "Mau cari siap, Om?"

Ah, pahit sekali. Lelucon yang sangat pahit dan menyesakkan hati....

Anakku, apa yang bisa ayah lakukan kini, untuk menutup ruang kosong dalam diri ayah itu, hanyalah terus menuliskan ini untuk kalian. Ah, kadang hidup memang memberikan banyak gambaran kengeriannya sendiri-sendiri.

Sabtu, 26 September 2009

Setelah 30 Tahun Berlalu....

SEBUAH PERJALANAN DALAM TIGA DEKADE menjadi teramat panjang. Begitu banyak kisah telah terlewati, dan begitu banyak yang harus dicatat serta diperbaiki. 26 September 2009 hari ini, genap sudah perjalanan tiga dekade itu.

Masih ada sejumlah pertanyaan yang menuntut jawaban. Hidup mungkin adalah sekumpulan pertanyaan kecil yang butuh jawaban besar; juga sekumpulan pertanyaan dalam kalimat-kalimat pendek yang menuntut jawaban baralinea.

Setelah 30 tahun itu, tadi pagi, aku ditemani Luqmaan, Kanissa, dan Dee. Kami bercerita dan tertawa. Luqmaan mengoceh, Kanissa mendengarkan setengah tidak peduli, dan Dee, begitu sabar untuk mengamati kami.

Di 30 tahun ini, tadi pagi, aku kehilangan matahari. Padahal, 30 tahun yang lalu, mentari pagi yang menyambutku. Aku selalu menikmati kisah-kisah orang-iorang yang mengehar pagi, sebab dalam banyak perjalananku, aku sering kehilangan itu.

Agaknya, memang sudah banyak yang harus dipikirkan dan direnungkan ulang. Juga sekaligus memantapkan pilihan. 30 tahun hidup dan mengamati, aku pikir sudah cukup masa untuk melihat dan meski belum pernah cukup untuk mempelajari.

Di 30 tahun ini, aku hanya selalu ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga pada semua.....terima kasih....

Rabu, 02 September 2009

4 September....

TINGGAL beberapa jam lagi menuju 4 September. Sebelum dua tahun lalu, tanggal ini sama sekali tidak punya arti apa-apa bagiku. Aku memposisikannya seperti tanggal-tanggal lainnya. Tapi semua berubah sejak dua tahun lalu.

Pukul 08.13 pagi, 4 September, dua tahun lalu, bayi mungil terlahir ke dunia. Aku dan Dee tersenyum menyambutnya. Dan, bayi mungil itu, dua tahun lalu, kami beri nama Luqmaan.

Kini, ia sudah dua tahun kurang satu hari. Besok, Luqmaan akan berulang tahun. Aku dan Dee sepakat untuk tidak merayakan. Kami ingin memberikan Luqmaan sebuah sudut pandang yang berbeda, bahwa ulang tahun bukanlah sesuatu yang identik dengan pesta, tawa, dan konsumerisme.

Maka, besok, tidak akan ada balon serta kue tart dengan lilin angka dua di rumah kecil kami. Aku dan Dee menginginkan agar, di hari kelahirannya, Luqmaan akan memberi, bukan meminta. Kata orang tua, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah; memberi akan lebih baik dari pada meminta.

TIGA HARI YANG LALU, suhu badan Luqmaan naik. Ia jadi rewel. Sampai semalam, ia tetap rewel. Aku sedih melihat Luqmaan. Tadi pagi, kuajaknya naik sepeda motor, memakai jaket tebal, kami berhenti di depan sebuah sekolah dasar. Luqmaan kubelikan mainan pesawat plastik, kecil, mungil, lucu. Harganya pun sederhana, cuma dua ribu rupiah. Luqmaan pun tersenyum, dan kuantar pulang. Setelah itu aku pergi kerja.

Bahwa kemudian, kebahagian Luqmaan ternyata berlangsung dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Dengan sebuah pesawat, dia akan tersenyum, tertawa, dan pulang serta berceloteh kepada ibu dan adiknya. Ia akan lalu beberapa jam setelah itu dengan tetap ceria.

Aku kadang iri dengan definisi kebahagiaan yang keluar dari jiwa anak-anak kecil. Dan kepada Luqmaan, sebenarnya aku tengah belajar, belajar memandang hidup dan menemukan arti kebahagiaan...


Selamat ulang tahun yang kedua, Nak.....
dari Aku, Dee dan Raihaanah....

Minggu, 30 Agustus 2009

Luqmaan, Raina, dan Ramadhan

SENJA di penghujung Agustus itu ditandai oleh rintik hujan. Aku duduk membelakangi jendela, dan mulai menulis. Jauh dariku, Luqmaan dan Raina tengah bergulingan, bermain, tertawa, juga berteriak.

1 Juni 2009 lalu, Raina hadir di dunia kami, dunia aku, dan Dee. Ia lahir di ruangan yang sama ketika Luqmaan lahir, 4 September 2007 lalu. Dan kemudian, perawat pun membawa ia dan Dee ke ruangan yang sama, seperti saat kehadiran Luqmaan yang pertama dulu.

Aku begitu senang dengan kehadiran Raina, juga Dee aku pikir demikian. Namun dibanding kami berdua, sebenarnya yang paling senang adalah Luqmaan. Aku tidak tahu apa yang berkelebat di dalam benaknya sewaktu melihat gadis kecil mungil itu keluar dari rahim ibunya. Yang aku tahu, dulu sewaktu Raina masih di dalam kandungan Dee, Luqmaan sering mencium dan membelai perut Dee. Jadi aku berpikir, Luqmaan menyayangi adiknya ini.

Tapi ternyata setiap anak punya cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayangnya. Aku kadang tertawa kalau ingat kejadian sejak hampir tiga bulan lalu itu. Ada waktu ketika Luqmaan menindih Raina dengan bantal, juga ada kejadian ketika Luqmaan menjewer telinga Raina, juga tak kalah konyol adalah ketika Luqmaan memanjat baby box tempat tidur Raina dan mulai menganggu gadis kecil itu. Aku tidak melihat kejadian itu, tapi Dee melihatnya.

Pernah sekali waktu, Luqmaan kembali memanjat baby box Raina, namun akibat terlalu tinggi kakinya memanjat, ia jadi takut untuk turun ke lantai. Dee melihat saja sambil tersenyum; sementara masih tetap berpegangan pada kayu yang menjadi dinding baby box itu, Luqmaan terus menerus berteriak, meminta tolong ada seseorang berbaik hati menurunkannya. Raina diam saja melihat semua itu, melihat kekonyolan Luqmaan.

Sore ini, kala rintik hujan turun, aku teringat pada mereka....

DI bulan puasa ini, Luqmaan tidak berpuasa, juga Raina. Luqmaan baru berusia dua tahun kurang lima hari, sementara Raina tiga bulan kurang satu hari. Bagi Raina, ini adalah bulan puasa pertama yang ia alami sejak terlahir dalam dunia yang tidak menentu ini.

Puasa kali ini ada banyak cerita yang berlangsung di rumah kecil yang kami tumpangi. Cerita-cerita itu adalah kisah tentang Luqmaan dan Raina. Mungkin bulan puasa sekarang, pelakon utama kisah itu adalah Luqmaan, sementara Raina adalah penonton setia. Raina belum bisa ikut berlakon, sebab ia berguling pun belum bisa. Ia hanya mengapresiasi lakon Luqmaan dengan dua nada saja, tersenyum atau berteriak nangis. Tapi Luqmaan, aku pikir sudah cukup dengan dua ekpresi Raina itu.


Aku masih membelakangi jendela di kantor ini...dan hujan rintik masih turun...

Ini adalah Ramadhan pertama yang kami lalui berempat. Kurasa, setelah ini berlalu, aku pasti akan merindukannya. Dan kemustahilan terbesar dalam hidup adalah: aku tidak akan pernah bisa kembali lagi pada saat yang sama untuk kedua kalinya. Karena itu, Ramadhan kali ini, yang kami lalui berempat, adalah berkah terindah bagi kami...


--- Untuk... Luqmaan Ahmad Aqsha, Raihaanah Fathimah Khairunnisa, juga Dee.

Minggu, 09 November 2008

pulang....

aku ingin pulang, setelah sekian lama kutinggalkan rumah harapan itu...

Jumat, 31 Oktober 2008

Tembeling, Kampung Tua Penuh Limbah






MENYEBUT nama Tembeling dulu, orang akan teringat pada Ikan Selangat. Tapi kini, laut mereka keruh, berwarna merah. Kalau air surut, yang tampak adalah lumpur kemerah-merahan. Padahal dulu, air begitu jernih dan karang belum tertutup lumpur.

Perjalanan sore yang semakin temaram itu berakhir di sebuah kampung. Orang menyebutnya Kampung Tembeling. Letaknya persis di ujung aspal Jalan Tembeling. Di Singapura, Jalan Tembeling (Tembeling Road) adalah tempat bersejarah, karena di sana, di sebuah rumah di jalan itu, Lee Kuan Yeuw dilahirkan. Tapi di Bintan, Tembeling Road adalah kisah tentang kampung yang sudah tercemar limbah bouksit; juga sekaligus kisah tentang nelayan yang semakin susah hidupnya karena ikan semakin sulit didapat.

Dulu, di tanah di ujung kampung, para ahli geologi menemukan bahwa ada kandungan bouksit yang cukup ekonomis bila dieksplorasi. Dan sebuah perusahaan pertambangan BUMN pun kemudian menggalinya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ekplorasi selesai, dan di penghujung tahun 1980-an, Tembeling ditinggalkan. Tapi ternyata, bekas limbah pencucian masih bertahan di situ. Bahkan sampai tahun 2008, atau sekitar 20 tahun setelah bouksit tidak lagi digali, tetap saja laut di depan Kampung Tembeling masih keruh. Sore itu, ketika air surut, maka dengan mata telanjang, sisa limbah bouksit yang berwarna kemerahan masih tertinggal di lapisan atas lumpur.

“Inilah yang ditinggalkan untuk kami, untuk anak cucu kami,” kata Haji Sanjar (56), tokoh masyarakat setempat. Sanjah masih ingat benar bagaimana 40 tahun lalu, sebelum bouksit di kampung itu digali. Laut di tepi pantai masih jernih, belum tercemar. Dan di bawahnya adalah karang, tempat ikan bermain dan mencari makanannya. Kini karang-karang itu sudah tertutup lumpur berwarna kemerahan.

Dulu nelayan Tembeling adalah pemburu Ikan Selangat. Ikan ini lezat rasanya dan menjadi kegemaran masyarakat sekitar. Ukurannya tak terlalu besar, sekitar 25 sampai 30 ekor, baru beratnya mencapai satu kilogram. Tapi kini, setelah laut tercemar, Selangat pun pergi ke perairan lain. Yang tersisa hanya Ikan Belanak, karena tak peduli pada air yang keruh. Untuk memancing Selangat, tak ada pilihan lain kecuali nelayan harus meninggalkan teluk, yang dikenal dengan nama Teluk Bintan itu.

Dulu dari Selangat dan udang serta kepiting, nelayan melangsungkan hidup. Subuh, ketika hari belum jadi, mereka sudah mendayung sampan menuju Pelantar Dua Tanjungpinang untuk menjual ikannya. Jarak tempuh lewat laut hanya sekitar 2,5 jam. Belum ada jalur darat yang beraspal waktu itu. Adapun jalur jalan tanah, dan itu mesti memutar. Pada periode itu, seluruh kebutuhan masyarakat di datangkan dari Tanjungpinang dengan menggunakan sampan-sampan tradisional.

Tapi nelayan-nelayan Tembeling adalah pelaut-pelaut handal. Nenek moyang mereka yang membuka kampung itu datang Bugis naik sampan. Mereka pergi ke Singapura, sebelum akhirnya memutar lagi ke Bintan naik sampan. Menurut Sanjah, titik pendaratan pertama mereka ada di sebuah teluk kecil di ujung kampung. “Mereka sempat berputar-putar beberapa kali, sebelum menepi,” kata Sanjah, yang juga mantau Ketua MUI Kecamatan Teluk Bintan ini.

Teluk itu dikenal masyarakat dengan nama Tembeling Pantai Cermin. Dinamakan cermin karena ketika sore hari, akibat sorotan sinar matahari, bayangan mereka pun memantul di air, sehingga layaknya cermin. Kini nama Pantai Cermin itu diabadikan menjadi nama lapangan sepak bola yang ada di depan kampung yang dihuni ratusan kepala keluarga itu. Sanjah mengaku sudah tidak tahu ia generasi ke berapa dan kapan kampung itu.

”Tapi mungkin saya sudah generasi ke sepuluh yang tinggal di kampung ini,” lanjut lelaki berjanggut yang juga kini menjabat sebagai Bendahara Badan Amil Zakat (BAZ) Kecamatan Teluk Bintan itu. Tak ada bangunan bersejarah memang yang ada di kampung itu, sebab pusat kerajaan terdekat yang ada adalah di kaki Gunung Bintan, tepatnya di Bintan Bukit Batu. Gunung Bintan sendiri tampak jelas dari belakang kampung. Naik sampan ke sana, hanya perlu waktu sekitar dua jam. Di kaki gunung itu, memang ada sejumlah makam bersejarah.

Itulah Tembeling, kampung yang ada di ujung aspal, yang lautnya kini telah keruh. Kemajuan kini perlahan mulai datang, dan kampung tua itu pun kemudian ditetapkan sebagai ibu kota Kecamatan Teluk Bintan. (trisno aji putra)

Kamis, 25 September 2008

Puting Beliung Terjang Kawal



Matinya Komedi Putar di Tangan Sang Angin

TAK ada lagi kisah cinta seorang kembang desa dan seorang bujang kampung di atas komedi putar itu untuk sementara waktu. Puting beliung telah menghentikannya dua hari lalu. Bagi orang kampung, komedi putar tak sekedar hiburan murah milik rakyat kecil saja, tetapi sekaligus tempat cinta pernah bersemi di hati orang-orang sederhana itu.

Berita tentang komedi putar yang berhenti berputar itu pun cepat menyebar ke penjuru kampung di bibir Pantai Trikora itu. Ada yang menghela nafas panjang, tetapi lebih banyak yang tak memperdulikan. Adalah duka yang menggantung di pelupuk mata sekitar 146 jiwa, penghuni 41 rumah, yang meminggirkan kisah tentang berhentinya komedi itu berputar. Dan warga pun mungkin tengah tak membutuhkan komedi putar, sebab, mereka tengah berharap, uluran tangan itu cepat datang.

Tapi tidak demikian halnya dengan Asmawi, pimpinan sekaligus pemilik komedi putar “Dunia Fantasi Bintan”. Baginya komedi putar adalah harapan, sekaligus periuk nasinya. Dan sekaligus, dengan komedi putar itulah, Asmawi berhasil membuka peluang pekerjaan bagi 18 warga untuk menjadi pedagang aneka produk pakaian dan makanan di sekeliling areal pertunjukan komedi putarnya. Berhentinya komedi itu berputar, berarti sama saja dengan membiarkan asap tidak mengepul lagi dari dapur rumah mereka.

“Saya lemas…hampir hancur semuanya,” kata Asmawi, yang masih saja memandangi komedi putarnya yang dijilat puting beliung sehari sebelumnya. Selain menerjang rumah warga yang ada di pesisir pantai, komedi putar itu pun tak luput dari amukan sang angin. Sejumlah perkakas komedi putar rusak, dan barang-barang dagangan dari mulai pakaian hingga makanan terbang disapu angin.

Duapuluh hari yang lalu, atau menjelang awal Ramadhan, Asmawi membawa sepuluh anak buahnya serta 18 pedagang koleganya menempuh rute Tanjunguban menuju Kawal, Kecamatan Bintan Timur. Sebelumnya selama sekitar sebulan, komedi putar itu diparkir di Tanjunguban. Dan awal bulan puasa, ia melihat bahwa sudah saatnya komedi putar itu bergerak ke Kawal, sebuah kelurahan yang berada di pesisir, dengan penduduk yang sekitar lima ribu jiwa.

Sebuah lahan tanah merah kosong yang ia sewa dari PT Bintan Inti Sukses (BIS) senilai Rp 2,5 juta, yang tepat berada di depan Pasar Kawal, kemudian ia sulap menjadi tempat pertunjukan komedi putarnya. Ada empat jenis permainan rakyat yang dibawa Asmawi. Selain komedi putar, juga ada kincir angin, kereta api-kereta apian, dan payung kuda-kuda.

Izin pun ia urus, dari mulai ke Kantor Camat Bintan Timur, sampai ke Kantor Polsek. Setelah semua dikantongi, dengan senyum mengembang, Asmawi pun langsung membuka arena komedi putar itu. Anak-anak nelayan pada malam pembukaan berhamburan, mencoba permainan yang baru bisa mereka nikmati setelah menyerahkan sejumlah rupiah itu.

Dulu, tahun 1990-an, komedi putar adalah kisah tak terpisahkan dari masa kecil bocah-bocah di kota-kota besar. Tapi kemudian adalah play station, nintendo, atau sejenis permainan komputer lainnya menggeser komedi putar. Maka kemudian komedi putar pun lari dari kota, menuju desa, kelurahan, dan pelosok-pelosok kampung nelayan. Di tempat yang belum diserbu oleh mainan karya orang-orang berkacamata tebal itu, komedi putar masih bisa hidup, dan menjadi pilihan hati gadis dan bujang kampung untuk melewatkan malam mingguan.

Dan di Kawal, sejak sekitar 20 hari lalu, komedi putar “Dunia Fantasi Bintan” itu pun menjadi pilihan warga untuk mencari hiburan murah. Tapi sayang, angin tak bisa membaca itu, dan puting beliung pun tak pandang bulu. Dalam hitungan lima menit, komedi putar itu pun benar-benar telah berhenti berputar.

Kerugian 40 Jutaan

“TOTAL kerugian di areal komedi putar ini sekitar empatpuluh jutaan,” kata Asmawi. Asmawi memang tak menanggung sendiri, sebab jumlah kerugian itu merupakan akumulasi dari 18 pedagang yang ikut berjualan di situ. Tapi, angin memang telah menjadi mimpi buruk dalam sejarah komedi putar itu kemudian.

Asmawi adalah orang Tanjungpinang, tapi bersama komedi putar itu, ia sudah melanglang buana ke seantero kampung di pulau yang berbeda, bahkan sampai menyebarnag ke Provinsi Jambi. Sejarah komedi putar itu sduah terbilang tua. Sebelum dipertemukan dengan Asmawi pada tahun 2003, komedi putar ini adalah milik seorang juragan di Surabaya, Jawa Timur. Saat itu, areal mentas komedi putar yang bernama “Dunia Fantasi” ini keliling Jawa Timur.

Setelah dibeli oleh Asmawi seharga Rp 300 juta, komedi putar itu pun naik kapal menuju kepulauan. Satu tahun pertama, komedi putar ini parkir di Batam. Saat itu Batam masih dikenal sebagai surga uang bagi wilayah Kepri. Banyak perkeja di sana yang butuh hiburan murah, dan komedi putar adalah pilihannya. Setahun, Asmawi berkeliling Batam, sebelum tahun 2004, melalui satu kontainer kapal barang, komedi putar itu didaratkan di Tanjungpinang.

Dan setelah itu, mulailah Asmawi dan komedi putarnya menjamah kampung-kampung terpencil, membuka hiburan, bahkan sampai ke Kuala Tungkal, Provinsi Jambi sana. Dan selama perjalanan menjelajah pulau itu, tak pernah putting beliung menerjang. Tapi hari Minggu (21/9) kemarin, untuk pertama kalinya, komedi putar itu diterjang puting beliung.

Asmawi hari Minggu petang itu sedang pulang ke Tanjungpinang. Komedi putarnya dijaga oleh sepuluh karyawannya. Saat itu telpon berdering dari anak buahnya dengan isi singkat saja: puting beliung menerjang!

Dari empat permainan yang ada, komedi putar rusak paling parah. Atapnya, yang terbuat dari terpal terbang enah ke mana, sementara yang tersisa pun sudah robek di sana-sini. Mainan kereta api juga rusak bagian atapnya. Tapi ajaibnya, kincir angin, yang tinggi menjulang sampai belasan meter itu, hanya terjamah sedikit oleh sang angin. Ada yang rusak, tapi tak parah.

“Kalau perbaiki atap kincir angin hanya enam jutaan, atap kereta api hanya dua juta. Tapi lumayan besar juga,” kata lelaki berkacamata minus itu, menghitung kerugiannya. Tapi yang parah adalah kerusakan yang diderita oleh para pedagang yang berjualan memanfaatkan keramaian komedi putar itu. Seorang tukang jual bakso, yang Asmawi tak tahu persis siapa namanya, namun ia kenal baik wajah orang itu, adalah lelaki paling naas pada hari itu. Satu gerobak baksonya yang sudah siap jual, terbalik dihantam angin sore itu.

Tapi pertunjukkan tetap harus berjalan, dan komedi harus kembali berputar, agar ia seperti namanya, yang berarti sebuah kelucuan. Ketika benda permainan anak-anak itu berhenti berputar, maka namanya pun bukan komedi, bisa jadi malah tragedi. “Saya akan perbaiki. Mungkin satu minggu lagi bisa dipakai,” kata Asmawi, sambil menguatkan tekad bahwa ia tak boleh roboh oleh hantaman beliung, bahwa ia akan bertahan di sana sesuai rencana, yakni sampai habis lebaran.

Iwan, seorang pedagang makanan lain yang ikut berjualan di areal komedi putar itu sama seperti Asmawi. Ia punya tekad, untuk kembali berjualan. Ia mengemasi dagangannya yang porak poranda. “Saya akan berjualan lagi,” katanya. (trisno aji putra)

Kamis, 04 September 2008

Luqmaan

AKU selalu merindukan telaga itu....

Telaga berair jernih yang kepadanya aku melihat ada sumur harapan. Saat senja dan fajar, aku selalu datang ke telaga itu, duduk di sampingnya, dan mendapatkan jawaban bahwa hidup ternyata tidak sekedar kebencian dan dendam, tapi cinta, kasih sayang, dan rasa saling berbagi. Bahwa kemudian hidup juga adalah persoalan bagaimana merawat harapan.

Setahun yang lalu, aku menemukan telaga itu. Ya, tepat pada hari ini, setahun yang lalu, 4 September 2007, telaga itu hadir di rumah kecil yang kami tumpangi di Jalan Nila.

Telaga itu kemudian menjadi warna hidup kami, hidup aku dan istriku, Dee. Aku masih ingat, bagaimana setahun yang lalu, air di telaga kecil itu mengalir dalam kehidupan kami. Sebenarnya Dee harus berjuang ekstra ketat. Butuh berhari ia melewati bukaan satu sampai bukaan sembilan, untuk menunggu telaga kecil itu keluar dari rahimnya.

Aku, seperti suami kebanyakan, meski harap-harap cemas, tetap masih terus mengepulkan asap tembakau dari mulutku. Malam itu aku dan Dee menumpang di rumah Jalan Sukarno-Hatta. Sejak mau terlelap, aku tidak mendapat firasat apapun. Karena firasat itu sebenarnya sudah muncul beberapa hari sebelumnya.

Pukul 02.00 WIB dinihari, Dee membangunkanku, memintaku mengantar ke Klinik Pamedan, berjarak sekitar dua kilometer dari tempat kami. Hujan waktu itu rintik-rintik. Kami keluar rumah, dengan mantel. Wajah Dee sudah teramat pucat. Sebuah kamar di lantai dua kami tempati di Klinik yang jarang sepi itu. Malam itu, seorang ibu muda berteriak sekeras-kerasnya. Nyali aku jadi ciut mendengar. Ia akhirnya melahirkan anak pertamanya.

Dee terus gelisah. Semua orang berusaha menenangkannya. Aku juga gelisah. Aku keluar, melihat fajar di ufuk timur, dan kembali menghidupkan rokok entah batang yang keberapa. Pagi itu sepi, dan aku tahu, hati ku pun tengah ciut.

Dua orang perawat berpakaian putih terus mengecek kondisi Dee. Mereka terpaksa memasang oksigen, alat bantu pernafasan, karena fisik Dee teramat lemah saat itu. Kami berdua sejak awal memang menolak untuk menjalani cesar. Meski orang di sekeliling kami akhirnya sudah memberi lampu hijau agar Dee menjalani Cesar, tetap saja kami menolak. Mungkin kami adalah orangtua yang berpikiran agak kolot. Tapi kami hanya ingin memastikan bahwa bayi di rahim istriku itu harus mendapatkan yang terbaik.

Pukul 08.10 WIB, dokter spesialis keluar dari ruangannya dengan keringat jagung di dahinya. Aku tidak sempat menghitung berapa banyak butiran keringat jagung itu, tapi aku yakin, kalau hanya sepuluh butir, pasti lebih. Ia tersenyum padaku, senyum yang penuh beban kelelahan. Aku pun tersenyum. Aku sudah tahu apa yang terjadi, sebab melalui sela di pintu kamar bersalin, aku terus mengintip apa yang terjadi di ruangan yang dipenuhi oleh sekian banyak alat medis yang aku tak tahu namanya satu persatu itu.

"Alhamdulillah, Pak. Sudah lahir. Empat lilitan," kata dokter, seraya menunjukkan empat jarinya ke arahku. Aku agak tercekat. Luar biasa, mungkin apa yang membuat ia lambat lahir, satu di antaranya karena ada empat lilitan tali pusar kepada janin kecil itu. Istriku dulu dilahirkan dengan dua lilitan. Aku sama sekali tak terlilit. eh, anakku ini malah empat lilitan, luar biasa.

Ia menangis juga tersenyum, tangisan dan senyuman pertamanya untuk dunia yang, kata lagu-lagu dangdut, teramat kejam ini.

Aku melantunkan adzan dan iqomah. Aku bersudjud syukur, tapi tak berani aku menggendongnya. Lama aku pandangi dia. Kata orang waktu lahir, ia mirip sepertiku. Tapi kemudian orang yang sama meralat lagi ucapannya, bahwa setelah berusia beberapa bulan, ia lebih mirip ibunya. Entahlah, aku pun bingung juga.

Esoknya, aku membawa Dee dan bayi kecil itu pulang. Ia tidur, lama sekali. Aku hanya melihatnya dari jauh. Kalau pun bangun, ia akan menangis. Waktu berjalan cepat. ia sudah bisa merangkak. Setiap pagi, ia membangunkanku untuk sholat. Ia membangunkan dengan caranya sendiri, yakni naik ke atas tubuhku dan memukul sesuka hatinya. Kebiasaan buruk bangun siangku pun mulai terkikis.

Aku selalu pulang malam. Kadang ia sudah tertidur. Lalu kucuri waktu untuk pulang sebentar siang hari. Aku pandangi matanya. Ada telaga di sana. Ada telaga berair jernih. Aku temukan kehidupan di sana. Dan juga aku temukan banyak jawaban dari sejuta pertanyaanku akan hidup. Setiap datang ke sana, aku menemukan kesejukan. Maka aku pun datang mengunjungi telaga itu, dan menciduk ketentraman di sana.


Telaga itu aku beri nama: Luqmaan...


Selamat ulang tahun yang pertama, Nak....

Kamis, 21 Agustus 2008

Tanjunguban, Dulu dan Kini




Berawal dari Pohon yang Serupai Uban Manusia

PAGI mulai lebih awal di Lobam daripada di Tanjunguban. Ketika ribuan buruh sudah bergerak ke sejumlah perusahaan di Lobam, di Tanjunguban lelaki dan wanita usia lanjut masih santai berjalan pagi di Jalan Merdeka, jalan utama di kota itu.

Sebelum periode 1960-an, orang-orang di Tanjunguban hidup di negeri yang serba mewah. Tapi setelah republik punya aturan sendiri untuk melakukan pengetatan terhadap distribusi barang dan jasa di perbatasan Indonesia-Singapura, juga setelah pemerintah republik memutuskan mata uang dolar Singapura tidak boleh lagi dipakai di Tanjunguban dan Kepri, maka sejak itu, tiba-tiba kemewahan terengut dari hidup mereka.

Setelah itu ekonomi berjalan lambat. Harapan mulai muncul kembali setelah kawasan industri Lobam mulai beroperasi sekitar pertengahan dekade 1990-an. Untuk urusan pagi, memang Lobam boleh lebih awal dari Tanjunguban. Tapi untuk persoalan sejarah, justru semuanya bermula dari Tanjunguban.

Bagaimana sesungguhnya geliat kota kecil di ujung utara Pulau Bintan ini, apa yang pernah terjadi di sini, dan bagaimana sejarah kota ini bermula, Tribun melakukan pembicaraan dengan empat narasumber. Mereka saling melengkapi kisah yang akan ditulis secara bersambung ini.

Mereka adalah Sahat Simajuntak (63) dari Yayasan Rumpun Usaha Muda Bintan Utara (Rumbu), seorang warga Tanjunguban Muhammad Diah (72), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Bintan Utara, Lizan Ahcmad (60), dan terakhir Basri Muhammad Sidiq (66), yang selama 37 tahun pernah menjabat sebagai kepala kampung dan Lurah Tanjunguban.

Keempat narasumber yang ditemui di tiga tempat terpisah ini ternyata memiliki kesamaan cerita tentang asal kata Tanjunguban yang kemudian dipakai sebagai nama kota. Ini berbeda misalnya dengan asal kata Tanjungpinang. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Tanjungpinang muncul sebagai nama kota karena di daerah yang berbentuk tanjung ini, banyak tumbuh pohon pinang. Tapi masih ada sebagian lain yang menyatakan bahwa asal mula nama itu berawal dari kata tanjung dan api-api nang, yang berarti di sebuah tanjung ada nyala api kecil yang tampak dari kejauhan.

Tapi di Tanjunguban, tak ada silang pendapat tentang asal mula nama kota ini. “Ada sebuah pohon yang sudah tua, daun dan akarnya menjuntai ke bawah dan berwarna putih. Orang yang lihat dari laut, pohon itu seperti uban. Karena daratan di Tanjunguban, menjorok kelaut, sehingga disebut tanjung, kata Muhammad Diah, yang diamini oleh Sahat Simanjuntak, Lizan Achmad dan Basri MS.

Pohon itu letaknya di samping Keramat Tanjunguban. Tapi kini sudah tak tersisa lagi. Dan pohon itu pun tak sempat diberi nama oleh penduduk. Keempat sumber Tribun itu tak mengerti, ketika ditanya apa nama pohon tersebut. Yang mereka tahu, pohon itu usianya sudah tua, dan hanya ada satu di Tanjunguban saat itu.

Tentang Keramat Tanjunguban, diyakini adalah makam seorang ulama besar yang meninggal dalam perjalanan dari Semenanjung Malaka menuju Negeri Betawi di Sunda Kelapa.

Tapi kemudian Tanjunguban bukanlah kota tua yang umurnya sudah ratusan tahun. Semua baru bermula sekitar 150 tahun lalu. Hal ini bisa terlacak dari bangunan tertua yang masih dipertahankan di kota ini. Adalah Masjid Jami’ Kampung Mentigi. Bangunan yang kini sudah beberapa kali direnovasi tersebut diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 1880, atau sekitar 128 tahun yang lampau. Tapi kemudian nama Tanjunguban bisa sampai terdengar di Eropa bersama kapal-kapal tangker yang datang, tak lain karena entah bagaimana, para penjajah Belanda dalam serikat dagang VOC-nya memutuskan membangun gudang penyimpanan minyak di Tanjunguban, selain di Pulau Sambu. Dari sinilah, kapal-kapal tangker asing datang dan pergi, membawa minyak yang disuplai dari Palembang. (trisno aji putra/bersambung)