<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796</id><updated>2012-02-16T19:37:26.090-08:00</updated><title type='text'>TRISNO AJI PUTRA</title><subtitle type='html'>Hidup, Kata, Perjalanan...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>71</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-6885096056374946827</id><published>2012-02-07T06:57:00.000-08:00</published><updated>2012-02-07T06:57:20.360-08:00</updated><title type='text'>Melayu.....</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Melayu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;KEMARIN, mereka berkumpul di Daek, Lingga membicarakantentang Melayu. Satu pengakuan disebut: bahwa Daek adalah Bunda Tanah Melayu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mungkin, membicarakan tentang Melayu di tengah gempuranbudaya massa yang telah masuk jauh ke seluruh ruang kesadaran hidup kita, jelasbukanlah persoalan yang mudah. Bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun,mungkin Melayu adalah sebuah kebanggan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mereka terlahir ketika mall, diskon,budaya pop, MTV, dan sejenis produk budaya massa belum menusuk masuk sampai kesendi-sendi kehidupan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi bagi mereka yang kini masih berusia 20&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tahun, jelas, Melayu adalah sebuah kealpaan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Andai saja kemarin David Beckham datang ke Lingga dan ikutseminar tentang Melayu, mungkin ceritanya akan lain. Membandingkan seminarsejarah dan budaya di Lingga dengan kedatangan David Beckham ke Jakarta, jelasbukan hal yang adil. Segelintir media saja yang melakukan liputan di Lingga,dan gaungnya juga sebatas kepada mereka yang memang sedikit peduli dan menaruhharapan pada budaya dan sejarah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi coba bandingkan dengan liputan kedatanganBeckham dua pekan lalu ke Jakarta. Saat itu, televisi bahkan lupa bahwa padahari yang sama, masih banyak kasus korupsi yang belum dituntaskan, juga&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;masih banyak debat politik yang belum habisdi negeri ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Untuk hari itu, tiba-tiba hampir seluruh media massabersepakat dalam satu hal: mari kita lupakan sejenak kepedihan tentang negeriini, dan nikmatilah kedatangan Beckham. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Beckham adalah juru bicara dari generasi yang dibesarkanoleh budaya massa. Ia menjadi dewa, dan sekaligus identitas. Lihat saja, begitubanyak anak muda yang kemudian mengubah gaya sisiran rambut mereka sepertiMohawk, begitu si Tuan Beckham melakukan hal itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kini memang semua orang membutuhkan segala sesuatu yangberbau budaya massa. Mereka butuh diskon yang sampai nyaris seratus persen;mereka juga butuh membeli pembersih rambut yang sering ditampilkan dalam iklandi layar kaca; juga mereka butuh mendengarkan lagu yang temanya soal alamatitu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Maka Melayu kemudian terlupakan.&amp;nbsp;Tapi di tengah gempuran globalisasi, kita tetap butuhMelayu. Globalisasi membuat orang berbicara tentang penyeragaman. Di Eropadimulai dari mata uang, setelah itu akan masuk ke wilayah lain. Namunpenyeragaman, berarti adalah keuntungan bagi yang kuat dan siap. Sementara bagiyang lemah dan tidak siap, penyeragaman berarti juga bisa jadi sebuahpenindasan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Karena itulah, kita membutuhkan Melayu, sebagai sebuahidentitas global kita. Bahwa dari tujuh miliar penghuni muka bumi ini, adasekitar setengah miliarnya yang masuk kategori Melayu. Mereka tersebar daripenghujung timur Indonesia, sampai ke Afrika Selatan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setengah miliar berarti sebuah kekuatan, kekuatan untukmenjadi dan mengidentikan diri. Bahwa kemudian kita butuh identitas; bahwakemudian kita butuh sekelompok orang yang merasa bisa senasib dansepenanggungan; bahwa kemudian kita membutuhkan kegemilangan sejarah masalampau sebagai&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;landasan melompat ke masadepan; bahwa kemudian kita butuh kerjasama-kerjasama yang bernama ekonomi dankeuntungan bersama; karena itulah, kita membutuhkan Melayu. (trisno aji putra)&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-6885096056374946827?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/6885096056374946827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=6885096056374946827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6885096056374946827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6885096056374946827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2012/02/melayu.html' title='Melayu.....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4156527681603898603</id><published>2012-02-02T07:29:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T07:29:20.637-08:00</updated><title type='text'>Tomioka</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Tomioka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;BEBERAPA bulan lalu, masih ada 52 ribu orang yang menghuni &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; itu. Tapi kini,Tomioka adalah &lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; hantu, dengan tak seorangpun berani tinggal di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Adalah nuklir yang menjadi hantu itu. Kebocoran reaktornuklir yang tak jauh dari &lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;, telah membuatpemerintah Jepang mengambil keputusan cepat: mengungsikan seluruh warga &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kini, di depan batas &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;,serdadu berjaga dengan moncong senapan terkokang. Tidak ada seorang pun bolehmasuk ke dalam &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Seandainya kita bisa masuk ke &lt;st1:city w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;,maka kita bisa berimajinasi bahwa kita menjadi orang yang serba “ter” di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; itu. Kita bisamengatakan diri kita terkaya, tercantik, termuda, atau bahkan tertua di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; itu. Sebab, tak adaseorang pun lagi di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;yang bisa menjadi pembanding kita. Tapi siapakah yang berani masuk Tomiokasekarang? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jalan-jalan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;menjadi lengang. Gedung bertingkat, mall, pasar, sampai tempat ibadah menjadibisu. Buah peradaban manusia itu pun akhirnya bakal hancur oleh manusia itusendiri. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mari kita bayangkan sekarang: andai tak perlu ada rasapermusuhan, andai tidak ada ego intelektual, andai tak ada dana rakyat yangdigunakan untuk membangun reaktor nuklir.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dunia kini tengah tumbuh dalam rasa permusuhannya sendiri. &lt;st1:place w:st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; petinggi negara dari belahan utara sampai selatanbisa duduk bareng dan menjadi anggota PBB. Setelah sidang, mereka bisabersalam-salaman dan berpose dengan senyum perdamaian menghiasi wajah. Tapiketika mereka pulang ke negerinya, maka para pemimpin negara itu pun meneken persetujuanuntuk membangun persenjataan militer, dan mengucurkan dana untuk proyek nuklir.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sampai saat ini, nuklir masih dianggap sebagai senjatapamungkas. Mirip dengan keris Tamin Sari yang pernah dimiliki Hang Tuah dulu. Amerikadan Israel kini mati-matian memojokkan Iran karena proyek nuklirnya. Tapi didalam negeri mereka sendiri, dua negara itu pun membangun kekuatannya nuklirnyajuga. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sejumlah futurolog pun kemudian mendeskripsikan masa depankita yang suram: bahwa perang dunia ketiga akan dipungkasi oleh kehancuranglobal akibat nuklir. Setelah itu, bisa jadi kiamat datang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mari kita kembali ke Tomioka. Di antara 52 ribu penduduk &lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; di &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;,terselip belasan ribu anak-anak yang langkahnya masih panjang. Kini nuklirtelah merengut tempat bermain mereka, memindahkan mereka ke tenda-tendapengungsian. Dan sebentar lagi, para sejarawan Jepang pun akan segera menghapusTomioka dari peta negara itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Kota&lt;/st1:city&gt; itu akan menjadi &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang hilang, sepertihalnya Atlantis dulu. Namun tidakkah kita pernah menyadari bahwa, kita akanselalu gagal untuk menghapus &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;itu dari ingatan belasan ribu anak-anak Tomioka. Setiap kita pasti memilikikenangan masa kecil yang indah, tempat di mana kita tumbuh dalam keceriaan. Dantempat itulah yang tak akan pernah bisa terengut dari ingatan kita, sampai mautkemudian datang ke dalam diri kita. * &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4156527681603898603?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4156527681603898603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4156527681603898603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4156527681603898603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4156527681603898603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2012/02/tomioka.html' title='Tomioka'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-629760784939653345</id><published>2011-11-01T07:48:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T07:48:09.277-07:00</updated><title type='text'>Penduduk Bumi</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background: white; color: #444444; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SEMALAM, bumi yang kita tempati ternyata telah berisi tujuhmiliar manusia. Ada pesta yang berlangsung, tapi lebih banyak kecemasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background: white; color: #444444; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Di Zambia, sebuah negara di Afrika, kedatangan manusia ketujuh miliar itu disambutdengan lomba cipta lagu bertema tujuh miliar. Sesama negara Afrika lainnya,Pantai Gading, bikin acara komedi. Di utara, dari Rusia, pemerintah setempatmenyiapkan kado untuk menyambut manusia ketujuh miliar. Sementara di Vietnam, adakonser 7B:&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #444444; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;Counting On EachOther&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="background: white; color: #444444; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background: white; color: #444444; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tapi tak semua senang. Sekjen PBB Ban Ki-moon justru muram. "Siapapunyang lahir, dia akan lahir dalam dunia yang penuh kontradiksi. Banyak makanan,tapi miliaran orang kelaparan. Banyak yang hidup mewah, tapi masih banyak yanghidup tidak sejahtera," katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="background: white; color: #444444; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Saya jadi teringat pelajaran ekonomi sewaktu masih bersekolahdi SMA Negeri 2 Tanjungpinang dulu. Guru ekonomi saya bercerita tentang ThomasRobert Malthus. Saya tak kenal Malthus. Tapi teorinya cukup menggelitik. Bahwapertambahan manusia sesuai dengan deret &lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;ukur(misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya). Sedangkan persediaanmakanan cenderung bertumbuh secara deret hitung (misalnya, dalam deret 1, 2, 3,4, 5, 6, 7 dan seterusnya). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Akibatnyajelas, suatu saat, kelaparan akan menjadi persoalan terbesar hidup manusia. Dankelaparan, dalam sejarah, adalah tragedi besar yang tak pernah terselesaikan.Bisa saja kita membuka lahan persawahan jutaan hektar, tapi besok, atau lusa,siapa yang bisa menjamin semua lahan itu tidak mengalami gagal panen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Karenaitu, Ban Ki-moon pun benar, ketika mengatakan banyak makanan, tapi masih adayang kelaparan. Somalia kini tengah dalam tragedi kelaparan. Seperti sebaitlirik lagu Iwan Fals, hitam kulitmu, sehitam nasibmu, kawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tapiitu di Somalia, nun jauh di Afrika sana. Benarkah masih ada yang kelaparan disekitar kita? Setahun yang lalu, saya membaca koran, seorang ibu dan anak tewaskarena kepalaran di Tanjunguban.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Lepasdari persoalan kelaparan, berarti apakah angka tujuh miliar itu bagi kita? Jelas,bumi akan semakin gaduh. Ia tidak lagi menjadi ruang yang sepi untukkontemplasi. Bahkan beberapa hari lalu, rapat para menteri Nepal digelar di tempatterbuka, di punggung Gunung Himalaya. Tak ada lagi tempat kontemplasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tapiangka tujuh miliar itu bisa macam-macam. Bila Anda seorang politisi, maka tujuhmiliar berarti suara potensial yang bisa mengantarkan Anda ke puncak kekuasaan.Bila Anda seorang marketing, tujuh miliar berarti adalah pangsa pasar yangsemakin besar. Bila Anda seorang pelawak, maka tugas akan semakin berat.Membuat satu orang tertawa saja sudah susah di zaman ketika harga-hargamelambung tinggi. Apalagi tujuh miliar. Lain halnya bila Anda berbalik:menertawakan angka tujuh miliar itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Danbagi Anda seorang psikiater, tujuh miliar manusia berarti adalah tujuh miliartingkah laku. Bayangkan, untuk memahami seorang yang telah hidup bersama kitabertahun-tahun saja, kadang masih sulit. Apalagi ketika kita harus berbagidengan tujuh miliar perilaku yang berbeda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Lantasapakah sebenarnya makna tujuh miliar itu? Kita mungkin sampai saat ini tidakakan pernah paham kapan umur bumi akan berakhir. Tapi yang kita pahami bahwa,perang, kelaparan, kejahatan, adalah bagian tak terpisahkan dari masa depanbumi yang semakin suram ini. Ketika melihat aneka perilaku manusia yang kelewatbatas itu, kita mungkin akan segera memahami bahwa, mengapa kemudian agamaditurunkan untuk manusia. Bayangkan, dengan agama saja, perang masih terjadi,kelaparan masih merajalela, ketidakadilan terus berlangsung, dan penindasanseperti tanpa akhir. Apalagi kalau tidak ada agama?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Akanlain halnya kalau kemudian manusia mulai berbicara tentang konsep berbagi.Bahwa, Senin kemarin, di dalam benak kita harus segera terlintas bahwa setiapapapun yang kita miliki, harus kita bagi menjadi sepertujuh miliar. Ketika kitamelihat sebuah hamparan tanah, maka kita pun harus berpikir, bahwa ada haktujuh miliar orang di sana. Maka kita pun hanya boleh mempergunakan sepertujuhmiliar saja dari tanah tersebut. Mungkin persoalannya akan selesai, dan bumimenjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Tapi apakah itu mungkin? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bumi,dengan tujuh miliar penghuninya, kini ternyata menjelma menjadi gagasan yangsuram. Ban Ki-moon tidak salah. Tujuh miliar bukan berarti pesta hura-hura,melainkan adalah sebuah tonggak kesadaran kita, bahwa sudah saatnya kita harusmembagi hidup kita dengan tujuh miliar orang lainnya. (*) &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background: white; color: #444444; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-line-height-alt: 10.15pt; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-629760784939653345?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/629760784939653345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=629760784939653345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/629760784939653345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/629760784939653345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2011/11/penduduk-bumi.html' title='Penduduk Bumi'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7778401529953646989</id><published>2011-09-04T06:04:00.000-07:00</published><updated>2011-09-04T06:04:41.205-07:00</updated><title type='text'>4 September 2011</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LYr-vGDsAJY/TmNx0FciVtI/AAAAAAAAAME/Q-PbeW9RcmU/s1600/Luqmaan%2BSleeping.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="134" src="http://4.bp.blogspot.com/-LYr-vGDsAJY/TmNx0FciVtI/AAAAAAAAAME/Q-PbeW9RcmU/s200/Luqmaan%2BSleeping.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;BARING-Luqmaan's sleeping. Ia tertidur di tengah hamparan rumput kering, di sebuah kampung, berdekatan dengan Pantai Trikora. Hari ini, Luqmaan genap berusia empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XcFy8d-5kgI/TmNyZZghO-I/AAAAAAAAAMM/MSu66Lk3Lb8/s1600/The%2BFamily.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="134" src="http://4.bp.blogspot.com/-XcFy8d-5kgI/TmNyZZghO-I/AAAAAAAAAMM/MSu66Lk3Lb8/s200/The%2BFamily.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;TIGA - Dee, Anisa, dan Luqmaan, di tengah hamparan rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HARI ini, bocah lelaki kecil itu genap berusia empat tahun. Dalam tradisi keluarga kami, tidak ada perayaan ulang tahun. Tanggal yang datang setiap setahun sekali itu, hanya kami jadikan sebagai batas ingatan saja, bahwa satu tahun telah terlewati, dan berarti satu tahun pula umur sudah berkurang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang siang, Luqmaan melewati 4 September itu dengan berenang. Ia masih gentar menahan gelombang, tapi ia sudah punya cukup nyali untuk merasakan sentuhan titik-titik air pada kulit tipisnya. Ia habiskan waktu sampai sekitar 2,5 jam berenang di Pantai Trikora.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menggendongnya, membawa ke tengah. Kakinya sudah tidak bisa jejak lagi. Namun ia tetap memiliki keberanian untuk terus memintaku beranjak ke permukaan laut yang lebih dalam. Kini, ia telah tumbuh sebagai bocah lelaki kecil. Rengekannya masih nyaring, dan keras kepalanya mungkin sudah sedikit luntur. Tapi tetap saja ia jarang melakukan kompromi. Untuk sebuah pendapat yang ia anggap benar, maka ia akan memilih berteriak untuk mempertahankannya. Teriakan, dalam bahasanya, adalah alat untuk membuat orang yang lebih dewasa mau memahami pendiriannya. Aku senang itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanannya di empat tahun ini, telah terlewati dengan penuh warna. Ia sudah punya partner bermain, Anisa, sang adik, yang berusia 2,3 tahun. Ia sudah punya banyak koleksi mobil-mobilan, namun tidak ada satu pun yang utuh. Kalau bannya tidak hancur, maka kaca mobil-mobilan itu jebol. Dan ia juga sudah punya koleksi sejumlah buku bacaan menjelang tidur. Buku itu akan ia cari ketika akan terlelap. Dan biasanya, ia melatakkan buku itu ruang kosong yang ada di atas kepalanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, ia juga sudah punya koleksi sejumlah bola. Satu hal yang paling ia senangi adalah membawa kantong plastik ke mana pun ia pergi. Di dalam kantong itu, berisi sejumlah mainannya. Ada bola, mobil-mobilan, dan sebagainya. Ia akan merasa ada yang kurang bila pergi ke luar rumah tanpa membawa kantong plastik itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak tahu dunia seperti apa yang akan dihadapinya kelak. Aku hanya menyimpan doa saja. Semilyar doa, semilyar harapan. Semoga ia tetap setia di jalan itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia kini sudah bersekolah di sebuah PAUD, di samping lapangan bola. Dulu, ia sempat kabur dari PAUD, tidak mau sekolah. Tapi sekarang, ia sudah berubah pikiran, mulai tertarik dengan ide yang bernama sekolah. Ia juga tertarik dengan ide bernama perjalanan. Ia selalu begitu antusias untuk pergi berjalan. Aku pikir, anak kecil rata-rata memang mencintai perjalanan. Sebab di sana mereka bisa melihat sejumlah hal, yang tak bisa mereka lihat di rumah, atau di televisi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Luqmaan....&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika aku menuliskan ini, ia sedang menonton televisi. Sebuah tayangan kartun. Ia menyukai sejumlah tanyangan, termasuk Upin dan Ipin. Dan ia selalu memiliki ide sehabis menonton tayangan kesukaannya. Dan, satu lagi di antara kesibukannya adalah memelototi komputer. Ia selalu duduk di depan meja komputer, memainkan sejumlah game, maupun mewarnai sejumlah gambar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di empat tahun usianya kini, aku mulai memberanikan diri menyimpan harapan kepadanya. Tapi, hidupnya kuserahkan kepada jalan yang memang sudah ditentukan kepadanya untuk ia lalui. Ada banyak kisah tentang bocah kecil ini. Juga kisah tentang bocah perempuan kecil bernama Anisa. Aku sempat berpikir untuk membuat biografi mereka berdua. Kemudian aku menyimpan sejumlah catatan itu di dunia maya. Aku berharap, suatu saat kelak, mereka akan menemukannya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat menjalani usia ke empat, anakku......&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7778401529953646989?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7778401529953646989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7778401529953646989' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7778401529953646989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7778401529953646989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2011/09/4-september-2011.html' title='4 September 2011'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LYr-vGDsAJY/TmNx0FciVtI/AAAAAAAAAME/Q-PbeW9RcmU/s72-c/Luqmaan%2BSleeping.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3988211183268488860</id><published>2011-08-28T07:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-28T08:14:01.960-07:00</updated><title type='text'>Dzeko, The New Legend of City</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-IuQYLtw-mXQ/TlpWFI6L5EI/AAAAAAAAAL8/cDCOPgpujzs/s1600/dzeko-260711-afp.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-IuQYLtw-mXQ/TlpWFI6L5EI/AAAAAAAAAL8/cDCOPgpujzs/s200/dzeko-260711-afp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645919729153205314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(foto: bola.net)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beri dia kesempatan. Sulit bagipemain untuk berkembangketika pindah di tengah musim. Tahun depan dia akan mengubah segalanya," kata Steve Mc Laren, pelatih Wolfsbug, klub lama Edin Dzeko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Steve benar. Dalam kelanjutan Liga Inggris Minggu (28/8) malam, Dzeko tampil menggila. Ia menyarangkan empat gol ke gawang Friedl, kiper Totenham Hotspur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 menit pertama pertandingan, Dzeko tak tergambar, alias tak tampak di layar kaca. Tapi setelah itu, ia menjadi mimpi buruk bagi barisan pertahanan Totenham, klub yang musim lalu berada di peringkat lima Liga Inggris. Menit 32, ia mencetak gol pertamanya, setelah menerima umpan matang dari Samir Nasri, rekannya yang tampil dalam debut memakai seragam City itu. Menjelang turun minum, kembali dengan umpan matang Nasri, Dzeko membuat gol kedua dengan kepalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ, sorot kamera pun mengarah kepadanya saat turun minum. Bayangkan, di tiga laga perdana Liga Inggris 2011/2012 ini, ia tak jeda membuat gol. Satu gol ia sarangkan ke gawang Swansea City, lalu lima hari kemudian giliran gawang Bolton yang ia jebol. Bila dihitung dengan laga pembuka, yakni Community Shield melawan Manchester United, praktis Dzeko sudah membuat lima gol di empat pertandingan pertamanya. Rekor ini sebenarnya pernah dilakukan oleh Gabriel Omar Batistuta sewaktu membela Fiorentina dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki babak kedua, Dzeko tampil lebih kalem. Bersama tandem barunya, Sergio Kun Aguero, mereka terus mencoba menciptakan ruang untuk menjebol gawang Totenham. Dan kembali, umpan terobosan yang dibuat oleh Yaya Toure, dengan dingin ditendang oleh Dzeko. Hasilnya, ia mencetak hatrick, dan membawa City unggul 3-0. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aguero yang tak mau ketinggalan, kemudian ikut membobol gawang Totenham kembali. Lagi-lagi lewat asist Samir Nasri dari sayap kiri lapangan. Setelah itu, City pun tampil lebih santai. Mereka menguatkan pertahanan dari lini tengah ke belakang. Dzeko pun tampak sering turun ke bawah membantu pertahanan. Namun Totenham berhasil mencuri satu gol lewat Younis Kaboul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mancini, sang pelatih yang dikenal dengan gaya sepakbola defensifnya musim lalu pun menarik keluar Aguero, memasukkan Savic, seorang bek. Alhasil, City menempatkan lima bek sekaligus. Wajar strategi ini ditempuh, mengingat apalagi yang akan dikejar oleh sebuah tim yang sudah unggul 4-1. Dzeko pun diletakkan sendirian di depan. Tapi yang terjadi kemudian adalah serangan balik yang menghentak. Gereth Barry mengirim bola ke Dzeko, dan dengan dingin, si pemuda muslim asal Bosnia ini pun menendang dari luar kotak pinalti. Hasilnya, kembali satu gol tercipta di masa injury time. Quatrick untuk Dzeko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika baru merumput di Liga Jerman, Dzeko butuh satu musim untuk beradaptasi. Ia tidak bisa melakukan banyak hal. Namun di musim keduanya, ia mencetak lebih dari 20 gol dan menjadi top skorer Liga Jerman. Hal inilah yang membuat Steve Mc Laren meminta Mancini dan fans City bersabar ketika melihat Dzeko tidak juga membuat banyak gol di pertengahan musim lalu. Dan Steve benar. Dzeko butuh waktu menyesuaikan diri. Setelah enam bulan lebih bersama rekan-rekannya, ia jadi paham karakter Liga Inggris yang keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal musim, Dzeko berjanji bahwa ia akan mencetak banyak gol pada musim ini. Dan janji itu ditepati oleh pemuda yang dikenal oleh para mantan pelatihnya ini sebagai sosok yang santun dan tidak banyak mencari kontroversi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ia sudah mencetak enam gol dari tiga pertandingan awal Liga Inggris. Berarti, rata-rata Dzeko mencetak dua gol dalam satu pertandingan. Sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah ketatnya Liga Inggris. Apakah ia akan mencetak lebih banyak gol lagi di musim ini, waktu yang akan menjawabnya. Yang jelas, dengan kekuatan lini tengah City, tentu Dzeko akan dimanjakan oleh umpan-umpan memikat. Lihat saja di lini tengah City, ada David Silva, Samir Nasri, Yaya Toure, Gereth Barry, James Milner, Adam Jhonson, dan juga Nigel de Jong: nama-nama yang akan membuat barisan pertahanan lawan ketar-ketir menunggu ke mana arah bola yang akan mereka lesakkan dari kaki mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah jejak perjalanan si pemuda Bosnia ini. Tak banyak yang tahu bahwa Dzeko nyaris kehilangan mimpinya menjadi pemain sepakbola akibat perang. Tentara Serbia melumat kampung halamannya. Ia dan jutaan muslim Bosnia lainnya pun menjadi pengungsi perang. "Tapi masa lalu saya membuat saya kuat," kata Dzeko. Ya, pemuda ini lahir dengan mental yang diasah oleh perang. Siapa pun akan tahu bahwa perang hanya akan melahirkan dua jenis mental manusia: mereka yang depresi dan kehilangan harapan, dan satu kelompok lagi adalah mereka yang liat, kuat, dan tidak mudah patah semangat. Mungkin Dzeko masuk dalam kelompok yang kedua ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memulai debutnya di Liga Inggris Januari silam, ia memang tidak membuat gol. Ia hanya mampu membuat asist untuk Tevez. Namun sejumlah pengamat memuji penampilannya. Dan sejumlah pengamat memprediksi bahwa ia akan menjadi legenda baru di Etihad Stadium. Apakah prediksi itu akan terbukti? Mari kita sama-sama tunggu hingga akhir musim ini...... &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(trisno aji putra)&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3988211183268488860?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3988211183268488860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3988211183268488860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3988211183268488860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3988211183268488860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2011/08/dzeko-new-legend-of-city.html' title='Dzeko, The New Legend of City'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IuQYLtw-mXQ/TlpWFI6L5EI/AAAAAAAAAL8/cDCOPgpujzs/s72-c/dzeko-260711-afp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7172899978721594452</id><published>2011-08-21T10:42:00.000-07:00</published><updated>2011-08-21T10:47:54.029-07:00</updated><title type='text'>Dzeko: One Game, One Goal</title><content type='html'>Edin Dzeko kembali menunjukkan ketajamannya di lini depan Manchester City. Ini adalah musim kedua ia membela Biru Langit. Melawan Swansea pekan lalu, Dzeko menyumbang satu gol untuk kemanangan City 4-0 atas Swansea. Barusan kembali ia menyumbang satu gol saat City melumat Bolton 3-2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada pertanyaan, siapa calon top skorer Priemer League musim ini, maka kandidatnya hanya berkutat pada beberapa nama: Dzeko, Aguero dan Rooney. Namun kans Dzeko terbesar, bila ia tidak dibelit cedera sepanjang musim ini. Bayangkan, Dzeko didukung oleh lini tengah City yang luar biasa menakutkan. Di sana ada David Silva, pemain dengan visi bermain yang luar biasa cerdas. Setiap serangan City selalu bermula dari kaki Silva. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga masih ada Milner dan Adan Jhonson dari sayap, yang siap mensuplai bola ke kaki Dzeko. Dan tandemnya pun luar biasa, ada Aguero, Tevez, dan Balotelli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So...siapa yang akan keluar sebagai yang terbaik musim ini, layak untuk ditunggu. Dan Dzeko adalah The Man to Watch Out!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7172899978721594452?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7172899978721594452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7172899978721594452' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7172899978721594452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7172899978721594452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2011/08/dzeko-one-game-one-goal.html' title='Dzeko: One Game, One Goal'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3930040137927362822</id><published>2011-08-16T00:18:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T00:26:41.666-07:00</updated><title type='text'>Manc City Vs Manc United</title><content type='html'>Setidaknya, Liga Inggris musim ini adalah pertarungan antara dua tim di satu kota yang sama: Manc City dan Manc United. Jelas MU lebih glamour dalam urusan piala, sebab City baru berhasil mengkoleksi Piala FA pada musim lalu, setelah puasa gelar selama 35 tahun terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semuanya bakal berubah pada musim ini. Terbukti dalam laga perdana City Vs Swansea City, 16 Agustus dinihari, sebelas pemain City menunjukkan perkembangan positif, baik dari aspek teknik, mental, maupun kerjasama tim di lapangan. Sejumlah pengaman memprediksi, andai City mampu menjaga konsistensi sepanjang musim, maka fans City di akhir musim bisa dengan santai menyatakan: Goodbye MU!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada sejumlah pemain City yang diprediksi bakal bersinar musim ini. Mereka adalah Edin Dzeko, Sergio Kun Aguero, David Silva, Yaya Toure, dan Joe Hart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan terjadi dengan City sepanjang musim ini, tentu menarik untuk disimak. Namun yang jelas, satu jargon yang harus kita usung adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      MU ADALAH TIM DENGAN MASA LALU, MANC CITY ADALAH TIM DENGAN MASA DEPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersediakan Anda bergabung dengan masa depan? Bila iya, maka jawabannya adalah lupakan MU, dan lihatlah City. HANYA ADA SATU MANCHESTER DI MANCHESTER, DAN ITU ADALAH CITY.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe..untuk para pendukung MU, take it easy bro....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut liputan ttg City di Bola.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16-08-2011 04:10&lt;br /&gt;Bola.net - Diwarnai dengan pembuktian gol debut dari Sergio Aguero, Manchester City kini siap mengancam klub-klub pemburu gelar Liga Premier Inggris 2011-2012 dengan mengalahkan Swansea City 4-0 di Etihad Stadium, Selasa (16/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di babak pertama, Swansea, yang notabene merupakan klub promosi, menunjukkan kalau mereka siap untuk bersaing di liga tertinggi di Inggris ini. Kolektifitas tim mereka tunjukkan dengan mengimbangi permainan tim tuan rumah. Bahkan, mereka menguasai jalannya pertandingan dengan unggul ball possesion sebesar 55% di babak pertama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, rapatnya pertahanan serta gemilangnya penampilan kiper Michel Vorm membuat City yang bertindak sebagai tuan rumah harus sedikit frustasi dengan mencetak peluang dari tendangan luar kotak penalti saja. Apalagi, mistar gawang terlihat bersahabat dengan Swansea. Tercatat dua kali tendangan City melalui Gareth Barry dan David Silva terpaksa membentur mistar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermain tanpa gol di babak pertama, entah apa yang diinstruksikan Roberto Mancini di ruang ganti. The Citizen menggila di babak kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edin Dzeko menjadi pemecah kebuntuan City di laga ini. Tepat pada menit ke-57 ia mampu membawa tim tuan rumah setelah memanfaatkan bola muntah hasil tendangan Adam Johnson yang gagal ditangkap dengan baik oleh Michael Vorm. City pun unggul 1-0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gol itu tadi seakan meruntuhkan mental dari Swansea. Lebih-lebih, Mancini memasukkan Sergio Aguero menggantikan gelandang bertahan Manchester Blue, Nigel de Jong, semenit usai gol tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk di babak kedua ,tak membuat Kun gugup atau telat beradaptasi dengan permainan. Baru semenit ia masuk, menantu Diego Maradona ini langsung menebar ancaman dengan mencetak peluang yang masih bisa digagalkan Vorm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah debut indah dijalani Sergio Aguero. Gol kedua City, yang memang tinggal menunggu waktu saja, akhirnya terlahir dari kaki kirinya pada menit ke-68. Berawal dari overlap yang dilakukan bek kanan, Micah Richards, dan diakhiri dengan umpan silang mendatar, Kun yang tak terjaga akhirnya mencetak gol perdananya di Liga Premier Inggris. City 2, dan Swansea masih 0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan jago mencetak gol saja. Kun kali ini juga turut menyumbangkan assist untuk gol ketiga City yang dicetak oleh David Silva tiga menit berselang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim tamu yang seolah habis di babak kedua ini akhirnya harus rela pulang dengan kekalahan telak 4-0, setelah Sergio Aguero dengan gol indahnya dari luar kotak penalti menutup pesta gol City di injury time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya menjadi pemuncak klasemen bersama Bolton, kemenangan ini seakan menahbiskan City sebagai tim yang siap mengancam tim-tim besar lainnya untuk memburu gelar Liga Premier. Terutama rival satu kota mereka, Manchester United.  (bola/mxm)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3930040137927362822?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3930040137927362822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3930040137927362822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3930040137927362822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3930040137927362822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2011/08/manc-city-vs-manc-united.html' title='Manc City Vs Manc United'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-8783786027534597519</id><published>2011-08-14T09:12:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T09:14:29.172-07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme dan Perbatasan</title><content type='html'>Nasionalisme di Perbatasan Kepri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Berita Antara, Minggu, 14 Agustus 2011 16:56 WIB | Profil | Dibaca 55 kali&lt;br /&gt;Oleh: Henky Mohari&lt;br /&gt;Warga negara di daerah perbatasan seringkali dinilai kurang memiliki rasa nasionalisme ketimbang warga yang jauh dari perbatasan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, warga masyarakat di sana sering menunjukkan rasa cinta Tanah Air dan nasionalisme yang tinggi dengan berunjuk rasa serta membuat pernyataan sikap jika terjadi pergesekan atau tindakan semena-mena oleh negara tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan warga perbatasan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sangat jarang terlihat melakukan tindakan-tindakan atau pernyataan sikap yang menunjukkan rasa cinta Tanah Air dan nasionalisme yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Kepri langsung berbatasan dengan negara yang selalu diperdebatkan dengan segala tindakannya yang terkadang mengancam kedaulatan dan martabat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah rasa nasionalisme masyarakat Kepri sudah hilang dan luntur akibat gemerlap negara tetangga yang sangat menjanjikan kesejahteraan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu terkadang muncul dari teman-teman di pusat atau daerah lain yang tidak berbatasan langsung dengan negara tetangga yang misalnya sedang diperbincangkan hangat akibat tindak tanduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa nasionalisme daerah perbatasan khususnya di Kepri yang berbatasan dengan Singapura, Malaysia, Kamboja dan Vietnam tidak bisa disamakan dengan daerah lain atau Jakarta, kata pakar politik Zamzami A Karim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang Jakarta mengukur nasionalisme dari ukuran Jakarta, tidak pernah melihat dari perspektif masyarakat perbatasan. Terkadang maksud nasionalisme itu adalah yang menguntungkan Jakarta, tidak peduli dengan nestapa yang dirasakan masyarakat di perbatasan," kata Zamzami yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Raja Haji Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman sejarah antara Jakarta dan Jawa dengan komunitas daerah perbatasan menurut dia sangat jauh berbeda, terutama di Kepri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari dulu Kepri merupakan daerah yang sangat terbuka dan plural, sehingga makna nasionalisme Indonesia yang mereka rasakan tidak terlalu 'chauvinis' seperti Jakarta dengan jargon 'right or wrong is my country'," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengalaman sejarah yg berbeda juga membuat ekspresi nasionalisme yang beda pula, bukan berati tidak Cinta Tanah Air," kata Zamzami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pemerintah pusat harus menunjukkan kewibawaannya berhadapan dengan negara tetangga dimulai dari kawasan perbatasan agar kepentingan nasional benar-benar dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara harus berwibawa, jangan justru tunduk pada kepentingan negara lain yang membuat kita malu sebagai warga negara, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh menurut dia, pemerintah tidak berdaya menghadapi penjarahan pasir, ikan, bauksit, bahkan hasil minyak bumi dan gas sehingga masyarakat tidak tahu berapa yang mengalir ke luar negeri, jangankan untuk ikut menikmatinya. "Menyedihkan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agar kecintaan kita terhadap Indonesia terbalaskan, kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka yang harus ditegakkan," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi International Gurindam Archipelago Tanjungpinang, Pramono, rasa nasionalisme di perbatasan akan muncul apabila terdapat persengketaan fisik yang mengganggu stabilitas dan kenyamanan bersifat ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kalau hanya sekedar perang urat syaraf dan perang opini, nasionalisme itu sulit muncul," kata Pramono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun masyarakat perbatasan khususnya di Kepri menurut dia punya obsesi menjadi bagian dari negara tetangga yang lebih makmur, namun hal itu akan berangsur terkikis apabila negara mampu memperbaiki taraf hidup dan ekonomi mereka yang di perbatasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kunci nasionalisme adalah domain negara dan negara bertanggung jawab untuk menumbuhkembangkan rasa nasionalisme warga negara," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa nasionalisme di Kepri tidak lepas dari pengaruh kesamaan budaya dan rasa persaudaraan seperti dengan negara tentangga Singapura dan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepri secara historis memiliki hubungan emosional dengan Malaysia dan Singapura. Bahkan dulu wilayah Malaysia, Singapura adalah satu bagian kesultanan Melayu yang tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena adanya hubungan emosional itulah, makanya orang di Kepri tidak terlalu berlebihan menyikapi sentimen yang berkembang di antara negara," kata Trisno Aji Putra yang juga dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi International Gurindam Archipelago Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tetap saja menurut dia yang harus digarisbawahi adalah Kepri sudah memutuskan menjadi bagian tak terpisahkan dengan Indonesia, sementara pada sisi lain warga Kepri tetap menganggap orang Malaysia dan Singapura adalah bagian dari saudara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini yang harus dilihat secara lebih mendalam," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk memandang nasionalisme di Kepri, bisa dilihat dari teori kedaulatan di perbatasan. Bahwa terkadang kawasan perbatasan agak "aneh" dibanding kawasan lain, sebab di perbatasan bukannya nasionalisme sudah luntur, tetapi karena adanya hubungan emosional, sejarah, budaya dan lain sebagainya yang terjadi di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan di Kepri juga sedikit unik, satu sisi mengakui bagian dari Indonesia, namun terkadang mata uang yang digunakan adalah dolar Singapura dalam bertransaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan masyarakat Kepri yang suka produk Singapura atau Malaysia, menurut dia bukan persoalan nasionalisme, tetapi lebih kepada motif ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembeli tentu ingin mencari barang yang lebih murah dan berkualitas dibanding yang mahal, karena dekat secara geografis, maka itu membuat barang dari Singapura dan Malaysia harganya lebih murah dibanding produk serupa dari Jakarta. Jadi itu murni motif ekonomi, bukan persoalan lunturnya nasionalisme," katanya menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramono juga menilai kesamaan budaya secara kasat mata mempengaruhi perilaku masyarakat perbatasan di Kepri, karena menyangkut pertalian sejarah budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertalian budaya dan adanya hubungan emosional lebih kental dibanding kesadaran bela negara. Kekuatan kesamaan kultur itu mengalahkan kekuatan ideologi dan teritorial," kata Pramono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, masyarakat tempatan (asli) menurut dia lebih bersifat semangat kedaerahan dibadingkan dengan masyarakat pendatang di Kepri karena pertalian sejarah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Pramono berharap rasa nasionalisme bisa dipupuk di perbatasan karena masyarakat perbatasan adalah benteng terkhir wilayah otritas negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa nasionalisme warga Kepri menurut Zamzami tetap tinggi, walaupun mereka selalu membandingkan nasib mereka dengan saudara-saudara mereka di negara tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menurut dia juga ditunjukkan dengan tidak banyak warga yang secara serius mau pindah kewarganegaraan hanya karena perbedaan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepatutnya hal itu bisa mendorong pemerintah pusat agar menaruh perhatian besar kepada kesejahteraan masyarakat perbatasan, terutama meningkatkan infrastruktur, agar mendapat kemudahan akses ke berbagai pusat ekonomi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha pemerintah saat ini menurut dia sudah ada, tetapi mungkin belum sistematis karena selalu muncul program yang sifatnya tidak berjangka panjang dan berkelanjutan. Misalnya membantu nelayan dengan alat tangkap dan perahu, permodalan usaha, atau bedah rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu semua hanya bersifat jangka pendek, dan biasanya tidak 'sustainable' (berkesinambungan) agar bisa diukur dampak program-program tersebut dari tahun ke tahun yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat perbatasan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pegawai di Pemerintahan Provinsi Kepri, Patrick Nababan mengatakan nasionalisme itu tidak dilihat dari sisi yang sempit dan juga bukan hanya dengan turun ke jalan-jalan meneriakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan kita bekerja, membangun membangun daerah berarti kita sudah berusaha mempertahankan dan memberikan kemakmuran bangsa dan negara. Masyarakat perbatasan adalah masyarakat yang sangat nasionalis," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Junaidi Fajri mengatakan rasa nasionalisme warga perbatasan memiliki grafik yang berdeda-beda, ada yang rendah, tinggi atau sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal itu dipengaruhi oleh faktor kemajuan sebuah daerah yang meliputi tingkat pendidikan, ekonomi, atau perkembangan sebuah kawasan tersebut," kata Junaidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tingkat kemajuan sangat berperan penting dengan sebuah rasa nasionalisme, dan hal yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah lebih pro aktif melihat keadaan masyarakat untuk mensejahterakannya serta membuat suatu kawasan tersebut dapat bersaing dengan daerah tetangga yang lebih maju," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trisno Aji Putra yang juga mantan wartawan harian lokal di Kepri menambahkan, yang harus dipikirkan pemerintah pusat adalah membangun kawasan perbatasan yang menjadi pintu gerbang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau gerbangnya sejahtera, maka dipastikan tidak akan ada masalah di perbatasan, dengan kata lain nasionalisme di perbatasan itu meningkat seiring meningkatnya pembangunan atau pemberdayaan masyarakatnya," katanya yang juga seorang penulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godaan terbesar suatu daerah ingin lepas dari negara kesatuan adalah persoalan kesejahteraan dan keadilan, bila dua masalah itu terselesaikan, maka tidak akan ada gejolak di perbatasan, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepri menurut dia sudah tuntas membahas masalah tersebut sehingga sudah diputuskan Kepri bagian dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau pun ada riak, itu hanya karena persoalan kesejahteraan bukan karena rasa nasionalisme luntur," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANT-HM/B009/Btm3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COPYRIGHT © 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-8783786027534597519?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/8783786027534597519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=8783786027534597519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8783786027534597519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8783786027534597519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2011/08/nasionalisme-dan-perbatasan.html' title='Nasionalisme dan Perbatasan'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4688162619519994748</id><published>2011-05-31T20:31:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T20:52:17.832-07:00</updated><title type='text'>1 Juni, Dua Tahun Lalu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-fQ0xLdGypOg/TeWzWj-CDLI/AAAAAAAAALw/SsJQ11DXuqI/s1600/IMG_2081.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-fQ0xLdGypOg/TeWzWj-CDLI/AAAAAAAAALw/SsJQ11DXuqI/s200/IMG_2081.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613089710781107378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI ini, saat maghrib, dua tahun lalu, Anisa terlahir ke dunia. Ia menemani Luqmaan Ahmad Aqsha, yang lahir hampir dua tahun sebelumnya. Anisa terlahir pada 1 Juni 2009, sementara Luqmaan pada 4 September 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun perjalanan itu, banyak kisah yang kami lewati. Satu hal yang unik, selama dua tahun perjalanan Anisa, sudah tiga kali ia berganti nama panggilan. Pertama kali, kami memanggilnya dengan sebutan Raina. Setelah itu, kami menggantinya dengan sebutan Kanisa. Dan sebulan lalu, kami menggantinya lagi dengan panggilan Anisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Raihaanah Fathimah Khairunnisaa'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqmaan kcil lebih senang memanggilnya dengan Dedek Mischaaaa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu alasan kami mengganti tiga kali nama panggilan Anisa. (Dee lebih tahu alasannya. Suatu saat kelak, kami akan menjawab bila ia menanyakan mengapa panggilannya terus menerus berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menuliskan ini, Luqmaan dan Anisa sedang bermain di belakangku. Dee sedang tertidur, sakit. Luqmaan barusan selesai main game di komputer. Anisa belum terlalu mahir bermain game. Bila Luqmaan bermain game, ia akan duduk di sebelahnya dan melihat. Terkadang sambil memegang buku dan pena. Ia mencoret-coret buku itu. Ia cepat sekali belajar, sebab ada Luqmaan yang mengajarinya. Kalau Luqmaan pergi ke sekolah PAUD, Anisa pun ikut. Kalau sore, mereka akan pergi ke rumah nenek, bermain sepeda dan lari-lari di depan gang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cerita, juga kisah yang telah kami rangkai. Tadi pagi, saat sudah terbangun, Anisa melompat-lompat di tempat tidur. Badannya yang gendut, dengan cara melompatnya yang belum sempurna, membuat ia tampak lucu. Luqmaan datang..ia selalu berebut komputer yang kugunakan. Maka tulisan ini akan aku sambing lagi kelak....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4688162619519994748?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4688162619519994748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4688162619519994748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4688162619519994748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4688162619519994748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2011/05/1-juni-dua-tahun-lalu.html' title='1 Juni, Dua Tahun Lalu'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-fQ0xLdGypOg/TeWzWj-CDLI/AAAAAAAAALw/SsJQ11DXuqI/s72-c/IMG_2081.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2342093709852619648</id><published>2010-12-22T05:23:00.001-08:00</published><updated>2010-12-22T05:26:28.229-08:00</updated><title type='text'>Sebuah Buku, Delapan Tahun Lalu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/TRH8ANIrrQI/AAAAAAAAALg/vPZzBKF3xSo/s1600/Menuju%2BMasyarakat%2BSejahtera.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/TRH8ANIrrQI/AAAAAAAAALg/vPZzBKF3xSo/s200/Menuju%2BMasyarakat%2BSejahtera.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553496895980809474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKU ini lahir delapan tahun yang lalu, pada 2002. Sebuah perjalanan panjang delapan tahun, banyak yang tertulis, juga banyak yang terlupakan. Aku tiba-tiba teringat letak buku ini. Buku ini berkisah singkat saja, tentang sejumlah gagasan dari berbagai bidang ilmu untuk mencapai sebuah tujuan: mensejahterakan masyarakat Kepri. Apakah gagasan itu masih kontekstual dengan Kepri di tahun 2010, aku pikir, hanya pembaca dan para pengamat sajalah yang berhak menilainya. Selebihnya, adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung usai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2342093709852619648?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2342093709852619648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2342093709852619648' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2342093709852619648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2342093709852619648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2010/12/sebuah-buku-delapan-tahun-lalu.html' title='Sebuah Buku, Delapan Tahun Lalu'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/TRH8ANIrrQI/AAAAAAAAALg/vPZzBKF3xSo/s72-c/Menuju%2BMasyarakat%2BSejahtera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2750136989537252152</id><published>2010-06-01T04:49:00.000-07:00</published><updated>2010-06-01T05:26:34.774-07:00</updated><title type='text'>Kanisa, Setahun yang Lalu</title><content type='html'>30 MENIT LALU, SETAHUN YANG LALU. Aku masih ingat benar saat itu, ketika pergantian hari baru terlewati. Dee terbaring di Klinik Pamedan, menunggu detik-detik itu. Aku pamit sebentar, dan pergi ke masjid 200 meter dari klinik. Saat aku kembali ke klinik, gadis kecil itu sudah lahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memanggilnya Kanisa. Ia lahir pada 1 Juni 2009, saat adzan maghrib mengumandang. Abangnya, Luqmaan, dulu lahir pagi hari, sekitar pukul 08.10 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang sebelum kehadirannya, aku membawa Dee ke klinik. Proses kelahirannya lebih mudah dan cepat dari Luqmaan. Orang-orang tua selalu mengatakan begitu, proses kelahiran anak pertama selalu lebih sulit. Dan untuk yang satu ini, aku percaya penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di satu tahun usianya, dihabiskan Kanisa dengan belajar berjalan. Ia sudah mampu  berdiri, dan melangkah tidak lebih dari lima, sebelum jatuh kembali. Dan Luqmaan sekarang punya kesibukan baru: menganggu adiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, selalu Kanisa menangis ketika Luqmaan menganggunya. Namun dalam satu hal, mereka berdua kompak. Saat bangun tidur, entah siapa dulu yang bangun, maka dia akan langsung mengambil inisiatif untuk menganggu yang lain, agar bangun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kecil yang kami tempati kini penuh warna, warna teriakan, tangisan, rengekan, dan kesibukan bermain mereka. Luqmaan saat ini terus sibuk membeli mum-mum, sementara Kanisa, selalu sibuk membongkar kotak mainan sang abang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meski lebih sering Luqmaan yang membuat Kanisa menangis, dalam satu hal, justru Luqmaan yang KO dibuatnya. Kalau Luqmaan sedang nonton Upin dan Ipin, kadang Kanisa iseng, berdiri di depan TV dan mulai mengganti siaran televisi. Saat itulah Luqmaan akan berteriak meminta bantuan Dee. Terus kalau Luqmaan sedang minum Milo kesukaannya, plus roti yang dicelupkan, kadang Kanisa yang datang dan berusaha merebut roti itu. Pada titik itulah, Luqmaan kembali akan berteriak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, aku berpikir dan bilang pada Dee. Kanisa itu seperti kotak mainan yang ada di depan swalayan, begitu dimasukkan koin, maka ia akan bernyani dan membuat orang yang melihatnya jadi senang. Dee protes. Aku menjelaskan, bahwa itu adalah bahasa yang kugunakan untuk menggambarkan bagaimana mudahnya membuat Kanisa tersenyum dan tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, banyak kisah yang kami lalui kini. Semoga, kisah-kisah bahagia ini akan terus berlanjut, dan tanpa akhir....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun, Kanisa....(Aku dan Dee bersepakat bahwa kami menolak untuk merayakan ulang tahun. Namun sebuah ucapan, aku rasa, itu tidak berlebihan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2750136989537252152?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2750136989537252152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2750136989537252152' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2750136989537252152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2750136989537252152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2010/06/kanisa-setahun-yang-lalu.html' title='Kanisa, Setahun yang Lalu'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2323599545117376249</id><published>2010-05-02T04:21:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T04:34:09.934-07:00</updated><title type='text'>Adiknya Luqmaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/S91gqaxshSI/AAAAAAAAALQ/JA-U1_f9MCE/s1600/baby1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/S91gqaxshSI/AAAAAAAAALQ/JA-U1_f9MCE/s200/baby1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466631804556182818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Dee memanggilnya Kanisa. Usianya kini sudah 11 bulan. Tiap hari ia menemani Dee dan Luqmaan bermain. Tapi sayangnya, mainan di rumah masih diisi oleh "bum-bum" Luqmaan. He...he..., nak, nanti kita kalahkan bum-bum si Luqmaan ya...hehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2323599545117376249?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2323599545117376249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2323599545117376249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2323599545117376249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2323599545117376249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2010/05/adiknya-luqmaan.html' title='Adiknya Luqmaan'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/S91gqaxshSI/AAAAAAAAALQ/JA-U1_f9MCE/s72-c/baby1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3106196805637987884</id><published>2010-02-12T07:58:00.000-08:00</published><updated>2010-02-12T08:11:43.174-08:00</updated><title type='text'>Bocah dan Ikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/S3V9JQSKG1I/AAAAAAAAALI/gi5A4ZHx0Z4/s1600-h/0402AJI1.TPI.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/S3V9JQSKG1I/AAAAAAAAALI/gi5A4ZHx0Z4/s200/0402AJI1.TPI.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437389723063163730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUQMAAN kini sudah berumur 2,5 tahun. Jalannya makin cepat, larinya tak terkejar. Tapi ia masih tetap takut sama kucing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, ia mencoba melawan. Ia mengejar kucing, dan keluarkan jurus langkah seribu ketika sang kucing bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membawanya ke pasar ikan, akhir bulan lalu, pada suatu pagi. Ia menenteng minuman susu kemasan. Ia melihat ikan, tapi tak peduli. Ia merengek. Aku memfotonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya tertarik melihat laut....Juga ikut denganku keliling kota saban pagi. "Aku mengangkatnya jadi asisten fotografer," kataku pada seorang kawan. Setiap pagi, kadang aku dapat giliran hunting foto. Ini kesempatan bagi Luqmaan untuk bersamaku. Dee dan Kanisa di rumah, memasak. Kanisa duduk di dalam baby walker, mencoba melihat sekeliling dan belajar tentang dunia yang goyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqmaan berbeda dengan Kanisa. Mungkin. Tapi yang jelas, Luqmaan mengajari Kanisa banyak hal. Dari mulai merengek ketika ingin mendapatkan sesuatu, sampai bergerak lincah untuk mengambil makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang sampai saat ini belum mampu kutuliskan. Aku ingin menulis kisah, tapi tak tertuliskan juga. Mungkin, mereka berdua, adalah tulisanku itu sendiri. Mereka berdua, bisa jadi adalah bukuku yang tak jua terbit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun sudah aku menjalani ini semua. Aku tidak sendiri, karena ada Dee, Luqmaan, dan delapan bulan lalu, hadir Kanisa kecil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, suasana di pasar ikan, di jantung Tanjungpinang pagi itu mungkin tak akan terlupakan. Aku ingin menuliskan kisah Luqmaan dan ikan-ikan kecil itu. Tapi aku seperti merasa sudah selesai menuliskannya begitu mengambil satu buah foto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, tidak semua hal harus tertuliskan. Lebih tepatnya, tidak semua hal mampu kutuliskan. Mungkin......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3106196805637987884?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3106196805637987884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3106196805637987884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3106196805637987884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3106196805637987884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2010/02/bocah-dan-ikan.html' title='Bocah dan Ikan'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/S3V9JQSKG1I/AAAAAAAAALI/gi5A4ZHx0Z4/s72-c/0402AJI1.TPI.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7351229605693435902</id><published>2009-11-04T06:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T09:22:07.007-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ANAKKU, debu-debu di jalanan ini ternyata banyak bercerita tentang jarak. Kadang ia menjelma menjadi angka, yang kita temukan pada batu penanda di pinggir-pinggir jalan. Dan debu di jalanan ini, sekaligus adalah sebuah pertanda, bahwa semuanya akan hilang begitu saja, dengan ringan, seakan tak terpenjara gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7351229605693435902?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7351229605693435902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7351229605693435902' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7351229605693435902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7351229605693435902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/11/anakku-debu-debu-di-jalanan-ini.html' title=''/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-1171158651374835669</id><published>2009-10-19T08:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T08:05:22.722-07:00</updated><title type='text'>The Letter to My Children .... (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ANAKKU, setiap kepergian selalu akan melahirkan kehilangan. Dan kehilangan itu selalu berawal dari sebuah kenangan tentang tawa, canda, dan juga harapan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kemudian kita harapkan dari perjalanan ini, ternyata hanya satu, Anakku: pulang. Dan pada setiap kepergian, selalu ada kata pulang. Tak banyak oleh-oleh dari seorang pejalan yang kesepian, Anakku, kecuali kisah dan cerita, tentang kegetiran hidup; tentang kebahagiaan yang berlangsung dari hal-hal yang kecil; juga tentang kesederhanaan. Dan, kepada semua kisah itulah, seorang pejalan akan semakin belajar untuk memahami dan mendalami hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqmaan dan Kanisa, ayah menuliskan ini ketika ayah teramat jauh dari kalian. Jarak ini memisahkan kita, namun senyum polos dan lucu kalian, selalu ayah temui di antara kerikil-kerikil tajam di jalanan ini. Dan di perjalanan ini, ayah semakin menemukan ruang hampa itu. Sebuah ruang hampa yang selalu kalian isi, ketika ayah ada di samping kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ternyata, adalah begitu menyakitkan bila kita terus hidup dihantui ruang kosong itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saat sebelum Perang Dunia Kedua meletus, ada sebuah kisah nyata tentang kehidupan Heinrich Harrer, pendaki Himalaya yang harus kehilangan banyak hal berharga dalam hidupnya, ketika memutuskan menaklukan puncak Everest, puncak tertinggi di dunia. Tujuh tahun Heinrich habiskan hidupnya di Himalaya, sebagai orang yang nyaris kehilangan hidup. Ia meninggalkan istrinya, saat wanita itu tengah mengandung anak pertamanya. Heinrich, pemuda yang penuh ambisi itu, hanya berjanji kepada sang istri, bahwa ia sudah akan menaklukan Himalaya sebelum kelahiran anak mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nasib berkata lain. Heinrich ditangkap tentara Inggris, dan harus melewati ratusan hari dalam kamp tawanan. Heinrich gagal menepati janji, dan ia semakin kehilangan jejak hidupnya ketika datang surat permohonan cerai dari sang istri. "Kalau anak kita sudah besar nanti bertanya, aku akan katakan bahwa ayahnya sudah hilang di Himalaya," begitu tulis sang istri. Dan dari sanalah kekosongan itu berlangsung setiap detik dalam hidup Heinrich. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya cara ia ingin menebus kesalahannya terhadap sang istri dan sang anak, hanyalah menuliskan seluruh ungkapan hatinya di sebuah buku harian kumal yang terus ia bawa. Dan di perjalanan itu, Heinrich berhasil bertemu, kemudian bersahabat dengan Dalai Lama kecil. Di mata bocah yang menurut keyakinan Tibet akan menjadi pemimpin spiritual itulah, Heinrich menemukan kedua bola mata anaknya, yang bahkan belum pernah ia lihat setelah terlahir ke dunia. Juga Heinrich akhirnya belajar tentang kearifan dari bocah kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan, anakku, selalunya memang akan melahirkan kearifan. Tapi juga sekaligus melahirkan kesombongan. Bagi mereka yang berhasil membawa kearifan itu pulang, maka mereka akan mendapat makna hidup terdalam. Namun ternyata, sebenarnya, kearifan tidak selalu dapat ditemukan dalam perjalanan. Dalam agama kita yang mengajarkan begitu banyak kesederhanaan, kita sebenarnya bisa mendapat sumber kearifan teragung. Namun mata hati kita selalu ditutupi oleh ambisi dan kesombongan, dua hal yang pada akhirnya membuat kita gagal untuk menggali nilai terdalam dari sebuah ajaran agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana kisah Heinrich itu berakhir, ternyata sederhana. Ia memutuskan untuk lari dari ruang kosong yang tujuh tahun menghantui perjalanannya itu. Dengan sebuah kegetiran, sekaligus kengerian, ia putuskan untuk pulang dan menghadapi kenyataan. Ia tak berharap banyak, bahwa ketika bertemu dengan sang anak, maka bocah itu akan memanggilnya dengan sebutan: ayah. Tapi sudah ia putuskan, apapun yang akan ia hadapi, ia harus pulang dan menebus semua kesalahan masa lalunya, terhadap sang istri tercinta dan anak yang lahir dari rahimnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heinrich pada akhirnya berhasil mengisi ruang kosong itu kembali. Setelah beberapa kali pertemuan, sang anak akhirnya memanggilnya dengan sebutan, ayah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kisah Heinrich adalah kengerian yang luar biasa dalam diri setiap pejalan. Pada akhirnya, setiap saat, kadang ayah selalu dihantui oleh kengerian itu. Beberapa teman sudah meledek dengan lelucon pahit: suatu saat, ketika kau sampai di pintu rumah, maka anak-anakmu akan menyapamu dengan kalimat pendek, "Mau cari siap, Om?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pahit sekali. Lelucon yang sangat pahit dan menyesakkan hati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, apa yang bisa ayah lakukan kini, untuk menutup ruang kosong dalam diri ayah itu, hanyalah terus menuliskan ini untuk kalian. Ah, kadang hidup memang memberikan banyak gambaran kengeriannya sendiri-sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-1171158651374835669?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/1171158651374835669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=1171158651374835669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1171158651374835669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1171158651374835669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/10/letter-to-my-children-1.html' title='The Letter to My Children .... (1)'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3707053564028205876</id><published>2009-09-26T00:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-26T00:44:12.893-07:00</updated><title type='text'>Setelah 30 Tahun Berlalu....</title><content type='html'>SEBUAH PERJALANAN DALAM TIGA DEKADE menjadi teramat panjang. Begitu banyak kisah telah terlewati, dan begitu banyak yang harus dicatat serta diperbaiki. 26 September 2009 hari ini, genap sudah perjalanan tiga dekade itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada sejumlah pertanyaan yang menuntut jawaban. Hidup mungkin adalah sekumpulan pertanyaan kecil yang butuh jawaban besar; juga sekumpulan pertanyaan dalam kalimat-kalimat pendek yang menuntut jawaban baralinea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 30 tahun itu, tadi pagi, aku ditemani Luqmaan, Kanissa, dan Dee. Kami bercerita dan tertawa. Luqmaan mengoceh, Kanissa mendengarkan setengah tidak peduli, dan Dee, begitu sabar untuk mengamati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di 30 tahun ini, tadi pagi, aku kehilangan matahari. Padahal, 30 tahun yang lalu, mentari pagi yang menyambutku. Aku selalu menikmati kisah-kisah orang-iorang yang mengehar pagi, sebab dalam banyak perjalananku, aku sering kehilangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, memang sudah banyak yang harus dipikirkan dan direnungkan ulang. Juga sekaligus memantapkan pilihan. 30 tahun hidup dan mengamati, aku pikir sudah cukup masa untuk melihat dan meski belum pernah cukup untuk mempelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di 30 tahun ini, aku hanya selalu ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga pada semua.....terima kasih....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3707053564028205876?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3707053564028205876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3707053564028205876' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3707053564028205876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3707053564028205876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/09/setelah-30-tahun-berlalu.html' title='Setelah 30 Tahun Berlalu....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2508431886112835303</id><published>2009-09-04T02:06:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T02:18:00.386-07:00</updated><title type='text'>Luqmaan's Smile.....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDaj3xXxWI/AAAAAAAAALA/6gGIpJZ3nEo/s1600-h/gendhut.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDaj3xXxWI/AAAAAAAAALA/6gGIpJZ3nEo/s200/gendhut.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377538264881677666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2508431886112835303?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2508431886112835303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2508431886112835303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2508431886112835303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2508431886112835303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/09/luqmaans-smile.html' title='Luqmaan&apos;s Smile.....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDaj3xXxWI/AAAAAAAAALA/6gGIpJZ3nEo/s72-c/gendhut.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4095364025349647621</id><published>2009-09-04T01:46:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T01:57:38.261-07:00</updated><title type='text'>Luqmaan, Dua Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDUQGc-atI/AAAAAAAAAKw/PfOM4-uklvM/s1600-h/sekarang.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDUQGc-atI/AAAAAAAAAKw/PfOM4-uklvM/s200/sekarang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377531328155511506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDUCDQmP1I/AAAAAAAAAKo/Pp5vmf7KU54/s1600-h/2+thn+lalu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDUCDQmP1I/AAAAAAAAAKo/Pp5vmf7KU54/s200/2+thn+lalu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377531086780120914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI FOTO KENANGAN yang masih aku simpan. foto pertama, Luqmaan masih beberapa bulan, dan foto kedua, Luqmaan sudah hampir dua bulan. Badannya tinggi, dan cerewetnya bertambah, hehe. Luqmaan kini sedang dalam proses penyesuaian, menerima kehadiran satu lagi matahari kecil di rumah kami, Raihanaah, yang kini sudah tiga bulan. Luqmaan kini sedang belajar berbagi kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun yang lalu, pada hari  ini, Luqmaan terlahir ke dunia. Pada pagi, saat duha, saat matahari baru naik seujung tombak. Ia terlahir dengan empat lilitan tali pusar, dan Dee, ibunya, harus menunggu selama sembilan hari dari bukaan pertama hingga terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Luqmaan sudah bisa menendang bola, dengan kaki kirinya, sudah bisa merengek dan mamanjat sepeda motor setiap aku pulang, juga sudah bisa ambil mobil-mobilan saat aku ajak belanja ke supermarket...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, waktu demikian cepat berlalu. Dee begitu sabar merawat dan menjaganya. Dee juga yang mengajarinya arti berbagi kasih sayang dengan Raihanaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lalu, kepala Luqmaan benjol besar. Saat itu, ia sedang berkunjung ke rumah nenek di Kijang Kencana. Ia main ke masjid dan berlari selama hampir dua jam. Saat tak ada l agi anak sebaya di masjid itu, dan mbahnya mengajak ia pulang, Luqmaan justru berlari ke dalam masjid dan membentur tiang penyangga. Ia nangis beberapa jam, dan tiga hari benjol besar di keningnyha baru mengempes. Aku khawatir, namun kemudian tenang, karena itu mungkin hadiah dari masjid kepadanya, yang akan menjadi pengingatnya ketika besar nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Luqmaan sudah dua tahun. Dan sore itu, aku, Dee dan Raihanaah memberikanmu ucapan pendek, selamat ulang tahun, ya.......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4095364025349647621?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4095364025349647621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4095364025349647621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4095364025349647621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4095364025349647621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/09/luqmaan-dua-tahun.html' title='Luqmaan, Dua Tahun'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SqDUQGc-atI/AAAAAAAAAKw/PfOM4-uklvM/s72-c/sekarang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4829138530218692784</id><published>2009-09-03T00:07:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T00:09:55.643-07:00</updated><title type='text'>Luqmaan, 4 September-2 Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/Sp9rlB42jfI/AAAAAAAAAKg/P9f5ojWXkVE/s1600-h/Luqmaan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/Sp9rlB42jfI/AAAAAAAAAKg/P9f5ojWXkVE/s200/Luqmaan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377134764009885170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4829138530218692784?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4829138530218692784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4829138530218692784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4829138530218692784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4829138530218692784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/09/luqmaan-4-september-2-tahun.html' title='Luqmaan, 4 September-2 Tahun'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/Sp9rlB42jfI/AAAAAAAAAKg/P9f5ojWXkVE/s72-c/Luqmaan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4853744065633805524</id><published>2009-09-02T23:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T00:02:38.106-07:00</updated><title type='text'>4 September....</title><content type='html'>TINGGAL beberapa jam lagi menuju 4 September. Sebelum dua tahun lalu, tanggal ini sama sekali tidak punya arti apa-apa bagiku. Aku memposisikannya seperti tanggal-tanggal lainnya. Tapi semua berubah sejak dua tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 08.13 pagi, 4 September, dua tahun lalu, bayi mungil terlahir ke dunia. Aku dan Dee tersenyum menyambutnya. Dan, bayi mungil itu, dua tahun lalu, kami beri nama  Luqmaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ia sudah dua tahun kurang satu hari. Besok, Luqmaan akan berulang tahun. Aku dan Dee sepakat untuk tidak merayakan. Kami ingin memberikan Luqmaan sebuah sudut pandang yang berbeda, bahwa ulang tahun bukanlah sesuatu yang identik dengan pesta, tawa, dan konsumerisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, besok, tidak akan ada balon serta kue tart dengan lilin angka dua di rumah kecil kami. Aku dan Dee menginginkan agar, di hari kelahirannya, Luqmaan akan memberi, bukan meminta. Kata orang tua, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah; memberi akan lebih baik dari pada meminta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIGA HARI YANG LALU, suhu badan Luqmaan naik. Ia jadi rewel. Sampai semalam, ia tetap rewel. Aku sedih melihat Luqmaan. Tadi pagi, kuajaknya naik sepeda motor, memakai jaket tebal, kami berhenti di depan sebuah sekolah dasar. Luqmaan kubelikan mainan pesawat plastik, kecil, mungil, lucu. Harganya pun sederhana, cuma dua ribu rupiah. Luqmaan pun tersenyum, dan kuantar pulang. Setelah itu aku pergi kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kemudian, kebahagian Luqmaan ternyata berlangsung dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Dengan sebuah pesawat, dia akan tersenyum, tertawa, dan pulang serta berceloteh kepada ibu dan adiknya. Ia akan lalu beberapa jam setelah itu dengan tetap ceria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kadang iri dengan definisi kebahagiaan yang keluar dari jiwa anak-anak kecil. Dan kepada Luqmaan, sebenarnya aku tengah belajar, belajar memandang hidup dan menemukan arti kebahagiaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selamat ulang tahun yang kedua, Nak.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dari Aku, Dee dan Raihaanah....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4853744065633805524?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4853744065633805524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4853744065633805524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4853744065633805524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4853744065633805524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/09/4-september.html' title='4 September....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-6830410959578030035</id><published>2009-08-30T02:17:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T02:34:10.312-07:00</updated><title type='text'>Luqmaan, Raina, dan Ramadhan</title><content type='html'>SENJA di penghujung Agustus itu ditandai oleh rintik hujan. Aku duduk membelakangi jendela, dan mulai menulis. Jauh dariku, Luqmaan dan Raina tengah bergulingan, bermain, tertawa, juga berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Juni 2009 lalu, Raina hadir di dunia kami, dunia aku, dan Dee. Ia lahir di ruangan yang sama ketika Luqmaan lahir, 4 September 2007 lalu. Dan kemudian, perawat pun membawa ia dan Dee ke ruangan yang sama, seperti saat kehadiran Luqmaan yang pertama dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu senang dengan kehadiran Raina, juga Dee aku pikir demikian. Namun dibanding kami berdua, sebenarnya yang paling senang adalah Luqmaan. Aku tidak tahu apa yang berkelebat di dalam benaknya sewaktu melihat gadis kecil mungil itu keluar dari rahim ibunya. Yang aku tahu, dulu sewaktu Raina masih di dalam kandungan Dee, Luqmaan sering mencium dan membelai perut Dee. Jadi aku berpikir, Luqmaan menyayangi adiknya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata setiap anak punya cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayangnya. Aku kadang tertawa kalau ingat kejadian sejak hampir tiga bulan lalu itu. Ada waktu ketika Luqmaan menindih Raina dengan bantal, juga ada kejadian ketika Luqmaan menjewer telinga Raina, juga tak kalah konyol adalah ketika Luqmaan memanjat baby box tempat tidur Raina dan mulai menganggu gadis kecil itu. Aku tidak melihat kejadian itu, tapi Dee melihatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu, Luqmaan kembali memanjat baby box Raina, namun akibat terlalu tinggi kakinya memanjat, ia jadi takut untuk turun ke lantai. Dee melihat saja sambil tersenyum; sementara masih tetap berpegangan pada kayu yang menjadi dinding baby box itu, Luqmaan terus menerus berteriak, meminta tolong ada seseorang berbaik hati menurunkannya. Raina diam saja melihat semua itu, melihat kekonyolan Luqmaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini, kala rintik hujan turun, aku teringat pada mereka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI bulan puasa ini, Luqmaan tidak berpuasa, juga Raina. Luqmaan baru berusia dua tahun kurang lima hari, sementara Raina tiga bulan kurang satu hari. Bagi Raina, ini adalah bulan puasa pertama yang ia alami sejak terlahir dalam dunia yang tidak menentu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa kali ini ada banyak cerita yang berlangsung di rumah kecil yang kami tumpangi. Cerita-cerita itu adalah kisah tentang Luqmaan dan Raina. Mungkin bulan puasa sekarang, pelakon utama kisah itu adalah Luqmaan, sementara Raina adalah penonton setia. Raina belum bisa ikut berlakon, sebab ia berguling pun belum bisa. Ia hanya mengapresiasi lakon Luqmaan dengan dua nada saja, tersenyum atau berteriak nangis. Tapi Luqmaan, aku pikir sudah cukup dengan dua ekpresi Raina itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih membelakangi jendela di kantor ini...dan hujan rintik masih turun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Ramadhan pertama yang kami lalui berempat. Kurasa, setelah ini berlalu, aku pasti akan merindukannya. Dan kemustahilan terbesar dalam hidup adalah: aku tidak akan pernah bisa kembali lagi pada saat yang sama untuk kedua kalinya. Karena itu, Ramadhan kali ini, yang kami lalui berempat, adalah berkah terindah bagi kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;--- Untuk... Luqmaan Ahmad Aqsha, Raihaanah Fathimah Khairunnisa, juga Dee.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-6830410959578030035?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/6830410959578030035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=6830410959578030035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6830410959578030035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6830410959578030035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/08/luqmaan-raina-dan-ramadhan.html' title='Luqmaan, Raina, dan Ramadhan'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5630118793883139042</id><published>2009-04-30T00:11:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T00:17:05.954-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SflPoUNOP9I/AAAAAAAAAKY/5HPT3edBJS8/s1600-h/FOTO+BARENG-Para+penggemar+Andrea+Hirata+berfoto+bareng.+foto+aji.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SflPoUNOP9I/AAAAAAAAAKY/5HPT3edBJS8/s200/FOTO+BARENG-Para+penggemar+Andrea+Hirata+berfoto+bareng.+foto+aji.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330379188007223250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku, Melayu dan Andrea Hirata&lt;br /&gt;Catatan Atas Kunjungan Penulis Laskar Pelangi ke Tanjungpinang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;BAGI orang Tanjungpinang yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Tanah Melayu, sosok penulis tenar Andrea Hirata mungkin tak terlalu asing lagi. Andrea mewakili Melayu, baik dalam karya maupun dalam sejumlah percakapannya. Karena itu, saat berkunjung ke Tanjungpinang akhir pekan lalu, Andrea pun sempat berbicara tentang Melayu. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Pagi sudah mulai naik setengahnya ketika Andrea Hirata sampai di Perpustakaan Daerah Kepri, di Jalan Sukarno-Hatta, Tanjungpinang. Di depan bangunan ruko tiga lantai itu, puluhan siswa dari berbagai sekolah sudah menunggu. Andrea memakai pakaian serba hitam, termasuk topi pet hitam. Sehari sebelumnya, ia baru sampai di Tanjungpinang setelah melewati perjalanan panjang melelahkan dari Sydney, Australia. Andrea tersenyum, melambaikan tangan, dan mulai berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berasal dari daerah Melayu paling timur, paling pedalaman, dan paling udik,” kata Andrea memulai percakapan. Daerah Melayu paling udik yang dimaksud Andrea adalah kampung kelahirannya, Kampung Gantong, yang jaraknya sampai sekitar 100 meter dari pusat kota Belitong, Provinsi Bangka Belitung. Karena itu, Andrea pun kemudian mentasbihkan dirinya sebagai budak Melayu pedalaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa yang menyangka bila kemudian budak Melayu pedalaman yang menulis kisah tentang sepuluh budak Melayu pedalaman dengan segala tingkah laku kocak dan konyolnya itu justru memecahkan rekor penjualan buku sastra Indonesia: 1 juta eksemplar. Kalau dengan jumlah buku bajakan yang terjual, menurut Andrea bahkan sudah menembus angka 6 juta eksemplar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ini bukan jumlah yang sedikit, dan yang mampu menyaingi ini sudah pasti hanya penjualan kitab suci dan buku pelajaran sekolah. Dan kisah sukses penjualan empat buku Laskar Pelangi itu juga sekaligus menghasilkan kesimpulan tersendiri: bahwa kisah-kisah kocak anak Melayu masih tetap menjadi daya pikat tersendiri untuk dibaca. Dalam unsur kekocakan, tingkah laku segar anggota Laskar Pelangi, tak kalah konyolnya dibanding film-film P Ramlee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang Melayu itu senang berbual. Kalau minum kopi secangkir, habis presiden dibualkan. Kalau dua cangkir, wakil presidennya juga kena. Tiga cangkir, satu kabinet kena,” kata Andrea, yang disambut gelak tawa anak-anak Melayu dari berbagai sekolah di Tanjungpinang pada acara bedah buku Laskar Pelangi di Hotel Pelangi, Sabtu (25/4) lalu. Tapi di balik stereo tip Melayu seperti itu, nilai lebihnya, kata Andrea, orang Melayu itu paling sabar. “Buktinya tidak ada demonstrasi sampai huru hara yang dilakukan orang-orang Melayu,” kata mantan mahasiswa strata dua bidang ekonomi dari Universitas Sorbone, Paris ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Melayu di Tanjungpinang, kata Andrea, punya denyut nadi semangat kehidupan yang kuat. Andrea yang menghabiskan waktu kuliahnya di Eropa sekaligus berpetualang ke sejumlah negara ini mengaku bahwa tak jarang ketika masuk ke satu kota, ia menemukan kelesuan hidup di sana. Tapi ternyata itu tidak terjadi di Tanjungpinang, yang baru pertama kali dikunjungi Andrea itu. Lantas apa yang menarik dari Tanjungpinang? “Semalam, saya menikmati makan malam terenak dalam hidup saya,” katanya berkisah soal gonggong, kerang dan makanan laut lainnya yang ia santap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selama di Tanjungpinang ini, Andrea mengungkapkan dua hal sekaligus tentang karyanya: bahwa ada kemungkinan ia sedang berpikir menerbitkan jilid dua dari Maryamah Karpov, dan berpikir menerbitkan Laskar Pelangi yang tak kena sunting editor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah kisah yang menurut Andrea, atas pertimbangan tertentu yang tidak bisa diangkat dalam buku. Seperti misalnya tentang Kepulauan Batuan, di mana dalam buku Maryamah Karpov, tokoh Ikal sampai mengejar Aling ke pulau sarang penyamun itu, yang digambarkan dekat dengan Singapura. Apakah kepulauan itu berada di Kepri? Andrea hanya diam, “Ada yang tak bisa disampaikan. Tapi yang jelas kepulauan itu ada, kalau dibaca secara teliti, kita sudah bisa menebak apa nama daerahnya. Dan itu menjadi sarang penyamun.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang dari geografis tempat Kepulauan Batuan seperti yang digambarkan Andrea dalam novel Maryamah Karpov itu, mengacu pada sebuah gugus kepulauan kecil di Kepri yang berbatasan langsung dengan Singapura. Kalau itu benar, berarti sudah ada dua sastrawan nasional yang menjadikan Kepri sebagai latar kisah mereka. Setelah Ayu Utami dalam novel Larung yang mengambil latar cerita di Kijang, Kabupaten Bintan, kini ada Andrea Hirata.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Andrea, sebenarnya versi asli dari novel-novelnya lebih panjang, dan ia sedang berpikir untuk menerbitkan versi aslinya itu. Tentang Maryamah Karpov, alasan Andrea berpikir untuk menerbitkan kelanjutan kisahnya dalam jilid dua karena berdasarkan pertanyaan banyak pembaca yang menilai ending dari novel itu terasa menggantung. Itulah Andrea, yang melalui buku-bukunya telah menjadi juru bicara bagi generasi Melayu masa kini. Dulu ada Raja Ali Haji yang memperkenalkan kepada dunia bahwa Melayu punya kekuatan sastra yang mengagumkan. Dan kini, seratus tahun lebih kemudian, muncul budak Melayu Belitong yang mengikutinya. Ternyata, Melayu memang tak pernah kehabisan stok penulis berbakat. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(trisno aji putra)  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5630118793883139042?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5630118793883139042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5630118793883139042' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5630118793883139042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5630118793883139042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2009/04/buku-melayu-dan-andrea-hirata-catatan.html' title=''/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SflPoUNOP9I/AAAAAAAAAKY/5HPT3edBJS8/s72-c/FOTO+BARENG-Para+penggemar+Andrea+Hirata+berfoto+bareng.+foto+aji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5561530527077205125</id><published>2008-11-09T02:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T02:56:31.732-08:00</updated><title type='text'>pulang....</title><content type='html'>aku ingin pulang, setelah sekian lama kutinggalkan rumah harapan itu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5561530527077205125?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5561530527077205125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5561530527077205125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5561530527077205125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5561530527077205125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/11/pulang.html' title='pulang....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2617409597872263673</id><published>2008-10-31T02:50:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T02:58:01.097-07:00</updated><title type='text'>Tembeling, Kampung Tua Penuh Limbah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SQrWEEQ0q8I/AAAAAAAAAHk/MYFnzbJqiOE/s1600-h/FOTO+AJI,+KAMPUNGG+TEMBELING+YANG+TERCEMAR.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SQrWEEQ0q8I/AAAAAAAAAHk/MYFnzbJqiOE/s200/FOTO+AJI,+KAMPUNGG+TEMBELING+YANG+TERCEMAR.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263254479887969218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SQrVlCfAN2I/AAAAAAAAAHc/TBzQgFVuo5c/s1600-h/FOTO+AJI,+KAMPUNG+TEMBELING+YANG+TERCEMAR.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SQrVlCfAN2I/AAAAAAAAAHc/TBzQgFVuo5c/s200/FOTO+AJI,+KAMPUNG+TEMBELING+YANG+TERCEMAR.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263253946834630498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SQrVMAmZfxI/AAAAAAAAAHU/DD1X0YLNi5k/s1600-h/FOTO+AJI,+HAJI+SANJAH+BERDIRI+DI+PELANTAR+BELAKANG+KAMPUNG+TEMBELING.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SQrVMAmZfxI/AAAAAAAAAHU/DD1X0YLNi5k/s200/FOTO+AJI,+HAJI+SANJAH+BERDIRI+DI+PELANTAR+BELAKANG+KAMPUNG+TEMBELING.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263253516832046866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYEBUT nama Tembeling dulu, orang akan teringat pada Ikan Selangat. Tapi kini, laut mereka keruh, berwarna merah. Kalau air surut, yang tampak adalah lumpur kemerah-merahan. Padahal dulu, air begitu jernih dan karang belum tertutup lumpur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sore yang semakin temaram itu berakhir di sebuah kampung. Orang menyebutnya Kampung Tembeling. Letaknya persis di ujung aspal Jalan Tembeling. Di Singapura, Jalan Tembeling (Tembeling Road) adalah tempat bersejarah, karena di sana, di sebuah rumah di jalan itu, Lee Kuan Yeuw dilahirkan. Tapi di Bintan, Tembeling Road adalah kisah tentang kampung yang sudah tercemar limbah bouksit; juga sekaligus kisah tentang nelayan yang semakin susah hidupnya karena ikan semakin sulit didapat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, di tanah di ujung kampung, para ahli geologi menemukan bahwa ada kandungan bouksit yang cukup ekonomis bila dieksplorasi. Dan sebuah perusahaan pertambangan BUMN pun kemudian menggalinya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ekplorasi selesai, dan di penghujung tahun 1980-an, Tembeling ditinggalkan. Tapi ternyata, bekas limbah pencucian masih bertahan di situ. Bahkan sampai tahun 2008, atau sekitar 20 tahun setelah bouksit tidak lagi digali, tetap saja laut di depan Kampung Tembeling masih keruh. Sore itu, ketika air surut, maka dengan mata telanjang, sisa limbah bouksit yang berwarna kemerahan masih tertinggal di lapisan atas lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah yang ditinggalkan untuk kami, untuk anak cucu kami,” kata Haji Sanjar (56), tokoh masyarakat setempat. Sanjah masih ingat benar bagaimana 40 tahun lalu, sebelum bouksit di kampung itu digali. Laut di tepi pantai masih jernih, belum tercemar. Dan di bawahnya adalah karang, tempat ikan bermain dan mencari makanannya. Kini karang-karang itu sudah tertutup lumpur berwarna kemerahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu nelayan Tembeling adalah pemburu Ikan Selangat. Ikan ini lezat rasanya dan menjadi kegemaran masyarakat sekitar. Ukurannya tak terlalu besar, sekitar 25 sampai 30 ekor, baru beratnya mencapai satu kilogram. Tapi kini, setelah laut tercemar, Selangat pun pergi ke perairan lain. Yang tersisa hanya Ikan Belanak, karena tak peduli pada air yang keruh. Untuk memancing Selangat, tak ada pilihan lain kecuali nelayan harus meninggalkan teluk, yang dikenal dengan nama Teluk Bintan itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu dari Selangat dan udang serta kepiting, nelayan melangsungkan hidup. Subuh, ketika hari belum jadi, mereka sudah mendayung sampan menuju Pelantar Dua Tanjungpinang untuk menjual ikannya. Jarak tempuh lewat laut hanya sekitar 2,5 jam. Belum ada jalur darat yang beraspal waktu itu. Adapun jalur jalan tanah, dan itu mesti memutar. Pada periode itu, seluruh kebutuhan masyarakat di datangkan dari Tanjungpinang dengan menggunakan sampan-sampan tradisional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nelayan-nelayan Tembeling adalah pelaut-pelaut handal. Nenek moyang mereka yang membuka kampung itu datang Bugis naik sampan. Mereka pergi ke Singapura, sebelum akhirnya memutar lagi ke Bintan naik sampan. Menurut Sanjah, titik pendaratan pertama mereka ada di sebuah teluk kecil di ujung kampung. “Mereka sempat berputar-putar beberapa kali, sebelum menepi,” kata Sanjah, yang juga mantau Ketua MUI Kecamatan Teluk Bintan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teluk itu dikenal masyarakat dengan nama Tembeling Pantai Cermin. Dinamakan cermin karena ketika sore hari, akibat sorotan sinar matahari, bayangan mereka pun memantul di air, sehingga layaknya cermin. Kini nama Pantai Cermin itu diabadikan menjadi nama lapangan sepak bola yang ada di depan kampung yang dihuni ratusan kepala keluarga itu. Sanjah mengaku sudah tidak tahu ia generasi ke berapa dan kapan kampung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi mungkin saya sudah generasi ke sepuluh yang tinggal di kampung ini,” lanjut lelaki berjanggut yang juga kini menjabat sebagai Bendahara Badan Amil Zakat (BAZ) Kecamatan Teluk Bintan itu. Tak ada bangunan bersejarah memang yang ada di kampung itu, sebab pusat kerajaan terdekat yang ada adalah di kaki Gunung Bintan, tepatnya di Bintan Bukit Batu. Gunung Bintan sendiri tampak jelas dari belakang kampung. Naik sampan ke sana, hanya perlu waktu sekitar dua jam. Di kaki gunung itu, memang ada sejumlah makam bersejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Tembeling, kampung yang ada di ujung aspal, yang lautnya kini telah keruh. Kemajuan kini perlahan mulai datang, dan kampung tua itu pun kemudian ditetapkan sebagai ibu kota Kecamatan Teluk Bintan. &lt;strong&gt;(trisno aji putra)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2617409597872263673?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2617409597872263673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2617409597872263673' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2617409597872263673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2617409597872263673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/10/tembeling-kampung-tua-penuh-limbah.html' title='&lt;strong&gt;Tembeling, Kampung Tua Penuh Limbah&lt;/strong&gt;'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SQrWEEQ0q8I/AAAAAAAAAHk/MYFnzbJqiOE/s72-c/FOTO+AJI,+KAMPUNGG+TEMBELING+YANG+TERCEMAR.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-8034896841128980382</id><published>2008-09-25T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-25T01:22:21.367-07:00</updated><title type='text'>Puting Beliung Terjang Kawal</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SNtKG0dfrhI/AAAAAAAAAHM/4HhFhsM6CV4/s1600-h/PUTING+BELIUNG3.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SNtKG0dfrhI/AAAAAAAAAHM/4HhFhsM6CV4/s200/PUTING+BELIUNG3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249871271652470290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SNtJ5-GYnJI/AAAAAAAAAHE/L2hvMO9_B5Y/s1600-h/PUTING+BELIUNG2.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SNtJ5-GYnJI/AAAAAAAAAHE/L2hvMO9_B5Y/s200/PUTING+BELIUNG2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249871050901593234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SNtJY5P5DEI/AAAAAAAAAG8/Gd7DwWWhZ3k/s1600-h/PUTING+BELIUNG.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SNtJY5P5DEI/AAAAAAAAAG8/Gd7DwWWhZ3k/s200/PUTING+BELIUNG.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249870482663607362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-8034896841128980382?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/8034896841128980382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=8034896841128980382' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8034896841128980382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8034896841128980382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/09/puting-beliung-terjang-kawal.html' title='Puting Beliung Terjang Kawal'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SNtKG0dfrhI/AAAAAAAAAHM/4HhFhsM6CV4/s72-c/PUTING+BELIUNG3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7108995220079749889</id><published>2008-09-25T00:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-25T00:46:29.626-07:00</updated><title type='text'>Matinya Komedi Putar di Tangan Sang Angin</title><content type='html'>&lt;em&gt;TAK ada lagi kisah cinta seorang kembang desa dan seorang bujang kampung di atas komedi putar itu untuk sementara waktu. Puting beliung telah menghentikannya dua hari lalu. Bagi orang kampung, komedi putar tak sekedar hiburan murah milik rakyat kecil saja, tetapi sekaligus tempat cinta pernah bersemi di hati orang-orang sederhana itu.  &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang komedi putar yang berhenti berputar itu pun cepat menyebar ke penjuru kampung di bibir Pantai Trikora itu. Ada yang menghela nafas panjang, tetapi lebih banyak yang tak memperdulikan. Adalah duka yang menggantung di pelupuk mata sekitar 146 jiwa, penghuni 41 rumah, yang meminggirkan kisah tentang berhentinya komedi itu berputar. Dan warga pun mungkin tengah tak membutuhkan komedi putar, sebab, mereka tengah berharap, uluran tangan itu cepat datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak demikian halnya dengan Asmawi, pimpinan sekaligus pemilik komedi putar “Dunia Fantasi Bintan”. Baginya komedi putar adalah harapan, sekaligus periuk nasinya. Dan sekaligus, dengan komedi putar itulah, Asmawi berhasil membuka peluang pekerjaan bagi 18 warga untuk menjadi pedagang aneka produk pakaian dan makanan di sekeliling areal pertunjukan komedi putarnya. Berhentinya komedi itu berputar, berarti sama saja dengan membiarkan asap tidak mengepul lagi dari dapur rumah mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lemas…hampir hancur semuanya,” kata Asmawi, yang masih saja memandangi komedi putarnya yang dijilat puting beliung sehari sebelumnya. Selain menerjang rumah warga yang ada di pesisir pantai, komedi putar itu pun tak luput dari amukan sang angin. Sejumlah perkakas komedi putar rusak, dan barang-barang dagangan dari mulai pakaian hingga makanan terbang disapu angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duapuluh hari yang lalu, atau menjelang awal Ramadhan, Asmawi membawa sepuluh anak buahnya serta 18 pedagang koleganya menempuh rute Tanjunguban menuju Kawal, Kecamatan Bintan Timur. Sebelumnya selama sekitar sebulan, komedi putar itu diparkir di Tanjunguban. Dan awal bulan puasa, ia melihat bahwa sudah saatnya komedi putar itu bergerak ke Kawal, sebuah kelurahan yang berada di pesisir, dengan penduduk yang sekitar lima ribu jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lahan tanah merah kosong yang ia sewa dari PT Bintan Inti Sukses (BIS) senilai Rp 2,5 juta, yang tepat berada di depan Pasar Kawal, kemudian ia sulap menjadi tempat pertunjukan komedi putarnya. Ada empat jenis permainan rakyat yang dibawa Asmawi. Selain komedi putar, juga ada kincir angin, kereta api-kereta apian, dan payung kuda-kuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izin pun ia urus, dari mulai ke Kantor Camat Bintan Timur, sampai ke Kantor Polsek. Setelah semua dikantongi, dengan senyum mengembang, Asmawi pun langsung membuka arena komedi putar itu. Anak-anak nelayan pada malam pembukaan berhamburan, mencoba permainan yang baru bisa mereka nikmati setelah menyerahkan sejumlah rupiah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, tahun 1990-an, komedi putar adalah kisah tak terpisahkan dari masa kecil bocah-bocah di kota-kota besar. Tapi kemudian adalah play station, nintendo, atau sejenis permainan komputer lainnya menggeser komedi putar. Maka kemudian komedi putar pun lari dari kota, menuju desa, kelurahan, dan pelosok-pelosok kampung nelayan. Di tempat yang belum diserbu oleh mainan karya orang-orang berkacamata tebal itu, komedi putar masih bisa hidup, dan menjadi pilihan hati gadis dan bujang kampung untuk melewatkan malam mingguan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di Kawal, sejak sekitar 20 hari lalu, komedi putar “Dunia Fantasi Bintan” itu pun menjadi pilihan warga untuk mencari hiburan murah. Tapi sayang, angin tak bisa membaca itu, dan puting beliung pun tak pandang bulu. Dalam hitungan lima menit, komedi putar itu pun benar-benar telah berhenti berputar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerugian 40 Jutaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TOTAL kerugian di areal komedi putar ini sekitar empatpuluh jutaan,” kata Asmawi. Asmawi memang tak menanggung sendiri, sebab jumlah kerugian itu merupakan akumulasi dari 18 pedagang yang ikut berjualan di situ. Tapi, angin memang telah menjadi mimpi buruk dalam sejarah komedi putar itu kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asmawi adalah orang Tanjungpinang, tapi bersama komedi putar itu, ia sudah melanglang buana ke seantero kampung di pulau yang berbeda, bahkan sampai menyebarnag ke Provinsi Jambi. Sejarah komedi putar itu sduah terbilang tua. Sebelum dipertemukan dengan Asmawi pada tahun 2003, komedi putar ini adalah milik seorang juragan di Surabaya, Jawa Timur. Saat itu, areal mentas komedi putar yang bernama “Dunia Fantasi” ini keliling Jawa Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibeli oleh Asmawi seharga Rp 300 juta, komedi putar itu pun naik kapal menuju kepulauan. Satu tahun pertama, komedi putar ini parkir di Batam. Saat itu Batam masih dikenal sebagai surga uang bagi wilayah Kepri. Banyak perkeja di sana yang butuh hiburan murah, dan komedi putar adalah pilihannya. Setahun, Asmawi berkeliling Batam, sebelum tahun 2004, melalui satu kontainer kapal barang, komedi putar itu didaratkan di Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah itu, mulailah Asmawi dan komedi putarnya menjamah kampung-kampung terpencil, membuka hiburan, bahkan sampai ke Kuala Tungkal, Provinsi Jambi sana. Dan selama perjalanan menjelajah pulau itu, tak pernah putting beliung menerjang. Tapi hari Minggu (21/9) kemarin, untuk pertama kalinya, komedi putar itu diterjang puting beliung.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asmawi hari Minggu petang itu sedang pulang ke Tanjungpinang. Komedi putarnya dijaga oleh sepuluh karyawannya. Saat itu telpon berdering dari anak buahnya dengan isi singkat saja: puting beliung menerjang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari empat permainan yang ada, komedi putar rusak paling parah. Atapnya, yang terbuat dari terpal terbang enah ke mana, sementara yang tersisa pun sudah robek di sana-sini. Mainan kereta api juga rusak bagian atapnya. Tapi ajaibnya, kincir angin, yang tinggi menjulang sampai belasan meter itu, hanya terjamah sedikit oleh sang angin. Ada yang rusak, tapi tak parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau perbaiki atap kincir angin hanya enam jutaan, atap kereta api hanya dua juta. Tapi lumayan besar juga,” kata lelaki berkacamata minus itu, menghitung kerugiannya. Tapi yang parah adalah kerusakan yang diderita oleh para pedagang yang berjualan memanfaatkan keramaian komedi putar itu. Seorang tukang jual bakso, yang Asmawi tak tahu persis siapa namanya, namun ia kenal baik wajah orang itu, adalah lelaki paling naas pada hari itu. Satu gerobak baksonya yang sudah siap jual, terbalik dihantam angin sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pertunjukkan tetap harus berjalan, dan komedi harus kembali berputar, agar ia seperti namanya, yang berarti sebuah kelucuan. Ketika benda permainan anak-anak itu berhenti berputar, maka namanya pun bukan komedi, bisa jadi malah tragedi. “Saya akan perbaiki. Mungkin satu minggu lagi bisa dipakai,” kata Asmawi, sambil menguatkan tekad bahwa ia tak boleh roboh oleh hantaman beliung, bahwa ia akan bertahan di sana sesuai rencana, yakni sampai habis lebaran.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan, seorang pedagang makanan lain yang ikut berjualan di areal komedi putar itu sama seperti Asmawi. Ia punya tekad, untuk kembali berjualan. Ia mengemasi dagangannya yang porak poranda. “Saya akan berjualan lagi,” katanya. &lt;strong&gt;(trisno aji putra)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7108995220079749889?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7108995220079749889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7108995220079749889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7108995220079749889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7108995220079749889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/09/matinya-komedi-putar-di-tangan-sang.html' title='&lt;strong&gt;Matinya Komedi Putar di Tangan Sang Angin&lt;/strong&gt;'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3545480178012232135</id><published>2008-09-04T01:33:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T02:00:27.733-07:00</updated><title type='text'>Luqmaan</title><content type='html'>&lt;em&gt;AKU selalu merindukan telaga itu....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga berair jernih yang kepadanya aku melihat ada sumur harapan. Saat senja dan fajar, aku selalu datang ke telaga itu, duduk di sampingnya, dan mendapatkan jawaban bahwa hidup ternyata tidak sekedar kebencian dan dendam, tapi cinta, kasih sayang, dan rasa saling berbagi. Bahwa kemudian hidup juga adalah persoalan bagaimana merawat harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu, aku menemukan telaga itu. Ya, tepat pada hari ini, setahun yang lalu, 4 September 2007, telaga itu hadir di rumah kecil yang kami tumpangi di Jalan Nila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga itu kemudian menjadi warna hidup kami, hidup aku dan istriku, Dee. Aku masih ingat, bagaimana setahun yang lalu, air di telaga kecil itu mengalir dalam kehidupan kami. Sebenarnya Dee harus berjuang ekstra ketat. Butuh berhari ia melewati bukaan satu sampai bukaan sembilan, untuk menunggu telaga kecil itu keluar dari rahimnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, seperti suami kebanyakan, meski harap-harap cemas, tetap masih terus mengepulkan asap tembakau dari mulutku. Malam itu aku dan Dee menumpang di rumah Jalan Sukarno-Hatta. Sejak mau terlelap, aku tidak mendapat firasat apapun. Karena firasat itu sebenarnya sudah muncul beberapa hari sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 02.00 WIB dinihari, Dee membangunkanku, memintaku mengantar ke Klinik Pamedan, berjarak sekitar dua kilometer dari tempat kami. Hujan waktu itu rintik-rintik. Kami keluar rumah, dengan mantel. Wajah Dee sudah teramat pucat. Sebuah kamar di lantai dua kami tempati di Klinik yang jarang sepi itu. Malam itu, seorang ibu muda berteriak sekeras-kerasnya. Nyali aku jadi ciut mendengar. Ia akhirnya melahirkan anak pertamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dee terus gelisah. Semua orang berusaha menenangkannya. Aku juga gelisah. Aku keluar, melihat fajar di ufuk timur, dan kembali menghidupkan rokok entah batang yang keberapa. Pagi itu sepi, dan aku tahu, hati ku pun tengah ciut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang perawat berpakaian putih terus mengecek kondisi Dee. Mereka terpaksa memasang oksigen, alat bantu pernafasan, karena fisik Dee teramat lemah saat itu. Kami berdua sejak awal memang menolak untuk menjalani cesar. Meski orang di sekeliling kami akhirnya sudah memberi lampu hijau agar Dee menjalani Cesar, tetap saja kami menolak. Mungkin kami adalah orangtua yang berpikiran agak kolot. Tapi kami hanya ingin memastikan bahwa bayi di rahim istriku itu harus mendapatkan yang terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 08.10 WIB, dokter spesialis keluar dari ruangannya dengan keringat jagung di dahinya. Aku tidak sempat menghitung berapa banyak butiran keringat jagung itu, tapi aku yakin, kalau hanya sepuluh butir, pasti lebih. Ia tersenyum padaku, senyum yang penuh beban kelelahan. Aku pun tersenyum. Aku sudah tahu apa yang terjadi, sebab melalui sela di pintu kamar bersalin, aku terus mengintip apa yang terjadi di ruangan yang dipenuhi oleh sekian banyak alat medis yang aku tak tahu namanya satu persatu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah, Pak. Sudah lahir. Empat lilitan," kata dokter, seraya menunjukkan empat jarinya ke arahku. Aku agak tercekat. Luar biasa, mungkin apa yang membuat ia lambat lahir, satu di antaranya karena ada empat lilitan tali pusar kepada janin kecil itu. Istriku dulu dilahirkan dengan dua lilitan. Aku sama sekali tak terlilit. eh, anakku ini malah empat lilitan, luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menangis juga tersenyum, tangisan dan senyuman pertamanya untuk dunia yang, kata lagu-lagu dangdut, teramat kejam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melantunkan adzan dan iqomah. Aku bersudjud syukur, tapi tak berani aku menggendongnya. Lama aku pandangi dia. Kata orang waktu lahir, ia mirip sepertiku. Tapi kemudian orang yang sama meralat lagi ucapannya, bahwa setelah berusia beberapa bulan, ia lebih mirip ibunya. Entahlah, aku pun bingung juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, aku membawa Dee dan bayi kecil itu pulang. Ia tidur, lama sekali. Aku hanya melihatnya dari jauh. Kalau pun bangun, ia akan menangis. Waktu berjalan cepat. ia sudah bisa merangkak. Setiap pagi, ia membangunkanku untuk sholat. Ia membangunkan dengan caranya sendiri, yakni naik ke atas tubuhku dan memukul sesuka hatinya. Kebiasaan buruk bangun siangku pun mulai terkikis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu pulang malam. Kadang ia sudah tertidur. Lalu kucuri waktu untuk pulang sebentar siang hari. Aku pandangi matanya. Ada telaga di sana. Ada telaga berair jernih. Aku temukan kehidupan di sana. Dan juga aku temukan banyak jawaban dari sejuta pertanyaanku akan hidup. Setiap datang ke sana, aku menemukan kesejukan. Maka aku pun datang mengunjungi telaga itu, dan menciduk ketentraman di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Telaga itu aku beri nama: Luqmaan...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun yang pertama, Nak....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3545480178012232135?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3545480178012232135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3545480178012232135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3545480178012232135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3545480178012232135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/09/luqmaan.html' title='&lt;strong&gt;Luqmaan&lt;/strong&gt;'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4861525389521632938</id><published>2008-08-21T02:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T02:48:51.321-07:00</updated><title type='text'>Tanjunguban, Dulu dan Kini </title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK05iDzgnfI/AAAAAAAAAG0/WPjnLt4bLTk/s1600-h/tguban.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK05iDzgnfI/AAAAAAAAAG0/WPjnLt4bLTk/s200/tguban.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236905199001443826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berawal dari Pohon yang Serupai Uban Manusia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;PAGI mulai lebih awal di Lobam daripada di Tanjunguban. Ketika ribuan buruh sudah bergerak ke sejumlah perusahaan di Lobam, di Tanjunguban lelaki dan wanita usia lanjut masih santai berjalan pagi di Jalan Merdeka, jalan utama di kota itu. &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum periode 1960-an, orang-orang di Tanjunguban hidup di negeri yang serba mewah. Tapi setelah republik punya aturan sendiri untuk melakukan pengetatan terhadap distribusi barang dan jasa di perbatasan Indonesia-Singapura, juga setelah pemerintah republik memutuskan mata uang dolar Singapura tidak boleh lagi dipakai di Tanjunguban dan Kepri, maka sejak itu, tiba-tiba kemewahan terengut dari hidup mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ekonomi berjalan lambat. Harapan mulai muncul kembali setelah kawasan industri Lobam mulai beroperasi sekitar pertengahan dekade 1990-an. Untuk urusan pagi, memang Lobam boleh lebih awal dari Tanjunguban. Tapi untuk persoalan sejarah, justru semuanya bermula dari Tanjunguban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sesungguhnya geliat kota kecil di ujung utara Pulau Bintan ini, apa yang pernah terjadi di sini, dan bagaimana sejarah kota ini bermula, Tribun melakukan pembicaraan dengan empat narasumber. Mereka saling melengkapi kisah yang akan ditulis secara bersambung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah Sahat Simajuntak (63) dari Yayasan Rumpun Usaha Muda Bintan Utara (Rumbu),  seorang warga Tanjunguban Muhammad Diah (72), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Bintan Utara, Lizan Ahcmad (60), dan terakhir Basri Muhammad Sidiq (66), yang selama 37 tahun pernah menjabat sebagai kepala kampung dan Lurah Tanjunguban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat narasumber yang ditemui di tiga tempat terpisah ini ternyata memiliki kesamaan cerita tentang asal kata Tanjunguban yang kemudian dipakai sebagai nama kota. Ini berbeda misalnya dengan asal kata Tanjungpinang. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Tanjungpinang muncul sebagai nama kota karena di daerah yang berbentuk tanjung ini, banyak tumbuh pohon pinang. Tapi masih ada sebagian lain yang menyatakan bahwa asal mula nama itu berawal dari kata tanjung dan api-api nang, yang berarti di sebuah tanjung ada nyala api kecil yang tampak dari kejauhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di Tanjunguban, tak ada silang pendapat tentang asal mula nama kota ini. “Ada sebuah pohon yang sudah tua, daun dan akarnya menjuntai ke bawah dan berwarna putih. Orang yang lihat dari laut, pohon itu seperti uban. Karena daratan di Tanjunguban, menjorok kelaut, sehingga disebut tanjung, kata Muhammad Diah, yang diamini oleh Sahat Simanjuntak, Lizan Achmad dan Basri MS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon itu letaknya di samping Keramat Tanjunguban. Tapi kini sudah tak tersisa lagi. Dan pohon itu pun tak sempat diberi nama oleh penduduk. Keempat sumber Tribun itu tak mengerti, ketika ditanya apa nama pohon tersebut. Yang mereka tahu, pohon itu usianya sudah tua, dan hanya ada satu di Tanjunguban saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Keramat Tanjunguban, diyakini adalah makam seorang ulama besar yang meninggal dalam perjalanan dari Semenanjung Malaka menuju Negeri Betawi di Sunda Kelapa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian Tanjunguban bukanlah kota tua yang umurnya sudah ratusan tahun. Semua baru bermula sekitar 150 tahun lalu. Hal ini bisa terlacak dari bangunan tertua yang masih dipertahankan di kota ini. Adalah Masjid Jami’ Kampung Mentigi. Bangunan yang kini sudah beberapa kali direnovasi tersebut diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 1880, atau sekitar 128 tahun yang lampau. Tapi kemudian nama Tanjunguban bisa sampai terdengar di Eropa bersama kapal-kapal tangker yang datang, tak lain karena entah bagaimana, para penjajah Belanda dalam serikat dagang VOC-nya memutuskan membangun gudang penyimpanan minyak di Tanjunguban, selain di Pulau Sambu. Dari sinilah, kapal-kapal tangker asing datang dan pergi, membawa minyak yang disuplai dari Palembang. &lt;strong&gt;(trisno aji putra/bersambung)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4861525389521632938?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4861525389521632938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4861525389521632938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4861525389521632938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4861525389521632938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/08/tanjunguban-dulu-dan-kini.html' title='&lt;strong&gt;Tanjunguban, Dulu dan Kini &lt;/strong&gt;'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK05iDzgnfI/AAAAAAAAAG0/WPjnLt4bLTk/s72-c/tguban.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4550238689521525728</id><published>2008-08-21T02:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T02:41:37.054-07:00</updated><title type='text'>Kijang, Dulu dan Kini</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK04QMCFgXI/AAAAAAAAAGs/buIJBKOVKu0/s1600-h/0808_suasana+Kota+Kijang,+foto+aji.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK04QMCFgXI/AAAAAAAAAGs/buIJBKOVKu0/s200/0808_suasana+Kota+Kijang,+foto+aji.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236903792460792178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK03btqY5GI/AAAAAAAAAGk/duVzoEwxkdY/s1600-h/0608_kota+Kijang,+jalan+ini+dilewati+tentara+Jepang+dulu.foto+aji.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK03btqY5GI/AAAAAAAAAGk/duVzoEwxkdY/s200/0608_kota+Kijang,+jalan+ini+dilewati+tentara+Jepang+dulu.foto+aji.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236902890955138146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK021Am_p5I/AAAAAAAAAGc/63KMHNZC9DU/s1600-h/0508-Tugu+pekerja+bouksit,+menjadi+ikon+Kijang.+foto+ajii.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK021Am_p5I/AAAAAAAAAGc/63KMHNZC9DU/s200/0508-Tugu+pekerja+bouksit,+menjadi+ikon+Kijang.+foto+ajii.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236902226026276754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK02NBdM10I/AAAAAAAAAGU/A2j3oD2w0-Q/s1600-h/0408_Abdul+Muin+dan+mesin+tik+tuanya+foto+aji..JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK02NBdM10I/AAAAAAAAAGU/A2j3oD2w0-Q/s200/0408_Abdul+Muin+dan+mesin+tik+tuanya+foto+aji..JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236901539058865986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kota yang Berawal dari Penggalian Bouksit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;KOTA Kijang dan bouksit adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Cerita orang-orang tua di sana, Kijang hanya berawal dari pemukiman lima keluarga di Kampung Tun Tan, atau lebih dikenal dengan istilah Dapur Arang. Tapi kemudian, 1924, penjajah Belanda dengan semboyan gold, glory and gospel, mendaratkan ekpedisi pertama di daerah ini untuk mencari timah. Bagaimana ekspedisi itu kemudian menemukan “emas kuning”, kisah ini akan ditulis secara bersambung.  &lt;/em&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MESIN tik tua buatan tahun 1970-an di ruang tamu rumah bercat kuning itu sudah mulai berdebu. Ada tumpukan kertas dan buku di sampingnya, yang juga tak kalah berdebu. Pemiliknya, Abdul Muin Husin (69) sesekali duduk di belakang mesin tik itu, sekedar membaca tumpukan buku, atau juga mengetik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muin, sapaan ayah dari enam anak dan kakek dari 19 cucu itu masih menyimpan semuanya. Ia tidak asli penduduk Kijang, tapi diingatannya, sejarah tentang kota yang kini menjadi pusat pemerintahan sementara Kabupaten Bintan itu tersimpan rapi. Kijang boleh saja terus berbenah, bahkan berlari kencang, dari sebuah kota kecamatan menjadi kota sedang dengan pabrik dan toko serba ada yang menghiasi sudut-sudutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di mata Muin, Kijang tetaplah sebuah kota yang berawal dari sebuah tim ekpedisi Belanda untuk mencari timah di utara Pulau Bangka. Kisah itu semua bermula tahun 1920. Sebuah perusahaan Belanda yang mengeruk timah di Pulau Belitung, NV. GMB terus melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya kandungan biji timah di pulau-pulau yang berada di sebelah selatan Semenanjung Melaka. Dari berbagai kontak dengan penduduk setempat, termasuk di pulau Lingga, Singkep dan Karimun, diperoleh kabar positif. Karena itu penelitian pun dilakukan, termasuk sampai di Bintan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun 1924 NV GMB mengirimkan tim ekpedisi,” tutur Muin, yang kini juga bergiat di Dewan Kesenian Kabupaten Bintan sebagai Ketua Bidang Seni dan Budaya. Pendaratan tim itu dilakukan di Kampung Tun Tan, yang masuk wilayah Sungai Enam Lama. Di kawasan ini selanjutnya berdiri tempat-tempat pembuatan arang dari kayu bakau yang diekspor ke Singapura. Karena itu kawasan ini kemudian dikenal dengan sebutan Dapur Arang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitiannya tentang kandungan di perut bumi Bintan itu, tim menurut Muin menginap di rumah penduduk. Seorang penduduk, Amat S, cucu Lebai Idris, yang rumahnya juga ditumpangi pimpinan rombongan, akhirnya diajak bergabung dalam tim. Amat diajak bergabung karena diperlukan tenaganya sebagai penunjuk jalan. Dari Amat lah kemudian satu persatu sejarah itu terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama sekali, Amat membawa rombongan menyeberang Sungai Kalang Tua dan menyusur jalan setapak menuju Sungai Kolak. Bunga Kolak yang tumbuh di sepanjang sungai akhirnya ditabalkan sebagai nama sungai itu oleh penduduk setempat. Sejak itu, kemudian kawasan di sekitar sungai itu pun dinamakan Sungai Kolak. “Itu sebelum diubah namanya menjadi Kijang,” kata Muin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu tim mendirikan barak-barak darurat di tepian sungai dan melakukan serangkaian penelitian topografi, pembuatan sumur uji, dan pengambilan sampel. Sample kemudian dikirim ke Belitung, yang waktu itu masih dilafalkan Billiton. Hasil penelitian di laboratorium NV GMB Billiton itulah yang akhirnya menyatakan bahwa kandungan perut bumi Bintan bukanlah timah, melainkan bouksit, yang jumlahnya mungkin bisa untuk membuat panci di dapur-dapur puluhan juta rumah di Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bunga Kolak dan Bouksit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DULU Kijang adalah nama tak dikenal. Hanya bunga-bunga kolak berwarna putih saat mekar yang tumbuh di tepian sungai di daerah yang kini dikenal sebagai Kota Kijang. Tak ada rumah penduduk kala itu. Juga tak ada anak kecil berlarian memetik kelopak Kolak yang mekar. &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua hal yang tak dikenal itu, tiba-tiba 1925 nama Sungai Kolak langsung mendunia. Adalah kerjaan bulletin “Verslagen en Madeligen Betrefende Indische Delfstaffen Haretoepasigen” yang memulai cerita itu. Buletin ini dalam edisi Nomor 18 tahun 1925 menerbitkan tulisan yang berisi penemuan bijih bouksit di Sungai Kolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sanalah kemudian mata dunia tertuju pada perut bumi di bawah bunga-bunga Kolak itu. Tiga tahun setelah publikasi itu, areal bouksit di Sungai Kolak itu sudah di bawah kendali sebuah perusahaan Belanda yang bernama “Bauksiet Syndikaat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Muin Husin (69), warga Kampung Jati, Kijang masih merekam baik-baik dalam ingatannya seputar tahun-tahun awal sejarah penemuan bouksit ini. “Bauksiet Syndikaat saat itu kurang banyak melakukan kegiatan berarti. Maka pada tahun 1928, hak pengelolaan dialihkan NV Gemeenschpellijke Mijnbouw Maatschappij Billiton,” kata Muin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peralihan hak kelola inilah baru penambangan bouksit berjalan. Di bawah pimpinan Dr YWH Adam, dinyatakan bahwa saat itu hasil bouksit di Bintan sangat ekonomis untuk dieksplorasi. Artinya kalau digali, akan mendatangkan keuntungan besar. Tahun itu pula berdiri NV Nibem yang melakukan penggalian bouksit secara komersil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dimulailah pembangunan fasilitas dan prasarana, seperti pembuatan jalan ke lokasi penambangan, pelabuhan, jalan umum, serta tentu saja barak-barak pekerja dan keluarga mereka. Periode 1929-1934 tercatat sebagai tahun-tahun perkembangan Sungai Kolak menjadi Bandar kecil yang kemudian dikenal sebagai Kijang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1935, berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan Muin dan rekan-rekannya, tercatat bahwa untuk pertama kali bouksit Bintan diekspor ke Eropa. Nibem berhasil mengekspor sebanyak sekitar 10 ribu ton bouksit ke Eropa. Inilah sejarah awal bagaimana hasil perut bumi Bintan kemudian dinikmati oleh none-none Belanda dalam bentuk panic-panci dan alat masak alumunium lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1938 penggalian terus berkembang. Pulau Koyang, yang ada di depan Kijang kemudian digali. Dibikin fasilitas cable way untuk mengirimkan bouksit dari pulau itu ke Kijang. Tahun 1939, untuk kepentingan refrensi ilmiah, dilakukan penelitian geologi di bawah  pimpinan Dr RW Van Bemmelen. Bentuk penelitian adalah penggalian shaft, sebuah lubang yang menghujamke dasar bumi dengan kedalaman 54 meter. Lubang itu kini masih ada, dan tempatnya tepat di dalam Kompleks Kantor PT Antam, Kijang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sejarah awal penggalian bouksit di Bintan. Bisa saja kita berandai-andai, bahwa waktu itu tidak ditemukan bouksit dari perut bumi Bintan. Bisa jadi kita tak akan mengenal kota yang kini di kanan kiri jalannya sudah dipenuhi oleh ruko-ruko tersebut. Bisa jadi Kijang mungkin tetap akan menjadi sungai, yang ditepiannya tumbuh bunga-bunga Kolak. Bunga-bunga yang ketika mekar, berwarna putih dan enak dipandang mata. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tiga Tahun Dikuasai Jepang &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;PERANG Asia Timur Raya yang digelar Jepang ternyata kemudian membawa catatan sejarah tersendiri bagi tambang bouksit di Kijang. Dari mulut harimau, bouksit Kijang pun masuk ke mulut buaya. Dari tujuan ekspor ke Eropa, kemudian kandungan perut bumi Bintan itu pun dibawa ke Negeri Doraemon. &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bermula ketika Jepang mengebom pangkalan Amerika di Pearl Harbour. Setelah itu Jepang terus bergerak ke selatan, mencari kandungan sumber daya alam untuk kepentingan menggerakkan mesin-mesin perang. Jepang mencari taklukan baru, berperang dengan penjajah Eropa, dan sekaligus memproklamirkan sebagai kelompok pembebas Asia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1942, Jepang masuk ke Kepri lewat pintu masuk Tarempa, Kabupaten Anambas. Dari situ, Jepang bergerak terus, sampai menjangkau Pulau Mapur, dan mendarat di Tanjungpinang serta Kijang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura sebelumnya mereka taklukan sekitar 15 Februari 1942. Kemudian menyusul Tanjungpinang pada 21 Februari 1942, atau enam hari setelah Singapura takluk. Terjadi perang kecil-kecilan dengan serdadu sekutu. &lt;br /&gt;Setelah serdadu Negeri Matahari Terbit itu mendarat di Tanjungpinang, mereka mendapat informasi tentang adanya tambang bouksit yang masih digali oleh Belanda di Kijang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kabar baik bagi mereka, sebab bouksit yang kemudian diolah menjadi alumunium adalah bahan baku yang cocok untuk keperluan perang, terutama pembuatan pesawat tempur. “Mereka dari Tanjungpinang berjalan kaki, juga naik sepeda menuju Kijang,” cerita Abdul Muin Husin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak Tanjungpinang-Kijang sekitar 26 kilometer. Tak ada angkutan pedesaan waktu itu, kecuali jalan berdebu yang juga beberapa di antaranya masih jalan setapak dan berkelok-kelok melewati kaki Gunung Lengkuas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di Kijang, tentara langsung berbaris di depan areal perbengkelan yang biasa digunakan untuk keperluan perbaikan alat berat penggalian bouksit Kijang. Waktu itu nama daerah itu masih tetap menggunakan sebutan Sungai Kolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kijang waktu itu jauh dari hingar bingar deru meriam dan bau musiu di Tanjungpinang. “Suasana relatif tenang di Kijang waktu itu,” kata Muin, yang asli Belitung namun sudah merantau ke Kijang dalam usia belasan. Tak ada perlawanan berarti dari Belanda sewaktu Jepang masuk ke Kijang. Pegawai NV Nibem, perusahaan pengeruk bouksit Kijang waktu itu sudah menyingkir ke Belitung sewaktu mendengar kabar Jepang sudah menaklukan Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan eksplorasi bouksit bekas NV Nibem, serdadu Jepang pun membentuk perusahaan yang bernama Furukawa Co. Ltd. Dalam Susana perang, manajemen perusahaan pun dikelola untuk keperluan perang. Semua dilakukan serba cepat. Bila Belanda butuh waktu 11 tahun antara pengiriman ekpedisi pertama ke Kijang sampai melakukan ekspor ke Eropa, Jepang bergerak lebih cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang malam seluruh mesin pabrik dikerahkan untuk melakukan penggalian, guna mendapatkan hasil sebesar-besarnya. Selain itu, pegawai pribumi pun harus menundukkan muka bila lewat di depan markas tentara Jepang, yang sekarang ada di areal kantor Koperasi Perbaki. Anak-anak mereka yang bersekolah pun harus membungkukan tubuh ke utara, ke arah istana Kaisar, di Jepang sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dinasionalisasi Indonesia, 1959&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DALAM catatan sejarah, setidaknya tambang bouksit Kijang sempat empat kali berpindah tangan. Dari Belanda, Kijang dikuasai oleh Jepang, sebelum akhirnya diambil Belanda lagi. Baru pada 1959, atau 14 tahun setelah Indonesia merdeka, tambang bouksit Kijang diambil alih pemerintah. &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK banyak perubahan berarti setelah Belanda mengambil alih tambang dari Jepang pada tahun 1945. Usainya Perang Asia Timur Raya yang seumur jagung itu, usai pula masa kekuasaan Jepang atas tambang bouksit Kijang. 1945, melalui pengibaran bendera putih di lokasi tambang yang memanjang di tepian Sungai Kolak, Belanda pun masuk kembali. NV Nibem yang sebelumnya kabur ke Belitung pun kembali mendarat di Bintan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasan agak berbeda pada periode 1959. Setahun sebelumnya, pemerintah Indonesia melalui kebijakan nasionalisasi, mulai mengambil alih asing di Indonesia, seperti Shell, KPM, Goodyear, Unilever dan lainnya. “Saat itu terjadi penyerahan asset dan dikelola pemerintah Indonesia,” kata Abdul Muin Husin, yang juga pensiunan PT Antam Bouksit Kijang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengambilalihan dilakukan melalui mekanisme penggabungan NV Nibem dengan NV Nitem, yang mengelola timah di Dabo Singkep. Penggabungan ini di bawah kendali Biro Umum Perusahaan-perusahaan Tambang Negara (Buptan) yang dipimpin oleh Ukar Bratakusumah. Setelah penggabungan itu kemudian terjadi perubahan nama, yakni Perusahaan Pertambangan Bouksit Kijang (PPBK) dan Perusahaan Pertambangan Timah Singkep (PPTS). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terjadi beberapa kali perubahan nama perusahaan tambang bouksit, sebelum akhirnya pada 1968 baru memakai nama PN Aneka Tambang Unit Pertambangan Bouksit. Enam tahun kemudian, baru PN Aneka Tambang dialihkan menjadi PT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode tahun 1960-an itulah, dilakukan perluasan penggalian bouksit. Tidak hanya di Kijang saja, tetapi juga dilakukan penggalian sampai wilayah Sungaijang. Wilayah ini sekarang dikenal sebagai Perumnas Sungaijang, Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode itu, pertumbuhan Sungai Kolak menjadi pesat. Akhirnya daerah ini berubah menjadi Kijang, atau kota yang sekarang kita kenal sebagai pusat pemerintahan sementara Kabupaten Bintan. Seiring pesatnya pertumbuhan penduduk, dituntut juga terjadinya perbaikan infrastruktur umum. Maka pada tahun 1963, kata Muin, digalilah waduk Sungai Pulai, yang akan digunakan sebagai cadangan air bersih untuk warga kota. Sampai saat ini Sungai Pulai masih menjadi satu-satunya sumber air bagi warga Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan bouksit di Kijang yang dianggap fenomenal ini tak saja menyita perhatian dunia pertambangan. Kalangan kalangan akademis pun turun melakukan penelitian. Puluhan, atau mungkin sadah ratusan skripsi strata satu dihasilkan dari tambang bouksit itu. Dari tahun 1960 sampai 1992, data yang tercatat, ada sekitar 172 skripsi yang dihasilkan dengan mengkaji tambang bouksit ini dariberbagai sisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berhenti di situ, bouksit ternyata menjadi magnet penggerak ekonomi utama Kijang, bahkan sampai Tanjungpinang. Anda saja dulu tidak ada ekpedisi Belanda yang menemukan bouksit di kota kecil ini, bisa jadi Kijang yang saat ini ada adalah sekedar perkempungan nelayan. Memang kemudian lahir banyak kritik, bahwa penambangan telah merusak ekosistem. Apalagi saat ini tidak hanya Antam saja yang melakukan eksplorasi, melainkan juga perusahaan swasta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dulu Empat KK, Kini 34 Ribu Jiwa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;BERKELILINGLAH Kota Kijang saat ini. Deretan toko dan kendaraan roda empat penuh menghiasi wajah kota. 80 Tahun yang lampau, wajah kota ini hanya dihiasi oleh kelopak-kelopak kembang Kolak yang berwarna putih saat mekar. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini terus membangun. Bouksit menjadi magnet utama penggerak roda perekonomian kota. Sempat berjaya seiring derasnya penggalian, namun Kijang agak meredup pada dekade 1990-an akhir, karena eksplorasi bouksit pun sempat menurun. Lalu kota ini berjalan dengan pelan, tak seperti namanya, yang berarti binatang berkaki empat yang sanggup berlari kencang laksana peluru. Tapi 2006 awal, sebuah magnet ekonomi penggerak baru kembali hadir, melengkapi magnet sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, pemerintahan Provinsi Kepri yang sebelumnya bermarkas di Sekupang, Batam, pindah ke Tanjungpinang. Kantor Bupati Bintan pun kemudian disulap jadi Kantor Pemprov Kepri. Dan Bupati Bintan beserta ratusan stafnya angkat meja dan kursi, bergerak ke arah Kijang. Di mess PT Antam, Bupati Bintan dan stafnya membangun kantor sementara, menunggu pembangunan Bandar Sri Bintan selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepindahan ini membawa banyak perubahan, terutama dari sisi ekonomi. ABPD Bintan yang beberapa tahun belakangan berjumlah di atas Rp 400 milyar, sedikit demi sedikit terkucur ke Kijang. Warung-warung pinggir jalan tumbuh, kemudian menjelma menjadi rumah toko (ruko). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa membayangkan Kijang yang sekarang berkembang seperti ini. Abdul Muin Husin (69) pun hanyut di dalam perkembangan Kijang yang semakin cepat ini. Padahal, dulunya, dari sisi pemerintahan, Kijang tak lebih hanyalah kota kecamatan. &lt;br /&gt;Muin bercerita, pada 1924, ketika ekpedisi Belanda pertama mendarat di Kijang untuk mencari timah, saat itu pemukiman hanya ada di Sungai Enam Lama, atau di Kampung Tun Tan dan di Mantang Arang, Pulau Mantang. Yang ada saat itu bukan Pak Camat, melainkan hanya taulo, sebuah jabatan pemerintahan paling bawah, setingkat penghulu atau lurah. Taulo hanya bertugas mencatat kematian, kelahiran, perkawinan dan kepindahan penduduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk di pulau-pulau sekitar Kijang, bukan taulo yang mengatur, tetapi batin. Ada Batin Mapur, Kelong dan lainnya. Baru pada 1962, terbentuk Asisten Wedana, dan tahun 1966 berubah menjadi Camat. Satu di antara Camat yang pernah memerintah di daerah ini adalah Muhammad Sani, yang kini menjadi Wakil Gubernur Kepri. Kini, setelah tahun 2006, tidak hanya camat lagi yang ada di Kijang, tetapi juga bupati. &lt;br /&gt;Perkembangan penduduk pun terbilang pesat. Dari hanya sekitar lima rumah penduduk di Kampung Tun Tan tahun 1924, penduduk Kijang terus bertambah, sampai mencapai 45 ribu jiwa. Namun setelah pemekaran wilayah, di mana Kecamatan Bintan Timur dibagi menjadi tiga wilayah, yakni Bintan Timur, Mantang dan Bintan Pesisir, Kijang yang masuk wilayah Bintan Timur hanya dihuni 34 ribu penduduk. “Ada pemekaran, jadi penduduknya dibagi menjadi tiga wilayah,” kata Camat Bintan Timur saat ini, Lucky Z Prawira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Kijang, kota yang berawal dari bunga-bunga Kolak. Namun sayang, banyak nafas sejarah yang mulai ditinggalkan saat ini. Seperti misalnya bunga Kolak, saat ini sudah sulit mencarinya di sudut-sudut pusat kota. Dan tak ada satu pun tugu yang tergambar bunga ini di pojok kota. Tapi itulah bunga, meski dilupakan, tetapi Kolak tetap menjadi ingatan orang-orang tua di kota itu, termasuk Muin. &lt;strong&gt;(trisno aji putra)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4550238689521525728?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4550238689521525728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4550238689521525728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4550238689521525728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4550238689521525728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/08/kijang-dulu-dan-kini.html' title='&lt;strong&gt;Kijang, Dulu dan &lt;/strong&gt;Kini'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SK04QMCFgXI/AAAAAAAAAGs/buIJBKOVKu0/s72-c/0808_suasana+Kota+Kijang,+foto+aji.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3559888121873319493</id><published>2008-08-17T02:30:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T02:33:16.880-07:00</updated><title type='text'>Tanjunguban, Sebuah Pagi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SKfwCYZ1uWI/AAAAAAAAAGM/U3_8HGNsQOE/s1600-h/uban.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SKfwCYZ1uWI/AAAAAAAAAGM/U3_8HGNsQOE/s200/uban.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235417015542724962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPANJANG jalan ini, pagi ada di timur, ribuan pekerja berdesakan di bus pekerja menuju pabrik. Aku melihat, Tanah Melayu di Utara ini sudah berubah wajah, dari sebuah kampung nelayan, menjadi pusat industri baru. Aku mencari kesunyian, tetapi tidka ada di sepanjang jalan ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3559888121873319493?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3559888121873319493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3559888121873319493' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3559888121873319493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3559888121873319493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/08/tanjunguban-sebuah-pagi.html' title='Tanjunguban, Sebuah Pagi'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SKfwCYZ1uWI/AAAAAAAAAGM/U3_8HGNsQOE/s72-c/uban.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5321477857219900580</id><published>2008-08-04T22:23:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T22:31:06.197-07:00</updated><title type='text'>Kijang, Dulu dan Sekarang (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/SJflgu7JShI/AAAAAAAAAGE/HAcoD6NMHcw/s1600-h/tugu+pekerja+bouksit.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/SJflgu7JShI/AAAAAAAAAGE/HAcoD6NMHcw/s200/tugu+pekerja+bouksit.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230901842728798738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota yang Berawal dari Penggalian Bouksit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;KOTA Kijang dan bouksit adalah dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Cerita orang-orang tua di sana, Kijang hanya berawal dari pemukiman lima keluarga di Kampung Tun Tan, atau lebih dikenal dengan istilah Dapur Arang. Tapi kemudian, 1924, penjajah Belanda dengan semboyan gold, glory and gospel, mendaratkan ekpedisi pertama di daerah ini untuk mencari timah. Bagaimana ekspedisi itu kemudian menemukan “emas kuning”, kisah ini akan dituliskan secara bersambung. &lt;/em&gt;   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MESIN tik tua buatan tahun 1970-an di ruang tamu rumah bercat kuning itu sudah mulai berdebu. Ada tumpukan kertas dan buku di sampingnya, yang juga tak kalah berdebu. Pemiliknya, Abdul Muin Husin (69) sesekali duduk di belakang mesin tik itu, sekedar membaca tumpukan buku, atau juga mengetik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Muin, sapaan ayah dari enam anak dan kakek dari 19 cucu itu masih menyimpan semuanya. Ia tidak asli penduduk Kijang, tapi diingatannya, sejarah tentang kota yang kini menjadi pusat pemerintahan sementara Kabupaten Bintan itu tersimpan rapi. Kijang boleh saja terus berbenah, bahkan berlari kencang, dari sebuah kota kecamatan menjadi kota sedang dengan pabrik dan toko serba ada yang menghiasi sudut-sudutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi di mata Muin, Kijang tetaplah sebuah kota yang berawal dari sebuah tim ekpedisi Belanda untuk mencari timah di utara Pulau Bangka. Kisah itu semua bermula tahun 1920. Sebuah perusahaan Belanda yang mengeruk timah di Pulau Belitung, NV. GMB terus melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya kandungan biji timah di pulau-pulau yang berada di sebelah selatan Semenanjung Melaka. Dari berbagai kontak dengan penduduk setempat, termasuk di pulau Lingga, Singkep dan Karimun, diperoleh kabar positif. Karena itu penelitian pun dilakukan, termasuk sampai di Bintan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tahun 1924 NV GMB mengirimkan tim ekpedisi,” tutur Muin, yang kini juga bergiat di Dewan Kesenian Kabupaten Bintan sebagai Ketua Bidang Seni dan Budaya. Pendaratan tim itu dilakukan di Kampung Tun Tan, yang masuk wilayah Sungai Enam Lama. Di kawasan ini selanjutnya berdiri tempat-tempat pembuatan arang dari kayu bakau yang diekspor ke Singapura. Karena itu kawasan ini kemudian dikenal dengan sebutan Dapur Arang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam penelitiannya tentang kandungan di perut bumi Bintan itu, tim menurut Muin menginap di rumah penduduk. Seorang penduduk, Amat S, cucu Lebai Idris, yang rumahnya juga ditumpangi pimpinan rombongan, akhirnya diajak bergabung dalam tim. Amat diajak bergabung karena diperlukan tenaganya sebagai penunjuk jalan. Dari Amat lah kemudian satu persatu sejarah itu terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pertama sekali, Amat membawa rombongan menyeberang Sungai Kalang Tua dan menyusur jalan setapak menuju Sungai Kolak. Bunga Kolak yang tumbuh di sepanjang sungai akhirnya ditabalkan sebagai nama sungai itu oleh penduduk setempat. Sejak itu, kemudian kawasan di sekitar sungai itu pun dinamakan Sungai Kolak. “Itu sebelum diubah namanya menjadi Kijang,” kata Muin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah itu tim mendirikan barak-barak darurat di tepian sungai dan melakukan serangkaian penelitian topografi, pembuatan sumur uji, dan pengambilan sampel. Sample kemudian dikirim ke Belitung, yang waktu itu masih dilafalkan Billiton. Hasil penelitian di laboratorium NV GMB Billiton itulah yang akhirnya menyatakan bahwa kandungan perut bumi Bintan bukanlah timah, melainkan bouksit, yang jumlahnya mungkin bisa untuk membuat panci di dapur-dapur puluhan juta rumah di Eropa. &lt;em&gt;(trisno aji putra/bersambung)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5321477857219900580?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5321477857219900580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5321477857219900580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5321477857219900580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5321477857219900580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/08/kijang-dulu-dan-sekarang-1.html' title='&lt;strong&gt;Kijang, Dulu dan Sekarang (1)&lt;/strong&gt;'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/SJflgu7JShI/AAAAAAAAAGE/HAcoD6NMHcw/s72-c/tugu+pekerja+bouksit.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-8342777982384756142</id><published>2008-07-21T23:02:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T23:09:04.569-07:00</updated><title type='text'>Siang, Lembah, Bukit dan Pepohonan</title><content type='html'>SETIAP melihat deretan perbukitan itu, aku selalu teringat pada lembah di kakinya. Tak ada kumpulan pohon yang tumbuh, kecuali semak belukar saja. Ada satu dua rumah, tapi tak ada petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, hijaunya pepohonan adalah kesejukan ketika memandang di sepanjang siang yang terik. Tapi kini, satu persatu pohon hilang. Orang-orang menyebut lembah itu sebagai tempat tak bernama. Dan jalan kecil yang menghubungkan ke lembah itu, disebut Jalan tak Berujung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lewat situ siang tadi. Membawa Luqmaan kecil dan ibunya. Aku melihat kehidupan terus berlangsung. The Show Must Go On. Whatever would be happen, the live never turning back.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kaca spion, aku melihat kedua bola mata Luqmaan. ada telaga teduh yang ia simpan. Telaga, yang kepada siapa melihatnya, akan mendapatkan kekuatan keteduhan. Sepuluh bulan usianya kini, ia sudah mulai mencoba untuk berdiri. Kakinya masih rapuh. Tapi semangatnya terus tumbuh. Aku melihat di telaga kecil di bola matanya, bahwa ia masih terus berjuang untuk melangkah, dengan kaki rapuhnya. Ia menyimpan telaga itu. Dan aku selalu datang kembali untuk melihat telaga itu, menyelaminya, dan mengambil titik titik keteduhan dari dalamnya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-8342777982384756142?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/8342777982384756142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=8342777982384756142' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8342777982384756142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8342777982384756142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/07/siang-lembah-bukit-dan-pepohonan.html' title='Siang, Lembah, Bukit dan Pepohonan'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-996066837748611285</id><published>2008-05-22T02:02:00.001-07:00</published><updated>2008-05-22T02:11:50.171-07:00</updated><title type='text'>Pendaratan di Tanjunglelan…</title><content type='html'>&lt;em&gt;MEREKA adalah orang-orang yang dicintai oleh laut. Orang biasa mungkin harus sampai muntah kuning saat mengarungi laut sejauh 1300 mil mengitari gugus-gugus pulau di Kepri. Tapi mereka, para awak kapal navigasi itu, justru mengisi waktu senggang di perjalanan dengan memancing, main catur, juga main domino. Inilah kisah perjalanan menempuh gelombang Laut Cina Selatan bersama Kapal Negara (KN) Adhara.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATAHARI masih tepat di atas kepala ketika KN Adhara mulai mendekati Tanjunglelan, sebuah daratan yang menjorok ke laut di selatan Pulau Jemaja, Kabupaten Natuna. Ombak berada pada ketinggian dua sampai tiga meter terus menghantam badan kapal. Sementara air laut jernih yang berada di bawah menunjukkan gugusan karang laut dengan aneka warna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada pilihan lain saat itu bagi para staf Distrik Navigasi Tanjungpinang,  kecuali harus segera menurunkan pompong. Tak ada dermaga tempat bersandar kapal di  Tanjunglelang. Jarak 200 meter, KN Adhara harus lego jangkar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, kita turun,” kata Herman Pattiasina, pimpinan rombongan. Sehari-hari ia menjabat sebagai Kepala Seksi (Kasi) Operasional Sarana dan Prasarana di Kantor Distrik Navigasi Tanjungpinang. Tapi dalam perjalanan itu, lelaki yang akrab dipanggil “Kep” (kependekan dari captain, atau kapten) oleh para anak buah kapal (ABK) itu berperan sebagai pimpinan rombongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pompong bercat merah dengan panjang empat meter itu pun diturunkan dari geladak KN Adhara. Satu persatu kami melompat. Laut yang terus bergelora membuat hati tak nyaman. Pompong tak bisa merapat ke badan KN Adhara karena terus menerus dipukul gelombang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lima pegawai Distrik Navigasi berturut-turut melompat ke pompong, kapal kayu itu pun mulai bergerak pelan menunggangi gelombang menuju pasir pantai Tanjunglelang. Berkali-kali Herman yang duduk di bagian belakang pompong meminta Polala, seorang stafnya yang berdiri di depan untuk melihat karang di dasar laut. “Kalau mesin pompong ini menabrak karang, celaka kita. Sulit kembali ke kapal lagi,” kata Herman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sekitar 200 meter itu terpaksa ditempuh selama 15 menit. Berkali-kali pompong berbelok, bergerak lincah di antara gelombang, menghindari karang. Setelah tamparan gelombang yang kesekian, akhirnya kaki-kaki kami berhasil menginjak pasir putih Tanjunglelan. Tak ada kehidupan di tanjung itu. Hanya ada tebing, keheningan, dan dua buah gubuk yang sudah bocor. Dulu mungkin ada penduduk Jemaja yang sempat berkebun di tempat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ketinggian sekitar 200 meter dari tebing, ada sebuah rambu suar yang dipasang oleh Navigasi. Rambu ini menjadi penunjuk arah sekaligus penanda pada nakhoda kapal yang mengarungi Laut Cina Selatan di malam hari. Total, untuk wilayah Kepri, terdapat 112 tanda suar. 57 unit di antaranya adalah rambu suar. Sedangkan 24 unit lainnya adalah menara suar, dan 31 unit lagi berbentuk pelampung suar. Berbeda dengan menara suar, rambu suar sama sekali tidak memiliki penjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaratan di Tanjunglelang dengan tingkat kesulitan seperti itu ternyata menjadi santapan rutin awak Distrik Navigasi Tanjungpinang. Setiap tahun, dua kali mereka harus singgah di tempat tersebut. “Tingkat kesulitannya baru 10 persen saja,” kata Herman. Ada lagi yang lebih sulit, yakni pendaratan menuju Menara Suar di Tanjungsekatung, sebuah pulau terluar RI yang masih masuk wilayah Natuna. Di tempat itu, bahkan kapal kadang tidak bisa merapat. “Kami terpaksa mengirimkan suplai makanan dengan melemparnya ke laut. Makanan kami ikat dengan tali. Setelah itu kita berenang menuju pantai,” lanjut Herman yang 20 tahun dari 46 tahun usianya dihabiskan di laut itu. &lt;em&gt;(trisno aji putra/bersambung)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-996066837748611285?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/996066837748611285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=996066837748611285' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/996066837748611285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/996066837748611285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/pendaratan-di-tanjunglelan.html' title='&lt;strong&gt;Pendaratan di Tanjunglelan…&lt;/strong&gt;'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-6410360938583444722</id><published>2008-05-20T00:25:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T00:27:12.860-07:00</updated><title type='text'>Cara Laut Berkenalan...</title><content type='html'>Terhitung baru tiga jam kami berada di atas geladak KN Adhara, satu dari dua unit kapal milik Distrik Navigasi Tanjungpinang. Laju kapal masih di bawah kecepatan sembilan knot. Semua terasa biasa-biasa saja saat kami melintasi perairan Selat Kijang. &lt;br /&gt; Tapi lepas tiga jam pertama perjalanan yang dimulai lepas adzan maghrib Kamis (15/5) pekan lalu itu, tiba-tiba keadaan berubah tak nyaman. Pulau Merapas, yang menjadi pulau terakhir sebelum KN Adhara mengarungi gelombang Laut Cina Selatan menuju Pulau Jemaja, Natuna, sekaligus menjadi penanda tak bersahabatnya laut di pertengahan Mei itu. &lt;br /&gt; Gelombang di musim angin selatan memang masih di bawah ketinggian tiga meter. Tapi alur yang membuat kapal besi itu menjadi tak nyaman dinaiki. Gelombang yang menghantam haluan membuat kapal terus menerus oleng, bergoyang-goyang tanpa henti, seperti ayunan yang tak pernah berhenti bergerak. &lt;br /&gt; Maka kemudian, 19 dari 20 jam perjalanan menuju Jemaja itu pun harus kami lalui dengan berbaring, menghindari mabuk laut. Ah, laut kadang punya caranya sendiri untuk berkenalan dengan manusia.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-6410360938583444722?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/6410360938583444722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=6410360938583444722' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6410360938583444722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6410360938583444722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/cara-laut-berkenalan.html' title='Cara Laut Berkenalan...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3575937931077302070</id><published>2008-05-19T23:29:00.001-07:00</published><updated>2008-05-19T23:33:29.966-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Timur Laut (2)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Cukong dari Singapura Buru Barang Antik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;JEMAJA ternyata cukup digambarkan dengan tiga kata saja: barak-barak bekas pengungsi Vietnam, sendratari gubang, dan tumpukan harta karun yang tertimbun di pasir putih Pantai Melang. Selebihnnya, Jemaja tak ubahnya seperti gugus pulau-pulau yang dulu dikenal dengan sebutan Pulau Tujuh: perkampungan nelayan di tepi pantai, pelaut-pelaut tangguh, dan ombak yang menggulung sampai lima meter di musim angin utara. &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tiga kata itulah nama Jemaja pun mengglobal ke seantero Asia Tenggara. Bagi orang-orang di Vietnam, Jemaja adalah kenangan masa lalu mereka. Kala itu, pendulum waktu masih bergerak di angka sekitar tahun 1975. Ribuan, bahkan puluhan ribu orang-orang Vietnam yang tidak sepakat dengan rezim yang berkuasa nekat kabur lewat jalur laut dari negeri itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menuju negeri di selatan, Australia. Dari kabar yang mereka terima samar-samar, hidup di Australia lebih bebas. Naik perahu kayu, mereka pun menuju negeri di selatan. Tapi negeri yang dituju itu teramat jauh. Sementara daratan pertama yang mereka temui dalam perjalanan itu adalah Jemaja. Banyak pelarian Vietnam saat itu berpikir untuk menetap di Jemaja saja, karena mereka menganggap yang penting sudah lepas dulu dari cengkeraman rezim yang berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu perahu, kemudian diikuti perahu lain, hingga jumlah pastinya semakin tak terdata. Dari satu keluarga, kemudian Jemaja dihuni sampai ribuan keluarga Vietnam. “Jumlah mereka lebih banyak dari pada jumlah penduduk Jemaja sendiri,” kata Thamrin, seorang warga Jemaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi kehidupan di Jemaja zaman pelarian Vietnam itu masih lekat dalam ingatan Thamrin. Namun seiring bergurlirnya waktu, pengungsi itu setelah dibawa ke Pulau Galang, kemudian dikembalikan ke negaranya. Kini tak ada yang tersisa, kecuali puing-puing barak. Tapi Thamrin masih menyimpan peninggalan yang tersisa dari pelarian Vietnam itu. “Beberapa masyarakat Jemaja sampai kini masih bisa berbahasa Vietnam,” kata lelaki yang sehari-hari bekerja membuka bengkel di Letung ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Vietnam masih ramai di Jemaja, Thamrin melihat peluang ekonomi. Sehari-hari ia berjualan makanan keliling barak. Ia pun melakukan kontak dan belajar bahasa mereka. Zaman itu, orang-orang Jemaja ada yang kaya mendadak. Sebab, saking mungkin sudah sangat kelaparan, ada orang Vietnam yang rela menukarkan seuntai kalung emas dengan sebungkus nasi.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keramik Dinasti Song    &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang pelarian Vietnam itu melengkapi satu lagi daya pikat Jemaja di mata orang-orang di Asia Tenggara. Bagi orang di Malaysia maupun Singapura, Jemaja mereka kenal sebagai surga barang antik. Cukong-cukong benda-benda antik dari kedua negeri jiran itu kerap mendatangi pulau yang terpisah sekitar 20 jam perjalanan laut naik kapal besi dari Tanjungpinang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Jemaja Andrin Ali Muhammad adalah seorang saksi dari bagaimana kegigihan para pemburu harta karun itu di Jemaja. Tersebutlah sebuah pantai di utara Jemaja. Orang-orang memberikan nama pantai yang sejauh mata memandang hanya hamparan pasir putih itu dengan sebutan Pantai Melang. Kini pantai itu menjadi objek wisata bagi orang Letung, karena hanya 15 menit jarak tempuhnya dari kota kecamatan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai itu kini memang hanya tempat rekreasi. Tapi sampai sekitar tahun 1960-an, pantai itu dikenal sebagai tempat penemuan keramik-keramik kuno. Banyak penggalian yang dilakukan di sana. Dari beberapa keramik yang pernah ditemukan Andrin, di antaranya ada yang menunjukkan bahwa benda-benda bernilai jual tinggi itu ada yang dibuat pada zaman Dinasti Ming, yang diperkirakan berkuasa di Cina sekitar periode tahun 1368-1644. “Tapi ada juga pernah saya temukan keramik yang berasal dari zaman Dinasti Song,” kata Andrin lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lah benar demikian adanya, maka usia keramik yang ditemukan di Pantai Melang itu sudah cukup tua. Sebab berdasarkan catatan sejarah, Dinasti Song sendiri berkuasa sekitar tahun 960-1268. Berapa banyak keramik yang tersimpan di dasar pasir Pantai Melang, belum ada yang menghitung. Tapi, Serain, seorang warga Letung memberikan ilustrasi. Di zaman ketika ia masih bersekolah SMP, sekitar akhir dekade 1960-an, ia sering mengunjungi Pantai Melang. “Kalau kita menginjakkan kaki di pasir, seperti ada suara gema. Artinya di sepanjang pasir pantai itulah terkubur keramik-keramik tua itu,” kata Serain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya keramik tua saja yang tersimpan di Pantai Melang. “Juga ada emas batangan, mahkota dan lainnya,” kata Serain. Penduduk setempat pernah menemukan itu. Diperkirakan, emas batangan ini adalah simpanan para bajak laut yang zaman dulu kerap melintas perairan lepas pantai Jemaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana keramik itu bersumber? Andrin memperkirakan, keramik itu berasal dari kapal-kapal yang karam di sekitar lepas pantai Jemaja. Pantai Melang yang menghadap ke utara, persis berada di jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Cina di utara dengan Jawa di selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana perburuan benda-benda antik itu? Andrin berkisah bahwa ia beberapa kali didatangi tamu asing yang tak dikenal. Di antaranya ada yang mengaku dari Jakarta, Singapura maupun Malaysia. Pernah ada seorang cukong benda antik dari Singapura yang mau membeli keramik kuno berbentuk vas bunga setinggi 30 sentimeter dengan harga 60 ribu dolar Singapura (atau Rp 390 juta dengan kurs Rp 6.500 per dolarnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Jemaja, pulau yang masuk dalam gugusan Pulau Tujuh. Banyak kisah tua yang pernah berlangsung di sana. Namun setelah semua kisah itu berlalu, ekonomi Jemaja ternyata masih bergerak pelan. Orang-orang Jemaja kini tengah sibuk berbicara tentang pembentukan Kabupaten Anambas, dari pada mengingat pelarian Vietnam maupun benda-benda kuno. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3575937931077302070?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3575937931077302070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3575937931077302070' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3575937931077302070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3575937931077302070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ke-timur-laut-2.html' title='Perjalanan ke Timur Laut (2)'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2819999779592016093</id><published>2008-05-19T02:40:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T02:52:23.694-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Timur Laut (1)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Letung, Saksi Bisu Kepunahan Bahasa Jemaja  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SEMUA itu sudah samar dalam ingatan Serain (49). Hanya beberapa kosakata yang masih diingatnya, itu pun warisan cerita ibunya dulu. Orang-orang Letung itu kini adalah saksi bisu punahnya Bahasa Jemaja, sebuah bahasa yang pernah menjadi alat komunikasi di pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Natuna itu.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMPIR malam di Letung, ketika Kapal Negara (KN) Adhara yang kami tumpangi merapat di dermaga. Orang-orang Letung sudah menunggu di tepian, membawa sepeda motor. Mereka mengantarkan kami satu persatu ke perkampungan penduduk yang memanjang sekitar beberapa kilometer di tepian pantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Letung, orang masih belum menjadikan uang sebagai falsafah hidup tertinggi. Kami dijemput sepeda motor dan diantar sampai tujuan dengan gratis. Bahkan seorang tokoh pemuda setempat, Zulfahmi, tak keberatan mengantar kami sampai ke rumah Andrin Ali Muhammad (58), Ketua Lembaga Adat Melayu Kecamatan Jemaja, Kabupaten Natuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setumpuk data sudah ada di meja Andrin sewaktu kami datang. Lelaki bertubuh gempal itu membangun rumah di pelantar, menjorok ke laut. Angin sore, senja yang mulai turun di barat Jemaja, serta sebuah keakraban menemani pembicaraan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrin adalah seorang pencari. Puluhan tahun dari hidupnya dihabiskan untuk melihat, mendengar dan mencatat. Di balik rambutnya yang sudah memutih itu, tersimpan ratusan, bahkan ribuan data tentang Jemaja, tanah kelahirannya. Ia berkeliling seluruh Jemaja, berbicara dengan ribuan orang, dan mencatat begitu banyak peristiwa yang nyaris terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang terlahir dalam zaman Pentium IV kini mengalami masalah ingatan. Banyak kearifan lokal yang sudah mulai terlupakan karena ketidaksediaan untuk mengingat itu. Satu di antara catatannya tentang masalah kealpaan itu juga terjadi di Pulau Jemaja. Sampai sekitar tiga generasi lalu, di pesisir timur Jemaja, orang-orang Jemaja masih punya bahasa sendiri, yang berbeda dengan bahasa Melayu yang mereka gunakan kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, mungkin hanya Andrin, Serain, dan segelintir orang tua di Jemaja yang masih ingat tentang bahasa itu. Itu pun hanya beberapa kosakata saja. Tapi mereka pun sudah tak mampu lagi merangkai kata itu menjadi kalimat. Maka bahasa Jemaja pun punah bersama kealpaan ingatan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahasa ini diucapkan oleh orang-orang di Jemaja Timur. Tepatnya di David,” kata Andrin. David yang dimaksud oleh Andrin bukanlah nama tokoh cerita rakyat Timur Tengah yang berhasil mengalahkan Goliath. David adalah nama perkampungan, yang karena pemekaran kecamatan, kemudian dijadikan sebagai ibukota Kecamatan Jemaja Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat, memang kampung-kampung tua di Jemaja awalnya berada di Jemaja Timur, di daerah sekitar Ulu Maras. Kampung tertua di pulau yang kini berpenduduk sekitar sepuluh ribu jiwa itu adalah Kampung Ulu Maras. Namun dalam perkembangannya kemudian, persebaran penduduk justru lebih mengarah ke Letung, yang berada di pesisir. Kini Letung menjadi bandar kecamatan teramai di Kecamatan Jemaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tak Berbekas     &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMI berusaha melakukan penelusuran untuk menggali sisa-sisa bahasa Jemaja yang mungkin sudah punah itu. Sepanjang jalan, kami mencari anak-anak muda yang berasal dari Jemaja Timur. Tapi tak satu pun dari mereka mengerti bahwa sempat tumbuh sebuah bahasa yang kini punah di tanah kelahiran mereka itu. Hampir semua dari mereka hanya menggeleng ketika kami tanyakan tentang bahasa Jemaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrin sendiri tak banyak mencatat kosakata bahasa Jemaja tersebut. Namun menurutnya, bahasa itu sekilas kedengaran seperti menyingkat kalimat bahasa Melayu. Seperti misalnya untuk menyebutkan kalimat, “mau ke mana?”, orang-orang Jemaja tempo dulu hanya mengucapkan, “nak kemar?”. Atau misalnya untuk kalimat membenarkan sebuah pernyataan seperti, “iya juga.” Orang-orang Jemaja dulu mengucapkannya hanya, “iye ga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian itu akhirnya mempertemukan kami dengan Serain. Lelaki asli Letung yang kini bekerja di Kantor Navigasi Kelas I Tanjungpinang itu sebenarnya adalah teman seperjalanan di KN Adhara. Di sepanjang jalan, Serain banyak bercerita tentang kampungnya. Dari mulai eksotisme Pantai Melang, kehidupan pengungsi Vietnam di Jemaja, sampai keramik-keramik kuno peninggalan zaman dinasti-dinasti kerajaan Tiongkok dulu. Tapi tak satu pun cerita itu mengarah pada bahasa yang telah punah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak tahu banyak. Hanya cerita ibu saya, dulu memang ada bahasa itu,” kata Serain, sewaktu kami mengobrol di buritan kapal, dalam perjalanan pulang ke Tanjungpinang. Di antara kosakata bahasa itu yang masih diingat Serain adalah seperti man sebagai pengganti penyebutan orang pertama, saya. Atau misalnya kata camce untuk menyebut sendok, belek untuk menyebut botol, dan kehawe untuk menyebut kopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kosakata lagi yang masih diingat oleh Serain adalah penyebutan tentang waktu. Bahasa Jemaja itu hanya mengenal penyebutan masa lampau sebetas tiga hari yang lalu saja. “Mereka bilang tiga hari lalu itu dengan kata marenti,” kata Serain. Lebih dari itu, Serain sudah tak ingat lagi kosakatanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masuknya Pengaruh Luar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA ahli linguistik memperkirakan bahwa dalam setahun, ada sekitar sepuluh bahasa di dunia ini yang punah. Kepunahan sebuah bahasa itu karena tidak didukung jumlah masyarakat pengucapnya. Jika memang pandangan ini benar, maka bisa jadi Bahasa Jemaja adalah satu dari sepuluh bahasa yang punah setiap tahunnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Andrin maupun Serain sependapat bahwa faktor utama kepunahan Bahasa Jemaja itu karena semakin kuat masuknya pengaruh luar. Sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt, pulau-pulau terpencil berhasil dijelajahi manusia. Termasuk Pulau Jemaja. Kontak dengan dunia luar pun terjadi, yang menyebabkan masuknya budaya luar. “Sekarang banyak anak-anak sini yang merantau ke luar, dan orang luar pun banyak datang kemari,” kata Serain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seorang kawan di Tanjungpinang punya pendapat lain tentang punahnya bahasa Jemaja itu. “Saya menduga bahwa itu hanya merupakan dialek dari bahasa Melayu saja. Artinya bukan bahasa yang berbeda dengan bahasa Melayu,” kata Ari Sastra, jebolan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor iklim, geografis, sosial budaya adalah sejumlah penyebab terjadinya perubahan dialek dalam sebuah bahasa. “Buktinya, orang-orang Letung saja masih paham dengan arti kalimat mereka,” kata Ari lagi. &lt;em&gt;(trisno aji putra/bersambung)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2819999779592016093?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2819999779592016093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2819999779592016093' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2819999779592016093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2819999779592016093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ke-timur-laut-1.html' title='Perjalanan ke Timur Laut (1)'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2951622522741630881</id><published>2008-05-17T21:50:00.000-07:00</published><updated>2008-05-17T22:02:50.764-07:00</updated><title type='text'>Di Tanjunglelan, Natuna....</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SC-3Km4rKVI/AAAAAAAAAFU/Az8mt22php0/s1600-h/letung.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SC-3Km4rKVI/AAAAAAAAAFU/Az8mt22php0/s200/letung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201577487501044050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kehidupan, hanya ombak, tebing, pasir putih, dan terik matahari....Waktu seperti berhenti di sini....Kawan-kawan, nanti akan kutuliskan kisah perjalanan ke Timur Laut ini dalam blog ini.....Sepanjang jalan, aku hanya memungut gelombang.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2951622522741630881?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2951622522741630881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2951622522741630881' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2951622522741630881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2951622522741630881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/di-tanjunglelan-natuna.html' title='Di Tanjunglelan, Natuna....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SC-3Km4rKVI/AAAAAAAAAFU/Az8mt22php0/s72-c/letung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3557642748352594608</id><published>2008-05-17T21:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-17T21:48:15.190-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Timur Laut</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SC-0YG4rKUI/AAAAAAAAAFM/HHmcM2cD-FI/s1600-h/letung2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SC-0YG4rKUI/AAAAAAAAAFM/HHmcM2cD-FI/s200/letung2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201574420894394690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAKI-kaki rapuh kami akhirnya bisa melangkah di atas pasir Tanjunglelan, Pulau Jemaja...tak ada kehidupan, kecuali panas yang menyengat, juga ombak yang masih sekitar tiga meter. Angin selatan memukul pantai, dan kami pun melanjutkan perjalanan terus ke timur laut...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3557642748352594608?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3557642748352594608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3557642748352594608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3557642748352594608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3557642748352594608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ke-timur-laut.html' title='Perjalanan ke Timur Laut'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SC-0YG4rKUI/AAAAAAAAAFM/HHmcM2cD-FI/s72-c/letung2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-1706341542774028961</id><published>2008-05-11T05:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-11T05:23:40.135-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Selatan</title><content type='html'>&lt;em&gt;PULAU Penaah adalah tempat persinggahan para bule yang berkonvoi naik yacht dalam perjalanan mereka dari Singapura menuju Bali. Inilah pulau yang menjadi surga bagi nelayan. Jutaan ikan di sana membuat para pemancing dari berbagai penjuru jagat yang datang seperti mengail ikan di dalam kolam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG-orang Penaah sudah kumpul di tepi lapangan sepakbola ketika kami sampai. Mereka duduk, jongkok, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Jumlah mereka seratusan orang. Sudah berjam-jam mereka menunggu di pinggir lapangan. Bukan laga sepakbola antar kampung yang mereka tunggu. Tapi sebuah helikopter yang ditumpangi oleh Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang mereka tunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami belum pernah lihat helikopter,” kata seorang warga di tepi lapangan. Dan sekitar pukul 16.00 WIB, sebuah helikopter berwarna biru langit milik TNI AL meraung-raung di atas langit Penaah. Sebagian warga yang sudah menjauh untuk berteduh di pohon kontan berhamburan. Bocah-bocah kesil terselip di antara mereka yang berhamburan mendekat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka, helikopter kemudian benda ajaib tercanggih yang pernah singgah di pulau dengan penduduk sekitar 371 orang. Begitu Ismeth turun para bocah berdiri di tepi jalan semen seluas satu setengah meter yang menghubungkan lapangan sepakbola dengan panggung tempat pembukaan acara Lingga Fishing Festival (LFF) 2008. Tapi baru beberapa detik Ismeth berlalu melewati jalan semen itu, para bocah kembali berhamburan, menuju lapangan bola, menjauhi panggung. Mereka mengelilingi helikopter dan memandangnya sampai berjam-jam. Gadis-gadis kampung yang sudah punya ponsel kamera asyik berpose dengan latar belakang benda ajaib yang punya baling-baling itu. Sementara pemuda kampung, dengan santai baring-baring di bawah pohon di tepi lapangan, sambil terus menatap helikopter itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, persiapan penyambutan helikopter itu sudah dilakukan sejak sekitar satu bulan lalu. Warga kampung dengan sukarela membersihkan lapangan. “Kami juga tadi pagi tabur beras kencur di lapangan,” kata seorang warga lainnya. Mereka khawatir, helikopter canggih itu akan diganggu oleh makhluk halus yang terkenal ada di sekitar pulau yang luas kelilingnya hanya sekitar 1,3 kilometer itu.&lt;br /&gt;Tapi jerih payah sebulan penuh itu terpuaskan sore itu. Benda yang hanya pernah mereka saksikan di film-film action Hollywood, sore itu singgah di kampung mereka juga. Hampir petang, helikopter itu terbang kembali meninggalkan kampung mereka dengan diiringi lambaian tangan bocah-bocah kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lepas dari persoalan helikopter, sore itu, bocah-bocah kampung juga punya “mainan” baru, memelototi empat bule yang datang untuk ikut lomba mancing. Hasrat hati ingin mendekat, tapi di SD di kampung mereka itu, Bahasa Inggris belum diajarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alain, bule asal Prancis yang sudah setengah tahun menetap di Batam dan bekerja untuk PBB mengaku cukup terhibur dengan keramahan kampung dan keindahan Penaah. Ia mengaku hobi naik sepeda gunung. Tapi begitu seorang rekannya mengajak untuk ke Penaah ikut lomba memancing, Alain tak menolak. Maka Jumat (2/5) kemarin, ia pun menjadi satu dari sekitar 350 peserta lomba mancing. Selain Alain, ada tiga bule lainnya, sahabat Alain, yang ikut lomba yang diadakan tiap tahun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika acara pembukaan sedang berlangsung, Alain yang sudah terbiasa menghadapi forum seremonial, justru meluangkan waktu untuk berkeliling Penaah. “Saya tak pernah melihat pulau seindah ini di Prancis. Di sana ada pulau, tapi tak ada pohon kelapanya,” kata lelaki yang fasih bercerita soal Zinedine Zidane, bintang sepakbola legendaris asal Prancis yang sudah gantung sepatu itu. Karena itu, memancing sebenarnya bukan tujuan Alain. “Saya tak ada persiapan. Dan saya tak punya ambisi juara,” lanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Alain bukan bule pertama yang singgah di Penaah. September hingga Oktober adalah musim kunjungan para bule ke pulau yang terletak di ujung Selatan gugus kepulauan Senayang ini. Letak Penaah yang ada di persimpangan jalur yang menghubungkan Laut Bankga dengan Laut China Selatan itu menjadikan tempat ini pilihan singgah bagi para petualang laut dari berbagai sudut kolong jagat itu untuk singgah mengambil perbekalan air bersih. Mereka biasanya labuh jangka di Selat Kongki, sebuah laut sempt yang diapit oleh Pulau Kongki Besar dan Kongki Kecil. Ujung dari selat itu adalah Pulau Penaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak sekedar mengambil perbekalan air bersih saja. Para bule itu sudah memasukkan dalam agenda perjalanan mereka nama Penaah. Pulau ini, selain menawarkan pantai pasir putih, sekaligus menyimpan terumbu karang indah di dasar lautnya. Para pengebom ikan yang pernah mencoba datang diusir oleh nelayan Penaah. Sehingga, sejak dulu, terumbu karang aneka warna dan jenis itu masih tersimpan rapi di dasar laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedatangan mereka biasanya untuk menyelam,” kata Abang Azhari, Ketua RW 08 Pulau Penaah. September datang, rombongan konvoi yacht yang digunakan bule-bule itu jumlahnya sampai belasan, yang mengangkut puluhan penumpang. Tapi, mereka jarang singgah ke Penaah. Sesekali saja bila mereka ingin menikmati pulau kecil itu, mereka menjejakkan kaki di pasir putih pantai Penaah.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penaah Terancam Tenggelam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULAU Penaah adalah penanda, bahwa di gugus kepulauan Senayang, Kabupaten Lingga, ikan belum menjadi barang langka. Lautnya masih terjaga dari pengeboman liar, namun ada ancaman, pulau itu suatu saat akan tenggelam akibat abrasi dan  pemanasan global &lt;em&gt;global warming). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPANJANG mata memandang, hanyalah hamparan warna biru lautan yang berkilauan terpantul sinar matahari sore. Pulau Penaah seperti titik noktah kecil di atas hamparan biru lautan yang sesekali beriak. &lt;br /&gt;Di ujung sana, anak-anak nelayan berlarian di pasir putih pantai. Satu dua canda tawa mereka masih terdengar dari ujung selatan, dekat lapangan sepakbola di tengah pulau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas pulau itu hanya sekitar 1,3 kilometer apabila dikelilingi. Garis tengah pulau yang berbentuk lingkaran tak sempurna itu hanya 600 meter, dari ujung ke ujung. Rumah-rumah penduduk hanya di sisi sebelah barat, tepatnya memanjang dari barat laut sampai barat daya pulau. Pemukiman berakhir di pantai pasir putih di ujung utaranya. Pada sisi timur pulau yang ditumbuhi kelapa tak sampai seratusan batang ini, tak ada rumah, melainkan semak belukar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini penduduk Penaah adalah generasi yang ketiga. Sejarah kehidupan di pulau itu berawal sewaktu Abang Akil datang ke pulau itu lebih dari 150 tahun lalu untuk membuka kebun kelapa. Abang Akil adalah warga Daek, Kabupaten Lingga. Kini, generasi ketiga dari keturunan Abang Akil, Abang Azhari dipilih menjadi Ketua RW 08. Tingkat birokrasi tertinggi di pulau berpenduduk 115 kepala keluarga (KK) tersebut hanyalah RW. Di bawah RW, ada dua RT. Adminstratif pulau ini masuk dalam wilayah Kelurahan Senayang, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah lebih dari 150 tahun pulau di ujung selatan gugus kepulauan Senayang itu ditempati, ada ancaman yang tengah mengintip. Di sisi selatan pulau terjadi abrasi terus menerus sepanjang tahun. Dulu, jalan semen dengan lebar sekitar satu setengah meter dibangun mengelilingi pulau. Pengunjung yang datang pun bisa menikmati keindahan seluruh pulau dengan berjalan kaki melewati jalan semen tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu cerita lima tahun lalu. Sejak tiga tahun terakhir, terjadi abrasi terus menerus, memanjang dari sisi timur laut sampai tenggara pulau. Tak ada jalan semen yang tersisa lagi, melainkan batu-batu karang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abang Azhari, Ketua RW 08 Pulau Penaah berujar, jalan itu hancur sekitar tiga tahun lalu. Pendapat Abang Azhari ini diperkuat oleh Khairul, seorang warga. “Dulu pulau ini luas. Kalau ada anak kecil nangis di perkampungan, kita tak bisa mendengarnya. Tapi sekarang, kalau kita berada di selatan pulau, atau di tenggara kita bisa dengar suara anak kecil nangis,” kata Khairul, mendeskripsikan bagaimana pulau itu dalam benaknya terasa semakin menciut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab abrasi yang semakin berkepanjangan itu tak lain tamparan angin selatan. Kalau angin utara datang, meski terkenal kencang berhembus dari arah Laut China Selatan, tak terlalu berpengaruh. Ujung utara pulau ini dilindungi oleh dua pulau yang ukurannya lebih besar, yakni Pulau Kongki Besar dan Kongki Kecil. Meski secara ukuran kedua pulau lebih besar sampai empat hingga lima kali lipat Penaah, tetapi tak tampak satu pun pemukiman warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, bila arah angin berbalik, yakni bertiup dari selatan, sama sekali Penaah tak terlindungi. Tamparan ombak ganas Laut Bangka langsung menyentuh pantai di sisi selatan dan tenggara Penaah. Karenanya, abrasi terus menerus pun terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khairul pun punya firasat tak baik. Kalau tenggelam dalam waktu dekat, menurut lelaki itu masih sulit dicerna akal sehat. “Tapi mungkin di masa dia,” kata Khairul sambil menunjuk putrinya yang masih berusia sekitar lima tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila itu terjadi, maka berakhirlah kisah tentang pulau penanda itu. Dan para turis, nelayan, pun akan kehilangan penanda ketika mereka mencari jutaan ikan yang bersarang di dasar laut Penaah. (trisno aji putra/bersambung)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berburu Ikan Sunuk ke Penaah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;NELAYAN Kepri sudah hafal di luar kepala di mana letak Pulau Penaah. Adalah Ikan Kerapu Sunuk (Plectrophomus Leopardus) yang selalu membuat para nelayan itu rindu untuk mengarungi riak-riak gelombang di lepas pantai Penaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak semua nelayan memang bisa beruntung mengail Sunuk dari dasar laut Penaah. Tapi kalau nasib lagi berpihak, dua kilo Sunuk sudah membuat modal solar pompong mereka kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini, biasanya nelayan mencari Ikan Sunuk,” kata Abang Azhari, Ketua RW 08 Pulau Penaah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga. Sekilo Sunuk, menurut Azahari, harganya bisa menembus angka Rp 140 ribu. Artinya, bila sekali melaut dapat dua kilo saja, jumlah tersebut sudah cukup untuk membeli solar dan sedikit rezeki untuk diserahkan kepada istri di rumah. Karena Sunuk inilah, nelayan-nelayan dari Kijang, Kecamatan Bintan Timur yang jaraknya sekitar tujuh jam perjalanan laut pakai pompong sampai mau mengarungi gelombang menuju Penaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunuk sendiri adalah komoditas ekspor. Namun yang dicari pembeli yang kebanyakan dari Hongkong itu adalah Sunuk yang beratnya hanya berkisar empat sampai enam kilogram per ekornya. Kalau beratnya sudah sampai di atas satu kilogram, justru pembeli tak terlalu terpikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perarian lain di Kepri, sebenarnya ada juga Ikan Sunuk. Namun komunitasnya tak sebanyak di Penaah. Adalah kearifan lokal yang membuat Sunuk-Sunuk berharga ratusan ribu itu masih betah bertahan di Penaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azhari maupun nelayan lain sudah hafal di luar kepala tentang adanya peraturan menangkap ikan yang tak tertulis di atas kertas. Saat musim angin selatan ada satu pulau yang bisa ditempuh sepuluh menit perjalanan laut dari Penaah. Pulau itu diberi nama Ceranggong. Namun penduduk setempat lebih senang mengganti huruf di depan nama pulau itu dengan “S’. Maka dalam lafal pengucapan orang Penaah, Ceranggong adalah Serangong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau itu hanyalah kumpulan batu karang kecil, yang luasnya tak sampai setengah hektar. Tak ada persediaan air bersih dan pemukiman di atasnya. Namun nelayan setempat mensakralkan pulau itu. Musim angin teduh, yakni musim selatan, tak dibenarkan seorang nelayanpun mendekat ke Ceranggong. Mereka harus mencari ikan ke laut lepas, sampai ke Laut Sayak, laut terjauh dari Penaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerenggong hanya boleh disentuh saat musim angin utara yang terkenal menyebabkan ombak setinggi sampai lebih dari empat meter. Saat itulah, nelayan boleh mendekat dan menangkap ikan di Ceranggong. Inilah kearifan tradisional yang diwariskan oleh datuk nenak moyang orang Penaah. Para pembuat nilai-nilai ini mengantisipasi, agar jangan sampai anak cucunya kelak tak bisa menangkap ikan saat ombak ganas. Maka dipilihlah sebuah pulau berkarang yang akan menjadi ekosistem laut menarik bagi para ikan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pancur, Hongkong Van Lingga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;RATUSAN rumah berdiri menjajar di tepian Sungai Pancur. Aktivitas perdagangan bermula sejak pagi masih belum jadi, berlangsung hingga menjelang tengah malam di Pancur. Inilah kota, yang orang-orang Daek dengan bangga menggelarinya sebagai Hongkong-nya Lingga. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancur adalah jantung perekonomian di Pulau Lingga bagian utara. Denyut nadi ekonomi sudah berlangsung di sana sejak sebelum orang-orang republik mengibarkan bendera Merah-Putih dan memproklamirkan Indonesia. Dulu, aktivitas di Pancur berjaya seiring dengan kegiatan smokel. Mereka membawa barang dari Singapura sebelum didistribusikan ke berbagai kawasan terdekat, bahkan sampai Kuala Tungkal, Jambi. Dari Pancur, mereka membawa kayu, karet, sampai kopra ke Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari sebuah rumah di satu sisi sungai, puluhan tahun kemudian, tak kurang dari 500 rumah sudah berdiri di sepanjang tepian sungai, baik di sisi kanan maupun di sisi kiri. Bangunan rumah-rumah papan itu terus memanjang ke laut. “Sebenarnya kalau masih bisa ditambah, pasti dibangun rumah lagi. Tapi dasar lautnya ada seperti ceruk. Jadi tak bisa dipancang tiang lagi,” kata seorang warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah pertama di hulu sungai, sampai rumah terakhir yang berbatasan &lt;br /&gt;langsung dengan laut, panjangnya tak kurang 600 meter. Selain karena dianggap mudah untuk menggerakkan aktivitas perekonomian, pembangunan rumah panggung di atas laut itu juga menjadi pilihan mengingat tepian laut langsung berbatasan dengan sebuah bukit terjal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camat Lingga Utara Rusli bercerita, pembangunan rumah di atas laut itu diawali dari aktivitas perekonomian. Kala itu, para nelayan kesulitan bila harus mengangkat hasil tangkapannya ke darat. Maka dibangunlah satu-dua buah rumah di atas laut. Namun lama kelamaan, rumah-rumah lain bermunculan. Apalagi Lingga sendiri dikenal sebagai daerah penghasil kayu di Kepri, sehingga mereka tak kesulitan untuk mencari bahan bangunan rumah papan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rumah yang saling berhadap-hadapan itu mengalir air Sungai Pancur, yang sayangnya sudah mulai tercemar akibat perilaku membuang sampah tak pada tempatnya. Ada empat buah jembatan gantung di sepanjang sungai. Jembatan ini memperindah pemandangan menelusuri Sungai Pancur. “Orang menggelarinya Hongkongnya Lingga, karena memang mirip seperti di Hongkong,” lanjut Rusli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila air sungai pancur jernih, mungkin bukan lagi orang menggelari Pancur sebagai Hongkong-nya Lingga, melainkan Venesia-nya Lingga. Keberanian orang-orang membangun rumah di atas laut itu tak lain karena ada beberapa pulau besar dan kacil di depan Pancur yang melindungi daerah ini dari terpaan angin Utara. Karenanya, dulu, banyak kapal dalam perjalanan dari Selat Melaka menuju Jawa lebih memilih singgah di Pancur untuk mengambil air bersih. Dermaga Pancur yang terlindung dari hantaman ombak besar adalah alasan utama para nakhoda kapal untuk singgah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi kanan dan kiri sungai, rumah-rumah warga sekaligus difungsikan sebagai pusat pertokoan. Carilah apapun, semua ada di sana. Dari mulai baju baru sampai baju second, aneka sembako, sampai penginapan. Tarif penginapan di losmen-losmen kayu itu bervariasi, anatar Rp 30 ribu-Rp 14 ribu satu malam. Siapa pun yang ingin menikmati Hongkong tapi belum kesampaian, agaknya singgah di Pancur bisa sedikit mengobati keinginan itu. &lt;strong&gt;(trisno aji putra)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-1706341542774028961?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/1706341542774028961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=1706341542774028961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1706341542774028961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1706341542774028961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ke-selatan_11.html' title='Perjalanan ke Selatan'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2888999199493382692</id><published>2008-05-07T00:37:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T00:40:42.591-07:00</updated><title type='text'>Senja di Selatan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFczCOlltI/AAAAAAAAAFE/1NKiAZ-eV00/s1600-h/yaa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFczCOlltI/AAAAAAAAAFE/1NKiAZ-eV00/s200/yaa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197537476803401426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2888999199493382692?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2888999199493382692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2888999199493382692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2888999199493382692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2888999199493382692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/senja-di-selatan.html' title='Senja di Selatan'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFczCOlltI/AAAAAAAAAFE/1NKiAZ-eV00/s72-c/yaa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-1982383210360490905</id><published>2008-05-07T00:34:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T00:37:04.871-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Selatan.....</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFcCSOllsI/AAAAAAAAAE8/nk-Z7lOBSAc/s1600-h/yaa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFcCSOllsI/AAAAAAAAAE8/nk-Z7lOBSAc/s200/yaa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197536639284778690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-1982383210360490905?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/1982383210360490905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=1982383210360490905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1982383210360490905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1982383210360490905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ke-selatan_6074.html' title='Perjalanan ke Selatan.....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFcCSOllsI/AAAAAAAAAE8/nk-Z7lOBSAc/s72-c/yaa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-8422006272268145017</id><published>2008-05-07T00:15:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T00:25:40.770-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Selatan.......</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFZGyOllrI/AAAAAAAAAE0/oG_Jeja7pgM/s1600-h/bocah-bocah+Pulau+Penaahh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFZGyOllrI/AAAAAAAAAE0/oG_Jeja7pgM/s200/bocah-bocah+Pulau+Penaahh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197533418059306674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KE selatan, orang-orang mengejar keheningan. Negeriku, Tanah Melayu, kini menjadi negeri yang terbelah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke selatan adalah perjalanan memungut kesunyian. Anak-anak nelayan berkisah tentang masa depannya yang masih samar. di utara sana, orang-orang Melayu telah membangun gedung bertingkat. Mereka mengubah rawa menjadi gedung pencakar langit di Singapura. Di Malaysia, mereka mengubah kebun sawit menjadi jalan aspal mulur beratus kilometer....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sini, di selatan, aku hanya mendengarkan sejuta keluh kesah. Mereka, orang-orang negeriku itu, masih mewarisi dayung untuk mencari ikan ke laut menggunakan sampan. Tak ada gedung pencakar langit. Tapi, kadang aku perlu bersyukur, sebab di selatan sini, kesederhanaan dan kearifan lokal itu masih mereka simpan rapi.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak kemiskinan yang kutemukan sepanjang perjalanan ke selatan itu justru dibalut dengan eksotisme alam.... Negeriku,Tanah Melayu yang ada di selatan ini, kini menawarkan kisah tentang bagaimana mereka tetap menjaga kesunyian menjadi sebuah kekuatan panorama....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu rindu untuk kembali ke selatan, menyusuri gugus-gugus pulau, dari Pulau Cempa sampai Penaah. Inilah negeriku, orang-orang Melayu di selatan....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-8422006272268145017?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/8422006272268145017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=8422006272268145017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8422006272268145017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8422006272268145017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ke-selatan_8624.html' title='Perjalanan ke Selatan.......'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFZGyOllrI/AAAAAAAAAE0/oG_Jeja7pgM/s72-c/bocah-bocah+Pulau+Penaahh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5856793859800589312</id><published>2008-05-07T00:07:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T00:09:43.522-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan ke Selatan...</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFVgiOllqI/AAAAAAAAAEs/Ch-ebWwS1g4/s1600-h/Pulau+Penaahh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFVgiOllqI/AAAAAAAAAEs/Ch-ebWwS1g4/s200/Pulau+Penaahh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197529462394427042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFVUSOllpI/AAAAAAAAAEk/TVn5hbXTfAI/s1600-h/senjaa+di+penaahh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFVUSOllpI/AAAAAAAAAEk/TVn5hbXTfAI/s200/senjaa+di+penaahh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197529251941029522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5856793859800589312?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5856793859800589312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5856793859800589312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5856793859800589312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5856793859800589312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ke-selatan_07.html' title='Perjalanan ke Selatan...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/SCFVgiOllqI/AAAAAAAAAEs/Ch-ebWwS1g4/s72-c/Pulau+Penaahh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2746724112347822316</id><published>2008-04-05T04:36:00.001-07:00</published><updated>2008-04-05T04:50:48.200-07:00</updated><title type='text'>Jejak Kemiskinan di Tepian Sungai Gesek...</title><content type='html'>&lt;em&gt;SEI-Nyirih adalah kampung yang terbelah. Secara geografis, kampung itu  masuk wilayah Kabupaten Bintan. Namun secara administrasi kependudukan, Sei Nyirih dijangkauan Kota Tanjungpinang. Pilkada Wali Kota Tanjungpinang kemarin, sekitar 53 kepala keluarga di kampung itu ikut menyoblos. Bagaimana kehidupan di kampung nelayan itu, ikuti petualangan ini.  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INILAH perjalanan dari kampung ke kampung. Jalan tanah tanpa penanda membuat seluruh ruas Jalan Tembeling siang itu menjadi kumpulan teka-teki yang sulit dipecahkan. Hanya jalan berkelok-kelok yang lenggang, gundukan tanah merah di kiri-kanan jalan, serta tiang listrik yang menjulang langit. Semua itu bukan tempat bertanya yang bisa memberikan jawaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Kampung Sei-Nyirih siang itu pun menjadi tujuan yang buram. Cara berpikir kontinental yang mengharuskan segala sesuatu dijangkau dari daratan memang telah membuat perjalanan ini makin sulit. Dulu, orang Melayu tradisional datang membangun kampung itu dengan naik sampan. Mereka tidak mengenal jalan tanah, sebab Melayu tempo dulu selalu identik dengan sampan, laut, dan nelayan. Cara berpikir mereka selalu bersifat &lt;em&gt;archipelago&lt;/em&gt;, menjangkau sesuatu dari jalur laut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kedatangan lelaki pertama di Sei-Nyirih untuk mendirikan kampung di tepian Sungai Gesek itu datang dengan menumpang sampan, bukan sepeda motor seperti yang sedang kami tumpangi hari itu. Informasi awal yang kami dapatkan, cara tercepat mencapai kampung itu memang naik sampan, yakni dari Kampung Madung, di ujung perbukitan Senggarang. “Dari sana, langsung naik sampan saja,” kata seorang yang kami tanyai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sampan kemudian menjadi persoalan. Sebab, tidak ada transportasi reguler yang menjangkau Sei-Nyirih. Artinya tidak ada pompong Madung-Sei Nyirih PP (pulang pergi). Maka perjalanan dari kampung ke kampung menuju Sei-Nyirih itu hanya diberi pilihan, menyewa pompong dari Madung atau naik sepeda motor Jepang menembus hutan belukar dari arah Jalan Tanjunguban, tepatnya di simpang Desa Toapaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada salah jalan yang kesekian, akhirnya jalan menuju kampung itu ditemukan. Orang yang kami temui di Pesantren Al-Madinah, Ceruk Ijo, Kecamatan Teluk Bintan, meminta kami untuk mencari kebun nanas dan gundukan pasir. Itulah dua pertanda alam yang harus ditemukan bila tak ingin sesat sampai di kampung. Bagi warga Tembeling atau Toapaya, Sei-Nyirih mereka kenal lewat dua buah perusahaan pasir yang beroperasi di sana. Namun keduanya kini sudah tutup, menyisakan gundukan pasir yang tingginya dua kali tiang listrik dan lebarnya satu halaman sepakbola di muka kampung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat seperjalanan saya, Bung Ari Sastra langsung sumringah melihat gundukan pasir itu. Artinya perjalanan kami sudah dekat. Sejak tadi, Aris yang jabatannya Kepala Biro Harian "Tribun Batam" Tanjungpinang itu hanya duduk di jok belakang motor tanpa banyak bicara. Panas membuat energi bicaranya hilang. Dalam terkaman sinar matahari siang itu, sekilas ia seperti bangau Hokaido yang tak terawat, kuyu, lusuh, diam, tapi pakai tas pinggang bermerek. Hanya tas yang dibawanya itulah yang membuat ia demikian berharga, laiknya bangai Hokaido di gurun pasir gersang Sei-Nyirih. Tas itu selalu dibawanya ke mana saja. Tiga bulan yang lalu, seorang pejabat teras di Tanjungpinang meloakkan tas itu di sebuah pasar kaget. Si Bung Bangau itu pun langsung menyambar gesit. Calon pembeli lain terpana, dan sedikit iri, karena kalah cepat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ini Sei-Nyirih. Langsung saje ke bawah, ke rumah Pak RT. Pak Kasman namanya,” kata serorang ibu yang kami temui di muka kampung. Tak banyak yang berbeda dari kampung ini dengan kampung nelayan di pesisir lainnya. Rumah dibangun hanya beberapa jengkal dari laut, di depan rumah yang rata-rata berbentuk panggung itu dibuat beranda, untuk duduk santai, menikmati semilir angin pesisir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah masjid bercat kuning yang dibangun di tengah kampung seperti menjadi sentra dari denyut nadi kehidupan kampung. Rumah-rumah warga dibangun di kanan kiri masjid, menyerupai lingkaran tak sempurna. Namun kalau dihitung, rumah bedinding papan mungkin tujuh kali lipat banyaknya dari pada rumah beton. Para warga hidup sebagai nelayan dan buruh kebun karet, serta buruh serabutan. Dulu, para pemuda kampung kerja sebagai buruh di penambangan pasir. “Tapi sejak lebaran Cina kemarin, perusahaan ditutup,” kata Sarifah (50), seorang warga kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terbelah &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBELUMNYA, orang tidak pernah tahu nama kampung ini. Namun seiring dengan konflik tapal batas yang tak kunjung usai antara Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan, nama kampung ini pun mencuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan nama kampung ini sempat dibahas oleh sejumlah pejabat Pemprov Kepri, Pemkab Bintan dan Pemko Bintan di Kantor Gubernur Kepri pada Senin-Selasa (31/7-1/8/2006). Awal mula konflik sebenarnya muncul seiring pemekaran Tanjungpinang dan Kabupaten Kepri. Setelah Provinsi Kepri terbentuk dan Kabupaten Kepri menjelma menjadi Kabupaten Bintan, ternyata konflik tapal batas di Sei-Nyirih ini tak kunjung usai juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Tribun pada edisi Juli-Agustus 2006 maupun Maret 2007 pernah mengangkat hasil pembahasan status Sei-Nyirih ini. Berdasarkan tapal batas wilayah, kawasan Sei- Nyirih diklaim oleh Pemkab Bintan masuk ke dalam teritorial mereka. Namun, selama ini untuk urusan adminsitrasi seperti surat-surat tanah dan dokumen kependudukan, masyarakat Sei-Nyirih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rapat yang difasilitasi Biro Pemerintahan Pemprov Kepri sempat tak kunjung sampai pada kata putus, maka Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan sepakat untuk membentuk Tim Khusus di bawah Biro Pemerintahan Kepri yang akan mengkaji dan menelusuri persoalan di dua wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Satu Bidang Tata Praja Pemkab Bintan waktu itu, Yudha Inangsa, menjelaskan, bila muncul persoalan administratif maka dapat diselesaikan dengan cara memperbaikinya. Namun, selama ini, untuk batas wilayah, masing-masing sudah memiliki titik ordinat sendiri di dalam peta. Dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah memiliki peta tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal pembentukan Kota Tanjungpinang sebagai daerah otonom beberapa tahun lalu, persoalan batas wilayah ini sudah pernah diajukan oleh Pemkab Bintan untuk dibahas. Namun sampai saat ini masih belum bisa dituntaskan. Sei-Nyiri, menurut Yudha, batasnya dipisahkan oleh sungai yang bermuara di Teluk Bintan. “Batas Kota Tanjungpinang itu diambil dari batas alam,” kata Yudha waktu itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Dedy Chandra yang waktu itu mewakili Bagian Pemerintahan Pemko Tanjungpinang menjelaskan, sejak terbentuknya Kota Administratif (Kotif) Tanjungpinang pada sekitar 1983 sampai saat ini, masyarakat Sei-Nyirih dalam urusan kependudukan masih dilayani oleh Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Maret 2007, Raja Ariza yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Kepri ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa Tim Khusus sudah selesai bekerja. “Sei-Nyirih tetap masuk wilayah Kabupaten Bintan,” kata Raja Ariza. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Warga Pilih Tanjungpinang&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi masyarakat sendiri, mereka sebenarnya sudah nyaman berada di bawah naungan Pemko Tanjungpinang. Adalah sejarah yang mereka pegang. Bahwa sejak tiga generasi lalu, mereka memiliki ikatan yang kuat dnegan Kampung Madung, yang masuk wilayah Tanjungpinang. “Sejak tok saye, lalu bapak saye, semuanya sudah masuk Tanjungpinang,” kata Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih. Bahkan Kasman mengaku masih menyimpan KTP lama yang menunjukkan mereka masuk dalam wilayah Kota Adminsitratif Pemko Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempertegas daerah tersebut sebagai bagian dari Tanjungpinang, warga pun membuat plang papan kecil di jalan yang menuju kampung. Di plang itu tertulis bahwa wilayah itu masuk Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bukti bahwa warga tetap ingin bergabung dengan Tanjungpinang, pada Pilwako Tanjungpinang Desember 2007 lalu, mereka pun datang ke tempat pemungutan suara dan mencoblos. “Banyak yang milih Ibu Wali di kampung ini,” kata seorang warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila Hujan, Para Siswa tak Sekolah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DI Sei-Nyirih, anak-anak berangkat ke sekolah naik sampan. Kalau hujan turun, mereka tak bisa berangkat ke sekolah. Sampan mungil mereka terlalu rapuh untuk menghadapi terjangan ombak. Sampan mereka pernah tenggelam Tapi budak-budak Melayu itu menyimpan rapi cerita itu, hingga para orangtua mereka tak ada satu pun yang tahu.  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEREKA adalah putra-putri para nelayan Melayu yang tangguh. Laut, ombak, dan sampan adalah sahabat keseharian mereka. Maka jangan heran bila budak-budak Melayu di Kampung Sei-Nyirih itu lincah mendayung sampan membelah laut menuju sekolah mereka di kampung seberang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi masih belum jadi ketika Icam kecil sudah melangkahkan kaki meninggalkan rumahnya, di tepian Sungai Gesek. Seragam putih-merah, sepatu, dan sebuah tas cangklong tergantung di pundaknya. Icam menuju ke dermaga kampung, yang berjarak tak sampai 73 langkah dari pintu rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berbeda dengan Icam, Ita, Hendra, dan Daniel juga melangkahkan kaki menembus kabut yang masih menggantung menuju dermaga beton dengan panjang tak sampai 50 meter itu. Sebuah sampan kayu sudah menunggu mereka di situ. Panjang sampan hanya sekitar empat meter dengan lebar tak sampai satu meter. Paling banyak, sampan itu bisa mengangkut empat anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hari-hari kemarin, pukul 06.00 WIB, mereka sudah sampai di dermaga. “Kite biase berangkat pukul enam. Pukul tujuh dah sampai kat sekolah,” kata Icam, yang bernama asli Samsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah mereka sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar tiga kelokan sungai. Icam, Ita, dan Hendra kini tercatat sebagai siswa SD 001 Madung, Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Sementara Daniel duduk di kelas dua sekolah yang sama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak setiap hari perjalanan mereka ke sekolah mulus. “Kalau hujan lebat, kami tak sekolah,” kata Ita, yang bernama asli Mardiah. Adalah ombak yang tak bisa mereka lawan dengan sampan yang tingginya hanya dua setengah jengkal dari permukaan laut itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sampan mereka pun tak punya atap. Hujan telah menyurutkan langkah anak-anak kampung itu untuk menuntut ilmu. Tapi, kalau hari cerah, mereka melewati semua dengan kegembiraan. Bahkan mereka saling berebut untuk memegang dayung sewaktu berangkat ke sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar saja pertikaian Icam dan Ita saat ditanya siapa yang memegang dayung sewaktu mereka berangkat ke sekolah. “Aku!” kata Ita, cepat. “Hei. Aku yang pegang. Budak betine mane bisa pegang dayung,” kata Icam sambil tersenyum ke Hendra dan Daniel. Ini bukan pertikaian gender. Tapi Ita memang diberi julukan oleh kawan-kawannya sebagai gadis cilik tomboi. Lihat saja siang itu. Ia lari ke laut sendiri dan mendayung sampan ke laut. Di tangannya, seekor bayi burung tergenggam.&lt;br /&gt;Ita baru naik ke dermaga sewaktu Icam melompat ke sampannya. Dari keempatnya, hanya Daniel yang punya prestasi bagus di sekolah. Ia juara dua. Sementara Ita, Icam dan Hendra, cukup puas setelah menduduki rangking dua dan tiga dalam lomba makan kerupuk yang digelar saat Agustusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dikenal sebagai kawan karib. Bukti kesetiakawanan itu mereka wujudkan dalam bentuk menyimpan rapat-rapat kisah tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra di laut sewaktu mereka pulang sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, cerita Icam, sampan penuh air. Hendra tidak mau membuang air. Akibatnya sampan pun tenggelam. Namun mereka semua yang bergerak bersama untuk menolong Hendra. Anak-anak nelayan itu dikenal jago berenang. Kadang sewaku pulang sekolah, setelah menanggalkan seragam putih merah, mereka menyemplung ke laut. Ita yang perempuan tak ikut nyemplung. Ia yang menceritakan kelakuan teman-temannya itu. Tapi semua kisah kenakalan masa kecil itu mereka simpan rapat. Tak ada orangtua yang tahu. Sarifah maupuh Piah, dua warga kampung juga tak tahu saat ditanya tentang tenggelamnya sampan yang ditumpangi Hendra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Iuran Sampan Rp 15 Ribu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMPAI kapan budak-budak Melayu pesisir itu masih akan terus mendayung sampan ke sekolah, kita tak tahu. Mereka kini terselamatkan oleh adanya dana BOS, yang membuat orangtua mereka tak tak perlu membayar iuran sekolah. Tapi sekitar empat tahun lalu, sewaktu dana BOS belum ada, belasan budak-budak kampung putus sekolah. “Sekarang mereka bise sekolah karena tak bayar,” kata Maryam, ibunda Ita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata persoalan tak berhenti sampai di situ saja. Kini para orangtua siswa  ternyata harus menanggung biaya transportasi untuk anak-anak mereka. Iyalah, Icam, Ita, Hendra maupun Daniel pagi hari bisa naik sampan gratis, karena milik seorang saudara mereka. Tapi saat pulang sekolah, bocah-bocah ini terpaksa dititipkan ke penambang sampan dengan iuran Rp 15 ribu per bulan per anak. Tak semua dari orangtua mereka punya sampan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piah, suami Maryam dan ayah Ita, begitu berharap agar Pemko Tanjungpinang bisa memberikan bantuan pompong untuk para anak sekolah ini Dulu, kata Piah, memang Pemko Tanjungpinang pernah memberikan bantuan pompong. Namun ukurannya besar dan memakan minyak dengan boros. Pompong itu kini sudah tinggal rongsokan. “Kalau &lt;em&gt;bise&lt;/em&gt;, pompong kecil &lt;em&gt;saje dah &lt;/em&gt;cukup. Agar tak boros,” kata Piah, setengah berharap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Listrik Tidak Byar-Pett di Rumah Piah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;KEBERADAAN listrik tenaga surya telah mengakhiri era malam-malam panjang dengan lampu teplok di rumah Piah dan enam warga lainnya. Tak seperti warga Tanjungpinang yang sebulan terakhir was-was listrik padam tanpa pemberitahuan, Piah yang tinggal di pelosok Kampung Sei-Nyirih itu tenang-tenang saja. Bahkan siang hari pun, ia bisa menghidupkan lampu neon 15 watt di ruang tengah rumah panggungnya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini, coba lihat sendiri. Hidup, kan,” kata Piah (34), setelah menekan saklar lampu. Lampu neon yang masih putih berkilau itu menyala, berebut dengan sinar matahari menerangi ruangan rumahnya. Di luar sana, panas terik seperti membakar ubun-ubun.  Kalau orang Tanjungpinang tahu apa yang dilakukan Piah siang itu, wajar saja bila mereka iri pada lelaki yang berprofesi sebagai nelayan tradisional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Piah, sejak tiga bulan terakhir tak pernah mati lampu. Dan hebatnya lagi, di tanggal 20 tiap bulannya, ia tak perlu berdesakan antri bayar listrik ke loket pembayaran terdekat. Matahari telah memberikan semua penerangan di rumah lelaki beranak dua itu secara gratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tiga bulan yang lalu, Piah dan istrinya, Maryam (27) serta dua anak mereka yang masih kecil-kecil terpaksa melewati malam-malam panjang di rumah berdinding papan itu dengan pelita. Tak sampai malam pelita itu dihidupkan, sebab Piah mengaku tak kuat membeli minyak tanah. Jarak 100 meter dari rumahnya yang persis berbatasan dengan Sungai Gesek itu, rumah warga lainnya terang benderang sampai pukul 23.00 malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar setahun silam, Pemko Tanjungpinang mengucurkan bantuan dalam bentuk pembelian satu unit genset beserta jaringan kabel. Namun bantuan itu tidak termasuk pembelian solar. Akibatnya, warga yang ingin menyambung listrik harus mau membayar iuran beli solar saban akhir bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu neon iurannya Rp 15 ribu. Saya tak ada uang,” kata Piah. Tapi tiga bulan lalu, keinginan Piah untuk melihat rumahnya diterangi oleh bola lampu temuan Thomas Alfa Edison itu terwujud. Setelah lebih dari 300 tahun Alfa Edison menemukan bola ajaib yang bisa memancarkan sinar itu, akhirnya di  kampung yang letaknya ribuan mil dari Eropa itu, Piah menikmati juga penemuan yang mengubah sejarah umat manusia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan tersebut tak sekedar penampang listrik tenaga surya saja, tapi lengkap dengan tiga unit neon putih dan sebuah accu. Setelah tiga bulan berjalan, accu itu belum rusak. Sebenarnya, penampang kecil itu masih cukup daya bila sekedar menyalurkan energi listrik ke satu unit monitor televisi hitam putih. “Tapi kami belum punya uang untuk televisi,” kata Piah, yang setiap malam harus bergelut dengan air asin untuk menyuluh udang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepenggal kisah kehidupan seorang warga di kampung nelayan itu. Selain persoalan listrik yang tak byar-pett di rumah Piah itu, ada eksotisme lain yang ditawarkan oleh Kampung Sei-Nyirih itu. Kisah-kisah pernak-pernik kehidupan itu terkait dengan kehidupan para nelayan di kampung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Naik Sampan ke Tanjungpinang&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarifah (50) tak pernah puas bercerita sekedar beberapa menit tentang aktivitas yang dilakukannya sejak puluhan tahun silam. Istri Kasman, Ketua RT II RW V Kampung Sei-Nyirih, Keluarahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota itu pernah menjalani bagaimana susahnya mendayung sampan menembus malam menuju Pasar Ikan di ujung Pelantar KUD, Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarifah adalah pengumpul ketam hitam di kampung itu. Nelayan lain banyak yang menyetor hasil tangkapannya kepada wanita asli Daik, Lingga ini. Maka setelah dirasakan jumlah ketam cukup, dinihari, sekitar pukul 02.00 WIB, ia mendayung sampan. “Sampai kat Pelantar KUD sekitar satu setengah jam. Kadang saye juge berangkat pukul tige pagi,” kata wanita yang kini membuka warung kelontongan di rumahnya itu. Hebatnya lagi, wanita berkulit putih itu melakukan pekerjaan mengantar hasil tangkapan laut itu seorang diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejak dua tahun lalu, Syarifah pun dikalahkan oleh usia. “Saye sudah tak kuat lagi dayung sampan sendiri,” katanya. Maka ia pun memilih cara lain, yakni naik taksi Tembeling. Tauke taksi di pusat kecamatan Teluk Bintan itu bernama Tek Bun. “Kalau saye SMS, dia pasti singgah di kampung ini,” kata Syarifah. Kebetulan Sei Nyirih menjadi rute yang dilewati kendaraan dalam perjalanan dari Tembeling ke Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekhnologi ternyata telah memudahkan semua. Termasuk cara Syarifah meminta Tek Bun singgah. Tapi ternyata ongkosnya juga bukan kepalang. “Sekali jalan Rp 30 ribu,” kata Syarifah. Mungkin ongkos semahal itu dianggap Tek Bun wajar, sebab jarak tempuh Tembeling-Tanjungpinang bisa mencapai sekitar 45 kilometer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2746724112347822316?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2746724112347822316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2746724112347822316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2746724112347822316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2746724112347822316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/04/jejak-kemiskinan-di-tepian-sungai-gesek.html' title='Jejak Kemiskinan di Tepian Sungai Gesek...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4720507060113870099</id><published>2008-03-30T02:23:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T02:26:47.666-07:00</updated><title type='text'>Lautan Gamis di Baiturahman...</title><content type='html'>&lt;em&gt;SEJAK Sabtu (29/3) pagi, kesunyian Masjid Baiturahman itu sudah terenggut. Lepas sholat Subuh, mereka sudah bekerja, ada yang memasak, merapikan masjid, juga sekaligus menyambut tamu. Ada hajatan besar yang berlangsung Sabtu malam hingga Minggu (30/3) pagi. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid yang berlokasi di kawasan Sungaijang, Tanjungpinang itu terpilih sebagai tempat bertemunya sekitar seribuan anggota Jemaah Tabligh dari pelosok Kepri. Mereka datang Sabtu pagi. Bahkan yang dari Malaysia, sekitar sepuluh orang jumlahnya, sudah datang sejak Jumat kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertemuan pertama di tahun ini, setelah pada akhir tahun lalu, mereka menggelar pertemuan serupa di Tanjungbalai Karimun. Pertemuan sendiri digelar tiap empat bulan sekali, berpindah-pindah, dari Tanjungpinang, Batam, hingga Tanjungbalai Karimun.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkumpulnya mereka di Masjid Baiturahman mengundang ketertarikan tersendiri bagi warga yang melintas. Sejak dulu, seantero kota sudah paham bahwa masjid itu adalah tempat bertemunya para anggota Jemaah Tabligh.  &lt;br /&gt;Sabtu pagi itu, orang-orang yang mencintai Tuhannya itu datang dengan memakai gamis putih-putih. Celana mereka tak menyentuh mata kaki, tergantung sejengkal dari telapak kaki. Sementara baju mereka yang juga berwarna putih terjulur sampai beberapa jengkal dari atas lutut. Janggut mereka panjang, dan banyak dari mereka memakai kopiah bulat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang menyebut mereka dengan nama Jemaah Tabligh. Bahkan ada yang memberikan julukan tak sedap “Jemaah Kompor”. Munculnya sebutan ini karena setiap melakukan perjalanan dari masjid ke masjid, para lelaki bergamis itu selalu membawa kompor dan alat masak lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mereka sendiri tidak menamakan diri mereka apapun. Semua sebutan itu diberikan oleh orang luar. “Kami ini tak ada nama. Jemaah saja. Tapi orang serings ebut Jemaah Tabligh. Tak apalah,” kata Huzrin Hood, mantan Bupati Kepri yang merupakan satu di antara sekian tokoh utama di Jemaah Tabligh Masjid Baiturahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa tujuan pertemuan tersebut? Huzrin yang ditemui Sabtu pagi saat mempersiapkan penyambutan kedatangan seribuan jemaah itu mau berbagi cerita sedikit. Menurutnya, pertemuan itu tak lain untuk bermusyawarah sekaligus berdakwah dan bersilaturahmi sesama umat muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya akan dibahas pengiriman jemaah untuk berdakwah ke berbagai pelosok. “Ke seluruh dunia,” kata Huzrin, tersenyum. Seluruh dunia yang dimaksud oleh Huzrin berpatokan pada kemampuan ekonomi para jemaah. Bila kondisi keuangan mereka belum cukup, maka seluruh dunia yang dimaksud bisa diterjemahkan menjadi ke berbagai pulau-pulau di Kepri. “Sampai ke Pulau Laut, di Natuna sana,” lanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pertemuan ini juga sekaligus untuk mempersiapkan delegasi mereka yang akan dikirim mengikuti pertemuan Jemaah Tabligh se-Indonesia yang rencananya di gelar Agustus mendatang di Bumi Serpong Damai, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di balik semua persiapan itu, Muhamad Farouq menjadi orang paling sibuk. Ia dipercaya mengurusi makanan sekitar seribuan jemaah. Maka ia meminta sekitar 40 rekannya untuk membantu membuat dapur umum, di bagian samping masjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita potong 10 ekor kambing,” kata Farouq. Makan dibagi menjadi tiga kali. Selain kambing, menunya adalah ayam. Lantas dari mana semua dana ini di dapat? Hendri Kurniawan, seorang anggota panitia menyebut, dana itu didapat dari sumbangan sukarela antarmereka. Kalau sanggup, ada yang menyumbang Rp 10 ribu, ada juga yang Rp 100 ribu. “Semuanya dengan keikhlasan saja,” kata Hendri. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4720507060113870099?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4720507060113870099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4720507060113870099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4720507060113870099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4720507060113870099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/lautan-gamis-di-baiturahman.html' title='&lt;strong&gt;Lautan Gamis di Baiturahman...&lt;/strong&gt;'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-4744989061960176387</id><published>2008-03-27T05:42:00.000-07:00</published><updated>2008-03-27T05:46:20.657-07:00</updated><title type='text'>Kisah Perjalanan Marwah di Sei-Dompak</title><content type='html'>AGOES Soemarwah bisa jadi adalah lelaki Semarang pertama di awal tahun ini yang naik sampan kotak di Sungai Dompak itu. Maka kemudian ia pun luar biasa menunjukkan kekagumannya pada penemuan asli orang-orang Dompak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya orang membuat kapal itu kan dengan perhitungan rinci tentang berat dan lainnya, sehingga ketika berada di air tak tenggelam. Tapi apakah mereka juga pernah menghitung seperti itu ya,” tanya Marwah, panggilan akrabnya, tanpa melepas pandang pada sampan yang berbentuk persegi panjang berukuran panjang lima meter dan lebar sekitar dua meter itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakcik Rustam, penambang sampan kotak itu diam, seperti tak ingin menjawab pertanyaan Marwah. Sebab, ia yakin, lelaki berkaca mata minus dua yang posturnya sekilas mirip kelapa hibrida tak subur itu sudah tahu jawabannya. Mereka, para nelayan tradisional itu sudah pasti tidak punya perhitungan tekhnis tentang itu. Yang mereka punya hanya naluri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan naluri itulah yang kemudian menjadi sejarah awal lahirnya empat sampan kotak di penyeberangan yang menghubungkan Kampung Dompak Lama dan Kampung Dompak Seberang. Kedua kampung yang berada di Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari, Tanjungpinang ini dipisahkan oleh sebuah selat pendek sejarak sekitar 200 meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena selat pendek yang tak bernama itulah, perjalanan menggunakan sepeda motor yang menghubungkan kedua kampung yang punya sejarah yang mirip ini pun menjadi panjang. Pengendara sepeda motor, setahun lalu, sebelum era kelahiran sampan kotak itu, meski memutar sejauh sampai sekitar 30 kilometer, melalui kawasan Wacopek, untuk sampai ke Kampung Dompak Seberang. Padahal bila naik sampan kotak, jarak tempuh tak sampai lima menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Pakcik Pade, lelaki asal Kampung Dompak Seberang yang memulai sejarah sampan kotak itu. Semuanya bermula dari kebetulan. Setahun lalu, ada turnamen sepakbola antar-kampung di Dompak Lama. Para warga Dompak Seberang punya kesebelasan kesayangan yang bertanding dalam turnamen tanpa piala itu. Mereka ingin menonton, namun terpaksa meletakkan motor di pinggir sungai karena tak bisa dibawa menyeberang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakcik Pade, yang sudah puluhan tahun mencari Ketam Renjong di Sei Dompak pun menangkap peluang bisnis itu. Setelah ketam sulit dicari, apalah daya nelayan Melayu tradisional itu. Maka Pakcik Pade pun bereksperimen, menyulap sampan tangkap ketamnya menjadi alat transportasi penyeberangan, laiknya kapal motor roro (roll-on/roll off). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberi nama sampan kotak, karena memang bentuk papan yang bisa mengapung itu mirip kotak, tapi tak bujur sangkar, melainkan persegi panjang. Lebih tepatnya kotak lonjong. Tapi orang Melayu terkenal sebagai orang-orang yang sederhana, termasuk sederhana dan efisien dalam memberi nama benda dan tempat di sekitar mereka. Nama sampan kotak lonjong tentu terlalu panjang, lebih singkat bila sekedar sampan kotak. “Kami sebut kotak &lt;em&gt;saje&lt;/em&gt;. Tapi sebut sampan kotak pon boleh &lt;em&gt;juge&lt;/em&gt;-lah,” kata Pakcik Rustam, sambil mendayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali angkut, sampan kotak Pakcik Rustam bisa membawa tiga sepeda motor sekaligus. Atau kalau pemilik motornya punya nyali, empat sepeda motor pun pernah Pakcik Rustam angkut. Tapi kalau pemilik sepeda motor buatan Jepang dan Cina itu masih pikir panjang, lebih baik bersabar menunggu sampan kotak lain, dari pada berdesakan. Maklum, tak ada asuransi di penyeberangan Roro Seungai Dompak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sekali Nyebrang, Tarifnya Lima Ribu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SAMPAN kotak itu kemudian telah mengubah sejarah hidup Syahrir, Pakcik Pade, Pakcik Rustam, maupun Meijan. Mereka dulu nelayan pemburu ketam renjong di Sungai Dompak. Namun sejak Pakcik Pade menemukan kapal Roro (roll on-roll off) made in Dompak, mereka berempat pun beralih profesi sebagai penambang sampan kotak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketam renjong kini menjadi komoditas langka di kawasan pesisir Tanjungpinang itu. Dulu, sekali turun ke laut, 10 kilo ketam renjong yang ditangkap dengan menggunakan bubu, bisa didapat. Tapi kini, berharap membawa pulang sekeranjang ketam renjong itu pun sudah terlalu muluk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakaruddin, nelayan pemburu ketam renjong yang tinggal di Kampung Kelam Pagi, Dompak Seberang bertutur tentang sulitnya berburu ketam renjong. “Kadang saya pulang hanya bawa seekor ketam saje,” kata Bakaruddin. Kalau nasib baik, paling banyak ia bisa menangkap satu kilogram ketam renjong, yang dijual seharga Rp 28-Rp 30 ribu di pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bisa dibayangkan penghasilan yang bisa dibawa pulang Syahrir, Pakcik Pade dan lainnya sewaktu masih menjadi menjadi nelayan ketam renjong dulu. Bandingkan kini misalnya, dengan penghasilan mereka setelah menjadi penambang sampan kotak. “Sehari saye bisa dapat Rp 50 ribu,” kata Syahrir, yang menekuni pekerjaan itu sejak sekitar setahun lalu itu. Sekali menyeberang, sebuah sepeda motor dikenakan tarif lima ribu rupiah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang sejumlah itu menjadi sambungan nafas bagi Syahrir untuk berbelanja kebutuhan pokok di tengah melonjaknya harga-harga seperti saat ini. Kalau lagi ada hajatan atau turnamen sepakbola antarkampung, penghasilan Syahrir tambah bengkak. “Kadang sehari bisa sampai Rp 100 ribu,” kata lelaki bertubuh gempal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal mereka pun tak besar. Mereka hanya perlu membuat sampan kotak berukuran panjang sekitar lima meter dan lebar tiga meter. Memang, bila dilihat sekilas, orang yang tak pernah menyeberang naik Kapal Roro khas buatan Dompak ini mungkin akan khawatir. Seperti misalnya bagi Agus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus terlahir di daratan Jawa, dan mungkin seumur hidupnya tak pernah melihat sampan kotak jenis seperti ini. Yang ia tahu model kapal roro adalah seperti di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, yang menghubungkan Banyuwangi dengan Bali. Padahal di penyeberangan tersebut, besar kapal roro mungkin 49 kali lipat dari kapal sampan kotak itu. Kapal roro di penyeberangan Banyuwangi-Bali sekali jalan bisa mengangkut belasan kendaraan roda empat. Sementara sampan kotak, sekali jalan maksimal hanya bisa mengangkut tiga sepeda motor. Itu pun sudah membuat Pakcik Pade dan Pakcik Rustam kelelahan mendayung sampan kotak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, sampan kotak itu pun sampai setelah setahun lebih beroperasi, belum pernah punya sejarah tenggelam seperti kapal Tampomas. Maka seperti bebek menemukan kolam, sesenang itulah Agus begitu menemukan adanya sampan kotak di Sungai Dompak itu. Lebih dari sepuluh menit Agus terus mengamati bentuk sampan kotak, sambil terus menghitung berat jenis sampan, sehingga masih tetap mengapung di permukaan air, meski mengangkut tiga sepeda motor dengan tiga pengendaranya sekaligus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu terkesima, lelaki yang baru setahun menetap di Tanjungpinang itu  pun sampai dua kali mencoba menyeberang dengan sampan kotak, bolak-balik, seperti strika baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih membuat Agus semakin kagum adalah pembagian sistem kerja di antara empat penambang sampan kotak. Di ujung Kampung Dompak Lama, dua orang penambang sampan kotak, Syahrir dan rekannya siaga menunggu penumpang. Sementara di ujung sebelah satunya lagi, yakni di Dompak Seberang, Pakcik Pade yang siaga. Begitu Syahrir mengangkut penumpang ke Dompak Seberang, maka ketika kembali ia tidak dibenarkan membawa penumpang. Sebab penumpang dari Dompak Seberang ke Dompak Lama adalah jatah Pakcik Pade. Karena itu, setahun pun mereka sama-sama mencari nafkah, tidak pernah timbul persaingan usaha tidak sehat. Bahkan ketika Syahrir mengayuh sampan kotak sampai bertemu Pakcik Rustam, ia terkekeh dan memberikan gelar Pakcik Rustam sebagai lelaki penambang sampan yang menyeramkan. Pakcik Rustam pun terkekeh, mengisap dalam-dalam rokok kereteknya. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-4744989061960176387?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/4744989061960176387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=4744989061960176387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4744989061960176387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/4744989061960176387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/kisah-perjalanan-marwah-di-sei-dompak.html' title='Kisah Perjalanan Marwah di Sei-Dompak'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3587979827982609993</id><published>2008-03-26T04:28:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T04:50:02.123-07:00</updated><title type='text'>Robbi van Tambelan...</title><content type='html'>DI tempat kami sering berkumpul main domino, di rumah si Paijo, Robby Van Tambelan ini punya julukan juga. Ada yang memanggilnya Si Telur Penyu, Si Kepala Batu dan lainnya. Kepala Batu yang dimaksud bukanlah karena persoalan kerasnya pendirian Robbi van Tambelan ini, tapi karena sebutan persoalan batu domino. di Tambelan, kata Robbi, kalau orang pertama yang menjalankan batu domino disebut "Kepala Batu", bukan reste. Padahal dalam pengetahuan batu domino kami yang sudah cukup teruji ini (hihi) si pemegang batu pertama adalah reste, bukan "Kepala Batu". Apa pulak Kepala Batu itu? Sejak itulah, si Robbi van Tambelan pun punya julukan baru, si "Kepala Batu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, ia mengontakku,dan menagih sejumlah foto-foto sewaktu aku dan beberapa sahabat mengunjungi kampungnya di Tambelan. Tahukah kalian Tambelan? Oh, silahkan buka peta, sebab ini adalah The Heaven That Floating in The Water. Aku berjanji padanya untuk mengirimkan fotonya. Maka inilah sejumlah foto sahabatku, si Robbi van Tambelan itu. Termasuk sebuah foto ketika ia berdiri di pulau miliknya. Selamat menyaksikan...hihi &lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1-fpZwvI/AAAAAAAAADg/xftKjqoNPPk/s1600-h/rob5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1-fpZwvI/AAAAAAAAADg/xftKjqoNPPk/s200/rob5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182013669006492402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1wPpZwuI/AAAAAAAAADY/PYyL0NvhETk/s1600-h/rob3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1wPpZwuI/AAAAAAAAADY/PYyL0NvhETk/s200/rob3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182013424193356514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1ivpZwtI/AAAAAAAAADQ/8mYqNzRH8Vs/s1600-h/rob4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1ivpZwtI/AAAAAAAAADQ/8mYqNzRH8Vs/s200/rob4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182013192265122514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1SPpZwsI/AAAAAAAAADI/HubDGgP5sD0/s1600-h/rob2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1SPpZwsI/AAAAAAAAADI/HubDGgP5sD0/s200/rob2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182012908797280962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1EvpZwrI/AAAAAAAAADA/HK-xLBNeYrY/s1600-h/rob1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1EvpZwrI/AAAAAAAAADA/HK-xLBNeYrY/s200/rob1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182012676869046962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;AKU punya sejumlah sahabat, tapi hanya satu dari mereka yang merupakan pewaris dari sebuah pulau...Aku menyebutnya Robbi van Tambelan...(hehe)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3587979827982609993?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3587979827982609993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3587979827982609993' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3587979827982609993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3587979827982609993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/robbi-van-tambelan.html' title='Robbi van Tambelan...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R-o1-fpZwvI/AAAAAAAAADg/xftKjqoNPPk/s72-c/rob5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-219883058059155696</id><published>2008-03-23T04:50:00.001-07:00</published><updated>2008-03-23T04:50:57.132-07:00</updated><title type='text'>Inilah Sejumlah Komentar di Blog Ini...</title><content type='html'>halo kawan...&lt;br /&gt;asyik sekali memang ngomong tentang teori kesejahteraan..&lt;br /&gt;lebih asyik lagi bermimpi tentang kesejahteraan..&lt;br /&gt;mau tahu yang lebih asyik???&lt;br /&gt;lupakan saja yang namanya kesejahteraan..&lt;br /&gt;karena menjadi sejahtera belum tentu tahu tentang kesejahteraan..&lt;br /&gt;karena tidak menjadi sejahtera juga belum tentu tahu bahwa kesejahteraan itu harus direbut..&lt;br /&gt;karena itu tak usah berharap, kawan..&lt;br /&gt;hanya mereka yang tidak pernah punya harapan yang tidak akan pernah punya tuntutan..&lt;br /&gt;ya gak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari jogja dengan cinta,&lt;br /&gt;salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yudha kusuma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat pagi kawan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi hari yang menyengat,&lt;br /&gt;embun pagi diterpa cahaya,&lt;br /&gt;siapa bilang menjadi sejahtera itu hebat,&lt;br /&gt;bila tak paham makna hidup bersahaja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunga kelapa namanya manggar,&lt;br /&gt;dimakan tupai tinggal tangkainya,&lt;br /&gt;masih papa sikapnya tegar,&lt;br /&gt;sudah kaya tetap tak berpunya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumput hijau makanan ternak,&lt;br /&gt;kacang hijau dimasak bubur,&lt;br /&gt;tak sejahtera sampai beranak-pinak,&lt;br /&gt;sakit sekali langsung dikubur..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bicara kesejahteraan sambil bertekak,&lt;br /&gt;si sejahtera lawan si tak sejahtera,&lt;br /&gt;sudah lupa anak beranak,&lt;br /&gt;jangan lupa semua bersaudara..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayo balas pantunnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-219883058059155696?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/219883058059155696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=219883058059155696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/219883058059155696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/219883058059155696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/inilah-sejumlah-komentar-di-blog-ini.html' title='Inilah Sejumlah Komentar di Blog Ini...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3673438885357721151</id><published>2008-03-18T01:16:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T01:17:37.240-07:00</updated><title type='text'>Kisah Kampung Penyadap Karet</title><content type='html'>&lt;em&gt;INILAH kampung yang dihuni oleh para penyadap karet tangguh itu. Sekitar 50 kepala keluarga (KK) penghuni kampung itu mayoritas bekerja sebagai penyadap karet. Tapi hujan deras yang turun mengguyur bumi Bintan sejak sekitar setengah bulan terakhir membuat mereka kehilangan penghasilan sama sekali.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih belum reda ketika Rozikin (39) menghidupkan sepeda motor Jepangnya berjalan keliling kampung. Hujan tak membuat langkah Rozikin surut. Lelaki yang berprofesi sebagai penyadap karet sekaligus merangkap ojek karet itu sudah setengah bulan terakhir nyaris kehilangan penghasilan. Hujan yang turun deras sepanjang hari membuat ia tak bisa pergi ke kebun dan menyadap karet. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi Rozikin punya profesi sampingan. Ia menyebut profesi itu sebagai ngojek karet. Saban hari, setelah usai menyadap karet, Rozikin dengan bermodal sepeda motor Jepang dan keranjang rotan di jok belakangnya keliling kampung untuk mengambil karet-karet hasil sadapan warga. Kemudian karet itu ia bawa ke penampung di Batu 52, Jalan Tanjunguban. Maka profesi itu kemudian juga sekaligus memberi gelar baru pada Rozikin, yakni ngojek karet. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mayoritas warga di Kampung Jibut, Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan memang berprofesi sebagai penyadap karet. Tapi tidak semua dari mereka yang memiliki kesempatan untuk langsung mengantar karet hasil sadapan itu ke penampung yang jaraknya sekitar 12 kilo meter dari kampung itu. Maka di situlah, setiap petang, mereka menunggu kedatangan Rozikin untuk mengambil hasil karetnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, sejak setengah bulan terakhir, pendapatan Rozikin menurun. Hujan membuat langkah orang kampung menjadi terbatas. Kebun-kebun getah mereka tak bisa diolah ketika hujan deras turun. Bukan karena warga tak berani menembus hutan getah dan menyadap karet, tetapi lebih karena persoalan alamiah yang tidak bisa mereka lawan. Ketika hujan turun, pohon-pohon getah tidak bisa maksimal memproduksi getah karet. Selain itu, memaksakan diri menyadap karet di musim hujan juga akan beresiko merusak pohon getah tempat sandaran hidup mereka itu. Karena itu, tak ada pilihan lain bagi para penyadap karet itu, kecuali berdoa kepada Tuhan dan meminta untuk hujan segera berlalu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;25 tahun sudah Rozikin menghabiskan waktu di kebun karet. Sebenarnya, sejak kecil ia sudah akrab dengan kebun karet. Namun profesi itu baru ditekuni secara serius oleh lelaki berkulit sawo matang itu sejak sekitar 25 tahun lalu. Ia menjalani profesi itu, karena memang hampir seluruh warga di kampung itu melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejarah kebuh getah di kampung itu memang masih terbilang baru. Dulunya, sebelum tahun 1980-an, seluruh kampung hijau oleh dedaunan gambir. Kala itu, komoditas gambir menjadi primadona utama usaha perkebunan rakyat di Tanah Bintan. Namun sejak permintaan terhadap komoditas ini mulai merosot di pasaran dunia, warga pun menebangi satu persatu pohon gambir dan menggantinya dengan pohon karet. Meski harganya tidak semahal gambir, tetapi mereka tidak punya pilihan lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini, sekilo karet hanya dihargai antara tujuh ribu sampai delapan ribu rupiah. Dalam sehari, bila memiliki lahan sekitar satu hektar dalam sehari mereka bisa mendapatkan lima sampai tujuh kilogram ojol. Ojol adalah istilah untuk karet yang belum diolah. Artinya, bila sekilo ojol seharga sekitar tujuh ribu, maka penghasilan warga kampung itu dalam sehari sekitar Rp 35 sampai Rp 49 ribu rupiah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun kini hujan telah merengut penghasilan mereka. Dalam setengah bulan terakhir, para penyadap karet tangguh itu pun hanya mampu berdiam diri di rumah. Beberapa di antaranya malah memilih pergi ke tempat saudara mereka di kampung tetangga, sambil menunggu musim hujan berlalu. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3673438885357721151?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3673438885357721151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3673438885357721151' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3673438885357721151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3673438885357721151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/kisah-kampung-penyadap-karet.html' title='Kisah Kampung Penyadap Karet'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5209251382984349688</id><published>2008-03-18T01:14:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T01:16:07.465-07:00</updated><title type='text'>19 Tahun tak Pernah Beli Minyak Goreng</title><content type='html'>KENAIKAN harga minyak goreng yang tak terkendali telah menambah panjang beban kehidupan masyarakat kecil. Ini adalah kisah tentang kekagetan Suyati, seorang warga Kampung Jibut, Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan terhadap kenaikan harga minyak goreng yang sudah melewati ambang batas kewajaran itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pekan lalu, untuk pertama kalinya dalam 19 tahun terakhir, Suyati pergi ke kedai kelontong di Simpang Lagoi, yang berjarak sekitar tujuh kilo meter dari rumahnya di pedalaman itu.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak seperti biasa, dalam daftar belanjaan yang tertuang di pikirannya, tertera minyak goreng. Padahal 19 tahun terakir Suyati tak pernah membeli komoditas ini. Bukannya ia tak pernah mengolah bahan makanan dengan cara menggoreng. Tapi Suyati punya cara yang lebih efisien, yakni memproduksi sendiri minyak goreng dari kelapa. Pola seperti ini dijalaninya selama 19 tahun terakhir, dari mulai ketika harga minyak goreng hanya beberapa ribu rupiah saja, sampai kemudian tembus ke angka belasan ribu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya kaget sekali, kok harganya sekarang sudah Rp 15 ribu ya,” kata Suyati. Ia ragu apakah sang pemilik toko kelontongan salah ucap, atau ia yang salah mendengar. Tapi setelah ia berusaha memastikan, baru wanita asal Pacitan, Jawa Timur itu paham bahwa harga minyak goreng sudah sulit dijangkaunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tapi karena butuh, tetap saya beli,” lanjut Suyati. Ia tak punya pilihan lain. Pohon-pohon kelapa di belakang rumahnya, karena di makan usia, sudah tak bisa berbuah lagi. Karena itu, ia pun tak bisa mengolah minyak kelapa sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Padahal selama 19 tahun, setiap dua bulan sekali, Suyati pergi ke kebun dan mengambil sekitar 50 butir kelapa. Setelah dibelah, kemudian bagian dalam kelapa itu diparutnya sendiri hingga kemudian diolah menjadi santan dengan cara mencampurkan air matang ke dalam hasil parutan tadi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah itu, santan akan didiamkan selama satu malam. “Besok paginya, minyak akan naik ke permukaan,” lanjut istri dari Untung Sugiarto ini. Baru setelah itu ia pun akan menciduk minyak tersebut dan menjerangnya di perapian sekitar setengah jam. Kemudian hasilnya, terwujudlah minyak kelapa, yang siap digunakan untuk menggoreng. “Rasanya lebih wangi dari minyak goreng,” kata Suyati lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di kawasan pedesaan di Pulau Jawa, memproduksi minyak goreng dari kelapa ini bukanlah barang baru. Namun untuk di Pulau Bintan, warga selama ini lebih mengandalkan minyak goreng curah hasil olahan pabrik. Sedikit sekali dari mereka yang mau bersusah payah untuk mengolah kelapa menjadi minyak goreng.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayang, di tengah kenaikan harga minyak goreng seperti saat ini, justru Suyati tidak bisa memproduksi sendiri minyak kelapa itu. Padahal apabila biji-biji kelapa masih berbuah di kebunnya, setidaknya Suyati dapat menghemat belanja sejumlah belasan ribu rupiah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak hanya Suyati yang cukup terpukul dengan kenaikan komoditas ini. Sejumlah warga Kampung Jibut lainnya juga demikian. Di Tanjungpinang sendiri, pantauan Tribun, harga minyak goreng di pasar tradisional masih berkisar pada angka Rp 12 sampai Rp 13ribu per kilonya. Namun harga di Simpang Lagoi, yang berjarak sekitar 65 kilometer dari Tanjungpinang justru sudah menembus angka Rp 15 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga cukup khawatir akan rentannya komoditas ini terhadap kenaikan lagi. Namun mereka sejauh ini belum mengetahui bila akan ada rencana pemerintah pusat untuk mensubsidi kebutuhan minyak goreng rumah tangga miskin sejumlah Rp 2.500 per liter, dan maksimal dua liter dalam sebulan. Bila memang ada kebijakan seperti itu, mereka berharap dapat menikmatinya. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5209251382984349688?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5209251382984349688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5209251382984349688' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5209251382984349688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5209251382984349688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/19-tahun-tak-pernah-beli-minyak-goreng.html' title='19 Tahun tak Pernah Beli Minyak Goreng'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3868802895913385326</id><published>2008-03-13T05:31:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T05:36:04.220-07:00</updated><title type='text'>Pagi di Tambelan...</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9kfGHd33iI/AAAAAAAAAC0/PohOpp4VNdM/s1600-h/matahari.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9kfGHd33iI/AAAAAAAAAC0/PohOpp4VNdM/s200/matahari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177203436583116322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9ke2Xd33hI/AAAAAAAAACs/f9Ed9PdRotc/s1600-h/MATAHARI+TAMBELAN.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9ke2Xd33hI/AAAAAAAAACs/f9Ed9PdRotc/s200/MATAHARI+TAMBELAN.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177203166000176658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TAMBELAN adalah kumpulan perjalanan. Di gugusan pulau yang terkatung-katung di Laut Cina Selatan inilah, orang-orang berbicara tentang pagi yang memikat, anak-anak penyu yang berjalan tertatih menuju laut, dan sejuta harapan...ikuti kisah perjalanan ke Tambelan ini dalam posting selanjutnya (hehehe)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3868802895913385326?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3868802895913385326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3868802895913385326' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3868802895913385326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3868802895913385326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/pagi-di-tambelan.html' title='Pagi di Tambelan...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9kfGHd33iI/AAAAAAAAAC0/PohOpp4VNdM/s72-c/matahari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-6604293530395413156</id><published>2008-03-07T03:36:00.001-08:00</published><updated>2008-03-07T03:47:34.415-08:00</updated><title type='text'>Ketika Teori Kesejahteraan itu Pupus....</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9ErRHd33gI/AAAAAAAAACk/lBUY5q0L6rg/s1600-h/nyonk2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9ErRHd33gI/AAAAAAAAACk/lBUY5q0L6rg/s200/nyonk2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174965019887525378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9Eqfnd33fI/AAAAAAAAACc/lQww45BcJAE/s1600-h/nyonk+1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9Eqfnd33fI/AAAAAAAAACc/lQww45BcJAE/s200/nyonk+1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174964169484000754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9Ep33d33eI/AAAAAAAAACU/0seO4ejJkJ4/s1600-h/0703Ambil_Air_Nyonk+(2).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9Ep33d33eI/AAAAAAAAACU/0seO4ejJkJ4/s200/0703Ambil_Air_Nyonk+(2).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174963486584200674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pakcik Jamal (60) dengan tertatih mengambil air dari sebuah sumur tua berjarak sekitar setengah kilometer dari gubuknya. Foto ini diambil oleh sahabat saya Nurul Iman (Inyonk) sewaktu kami mendatangi Kampung Masiran, akhir Februari lalu. Juga ada foto Pakcik Kube dan istrinya di gubuk mereka, serta keseharian mereka yang bekerja sebagai pembuat sapu lidi. Satu buah sapu lidi hanya dihargai Rp 1.400. Padahal dalam satu hari, mereka hanya bisa membuat dua sapu lidi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-6604293530395413156?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/6604293530395413156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=6604293530395413156' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6604293530395413156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6604293530395413156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/ketika-teori-kesejahteraan-itu-pupus.html' title='Ketika Teori Kesejahteraan itu Pupus....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R9ErRHd33gI/AAAAAAAAACk/lBUY5q0L6rg/s72-c/nyonk2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5312280115639049796</id><published>2008-03-06T03:37:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T03:41:21.477-08:00</updated><title type='text'>Kemiskinan di Kampung Masiran...</title><content type='html'>&lt;em&gt;WAKTU seperti berhenti di Kampung Masiran. Tidak ada bising kendaraan dan kesibukan kota, apalagi polusi udara. Yang ada hanya deret pohon kelapa, para pembuat sapu lidi, dan kemiskinan…&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas tengah hari, ruas Jalan Galang Batang tiba-tiba menjadi teka-teki. Tak ada penunjuk jalan yang pasti kecuali kubangan-kubangan raksasa bekas penggalian pasir. Setiap bertanya ke penduduk di mana letak Kampung Masiran, arah penunjuk jalan yang mereka gunakan adalah danau-danau bekas galian pasir itu. Padahal mungkin ada puluhan danau di situ, yang bentuknya nyaris sama dan luasnya rata-rata lebih dari dua kali lapangan sepak bola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pencarian kampung yang terkenal karena kemiskinannya itu berakhir di sebuah persimpangan jalan berpasir yang di sudutnya berdiri sebuah pos jaga. Rudi Hartono, anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Galang Batang, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan siang itu baru pulang dari kantornya yang berjarak sekitar delapan kilometer dari persimpangan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari ikut di belakang saya,” kata Rudi bersahabat. Dua kilometer jalan tanah merah pun kemudian dilalui, hingga sampai pada rumah pertama. Di tengah jalan tadi, Rudi sempat berhenti untuk memberikan boncengan pada Vina dan Fida, dua gadis kecil dari Kampung Masiran yang sekolah di sebuah SD di Kangka, sekitar delapan kilometer dari kampung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka tiap hari seperti itu. Kalau tak ada orang jemput, mereka numpang kendaraan yang lewat sampai simpang. Setelah itu jalan kaki dua kilometer ke kampung,” kata Rudi usai memarkir sepeda motor buatan Jepang di halaman rumah panggung miliknya.  &lt;br /&gt;Vina dan Fida relatif masih beruntung, karena masih bisa mengenyam bangku sekolah. Tapi sampai ke jenjang pendidikan yang mana mereka bisa tempuh, masih jadi teka-teki. Kawan-kawan Vina dan Fida banyak yang putus sekolah. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah bangun pagi dan merasakan nikmatnya pakai sepatu baru berangkat ke sekolah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung dengan penduduk sekitar 37 kepala keluarga, atau lebih dari 100 jiwa itu memiliki tradisi pendidikan yang buram. Puluhan tahun, dari generasi berganti generasi, dari mulai sekolah bayar sampai biaya sekolah menjadi agak ringan karena ada dana bantuan operasional sekolah (BOS), baru ada satu penduduk asli kampung itu yang bisa menyelesaikan bangu madrasah tswanawiyah (MTs), setingkat SMP. Selebihnya, terpaksa berkubang dengan keringat menjadi nelayan, buruh bangunan, atau merantau ke Tanjungpinang yang juga kadang tak bisa memberikan mereka pekerjaan yang layak. &lt;br /&gt;Maka hanya Syamsul Bahri-lah yang kemudian berhasil mengukir namanya di selembar ijazah MTs. Ia putra Ibu Rustati, seorang wanita berusia lebih dari 50 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat sapu lidi dari daun kelapa. Setelah Syamsul Bahri tamat, tidak ada lagi pemuda kampung yang ikut jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan untuk Iwan kecil, seorang bocah kampung lainnya, tak pernah sekali pun merasakan nikmatnya mengeja “ini Budi dan ini ibu Budi”. Yang ia kenal hanyalah kambing-kambing tetangga yang saban hari kandangnya ia bersihkan. Dari sanalah ia mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membantu ayah ibunya yang telah renta. &lt;br /&gt;Iwan tak bisa baca tulis, termasuk tak tahu umurnya kini sudah berapa. Saat ditanya persoalan itu, keningnya mengernyit. Pertanyaan umur adalah pertanyaan pelik bagi anak kampung seperti Iwan. “Kami sangat berharap ada program Kejar Paket A untuk anak-anak putus sekolah di kampung ini,” kata Rudy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejak beberapa bulan lalu, sudah digelar program Paket A untuk warga kampung. Namun itu masih sebatas untuk para orangtua saja. Sementara jumlah anak putus sekolah di kampung itu ada belasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan Ismail yang dikonfirmasi melalui ponselnya mengatakan bahwa sangat mungkin program Paket A maupun B untuk anak putus sekolah digelar di kampung itu. Saat ini, kata Ismail, pihaknya sedangmelakukan pendataan melalui kecamatan. “Sekitar Juni nanti programnya sudah bisa berjalan,” kata Ismail lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk Kampung Masiran, sepengetahuan Rudi, sampai saat ini belum ada pendataan anak-anak putus sekolah. Ia begitu berharap, Juni nanti akan ada tenaga pengajar yang datang ke kampung itu untuk mengajari anak kampung baca-tulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hidup dari Batangan Sapu Lidi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIM angin utara yang terus berlangsung sejak November lalu menyurutkan warga Masiran untuk turun ke laut. Kini, mereka hanya mengais rezeki sebagai pembuat sapu lidi dari daun kelapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak-anak sekolah, sapu lidi dari daun kelapa mungkin hanya sekedar pra karya menjelang kenaikan kelas. Tapi bagi Nyonya Sunah, Pakcik Kube, atau Nyonya Rustati, sapu lidi itu kemudian adalah sandaran hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang yang semakin dekat di Kampung Masiran Rabu (27/2) kemarin dilalui Sunah (52) dengan memotong daun kelapa. Dari tiap helai daun itu, ia mengambil batang kecilnya, yang kemudian satu persatu dikumpulkan dan diikat hingga menjadi sapu lidi. “Sejak pagi hingga malam saye bikin sapu lidi ni,” kata Sunah, yang berasal dari Pulau Mantang Riau yang sejak kecil sudah menetap di Kampung Masiran, Desa Galangbatang, Kecamatan Gunungkijang, Kabupaten Bintan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari, bersama suaminya, Pakcik Jamal (60), Sunah bisa membuat empat ikat sapu lidi yang masing-masing besarnya seukuran dua genggaman orang dewasa. Sapu-sapu itu ia kumpulkan, sambil menunggu seorang tauke datang dari Kawal. Biasanya sang tauke datang sekitar 20 hari sekali. Namun adakalanya ia juga bisa datang dua kali sebulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seikat sapu lidi dijual Sunah seharga Rp 1.400. Artinya bila sehari bisa membuat empat ikat, penghasilan Sunah hanya Rp 5.600. Padahal saat ini, ketika pemerintah tak bisa lagi mengendalikan harga sembako yang melonjak sejak awal tahun 2008 ini, sekilo beras harganya sudah di atas lima ribu. Dulu memang ada beras raskin yang harganya sekilo sekitar Rp 1.500. Namun sayang, kini beras jatah kaum miskin itu sudah tak singgah lagi di Masiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunah dan Jamal masih lumayan, karena bisa membuat empat ikat sapu dalam sehari semalam. Tapi lihatlah Pakcik Kube (sekitar 60 tahun), dalam sehari bersama sang istri, ia hanya bisa membuat dua ikat sapu. Artinya sehari ia hanya akan mendapatkan uang Rp 2.800, atau hanya seharga dua bungkus kecil pembersih rambut yang iklannya kerap muncul di layar televisi itu. Baik Kube dan Jamal sendiri sudah tak bisa turun lagi ke laut. Selain ombak yang teramat ganas di musim utara, mereka juga telah sepuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan caranya sendiri, diam-diam daun-daun kelapa yang tumbuh liar di tepi pantai menjadi juru selamat bagi orang-orang Masiran. Dari sekitar 37 kepala keluarga (KK) yang hidup di kampung itu, sekitar 20 KK di antaranya bergantung pada batang demi batang sapu lidi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rustati telah membuat sapu lidi sejak sekitar 20 tahun lalu, saat harganya seikat hanya Rp 25 saja. “Sekarang dah Rp 1.400. Kami pon nak minta naik lagi jadi Rp 1.500. Saye nak bikin rumah sendiri. Sekarang masih menumpang di rumah anak,” kata ibu dari enam orang anak ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi-mimpi tentang kesejahteraan mungkin sudah lama mereka buang jauh-jauh. Kube, Jamal, Sunah, atau Rustati kini hidup dengan lebih menyuburkan semangat dan berdoa agar batang demi batang kelapa di kampung itu masih tumbuh subur. Sebab kalau kelapa sudah berhenti tumbuh, maka berhenti pula denyut nadi kehidupan di kampung itu. &lt;br /&gt;Tanah Kampung Masiran sejak 20 tahun lalu menjelma menjadi rawa. Air naik sampai jauh ke darat, ke bawah rumah panggung mereka ketika musim utara. Dulu, ketika Kube atau Jamal masih kecil, orangtua mereka masih bisa menanam ubi jalar, sayur mayur, juga cabai. Tapi kini, jangankan sayur, ilalang pun sudah mulai enggan tumbuh. Hanya bakau-bakau saja yang semakin subur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah yang seperti itu, air bersih kemudian menjadi barang langka. Penduduk kampung hanya mengandalkan sebuah sumur tua di ujung kampung. Namun air jernih itu lebih banyak kandungan garamnya. “Sampai di dasar sumur, ketam pun bisa hidup,” kata Rudi Hartono, anggota BPD Desa Galang Batang yang tinggal di kampung itu. &lt;br /&gt;Petang itu, di seruas jalan berlumpur menuju pantai, kami melihat Pakcik Jamal tengah menggendong dua buah jeligen yang terisi air. Begitu melihat ada orang asing berjalan ke arahnya, Pakcik Jamal justru sembunyi di balik sebatang pohon kelapa tua. “Dia meang agak takut bertemu orang asing,” kata Rudi. Setelah dipanggil berkali oleh Rudi, baru Pakcik Jamal keluar dari persembunyiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari Pakcik Jamal bersama Sunah harus bolak balik ke sumur yang jaraknya sekitar 500 meter dari belakang gubuk mereka. “Kalau nak mandi, kami mesti ke sumur tu,” kata Jamal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lima Tahun Bermimpi Punya Surau&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP Jumat pagi, mereka berjalan delapan kilometer (KM) untuk mencapai masjid terdekat. Lima tahun warga kampung bermimpi untuk punya surau kecil di tengah kampung. Tapi mimpi itu belum teraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti sudah aktivitas membuat sapu lidi dari daun kelapa di tiap Jumat pagi. Pakcik Kube memakai baju terbaik yang pernah dimilikinya. Sejak pagi, ia sudah siap-siap. Tepat sekitar pukul 09.00 WIB, ia sudah melangkahkan kaki meninggalkan gubuknya. Pakcik Kuber berjalan sejauh delapan kilometer untuk bertemu Tuhan, menunaikan ibadah wajib Shalat Jumat di masjid terdekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sepeda balap tergantung di dinding rumahnya. Sepeda itu sudah menjadi barang rongsokan dan tidak bisa dipergunakan Pakcik Kube untuk sampai ke masjid. “Saye harus jalan kaki. Tapi kalau pulang, biasanye ade tumpangan,” kata Pakcik yang jujur mengaku tidak tahu umurnya sudah setua apa saat ini. “Saye tak paham berape umur saye, Pak. Terserah Bapak nak buat berape, buat sajelah,” kata Pakcik Kube, tersenyum, lalu menghisap sebatang tembakau yang dilinting dengan kertas. Namun menurut orang kampung, diperkirakan Pakcik Kube sudah berusia sekitar 60 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tiap Jumat pagi datang, Pakcik Kube pun sudah bersiap-siap mendatangi rumah Tuhan dengan berjalan kaki. Dari jalan tanah merah, ia lewati jalan berpasir, jalan aspal yang lenggang dan meliuk-liuk. Langkah Pakcik bertubuh mungil ini pelan, tak segesit dulu ketika masih muda. Sambil berjalan kaki, kadang ia memanjatkan doa pada Tuhan, agar kelak, di kampungnya, akan terbangun sebuah surau kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi tentang sebuah surau kecil di tengah kampung tak hanya mimpi Pakcik Kube saja. Mimpi itu kemudian juga menjadi mimpi Pakcik Jamal, Pakcik M Ali, Rudi Hartono, serta orang-orang di kampung yang dihuni sekitar 37 kepala keluarga itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Ali (50), seorang warga kampung, bahkan dengan keikhlasannya tersendiri telah menyerahkan sepetak tanah berukuran 20 kali 20 meter untuk lokasi pembangunan surau. Ia punya lahan seluas satu hektar yang ditumbuhi pohon kelapa. Namun karena ia juga punya mimpi yang sama dengan Pakcik Kube, maka beberapa waktu silam, ia pergi ke hutan dan mencari empat tiang kayu. Kemudian dipatoknya kayu di empat sudut tanah yang ia wakafkan untuk pembangunan surau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali lahir di kampung itu. Almarhum ayahnya berasal dari Pacitan, Jawa Timur. Tentara Jepang yang membawa ayahnya ke Pulau Bintan. Lantas sepeninggalan Jepang, ayahnya bertemu dengan ibunya di kampung ini. Mereka pun menikah, dan lahirlah Ali. “Jadi yang membuat ayah saya sampai di kampung ini, karena dibawa Jepang,” kata Ali sambil membonceng Tribun di sepeda motor buatan Jepang miliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini lokasi pembangunan surau itu,” kata Ali, setelah turun dari sepeda motor. Lokasinya sengaja dipilih persis di tengah kampung, agar mudah dijangkau warga. Tanah sepetak yang masih ditumbuhi ilalang dan pohon kelapa itu itu berada persis di pinggir jalan tanah merah yag membelah kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama mimpi kecil itulah, warga desa tergerak untuk membentuk panitia pembangunan surau. Sudah beberapa kali berganti kepengurusan, belum bisa mimpi itu diraih. Kini yang dipercaya sebagai Ketua Panitia pembangunan surau adalah Bang Simadupa. “Nanti kami juga ingin membikin taman pendidikan Al-Quran (TPA) di masjid itu,” kata Simadupa yang terkenal sebagai pelaut ulung di kampung itu. Ada belasan anak kampung yang tak saja putus sekolah karena kemiskinan, tetapi juga sekaligus belum bisa baca tulis Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa bulan lalu, warga pun melalukan inisiatif untuk mengumpulkan dana pembangunan surau. Tapi apalah daya mereka, yang sehari-hari hanya bekerja sebagai nelayan tradisional dan pembuat sapu lidi. Maka setelah hampir setahun, dana yang terkumpul pun baru Rp 2,6 juta. Padahal untuk bangun surau ukuran enam kali enam di tengah harga-harga bahan bangunan yang meroket seperti saat ini, diperkirakan bisa menembus angka Rp 30 juta.     &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tiga Rumah Nyaris Roboh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INILAH akhir dari kisah tentang pupusnya mimpi-mimpi kesejahteraan di Tanah Masiran. Selain hidup serba kekurangan, delapan rumah warga pun masuk kategori tak terlalu layak huni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari delapan rumah itu, tiga di antaranya bahkan sudah masuk kategori emergency, alias sewaktu waktu bisa roboh bila diterjang angin kencang. “Ada delapan rumah yang sudah tak layak huni lagi,” kata Rudi Hartono, anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Gunungkijang. Pakcik Kube dan Pakcik Jamal, dua dari tiga pemilik rumah-rumah itu bercerita tentang angin yang sangat mereka khawatirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau angin bertiup, sudah seperti pakai AC (air conditioner), Pak,” kata Pakcik Kube berseloroh. Ia punya cara tersendiri untuk membahasakan kepedihan hidupnya. AC yang dimaksud Pakcik bersusia sekitar 60 tahun itu adalah angin yang menerobos dari lubang-lubang yang banyak muncul di dinding rumah panggungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan persoalan angin masuk ke dalam rumah yag dirisaukan Pakcik Kube. Adalah tiang penyangga rumah yang sudah mulai lapuk setinggi dua meter itulah yang jadi pangkal masalah. Bila angin kencang bertiup, rumah itu pun bergoyang, seperti sebuah sampan yang terhantam ombak kecil di pinggir pantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakcik Kube tentu merasa khawatir. Karena itu, ia pergi ke hutan dan mengambil beberapa tongak kayu untuk mengganjal panggung rumahnya. Rumah panggung yang separuh beratap rumbia dan separuh asbes bocor itu tingginya sekitar dua meter dari permukaan tanah. Kalau hujan, air pun menerobos atap dan masuk menggenagi lantai rumah yang terbuat dari papan, yang juga nyaris di seluruh bagiannya sudah bocor-bocor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan untuk membandingkan, tapi ternyata, separah-parahnya rumah Pakcik Kube, masih lebih parah lagi rumah Pakcik Jamal, yangberjarak sekitar 100 meter dari rumah Pakcik Kube. Bila rumah pakcik Kube masih memiliki dua kamar tidur, rumah Pakcik Jamal sama sekali tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada hanyalah sebuah ruangan seukuran sekitar tiga kali empat meter saja. Di sana Pakcik Jamal dan istrinya, Makcik Sunah bekerja, memasak, menyimpan pakaian, dan sekaligus tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makcik Sunnah sedang membenarkan jala ketika kami datang. Ia tak mau terlalu bercerita tentang kepedihan hidupnya. Namun dari garis-garis wajah wanita asal Pulau Mantang itu, tergambar betapa nyaris di seluruh umurnya yang kini sudah lebih dari 50tahun itu, ia sudah bekerja teramat keras, dari mulai menjadi tukang pembuat lidi, cari ikan ke laut, hingga apa saja.  Pakcik Jamal tak ada di rumah ketika kami dating. “Ia sedang mengambil air,” kata Makcik Sunah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air bersih kemudian juga menjadi persoalan bagi warga kampung. Tanah kampung yang berbatasan dengan laut itu payau. Sumur warga pun berair payau, alias bening tapi rasanya asin. Hanya ada satu sumur yang kini diandalkan warga, yakni sumur di tepi pantai, yangjaraknya sekitar 500 meter dari rumah Pakcik Jamal. Meski airnya tetap terasa asin, tapi menurut warga, masih lebih baik kondisinya dibanding sumur lain di kampung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pergi menyusuri jalan tanah berlumpur untuk menemui Pakcik Jamal. Langkah kami terhenti sewaktu melihat lelaki yang sudah renta berusia sekitar 60 tahun itu tengah menggendong dua jeligen air. “Tiap hari kalau air habis, saye pergi ambil air,” kata Pakcik Jamal sambil berjalan pelan menyusuri rawa-rawa yang dipenuhi rerimbunan bakau itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Tanah Masiran, yang kepadanya 37 kepala keluarga masih menyimpan mimpi dan kenangan. Sesulit apapun hidup di kampung itu, tapi mereka tak bisa beranjak pergi, karena memang sejumlah kenangan, meskipun pahit, telah mereka ukur di atas tanah berawa itu. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5312280115639049796?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5312280115639049796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5312280115639049796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5312280115639049796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5312280115639049796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/03/kemiskinan-di-kampung-masiran.html' title='Kemiskinan di Kampung Masiran...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2248819027631011059</id><published>2008-02-27T04:22:00.000-08:00</published><updated>2008-02-27T04:27:57.472-08:00</updated><title type='text'>Kisah Semangkuk Bubur Asyura</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;br /&gt;ZAMAN boleh berganti. Makanan cepat saji sekelas piza sampai hamburger, juga mie instant boleh saja menjadi bagian keseharian mereka. Tapi tiap 11 Muharram, ada satu menu yang selalu lekat dalam ingatan mereka: bubur asyura. Ini adalah kisah bagaimana orang-orang Tambelan di Tanjunginang dengan setia menjaga tradisi itu. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA kesibukan luar biasa yang berlangsung sejak pagi di rumah Ajis Saleh (72), seorang sesepuh masyarakat Tambelan di Tanjungpinang sejak Kamis (17/1) kemarin. Bahan makanan dari berbagai jenis tertumpuk di pojok dapur rumah yang berada di kawasan Jalan Sukarno-Hatta itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, lebih dari 40 jenis makanan, dari mulai beras, ubi, kelapa, kentang, keledek, hingga keladi dan labu ada di antara tumpukan bahan makanan itu. “Ini untuk mempersiapkan bubur asyura,” kata Ajis, yang merupakan pensiunan pegawai negeri di Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kesibukan mempersiapkan pembuatan bubur asyura ini bukanlah hal yang baru bagi keluarga ini. Sejak tahun 1976, sewaktu Ajis dan keluarga masih tinggal di kawasan Teluk Keriting, Tanjungpinang, tradisi seperti ini sudah dimulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang berbeda dengan yang terjadi pada tahun ini. Jemaah Masjid As-Shobirin, masjid yang berjarak satu gang dari rumah Ajis memintanya untuk membuat bubur asyura. Waktu itu, jemaah masjid mengadakan rapat. Kemudian usulan disampaikan ke Wakil Gubernur Provinsi Kepri M Sani, yang rumahnya persis di samping masjid yang berlokasi di Jalan Cempedak itu. Sani pun menyambut baik ide tersebut. Setelah itu dikirimlah seorang utusan untuk menemui Ajis. Rencananya bubur asyura akan disajikan ada 11 Muharram, atau jatuh pada Sabtu (20/1) besok. Istri Ajis, Mishbach (60) pun ditunjuk sebagai koordinator tim pembuatan bubur asyura tersebut.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu tidak pernah. Ini memang baru yang pertama kali,” kata Ajis. Tahun-tahun sebelumnya, tradisi ini hanya dilangsungkan di rumah Ajis saja. Usai menjalankan ritual puasa pada 9-10 Muharram, seluruh sanak kerabat dan handai taulan serta warga Tambelan yang merantau di Tanjunginang diundang untuk datang ke rumah Ajis. Mereka disuguhkan bubur yang terbuat dari campuran lebih dari 40 jenis bahan makanan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari menjelang tengah hari hingga petang, satu persatu tamu datang. Tak kurang ada 100 orang lebih yang datang tahun lalu. “Biasanya disejalankan dengan arisan ibu-ibu warga Tambelan,” kata Ajis yang juga pernah menjadi penilik Kebudayaan sewaktu bertugas di Tambelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubur asyura memang kemudian menjadi simbol, bagaimana warga Tambelan yang merantau ke Tanjungpinang tetap menjaga rasa kekeluargaan mereka. Tak sekedar datang dan mencicipi sendok demi sendok bubur tersebut, tapi mereka juga saling berbagi cerita, sekedar melepaskan rindu pada kampung halaman mereka yang terpisahkan sekitar 20 jam lebih perjalanan dengan menggunakan kapal laut dari Tanjunginang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bubur asyura sekaligus menjadi penanda bahwa rasa gotong royong masih mereka simpan. Biasanya, sebelum dimulai pembuatan bubur tersebut, sekitar tiga hari sebelum tanggal 11 Muhharram, warga Tambelan satu persatu datang ke rumah Ajis untuk menyumbang berbagai jenis makanan. Ada yang membawa beras, ubi, bahkan ikan. Setelah itu, Mishbach-lah yang kemudian menggolah seluruh bahan makanan itu menjadi bubur asyura yang memiliki cita rasa eksotis tersendiri.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun proses pembuatannya tak bisa dibilang mudah. Satu persatu bahan diramu dan kemudian diaduk hingga memiliki cita rasa yang khas. Seperti misalnya untuk ikan yang menjadi satu dari lebih 40 campuran bubur tersebut. Ikan yang dipilih adalah dari jenis tertentu, seperti Ikan Jahan atau Ikan Tamban. “Tapi ikan-ikan itu akan diolah. Hingga sewaktu menjadi bubur, sudah tidak nampak lagi dagingnya. Tapi rasa bubur itu memiliki rasa ikan,” kata Ajis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rumitnya roses pengolahan itulah, maka minimal dibutuhkan waktu tiga hari sebelum saat penyajian, Mishbach sudah bekerja. Kamis malam, jam dinding di rumah Ajis memang sudah bergerak ke angka 10 lebih. Namun seorang putrinya, Aria Setiani masih tampak memegang pisau dan mengupas bawang. Disamping rumah, sebuah dapur darurat sudah dibuat oleh anak-anak Ajis lainnya. Mereka bahu membahu menyelesaikan hidangan yang hanya muncul sekali setahun itu.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUBUR ASYURA TERNYATA TAK SEKEDAR JENIS HIDANGAN MAKANAN BIASA. Lebih dari sekitar 500 tahun yang lalu, orang-orang Tambelan yang pulang dari menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi, membawa oleh-oleh. Oleh-oleh itu  berupa ingatan mereka tentang satu jenis makanan lezat yang mereka lihat di Mekkah: bubur asyura.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Tanah Tambelan, ingatan itu un mereka wujudkan. Siapa orang yang pertama kali membuat bubur asyura di Tambelan, mungkin sudah sulit melacaknya. Tapi, keinginan mereka untuk menjaga  tradisi yang berkembang sewaktu zaman Nabi Muhammad menyebarkan Islam di Tanah Arab, membuat bubur ini pun pergi jauh, melintasi samudra, sampai ke Tambelan, yang berjarak ratusan mil dari Mekkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai literatur Islam, ternyata usia bubur asyura terbilang tua. Jenis makanan seperti ini sudah ditemukan lebih dari seribu tahun yang lalu. Kemunculan bubur asyura ada periode awal terjadi sewaktu zaman perang Tabuk, yang diperkirakan sekitar tahun kedua hijriyah. Ajis Saleh (72), seorang sesepuh warga Tambelan di Tanjungpinang membuka beberapa literatur untuk menjelaskan seputar awal berkembangnya tradisi pembuatan bubur asyura, yang ternyata berkembang sampai di Tambelan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubur asyura ternyata menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan peringatan Hari Asyura yang jatuh ada 10 Muharram. Dalam Islam, setidaknya ada beberapa kejadian menunjukkan bahwa ada 10 Muharram tersebut, terjadi peristiwa-persitiwa besar. Di antaranya adalah diyakini sebagai hari selamatnya Nabi Nuh dari banjir besar yang melanda negeri. Juga sekaligus hari keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan Nun. Selain itu, pada 10 Muharram, juga terjadi peristiwa lepasnya Nabi Ibrahim dari hukuman pembakaran yang dilakukan oleh Namruz. Juga sekaligus tanggal tersebut menandakan sebagai hari dibebaskannya Nabi Yusuf dari penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena banyaknya momen penting yang terkait dengan 10 Muharram, maka umat muslim pun kemudian dianjurkan untuk berpuasa dan membaca sejumlah doa. Menjelang akhir hidupnya, Nabi Muhammad SAW, pun bahkan sempat menyarankan umat Islam agar berpuasa ada tanggal 9 sampai 10 Muharram.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa kaitan Hari Asyura dengan bubur asyura? Ternyata tradisi membuat bubur asyura berkembang pada masa setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Kemunculan bubur asyura terjadi pada masa para sahabat, yang meneruskan penyebaran agama Islam periode setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Waktu itu, para sahabat terpikir, selain berpuasa, juga dianjurkan untuk membuat makanan yang bisa dikonsumsi secara bersama-sama. Lama kelamaan, makanan ini diubah sedemikian rupa sehingga setiap orang yang mampu dan mau menyumbang, dianjurkan membawa bahan makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akar kemunculan jenis makanan yang berbentuk sedikit kental itu sebenarnya terjadi di tengah berlangsungnya perang Tabuk yang berlangsung pada bulan Muharram. “Saat itu terjadi krisis makanan. Sehingga oleh Nabi, makanan yang tersisa diminta untuk diolah menjadi bubur. Namun karena masih kurang juga, akhirnya Nabi membuat kebijakan, beliau sendiri yang membagikan bubur itu sehingga seluruh orang yang ada kebagian,” kata Ajis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kejadiannya dibulan 10 Muharram, dan bulan tersebut bulan Asyura, maka disebutlah bubur ini sebagai bubur asyura.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI TANAH SUCI MEKKAH, bubur asyura melintasi samudra hingga sampai di Tanah Tambelan. Menjelang Hari Asyura, nelayan pergi ke laut mencari ikan, petani memanen sayur dan ubi di kebun, lalu mereka membawa ke rumah seorang warga untuk diolah menjadi bubur asyura. Semua berlangsung tanpa pamrih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan mil dari rumah Ajis Saleh (72), di Tambelan, berlangsung kesibukan yang sama. Mereka tengah mempersiapkan bubur asyura untuk dihidangkan pada 11 Muharram, atau (20/1) kemarin. Namun ada yang mulai berubah kini. Setelah hukum ekonomi semakin berkembang, maka tak semua bahan-bahan pembuatan bubur asyura diperoleh cuma-cuma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajis masih ingat, puluhan tahun silam sewaktu ia masih menetap di Tambelan. Menjelang pembuatan bubur asyura, para nelayan pun turun ke laut menangkap Ikan Jahan dan Ikan Tamban. Para petani di kawasan perbukitan turun membawa hasil panen sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada satu jenis ikan yang diburu oleh nelayan kampung menjelang acara pembuatan bubur asyura tersebut. Ikan itu dikenal dengan nama Ikan Utin, yang merupakan jenis ikan karang. Memang membeli bahan-bahan makanan untuk membuat bubur asyura tak dilarang dalam tradisi orang-orang Tambelan. “Boleh beli. Tapi kalau mencari sendiri, tak banyak mengeluarkan uang,” lanjut Ajis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang dikenal jago memancing, justru warga meminta kesediaannya untuk turun melaut guna mencari ikan Jahan. “Tapi kalau di Tanjunginang, kita terpaksa membeli semuanya,” lanjut Ajis yang terlahir di Tambelan namun kini bermukim di Tanjungpinang ini.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengantar semua bahan makanan tersebut ke rumah seorang warga. Di Tambelan, awalnya bubur asyura dihidangkan di masjid. Namun lama kelamaan, di setiap kampung, dipilih satu rumah untuk membuatan bubur asyura. “Satu kampung, satu rumah,” kata Ajis. Rumah yang terpilih, biasanya adalah rumah-rumah warga yang memiliki sedikit kemapanan ekonomi serta kaum perempuannya dikenal pintar memasak.  Namun bila tidak pintar memasak, mereka bisa mendatangkan orang yang ahli untuk pembuatan jenis makanan ini.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian bisa juga, orang yang dikenal di kampung itu. Misalnya seperti Datuk Kaya,” lanjut Ajis. Proses pembuatannya dikerjakan secara beramai-ramai. Minimal, 40 jenis bahan makanan dikumpulkan, dari muai beras, ubi, labu, sayur mayur, kelapa, kacang kedelai dan lainnya. Selain bahan untuk membuat bubur, juga diperlukan bahan pelengkap untuk pembuatan pelembut dan serunding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bubur selesai, maka orang satu kampung pun dipanggil untuk mencicipi hidangan tersebut.  Biasanya acara makan-makan akan digelar menjelang atau selesai sholat zuhur setia tanggal 11 Muhharam.  Kalau kebiasaan di Kampung Ujung, Tambelan, acara suguhan hidangan bubur asyura akan digelar di Gedung  Bintang Timur atau Sabda Bertuah, sebuah tempat yang sering difungsikan laiknya gedung pertemuan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah munculnya era perantauan orang-orang Tambelan menuju Tanjungpinang, tradisi seperti ini tetap mereka jaga. Setidaknya ada dua keluarga yang tetap melangsungkan tradisi ini di tanah perantauan mereka di Tanjungpinang. Selain Keluarga Haji Ahmad Mubara yang bermukim di kawasan Jalan Mawar, Kampung Tambak waktu itu, juga ada keluarga almarhum Muhammad bin Arif beserta amarhumah istrinya Suraibah bin Haji Abdul Rani yang bermukim di Teluk Keriting. Sebelumnya, sewaktu masih bermukim di Kampung Ujung, Tambelan, keluarga inilah yang memimpin pembuatan bubur asyura. Sewaktu merantau ke Tanjunginang pada tahun 1976, tradisi ini tetap diteruskan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu proses pembuatan, telah menjadi kebiasaan orang-orang Tambelan yang ekonominya sedikit lebih untuk menyumbangkan bahan-bahan makanan untuk membuat bubur tersebut. Setelah meninggalnya Suraibah, kemampuan membuat bubur asyura ini diwariskan kepada anaknya Mishbach (60), yang merupakan istri Ajis. Kini Mishbach lah yang melanjutkan tugas sebagai penjaga tradisi itu. Ilmu itu perlahan ia turunkan kepada Aria Setiani, seorang putrinya. Dulu, Mishbach juga mendapatkan ilmu ini dari warisan keluarganya. Kini di tengah zaman yang semakin cepat berubah, mereka masih tetap setia mempertahankan tradisi itu. &lt;strong&gt;(trisno aji putra)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2248819027631011059?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2248819027631011059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2248819027631011059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2248819027631011059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2248819027631011059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/02/kisah-semangkuk-bubur-asyura.html' title='Kisah Semangkuk Bubur Asyura'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2880888219223049485</id><published>2008-02-19T04:24:00.000-08:00</published><updated>2008-02-19T04:27:07.454-08:00</updated><title type='text'>Sesuatu Telah Baik Kembali...</title><content type='html'>Kawan-kawan pembaca blogku... tulisan ini adalah penjelasan posting sebelumnya. Selasa sore kemarin telah terjadi kerusakan terhadap blogku. Namun, sahabatku, Camat Sontoloyo telah memperbaiki kesalahannya. dan kini blogku sudah bisa diakses lagi. dengan demikian, maka kutariklah tuduhanku terhadap Camat Sontoloyo itu. semoga ini bisa memperbaiki tempayan yang telah retak itu....hihi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2880888219223049485?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2880888219223049485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2880888219223049485' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2880888219223049485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2880888219223049485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/02/sesuatu-telah-baik-kembali.html' title='Sesuatu Telah Baik Kembali...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5589215463318702612</id><published>2008-02-19T03:54:00.000-08:00</published><updated>2008-02-19T03:58:10.617-08:00</updated><title type='text'>Sesuatu Telah Terjadi....</title><content type='html'>Kawan-kawan pembaca blog ku. pada sore ini, telah terjadi sesuatu yang menyebabkan aku kehilangan akses terhadap blogku......dan penyebab dari semua ini adalah paham narsisme....terkutuklah sahabatku pencinta narsis...CAMAT SONTOLOYO........Sekarang kuanggap dia sebagai tertuduh perusak blogku ini......maafkanlah aku pembaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5589215463318702612?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5589215463318702612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5589215463318702612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5589215463318702612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5589215463318702612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/02/sesuatu-telah-terjadi.html' title='Sesuatu Telah Terjadi....'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7149669657273862608</id><published>2008-02-19T02:42:00.000-08:00</published><updated>2008-02-19T02:47:53.131-08:00</updated><title type='text'>Jejak Sebatang Gambir Terakhir di Tanah Bintan...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7qzFOILYXI/AAAAAAAAACM/xN-Gk9-YV4w/s1600-h/gambir+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7qzFOILYXI/AAAAAAAAACM/xN-Gk9-YV4w/s200/gambir+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168640424634179954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SORE yang masih mendung di bilangan Jalan Gambir, Tanjungpinang. Seorang gadis berambut panjang melintas persis di sisi plang jalan yang bertuliskan Jalan Gambir, sebuah jalan yang cukup padat lalu lintasnya. Kanan kiri berjajar ruko yang menjajakan aneka produk. Pada satu bagiannya, tepatnya di Lorong Gambir, jadi sentra penjualan sayur mayur dan aneka sembako. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama jalan ini adalah sebuah saksi bisu dan sekaligus kenangan kita atas kejayaan komoditas gambir yang sempat mendunia. Beberapa abad lalu, orang bahkan mengenal Tanjungpinang sebagai sentra perkebunan gambir. Peminat komoditas ini, bahkan sampai ke Eropa. Proses transaksi dagangnya, dengan lebih dahulu transit di Singapura, baru kemudian diteruskan ke berbagai negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya, sewaktu komoditas gambir masih berjaya dulu, persis di tempat yang sekarang dijadikan sebagai Jalan Gambir, pernah berdiri areal gudang, yang digunakan untuk menyimpan komoditas gambir sebelum diekspor ke Singapura. Jadi, para petani gambir yang banyak bercocok tanam di sekitar areal Ulu Riau, Batu Delapan, juga di kawasan Lagoi, Bintan Utara, Kabupaten Kepri, membawa gambir tersebut ke Tanjungpinang. Di tempat inilah terjadi transaksi antara petani gambir dengan pedagang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, mungkin sekarang orang sudah tak banyak lagi mengenal tumbuhan yang masuk dalam kelompok kopi-kopian tersebut. Cirinya, selain memiliki batang berkayu yang tumbuh secara merambat pada batang pohon. Selain itu, daunnya, bulat seperti telur. Adapun bagian dri tumbuhan ini yang digemari konsumen adalah getahnya, yang diambil dari bagian daun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking terkenalnya komoditas gambir dari Tanjungpinang, bahkan satu di antara tiga jenis tumbuhan gambir diberi nama Riau. “Jadi ada tiga tipe, yakni udang, cubadak, dan Riau,” kata Arif Wijaya, peneliti sejarah dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (Jarahnitra) Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan gambir sendiri, hingga sampai diburu oleh pedagang dari Eropa, satu di antaranya karena dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan minuman keras sejenis anggur. Selain itu, bagi pabrik-pabrik pembuat sutera maupun perlengkapan baju militer, getah gambir dibutuhkan dalam proses pencelupan. Selain itu, kadang juga digunakan sebagai obat penyakit perut, seperti disentri dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak versi tentang bagaimana gambir didatangkan ke Tanjungpinang dan ditanam secara massal. Satu versi, seperti yang diceritakan oleh Arif, adalah masa ketika kawasan Sungai Ulu Riau dijadikan pusat pemerintahan kerajaan Melayu pada sekitar abad 17. Ketika Yang Dipertuan Muda Daeng Celak memegang pemerintahan, perkebunan gambir mulai dikembangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada waktu itu, bibit gambir didatangkan dari Sumatera, yang dibawa oleh Temenggung Tarum dan Temenggung Cedun. Awalnya, kepemilikian kebun gambir dipegang oleh orang Melayu dan Bugis. Sementara Tionghoa memainkan peran sebagai pengolah komoditas tersebut. &lt;br /&gt;                                           ***&lt;br /&gt;TIGAPULUH TAHUN LALU, ribuan pohon gambir tumbuh subur di lahan seluas sekitar 50 hektare itu. Kalau dipandang dari kejauhan, kata seorang warga, tampak hijau dan indah, laiknya perkebunan teh di punggung-punggung bukit di sekitar kawasan Puncak, Jawa Barat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi waktu 30 tahun sudah mengubah semuanya. Yang tertinggal dari ribuan itu kini hanyalah sebatang pohon gambir terakhir. Ia tumbuh tanpa dikehendaki, begitu saja. “Ini sisa-sisa bibit pohon gambir dulu,” kata Suyati, pemilik mangsang, sebutan untuk pabrik gambir di kawasan Kampung Jibut, Bintan Utara, Kabupaten Kepri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon gambir terakhir itu tumbuh di samping rumahnya. Selain gambir, sisa-sisa kejayaan mangsang yang dulunya dalam seminggu bisa berporduksi sampai 2,5 ton, adalah tempat pembakaran dan beberapa kuali yang digunakan untuk memasak gambir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga mungkin yang tersisa adalah kenangan atas indahnya zaman keemasan gambir. Gambir adalah surga bagi para petani di pedalaman. Bayangkan, satu kilogram di sekitar tahun 1975 saja, getah gambir sudah dihargai sampai tiga ribu rupiah, sebuah jumlah yang lebih dari sekedar cukup untuk bisa hidup sejahtera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kawasan Simpang Busung dan lembah di tepian Sungai Ulu Riau, Lagoi dulunya juga surga bagi para petani gambir. Ribuan hektar dengan ratusan hingga bahkan jutaan pohon gambir tumbuh subur di sana. Harga gambir tak pernah jatuh. Zaman keemasan gambir produksi Pulau Bintan itu bahkan sempat diburu oleh para saudagar pabrik kulit dari Italia. Getah gambir diyakini, dan terbukti, dapat menjadi alat pencampur yang baik dalam proses produksi sutera dan kulit di Italia. Selain itu, saudagar minuman keras dari jenis anggur di Perancis juga rajin berburu gambir di Bintan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua itu hanya tinggal kenangan indah para petani gambir di Bintan. Hasil pelacakan untuk berburu sisa-sisa kejayaan gambir di kawasan sekitar Simpang Busung dan Lagoi, hanya berhasil menemukan sebatang pohon gambir terakhir di samping rumah Suyati itu. Tak ada lagi yang tersisa. Lagoi kini sudah menjelma menjadi surga bagi wisatawan dan backpacker dari berbagai penjuru dunia. Investasi asing yang masuk dalam jumlah jutaan dolar telah mengubah kawasan itu menjadi pusat wisata internasional, yang gaungnya menembus penjuru dunia, sampai Eropa dan Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para saudagar gambir pun, sejak sekitar 1975 ke atas, satu persatu melego mangsang mereka kepada investor. Tak ada lagi kebun gambir tersisa. Tapi, tentang cerita kejayaan para saudagar gambir itu dari mulut ke mulut, masih dapat didengar. Di antara para saudagar gambir yang cukup berhasil kala itu, sebut saja di antaranya, Samui, Yontik, Mayang, Ahue, Kateni, juga Dukut. Mereka tak hanya dari etnis Tionghoa saja. Seperti Kateni dan Dukut, berasal dari Tanah Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyati, mantan pemilik mangsang di Simpang Busung, juga masih ingat tentang nama Tauke Bungyu di Pelantar II. Kepada tauke Bungyu inilah, para petani gambir dari Simpang Busung dan Lagoi menjual hasil getah gambir olahannya.&lt;br /&gt;                                       *** &lt;br /&gt;SEKITAR 50 hektar bekas kebun gambir itu kini telah berubah menjadi kebun getah. Ada masa transisi memang, ketika di sela-sela gambir ditanami getah. Namun lama kelamaan, seiring dengan tak ada lagi pembeli gambir, pohon dari jenis kopi-kopian itu pun ditebang habis. “Kalau tak ditebang, mengganggu pohon getah,” kata Suyati, pemilik mangsang, sebutan untuk pabrik gambir, di Simpang Busung, Bintan Utara, Kabupaten Kepri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hasil pohon getah tak terlalu menggiurkan bila dibandingkan dengan gambir. Saat ini, sekilo, harga getah dalam bentuk sebelum diolah, hanya sekitar empat ribu rupiah. Padahal harga gambir di tahun 1975 saja sudah mencapai tiga ribu rupiah per kilonya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyati mengaku, terpaksa menebang satu persatu pohon gambirnya, karena komoditas itu sudah tak ada lagi yang tertarik membeli. Seiring dengan dibukanya kawasan wisata internasional Lagoi, mangsang di kawasan itu tutup. Pasokan gambir pun menjadi berkurang. Tauke Bungyu, orang yang dikenal sebagai pembeli getah gambir di Pelantar II Tanjungpinang pun tak bisa berbuat banyak seiring dengan semakin merosotnya pasokan gambir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar kenangan, di Lagoi dulu, ada sederet nama yang dikenal sebagai tauke mangsang. Di sekitar 1975 ke atas, satu persatu mereka melego mangsang mereka kepada investor yang akan membangun kawasan Lagoi. Tak ada lagi kebun gambir tersisa. Tapi, tentang cerita kejayaan para saudagar gambir itu dari mulut ke mulut, masih dapat didengar. Di antara para saudagar gambir yang cukup berhasil kala itu, sebut saja di antaranya, Samui, Yontik, Mayang, Ahue, Kateni, juga Dukut. Mereka tak hanya dari etnis Tionghoa saja. Seperti Kateni dan Dukut, berasal dari Tanah Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu, Suyati, mantan pemilik mangsang di Simpang Busung, juga masih ingat zaman keemasan gambir dulu. Di ladang gambir miliknya itu, belasan buruh yang rata-rata berasal dari Tanah Jawa, bekerja bahu membahu. Masing-masing pekerja memainkan perannya sendiri. Ada pemetik daun gambir, ada pula sebagai tukang masak, lalu ada sebagai pencari kayu bakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses memasak gambir butuh waktu sehari penuh. Biasanya dimulai dari sekitar pukul 05.00 WIB di pagi buta, dan baru diangkat dari kuali menjelang maghrib. Biasanya, mereka memetik daun gambir kala sore hari. Daun-daun itu dalam hitungan minggu sudah tumbuh kembali. Sehingga selesai para pekerja memetik satu deret pepohonan gambir, mereka kembali lagi ke awal untuk memetik daun gambir yang mulai merekah. Begitu, berulang-ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membawa gambir ke Tanjungpinang, biasanya digunakan sepeda, untuk kemudian disambung dengan sampan, dari perairan sekitar Simpang Busung menuju Pelantar II. Alat angkut gambir sendiri diberi nama lonteng, yang terbuat dari kawat. Sebuah lonteng tua yang telah dimakan usia dan tampak berwarna kehitaman karena terlalu sering terkena asap, masih disimpan Suyati di dapur rumah miliknya. Lonteng tua itu sekaligus sebagai pengingatnya, bahwa dulu, dari lembar demi lembar gambir, ia melangsungkan hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambir, sebuah komoditas ekspor yang sempat mendunia dari Tanjungpinang. Sayang, budidaya tanaman ini sudah tak lagi dikembangkan. Areal perkebunan gambiri sendiri di Kepri kini hanya ada di Tanjungbatu, Kabupaten Karimun. Padahal, dari lembar demi lembar daun gambir itu dulu, selain menciptakan lapangan kerja, juga sekaligus penggerak sektor ekonomi riil bagi masyarakat pedalaman.&lt;strong&gt; (trisno aji putra)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7149669657273862608?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7149669657273862608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7149669657273862608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7149669657273862608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7149669657273862608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/02/jejak-sebatang-gambir-terakhir-di-tanah.html' title='Jejak Sebatang Gambir Terakhir di Tanah Bintan...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7qzFOILYXI/AAAAAAAAACM/xN-Gk9-YV4w/s72-c/gambir+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3544085772739441830</id><published>2008-02-17T00:53:00.000-08:00</published><updated>2008-02-17T01:07:19.496-08:00</updated><title type='text'>Sebatang Gambir Terakhir di Batas Ingatan...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7f4XeILYVI/AAAAAAAAAB8/ZL4EqQJ4Vkc/s1600-h/gambir+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7f4XeILYVI/AAAAAAAAAB8/ZL4EqQJ4Vkc/s200/gambir+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167872179538977106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7f31eILYUI/AAAAAAAAAB0/blT-aIOw2aA/s1600-h/gambir2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7f31eILYUI/AAAAAAAAAB0/blT-aIOw2aA/s200/gambir2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167871595423424834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7f22uILYTI/AAAAAAAAABs/euUsAqmD64Y/s1600-h/gambir+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7f22uILYTI/AAAAAAAAABs/euUsAqmD64Y/s200/gambir+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167870517386633522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAMBIR adalah kisah tentang kejayaan petani Bintan 30 tahun silam. Komoditas yang mendunia dan menjadi produk andalam ekpor dari Tanah Bintan ini bahkan melegenda. Di jantung Kota Tanjungpinang, kenangan akan kejayaan komoditas ini diabadikan menjadi nama jalan: Jalan Gambir. Namun kini, gambir terlupakan. petani enggan menanamnya lagi karena tidak ada jaringan pemasaran yang masih bertahan. Publikasi selanjutnya dari tulisan ini akan mengupas seputar perburuan sebatang gambir terakhir di Tanah Bintan. berikut ditampilkan hasil perburuan terhadap sebatang gambir terakhir yang ditemukan di Desa Jibut, Ekang Anculai, Kabupaten Bintan. Foto-foto selain menampilkan pohon gambir terakhir itu, juga dilengkapi dengan bekas alat perapian untuk memasak gambir....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3544085772739441830?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3544085772739441830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3544085772739441830' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3544085772739441830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3544085772739441830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/02/sebatang-gambir-terakhir-di-batas.html' title='Sebatang Gambir Terakhir di Batas Ingatan...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R7f4XeILYVI/AAAAAAAAAB8/ZL4EqQJ4Vkc/s72-c/gambir+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-8211744735465595732</id><published>2008-02-02T02:32:00.000-08:00</published><updated>2008-02-02T02:36:55.821-08:00</updated><title type='text'>Sebuah Sore yang Diam</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R6RHgG4ntcI/AAAAAAAAABk/cWYASZwvSUg/s1600-h/tambelan.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R6RHgG4ntcI/AAAAAAAAABk/cWYASZwvSUg/s200/tambelan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162329689802913218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapakah setiap pejalan akan kembali. Kita selalu menjadi penjalan, sebab hidup adalah kumpulan perjalanan. Tapi, di tikungan manakah kita akan melihat akhir perjalanan? Aku sudah berjalan begitu jauh, menurutku. Kadang aku selalu harap-harap cemas ketika sampai pada sebuah tikungan. Apakah ini tikungan terakhir yang harus kulalui?....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-8211744735465595732?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/8211744735465595732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=8211744735465595732' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8211744735465595732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8211744735465595732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/02/sebuah-sore-yang-diam.html' title='Sebuah Sore yang Diam'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R6RHgG4ntcI/AAAAAAAAABk/cWYASZwvSUg/s72-c/tambelan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-3163231858314146833</id><published>2008-02-01T02:54:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T02:57:25.714-08:00</updated><title type='text'>Penyelamatan Naskah Kuno di Penyengat :Bagian Dua</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R6L6-m4ntbI/AAAAAAAAABc/qPGYry7z5as/s1600-h/topeng.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R6L6-m4ntbI/AAAAAAAAABc/qPGYry7z5as/s200/topeng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161964076416873906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH peradaban adalah sejarah yang dibuat oleh kertas dan pena. Naskah-naskah kuno di Penyengat menjadi saksi bisu bahwa dulu, seratusan tahun lampau, pernah tumbuh sebuah peradaban di sana. Namun kini, jejak-jejak terakhir peradaban Penyengat yang masih tertuang dalam naskah-naskah kuno itu terancam musnah di makan usia. &lt;br /&gt; SATU hari penuh Jan van der Putten dan koleganya, Alex Teoh, berkeliling Penyengat. Mereka juga sempat mendatang rumah seorang warga Penyengat, Raja Fuad, yang menyimpan naskah-naskah Melayu kuno sebagai koleksi pribadi. Jan dan Alex membawa setumpuk plastik bening, yang sekilas tampak seperti kantong gula. Tapi kantong plastik itu memiliki fungsi tak sekedar sebagai alat pembungkus, tetapi juga sekaligus saringan terhadap sinar ultraviolet yang selalu mempercepat pelapukan naskah. &lt;br /&gt; Ini memang kesibukan baru Jan dan Alex. Jan sebenarnya bukan kali pertama datang ke Penyengat. Pengajar sastra Jawa dan Melayu di National University of Singapore (NUS) ini bahkan sempat “berhutang budi” pada naskah-naskah kuno itu. Disertasi Jan mengangkat seputar surat-surat Haji Ibrahim. Selain itu, Jan juga pernah membuat buku yang berisi kumpulan surat-surat Raja Ali Haji kepada sahabatnya Herman von de Wall.     &lt;br /&gt; Sejak sekitar tahun 1995 Jan sudah membuat penelitian tentang naskah-naskah kuno di Penyengat. 13 tahun setelah itu, kini ia kembali lagi bersama Alex, ahli kertas dan manuskrip dari Asean Heritage, Singapura.  &lt;br /&gt; Dan pada sebuah pagi di akhir pekan lalu, Alex dengan sigap membersihkan setumpuk naskah yang dimiliki oleh Raja Fuad. Di antara naskah kuno yang usianya jauh lebih tua dari Alex itu, terselip sejumlah surat-surat saham dan surat tanah. Menggunakan sebuah kuas dan beberapa perkakas pelengkap, Alex membersihkan naskah dan menyimpannya dalam plastik khusus. “Ada karat. Ini penyebabnya mungkin menggunakan stapless,” kata Alex. Selain itu, ia menjelaskan bahwa tinta juga bisa memakan kertas. “Coba lihat ini,” lanjutnya seraya menunjukkan sebuah naskah yang bolong tepat di huruf-huruf Arab gundul yang tertera pada naskah. &lt;br /&gt; Alex memperkirakan, bila pola penyimpanan naskah kuno di Penyengat kurang berhati-hati, diperkirakan dua atau tiga tahun lagi naskah tersebut akan musnah. Karena itu perlu dilakukan langkah lain dalam cara penyimpanannya. Dengan cara itu, diharapkan naskah masih bisa bertahan di atas waktu 50 tahun lagi. &lt;br /&gt; Memang, tumpukan naskah itu telah melahirkan kerisauan tersendiri. Jan yang pengajar sastra mengakui, ketertarikan anak-anak muda saat ini untuk memperdalam sejarah dan naskah-naskah kuno sangat kecil. Ia mencontohkan seperti kelas sastra Melayu yang ia ajar di UNS. “Hanya delapan mahasiswanya,” kata Jan yang fasih berbahasa Melayu dan berisitri seorang wanita Indonesia asal Medan. &lt;br /&gt; Tapi fenomena ini bukan terjadi di Asia Tenggara saja. Seluruh dunia menunjukkan gejala yang sama. Anak-anak muda lebih senang memperdalam dunia tekhnologi informasi, karena lebih banyak memberikan peluang kerja dibandingkan menjadi seorang sejarawan. “Tapi kita tidak tahu 50 tahun lagi nanti bagaimana,” kata Jan. Jangan-jangan, justru nanti tren akan berubah dan banyak orang akan kembali mengkaji sejarah. Karena itu, naskah-naskah kuno yang ada sat ini harus dipertahankan dan disimpan untuk diwariskan ke generasi masa depan.&lt;br /&gt; Dan Penyengat di mata Jan, memiliki kekayaan naskah. Ia menolak anggapan bahwa untuk belajar sastra Melayu meski harus pergi ke Museum Leiden di Belanda. Memang, sejak zaman kolonial, banyak naskah yang dibawa ke Eropa oleh para pemburu naskah. Tapi ternyata yang masih tersimpan di Penyengat, cukup banyak, dan diperkirakan jumlahnya bisa mencapai ratusan. &lt;br /&gt;  Naskah-naskah Melayu yang dibawa ke Eropa sendiri menurut Jan belum bisa menggambarkan kondisi sastra Melayu secara keseluruhan. “Mereka punya misi ketika membawa naskah tersebut. Sehingga naskah yang dibawa pun hanya seputar hikayat dan cerita-cerita hantu. Dan ini yang mempengaruhi pandangan orang terhadap sastra Melayu klasik. &lt;br /&gt; Padahal masih banyak naskah-naskah seputar dunia Islam yang masih terserak di Penyengat. Jan, yang ternyata adalah seorang muslim ini menyimpan obsesi sendiri. Ia ingin mendata dan menyusun katalog naskah-naskah Melayu kuno di Penyengat. Nantinya ia berharap bisa memberikan gambaran lain bahwa sastra Melayu klasik sangat kaya warna, tidak sekedar bercerita tentang hal-hal mistik saja. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-3163231858314146833?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/3163231858314146833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=3163231858314146833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3163231858314146833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/3163231858314146833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/02/penyelamatan-naskah-kuno-di-penyengat.html' title='Penyelamatan Naskah Kuno di Penyengat :Bagian Dua'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R6L6-m4ntbI/AAAAAAAAABc/qPGYry7z5as/s72-c/topeng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-6298500253371913381</id><published>2008-01-25T03:59:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T04:06:24.358-08:00</updated><title type='text'>Tubuh Andrian Penuh Benjolan Kecil</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R5nQFW4ntYI/AAAAAAAAABE/ClUCFbwuMe4/s1600-h/2501Kutil_Nyonk.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159383638590600578" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R5nQFW4ntYI/AAAAAAAAABE/ClUCFbwuMe4/s200/2501Kutil_Nyonk.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KASIHAN Andrian. Usianya baru delapan bulan. Tapi ia harus menanggung sejenis penyakit yang bahkan belum bisa terindentifikasi jenisnya. Seluruh tubuhnya penuh benjolan kecil seperti kutil. Namun ukurannya lebih besar dari kutil rata-rata. Bahkan di bagian belakang paha kirinya, ada sebuah benjolan yang berukuran setengah kelereng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah benjolan itu mungkin saat ini sudah lebih dari 30 biji. Padahal empat bulan lalu, sewaktu anak kedua dari pasangan Slamet (27) dan Sumiati (21) ini berusia empat bulan, baru satu benjolan yang muncul di tubuhnya. “Benjolan itu ada di bagian tengkuk,” kata Sumiati, sembil menggendong bocah yang diberi nama panjang Muhammad Andrian Dwiputra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya benjolan itu kecil saja, tapi lama kelamaan semakin membesar. Kemudian mulai tumbuh lagi benjolan di kanan dan kirinya. Hingga akhirnya terus tumbuh di bagian punggung, perut, paha bahkan sampai kepala. Di kepalanya yang masih ditumbuhi rambut jarang-jarang, ada lebih dari lima benjolan kecil. Bahkan benjolan itu kini terus menjalar tumbuh di wajah. Di bagian dagu bocah berkulit kuning langsat ini, sudah tumbuh dua benjolan kecil. “Paling banyak di bagian punggung,” kata Sumiati seraya membuka baju anak keduanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang menyebabkan benjolan-benjolan yang tak dikehendaki itu tumbuh begitu saja di tubuh Andrian. Memang empat bulan belakangan, benjolan itu belum menyebabkan rengekan si bayi. Paling kalau merengek, kata Sumiati, bila ia lapar saja. Saat ini Andrian memang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) lagi. “Ia minum susu kaleng,” kata Sumiati, yang sehari-hari hanya menjaga dua anaknya saja di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu benjolan itu pertama kali muncul, awalnya tidak terlalu merisaukan pasangan yang merantau ke Tanjungpinang sejak awal tahun 2000 ini. Tapi begitu semakin banyak, Slamet dan Sumiati yang merupakan warga Jalan Kampung Lengkuas, Kijang, Kabupaten Bintan ini pun mulai risau. Mereka awalnya membawa Andrian ke Puskesmas terdekat. Lalu mendapat rujukan untuk menemui dokter anak. Dari dokter anak, baru dibawa ke dokter spesialis kulit di Tanjungpinang, yang berjarak sekitar 30 kilo meter dari tempat tinggal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengkonsumsi obat beberapa kali, namun Slamet dan Sumiati melihat belum ada perubahan berarti. Bahkan benjolan mulai tumbuh di bagian lain tubuh Andrian lagi. Kondisi Andrian yang seperti ini ikut menggusarkan seorang tetangganya Susilawati. Akhirnya Susilawati yang juga adalah Ketua Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Bintan itu mengontak sejumlah koleganya melalui email sambil mengirimkan foto tubuh Andrian. Ia ingin mencari tahu apa sebenarnya penyakit yang diderita bocah ini. “Sebab kalau sudah tahu penyakitnya, nanti kan lebih mudah mencari obatnya,” kata Susilawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet dan Sumiati sendiri sampai kini masih terus berusaha. Hanya saja, mereka mengaku akan kesulitan bila harus menyediakan uang pengobatan dalam jumlah besar. Slamet sendiri hanya bekerja sebagai buruh di tempat pembuatan kapal di Kijang. Sampai saat ini saja, keluarga kecil ini masih mengontrak rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet sangat berharap, bila ada pembaca yang mengetahui jenis penyakit anaknya, atau mau menyumbangkan dana bantuan pengobatan, agar dapat langsung mengontak dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu ingin melihat Andiran tumbuh dalam keceriaan. Langkah Andrian masih panjang. Dan setiap detik dalam hidupnya, Slamet dan Sumiati masih terus berharap, bocah itu bisa terbebas dari benjolan-benjolan yang tak dikehendaki itu. (&lt;strong&gt;trisno aji putra&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembaca, bila Anda bersimpati dengan Andrian, bisa langsung mengontak ayahnya, Slamet di nomor ponsel 0819 2854 7906&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-6298500253371913381?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/6298500253371913381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=6298500253371913381' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6298500253371913381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6298500253371913381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/01/tubuh-andrian-penuh-benjolan-kecil.html' title='Tubuh Andrian Penuh Benjolan Kecil'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LhFXenHWuzQ/R5nQFW4ntYI/AAAAAAAAABE/ClUCFbwuMe4/s72-c/2501Kutil_Nyonk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7182999469805960439</id><published>2008-01-25T03:23:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T03:24:28.457-08:00</updated><title type='text'>Kisah-kisah dari Singapura (1): Bukan Don't Forget, Tapi Ojolali</title><content type='html'>MENJADI ekspatriat di negeri kota Singapura adalah jalan hidup yang harus dilalui oleh Kiki Kosasih (41) sejak sekitar enam tahun lalu. Ia mendapat tawaran pekerjaan yang cukup menarik dari sebuah perusahaan produsen komputer ternama. Pada 1999 itu, Kiki yang asli Indonesia dan lama bermukim di Jakarta itu, bekerja sebagai konsultan tekhnologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi gaji lumayan tak membuat Kiki betah dengan profesinya. Di pertengahan tahun kelima di Singapura, setelah ia mengantongi predikat sebagai penduduk tetap (permanent resident), Kiki malah banting setir. Ia berhenti bekerja dan mulai berspekulasi untuk menjalankan bisnisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tak ada yang dipertaruhkannya. Selain investasi untuk modal usaha awal, ia juga harus siap-siap angkat koper dari Singapura bila ternyata uang yang ditanamkannya tak membuahkan laba. Sekitar Juni 2006, Kiki memulai usahanya, membuka rumah makan "Ayam Bakar Ojolali". Nama Ojolali yang digunakan Kiki bukannya tanpa perhitungan. Memang di negeri yang juga sekaligus kota metropolis dengan penduduk sekitar empat juta jiwa, tentu orang Singapura sudah pasti tak begitu paham makna kata yang diambil dari kosakata Jawa itu. Orang Singapura mungkin lebih peduli bila nama rumah makan Kiki itu adalah "Don't Forget" yang makna harfiahnya sama dengan ojolali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Kiki justru punya perhitungan bisnis yang jitu. Lima tahun tinggal di Singapura sebelum ia memulai bisnisnya itu, memberi banyak waktu bagi Kiki untuk mengamati berbagai kecendrungan di negeri tetangga itu. "Banyak orang Indonesia yang datang ke Singapura," kata Kiki, saat ditemui di rumah makan yang dikelolanya, di lantai tiga Lucky Plaza, sebuah mal di kawasan Orchard Road, jantung kota Singapura, pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki sudah survei. Ternyata, kedatangan orang Indonesia ke Singapura tak sekedar mengikuti tren "window shoping" yang ditawarkan negeri Singa itu. Tidak juga sekedar pelesiran. "Mereka banyak yang datang berobat," lanjut ayah dari dua anak ini. Tersebutlah sebuah rumah sakit di sekitar Orchard Road, yang letaknya hanya beberapa langkah dari Lucky Plaza. Nama rumah sakit itu sudah cukup femiliar bagi orang Indonesia, termasuk warga Kepri: Mount Elizabeth Hospital. Bagi orang di negeri ini yang punya penghasilan lebih dan ingin merasakan sentuhan dokter Singapura, Mount Elizabeth adalah satu di antara sedikit pilihan favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan pelayanan medis plus shoping menjadikan alasan orang Indonesia untuk tak sekedar menghabiskan waktu tanpa bermalam di Singapura. Dan pilihan bermalam favorit mereka adalah apartemen di atas Mal Lucky Plaza. Menariknya, di antara pemilik apartemen itu adalah orang Indonesia yang menikah dengan warga Singapura. Sebagai sentra perdagangan, bangunan jangkung Lucky Plaza hanya sekitar lima lantai paling bawah yang difungsikan untuk kawasan pertokoan. Lantai keenam sampai 31, difungsikan sebagai apartemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat sentuhan medis dan puas memelototi aneka barang elektronik dan busana di sepanjang Orchard, tentu kebutuhan mendasar selanjutnya adalah makan. Nah, makan ini punya persoalan tersendiri. Lidah orang Indonesia kadang tak bisa menerima masakan Singapura. Ini menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi mereka yang mengutamakan cita rasa masakan sebagai satu di antara kebutuhan primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiga hal besar di atas itulah, kemudian Kiki beranjak mengambil lompatan besar ke impian masa depannya: menanamkan sekitar 150 ribu dolar Singapura, atau sekitar Rp 870 juta (kurs Rp 5800). Ia sewa sebuah ruangan dengan ukuran sekitar 11 X 8 meter. Harga sewa permeter persegi sekitar delapan dolar Singapura, atau Rp 46.400. "Biaya sewanya mahal, jadi investasinya harus besar," lanjut lelaki berkulit putih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ia teken kontrak sewa sampai tiga tahun, tapi Kiki tertolong dengan sistem pembayaran yang dipungut perbulan. Dari satu pengunjung ke seratus pengunjung, hingga sampai ribuan datang ke rumah makan Kiki yang meski ramping, tapi menyediakan kursi sekitar 25 buah. Berbagai menu disediakan, dari mulai ayam bakar sampai ikan bawal, juga gado-gado. Rasanya Indonesia sekali, sebab pelatih masak bagi karyawannya, didatangkan Kiki dari Jogja. Harga masakan juga bervariasi, dari mulai tiga sampai sekitar sembilan dolar Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi Kiki diawal, ia sudah cukup senang bila mampu menyedot pelanggan orang Indonesia yang sedang berkunjung ke Singapura. Namun dalam perjalanannya, justru warga Singapura mulau tertarik untuk singgah, kemudian malah jadi pengunjung tetap. Persentase pengunjung rumah makan tersebut kini cukup variatif. Kiki memperkirakan, 40 persen adalah warga Indonesia, 40 persen penduduk Singapura, dan 20 persen sisanya warga dari berbagai belahan dunia, seperti India, Eropa, Asia, Amerika, sampai Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiki tersenyum. Hampir memasuki bulan ketiga ia membuka rumah makan itu, Kiki kembali berspekulasi untuk mengambil satu ruangan lain guna difungsikan sebagai sayap rumah makan tersebut. Jarak antara kedua rumah makan Kiki itu hanya terpisah oleh beberapa toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan hanya Kiki yang berspekluasi bisnis rumah makan masakan Indonesia di Singapura. Untuk di Lucky Plaza saja, setiap lantai mal tersedia rumah makan Indonesia. Di mulai pada lantai satu, orang Indonesia juga membuka rumah makan "Es Teler 77". Lalu di lantai dua ada "Resto Surabaya". Kemudian di lantai empat ada "Ayam Penyet Ria" dan di lantai enam, sebelum ditutup ada rumah makan "Aneka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana prosedur yang harus dilalui Kiki hingga ia sampai dapat izin membuka usaha di Singapura, menjadi bagian yang tak kalah menarik. Simak kelanjutan tulisan ini esok hari. (trisno aji putra/bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7182999469805960439?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7182999469805960439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7182999469805960439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7182999469805960439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7182999469805960439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/01/kisah-kisah-dari-singapura-1-bukan-dont.html' title='Kisah-kisah dari Singapura (1): Bukan Don&apos;t Forget, Tapi Ojolali'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-5467185867284450662</id><published>2008-01-08T04:13:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T04:19:36.554-08:00</updated><title type='text'>Ali Achmad, Maestro Pantun Asal Tanjungpinang</title><content type='html'>TANYAKAN siapa Ali pada warga kota. Tak semua orang kenal. Tapi tambahkan embel-embel di belakangnya, “Pak Ali Tukang Pantun”. Dalam hitungan detik, orang pun langsung paham. Terlebih bagi warga kota yang pernah menikahkan anaknya dalam adat Melayu, mereka akan langsung teringat, siapa Ali Ipon.&lt;br /&gt;            Nama lengkapnya sebenarnya adalah Muhammad Ali Achmad. Ia pensiunan guru  Bahasa Inggris di SMP 5 Tanjungpinang. Meski usianya sudah lewat kepala enam, tetapi ayah dari lima anak ini masih kocak. “Saye ni ngajar Bahasa Inggris. Tapi bise berpantun. Tak nyambungkan,” kata Ali, dalam logat Melayu. “Tak percaye?” Ali diam sejenak. Dalam hitungan detik, ia pun langsung mengucapkan pantun empat baris.&lt;br /&gt;           “If you want to go to United State/ You can go by plane that high speed/ Because the time is limited/ I just explain only a little bit,” kata Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;SIANG itu kami berpapasan di Jalan Lembah Purnama, sekitar 200 meter dari rumahnya. Ali tak ada di rumah waktu disambangi. “Kakek tadi pergi ke masjid,” kata seorang cucunya. Tapi waktu zuhur sudah lewat hampir satu jam, Ali belum pulang. Rupa-rupanya ada kesibukan lain yang dilakukan lelaki kelahiran Tanjungpinang 1 Maret 1941 ini. &lt;br /&gt;            “Saye dengar memang begitu. Tapi sampai sekarang saya belum mendapat kabar resminya,” kata-kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Ali begitu ditanyakan seputar terpilihnya ia menjadi satu dari 27 maestro budaya Indonesia. Ali dinobatkan sebagai maestro bidang pantun.&lt;br /&gt;            Obrolan pun berpindah ke ruang tamu rumahnya. Ali mengambil beberapa tumpukan kertas. Juga menunjukkan dua koran nasional yang didalamnya memuat berita Ali sebagai maestro pantun Indonesia. “Saye pun baru tahu dari koran. Waktu itu seorang kawan telpon saye, suruh beli koran ini. Saye pun beli. Memang tertulis ade name saya,” kata Ali sambil menunjukkan koran yang dimaksudnya.&lt;br /&gt;            Karena itu Ali pun masih ragu. Sebab, kalau pun benar ia dipilih sebagai maestro pantun Indonesia, ia yakin pastilah ada orang dari Jakarta yang akan menghubunginya. Padahal berita yang dimuat di dua Koran nasional itu terbit pada edisi minggu keemapt Desember lalu. “Entah buaye/entah kata/ Entah iye/entah tidak,” kata Ali berseloroh dalam pantun yang tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya.&lt;br /&gt;            Kehebatan Ali memang adalah reflek yang dimilikinya dalam mengolah kata hingga tersusun memiliki akhiran dengan bunyi yang sama. Hanya butuh hitungan detik, otaknya mengolah ribuan kata hingga meluncur empat baris kata yang terdengar enak di gendang telinga.&lt;br /&gt;            Tapi Ali mengakui, memang pada sekitar November 2007 lalu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Tanjungpinang Abdul Kadir Ibrahim (Akib) mengontaknya. Waktu itu, cerita Ali, Akib mengatakan bahwa Ny Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) ingin bertemu dengannya. Pudentia datang ke Tanjungpinang memang dalam rangka untuk  mencari masukan, siapa-siapa saja ahli tradisi lisan dari daerah ini yang bisa diusulkan untuk menjadi maestro.&lt;br /&gt;            Ali pun sempat diwawancara langsung oleh Pudentia di sebuah hotel di Tanjungpinang. Ternyata Pudentia sebelumnya sudah sempat dua kali melihat Ali menunjukkan kemampuan olah kata menjadi bait pantun. Pertama sewaktu digelar acara revitalisasi Budaya Melayu di Senggarang tahun 2005, dan kedua pada sebuah acara di Gedung Daerah, Tanjungpinang.&lt;br /&gt;Setelah itu, Ali pun diminta Pudentia untuk unjuk kemampuan pada sebuah atraksi acara meminang pengantin dalam tradisi Melayu. Atraksi itu langsung di syuting oleh kru Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;ALI, pantun, dan acara perwkawinan adalah tiga bagian berbeda yang ternyata membentuk kesatuan dalam hidup lelaki lulusan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) Tanjungpinang ini. Nama Ali jadi berkibar sebagai “Laksemana Pantun” di Tanjungpinang karena kesatuan dari tiga hal tersebut. Tiap akhir pekan, Ali sulit dihubungi, karena mesti memainkan peran sebagai Penghulu Adat di sejumlah acara pernikahan. Penghulu Adat berperan sebagai orang yang mewakili mempelai wanita dalam perkawinan tradisi Melayu. Si Penghulu Adat akan menerima mempelai laki-laki dengan melontarkan sejumlah pantun.&lt;br /&gt;Peran sebagai penghulu adat itu terjadi kebetulan saja dalam hidup Ali.&lt;br /&gt;                   Ia masih ingat, waktu itu sekitar tahun 1970-an awal. Temannya, yang juga tetangganya, menikahkan anak perempuannya. Ketika mempelai laki-laki sudah hampir tiba, mendadak ternyata tukang pantung yang telah disiapkan mengundurkan diri. Maka sang teman pun memohon agar Ali yang menggantikannya. Dalam situasi darurat serta seperti tak diberi pilihan lain, Ali pun memberanikan diri menerima tawaran itu. “Saye waktu itu seperti bidang terjun, he-he-he,” katanya, terkekeh.  &lt;br /&gt;                  “Untungnya mempelai laki-laki waktu itu Orang Jawa. Jadi tak terlalu paham pantun,” kata Ali tersenyum, sambil mengenang kisah tiga dekade lalu. Maka Ali pun ambil ancang-ancang. “Buah cempedak di tepi pagar/Ambil galah tolong jolokkan/Saye ni budak baru belajar/Kalau salah, tolong ditunjukkan,” itulah pantun pertama yang diucapkan Ali dalam sebuah acara formal.&lt;br /&gt;                 Ternyata yang punya hajat merasa cukup senang dengan Ali. Dan cerita kehebatan Ali berpantun tersebar dari mulut ke mulut. Mula-mula, ponakannya menikah. Ali pun diminta menjadi penghulu adat. Lalu saudaranya yang lain, hingag kemudian tetangga dan akhirnya masyarakat satu Tanjungpinang pun meminta bantuannya. Kini dalam sebulan, tak kurang dari 15 panggilan untuk menjadi Penghulu Adat dijalankan Ali. &lt;br /&gt;                Tapi justru peran itu membawa berkah rezeki tersendiri dalam hidup Ali. Ia pun membisikkan, berapa uang yang ia terima sebagai “honor” atas kemampuannya membawakan pantun dalam setiap acara perkawinan. Jumlahnya pun tidak sedikit, dan jauh lebih besar dari uang pensiun bulanan PNS yang diterimanya.&lt;br /&gt;               Tapi Ali tak memperdulikan persoalan honor. Baginya, itu merupakan kepuasan tersendiri, karena masih bisa memasyarakatkan pantun di zaman ketika globalisasi datang seperti tanpa bisa dilawan. “Anak-anak dan cucu-cucu saye saja sudah tidak bisa berpantun,” kata Ali, sedikit menerawang.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;TANJUNGPINANG sekitar tahun 1950-an adalah Tanjungpinang yang akrab dengan pantun. Anak-anak sekolah bercanda gurau, saling mengejek, bahkan menembak gadis idaman dengan menggunakan pantun. Beda dengan kini. Mereka lebih akrab dengan mal, lagu top forty Amerika, film Hollywood, dan saban akhir pekan nonton sepak bola Liga Inggris.&lt;br /&gt;               Ali dibesarkan dalam buaian irama kata yang menghasilkan bunyi eksotis di tiap akhir baitnya. Ali berkisah tentang ibundanya tercinta. Ketika usia enam tahun, Emaknya akan menghantarkan Ali kecil tertidur dengan untaian kata yang dikemas dalam pantun dan syair. Semua itu kemudian tertanam dalam alam bawah sadarnya. Maka ketika ditanyakan kepadanya, mengapa hanya dalam hitungan detik ia sudah bisa menemukan kalimat untuk membalas pantun yangdilontarkan kepadanya, maka jawabannya adalah kenangan masa kecilnya. Emaknya menanamkan semua kemampuan itu ketika ia masih berada dalam buaian.&lt;br /&gt;             Selain itu, Ali juga melihat bahwa pantun yang menjadi bagian dari tradisi lisan mulai tersisihkan oleh seni sejenis, seperti puisi dan syair. Ali tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun tahun-tahun belakangan, ia melihat ada perkembangan yang berarti. Para pejabat di daerah ini mulai sering melontarkan pantun untuk mengakhiri pidatonya. Dan Ali pun kadang dimintai olehpara pejabat tersebut untuk membuat pantun sebagai pelengkap kata sambutan. Lumayan, kadang ia mendapatkan honor tak sedikit atas kemampuannya itu.&lt;br /&gt;             Itulah kisah Ali, sang maestro pantun yang kocak. Kalau seandainya nanti ia akan dinobatkan menjadi maestro pantun, maka obsesi Ali pun hanya satu: memasyarakatkan pantun. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-5467185867284450662?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/5467185867284450662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=5467185867284450662' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5467185867284450662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/5467185867284450662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2008/01/ali-achmad-maestro-pantun-asal.html' title='Ali Achmad, Maestro Pantun Asal Tanjungpinang'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2420980822251947097</id><published>2007-12-31T05:27:00.000-08:00</published><updated>2007-12-31T05:30:04.427-08:00</updated><title type='text'>Senjakala Dunia Pariwisata Tanjungpinang</title><content type='html'>INILAH senjakala dunia pariwisata Tanjungpinang. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Tanjungpinang, terjadi penurunan angka wisatawan yang signifikan sejak tahun 2002 lalu.&lt;br /&gt;            Sepanjang 2004, angka kunjungan wisatawan asing ke Tanjungpinang mencapai 174.038. Lalu 2005, turun menjadi 141.339, dan turun lagi pada tahun 2006 menjadi 130.021. Dan tahun 2007 ini, seperti sudah bisa ditebak, terjadi lagi penurunan. Sampai pukul 14.00 WIB 31 Desember sore, Ketua PHRI Tanjungpinang Rudy Chua menjelaskan bahwa angka kunjungan belum sampai 120 ribu orang.&lt;br /&gt;            Mungkin, Anda yang sempat menikmati hidup di Tanjungpinang pada sekitar 1992-2002 lalu masih ingat, betapa surganya kota kecil ini bagi wisatawan asing. Apalagi pada dekade 1990-an, para backpacker, petualang dari seluruh kolong jagat, menjadikan Lorong Bintan sebagai daerah yang wajib mereka singgahi dalam traveling mereka dari Asia menuju Australia, ataupun sebaliknya. Lalu penghujung 1990-an, giliran wisatawan Singapura dan Malaysia yang mengembangkan budaya weekend saban minggu dengen plesiran di Tanjungpinang.&lt;br /&gt;            Bahkan saking seringa mereka berkunjung ke Tanjungpinang, tidak sedikit dari wisatawan itu yang akhirnya menikahi perempuan-perempuan yang mereka temukan di Tanjungpinang. Ringgit dan dolar Singapura pun mereka hamburkan saat menikmati Sabtu dan Minggu di Tanjungpinang.&lt;br /&gt;            Tapi itu dulu. Semua kisah surga pariwisata itu berhenti ketika pendulum waktu sampai pada 2002. Terakhir, angka kunjungan wisatawan asing tahun 2002 mencapai 197.508 orang. Sebelum 2002, angkanya jauh lebih tinggi, bahkan bisa melampaui di atas 250 ribu jiwa pertahunnya.&lt;br /&gt;            Rudy Chua yang juga pengelola beberapa hotel di Tanjungpinang ini masih ingat betul bagaimana pada era 1992-2002, seluruh kamar hotel terisi penuh tiap penghujung minggu. Bahkan tidak ada kamar yang diistirahatkan oleh pengelola hotel. Padahal jumlah kamar hotel di Tanjungpinang saat itu mencapai angka sekitar 1300 kamar. Bagi yang punya modal besar, mereka bangun hotel berbintang, sementara yang modal pas-pasan, membangun hotelk melati. Dunia perhotelan menmggeliat karena terimbas dari tingginya angka kunjungan wisatawan asing.&lt;br /&gt;            Tapi mari kita simak lagi data PHRI Tanjungpinang 2007. Bila pada masa emas 1992-2002 itu, dari 1300 kamar hotel, 90 persennya diisi oleh wisatawan asing dan 10 persennya lokal, kini justru terbalik. Hanya sepuluh persen wisatawan asing yang singgah di Tanjungpinang dan menginap di hotel. Sementara 90 persennya lebih mengandalkan tamu lokal. Untunglah pusat pemerintahan Kepri di pindah ke Tanjungpinang, sehingga banyak tamu lokal yang datang ke kota ini danmenginap di hotel. Selain itu, pengelola juga menyediakan jasa ruang pertemuan yang sering dipakai oleh Pemda untuk mengelar acara. Itu strategi mereka bertahan hidup saat ini. Selebihnya, tidak ada.&lt;br /&gt;            Maka dalam refleksi akhir tahun dunia pariwisata Tanjungpinang ini, PHRI menurut Rudy terus berharap ada mukjizat di tahun 2008. Mukjizat bukan untuk mengembalikan kejayaan dunia pariwisata Tanjungpinang seperti era 1992-2002. “Kalau penurunan angka kunjungan wisatawan asing ini bisa dihentikan, itu sudah lebih dari cukup,” kata Rudy berseloroh. Artinya, ia melihat, memang terlalu muluk untuk melihat Tanjungpinang akan dibanjiri wisatawan lagi, seperti pada era 1992-2002. Jadi, bisa dihentikannya laju penurunan angka kunjungan wisatawan tahunan saja, menurut Rudy sudah bisa membuat pengelola dunia pariwisata merasa cukup senang.&lt;br /&gt;            Rudy berusaha menghitung angka kasar, berapa besar kerugian yang harus diterima oleh Tanjungpinang akibat dari menurunnya angka kunjungan wisatawan ini. Berdasarkan data nasional, satu wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia rata-rata akan menghabiskan dana empat sampai enam juta. “Nah, untuk Tanjungpinang, kita ambil saja angka satu juta rupiah per satu wisatawan asing,” kata Rudy. Berarti, bila terjadi penurunan jumlah wisatawan sampai sekitar 80 ribu orang selang waktu lima tahun terakhir, Rudy menaksir, sudah ada sekitar Rp 80 milyar yang hilang. Itulah potensi dana segar yang lenyap dari Kota Tanjungpinang lima tahun terakhir. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2420980822251947097?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2420980822251947097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2420980822251947097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2420980822251947097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2420980822251947097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/senjakala-dunia-pariwisata.html' title='Senjakala Dunia Pariwisata Tanjungpinang'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-2101427832491026356</id><published>2007-12-29T03:45:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T03:48:02.792-08:00</updated><title type='text'>Waktu Menghentikan Mereka...</title><content type='html'>SEBENARNYA, malam itu adalah malam kecemasan. Melalui caranya sendiri, para seniman Kepri yang tampil di Gedung Aisyah Sulaiman, Tanjungpinang, Jumat (28/12) malam dalam kegiatan refleksi budaya akhir tahun yang digelar Dewan Kesenian Provinsi Kepri (DKPK), membahasakan kecemasannya.       &lt;br /&gt;            Ada penyair-sastrawan Mahzumi Dawood, juga Teja, Iben, Akib serta lainnya yang membacakan syair. Juga ada pidato lepas dari Hoesnizar Hood, penyair yang kini menjabat sebagai Ketua DKPK. Mereka sampai kini masih setia menjaga amanah besar itu: menjaga kejayaan budaya Melayu.&lt;br /&gt;             Para penerus Raja Ali Haji itu sebenarnya kini tengah dihadapkan pada kondisi, ketika zaman yang cepat berubah membuat anak-anak muda Tanah Melayu mulai berlari dari budaya warisan zaman Riau-Linga dulu. Kini, mereka lebih akrab dengan sebuah budaya baru yang memang hadir dalam konteks zaman mereka: budaya massa yang mencari simbolisasi pada pola hedonisme dan konsumerisme.&lt;br /&gt;            Dulu, sekitar seabad silam, para pujangga, intelektual, penyair, seniman, dan lainnya berkumpul saban hari untuk bnerdiskusi tentang budaya dan kemajuan masyarakat. Terbentuklah Rusdiyah Club, sebuah klub yang dirintis oleh para pemikir dan budayawan di Pulau Penyengat, yang saat itu menjadi satu di antara pusat tamadun Melayu Kepri.&lt;br /&gt;            Dari tangan dingin anggota Rusdiyah Club itu, lahirlah ratusan, atau bahkan ribuan karya yang kini tercecer dan hanya sedikit yang kini masih bisa terselamatkan. “Dalam setahun, setidaknya seratusan karya mereka diterbitkan,” kata Hoesnizar, dalam obrolan santai di sela-sela berlangsungnya acara yang mengambil tema “Kataku, Bangsaku, Negeriku” itu. &lt;br /&gt;            Tapi kini, jumlah itu terus menciut. Bahkan ada masa ketika benar-benar tahun-tahun berlalu dengan karya yang bisa dihitung dengan jari. Sepanjang 2007 ini, menurut data dari DKPK, paling hanya ada belasan karya yang lahir. Memang ada yang membanggakan. “Mulai muncul penulis-penulis muda belia,” kata Hoesnizar lagi.&lt;br /&gt;            Tapi apakah ini cukup? Hoesnizar mencoba membandingkan antara angka ratusan dengan angka belasan itu. Padahal, zaman Rusdiyah Club dulu, lanjutnya, jumlah penduduk di wilayah Kepri paling hanya 200 ribu jiwa saja. Tapi kini, di tahun 2007 yang hanya melahirkan karya berjumlah belasan itu, jumlah penduduk membengkak sampai sekitar tujuh kali lipatnya. Ada sekitar 1,4 juta jiwa penduduk yang kini mendiami bumi Melayu Kepri.&lt;br /&gt;            Lantas di mana salahnya? Memang, seniman tidak bisa lahir lewat proses mekanik. “Orang yang kuliah di Fakultas Sastra saja belum tentu jadi penyair,” kata Hoesnizar. Seniman lahir dalam kesunyiannya masing-masing. Di tengah zaman yang semakin hingar bingar, mereka bekerja sendiri-sendiri, berbicara dengan kesunyian dan mengkritik hingar bingar  zaman yang semakin bermusuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan itu.&lt;br /&gt;            Setiap zaman pasti memiliki senimannya sendiri-sendiri, dan setiap seniman, pasti memiliki kritiknya sendiri terhadap zaman itu. Hoesnizar percaya itu. Karenanya menciptakan seniman lewat proses mekanik ala mesin industrialiasasi hanya akan melahirkan seniman-seniman instan, yang cepat melejit, lalu segera hilang dalam proses pergantian waktu.   &lt;br /&gt;            Tapi kemudian, masyarakat juga harus menciptakan pra kondisi yang nyaman bagi lahirnya Raja Ali Haji-Raja Ali Haji baru itu. Setidaknya, Hoesnizar percaya, apabila adanya gedung kesenian, digiatkannya lomba-lomba serta kurikulum pendidikan yang memberi porsi lebih bagi sastra dan budaya akan menjadi stimulan. “Juga, media pun harus berani untuk sedikit berkorban guna menyediakan ruang budaya,” katanya.&lt;br /&gt;            “Kita sekarnag sedang dalam proses back to the top, kembali ke puncak. Dulu, kita pernah berjaya, tapi kemudian terjatuh. Kini kita sedang bangkit.” Tapi sampai kapan? “Mungkin sampai 2020 nanti, kita akan back to the top,” demikian keyakinan Hoesnizar. (trisno aji putra)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-2101427832491026356?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/2101427832491026356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=2101427832491026356' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2101427832491026356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/2101427832491026356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/waktu-menghentikan-mereka.html' title='Waktu Menghentikan Mereka...'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-8971218789505800497</id><published>2007-12-26T01:32:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T01:39:05.779-08:00</updated><title type='text'>Hidup Tanpa "Byar-Pet" di Pedalaman</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;HAMPIR malam di Kampung Jibut, Desa Ekang Anculai, Kabupaten Bintan. Suyati menuju dapur di bagian belakang rumahnya. Dua buah kabel ia tancapkan di sebuah accu. Hanya beberapa detik berselang, lima lampu di beberapa ruangan rumahnya pun menyala. Ia tersenyum. “Sudah sembilan tahun saya menggunakan listrik tenaga surya ini,” kata wanita asal Pacitan, Jawa Timur, yang sejak muda sudah merantau ke Pulau Bintan itu.&lt;br /&gt;Rumah yang ditempati oleh Suyati dan suaminya, Untung, itu memang berada di pedalaman. Untuk sampai ke sana, harus menempuh perjalanan sekitar 62 kilometer dari Tanjungpinang. Kemudian disambung lagi dengan melewati jalan tanah kecil yang meliuk-liuk membelah hutan bekas perkebunan gambir sejauh sekitar tujuh kilometer. Listrik belum masuk ke kampung itu. Lokasi kampung yang berada di pedalaman menyulitkan pembangunan jaringan listrik.&lt;br /&gt;Tapi Sayuti tak patah arang. Ia berniat mengakhiri era lampu teplok di rumahnya dengan penerangan listrik sejak awal 1990-an. Dan niat itu kesampaian begitu ia memutuskan pulang ke kampung halamannya di Pacitan pada sekitar tahun 1998. Seorang saudaranya menyarankan agar ia membeli sebuah penampang listrik tenaga surya. “Saat itu saya membelinya seharga sekitar satu juta rupiah. Saya beli di Pacitan,” kata Suyati lagi.&lt;br /&gt;Suyati berspekulasi saja. Yang ia yakini saat membeli penampang listrik tenaga surya itu adalah cara kerjanya yang mudah, sehingga kemungkinan besar tak akan menyulitkan ketika ia bawa ke Bintan.&lt;br /&gt;Dan spekulasi Suyati ternyata berhasil. Sejak kembali ke Tanjungpinang pada tahun 1998 sampai akhir 2007 ini, penampang yang berukuran sekitar satu kali satu meter itu tak pernah rusak. Setiap malam, rumahnya pun mendapatkan penerangan lampu pijar. “Memang saya belum bisa menonton televisi warna. Penampang listriknya kecil. Jadi hanya bisa televisi hitam putih. Tapi tak apa, sudah cukuplah. Dari pada pakai lampu teplok,” katanya&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Suyati ini sebenarnya sederhana saja. Tapi di balik itu, ternyata ia telah berhasil menciptakan kemandirian dalam mendapatkan sumber energi listrik alternatif. Kalau ia hanya menunggu dan berharap PLN memasang jaringan sampai ke kampungnya, pasti sampai saat ini Suyati masih mengandalkan lampu teplok sebagai penerangan rumahnya di malam hari.&lt;br /&gt;Di Pulau Bintan, masih ada 11 ribu rumah tangga yang kini tengah berharap rumahnya dapat menikmati listrik. Pulau Bintan sendiri saat ini tengah mengalami krisis listrik. Berdasarkan data yang ada di PLN Tanjungpinang, total warga yang sudah masuk daftar tunggu untuk pemasangan baru jaringan listrik kini mencapai sekitar 11 ribu rumah tangga.&lt;br /&gt;Asisten Manajer Pembangkitan PT PLN Cabang Tanjungpinang Taufik Eko W menjelaskan, daya yang dimiliki mereka saat ini hanya sekitar 35 megawatt. Sementara, sekitar pukul 18.00 WIB sampai 23.00 WIB, kalau menjelang malam, beban puncak yang harus ditanggung pembangkit listrik tersebut mencapai 32 sampai 34 megawatt. Daya yang berjumlah 35 megawatt tak bisa digunakan semuanya karena PLN harus menyediakan cadangan.&lt;br /&gt;SEORANG rekan wartawan di Singapura beberapa waktu lalu bercerita, bahwa di negaranya, padamnya listrik selama beberapa jam saja telah menjadi headline surat kabar di sana. Lantas bagaimana dengan Kepri, yang sampai saat ini masih dihantui oleh krisis listrik berkepanjangan. Praktis hanya Batam saja yang luput dari hantaman krisis listrik. Sementra kabupaten/kota lain, justru masih menjalani era “byar pet”.&lt;br /&gt;Kisah Suyati, warga pedalaman Bintan yang menggunakan energi listrik alternatif berbasis tenaga surya setidaknya dapat memberikan banyak inspirasi kepada warga Pulau Bintan dan Kepri. Wanita itu sudah menunjukkan bahwa kemandirian masyarakat adalah langkah praktis untuk mengatasi krisis listrik di Kepri. Andai masih banyak Suyati-Suyati lain, tentu warga Kepri dapat segera mengakhiri era krisis listriknya.&lt;br /&gt;Hambatan yang dihadapi Suyati tak lain karena daya listrik yang dihasilkan dari penampang tersebut terlampau kecil, sehingga tak bisa mencukupi untuk menyetel televisi warna. “Tapi kalau mau dayanya besar, ya beli penampang yang lebih besar. Harganya memang lebih mahal,” katanya.&lt;br /&gt;Apakah ini persoalan baru? Tentunya tidak. Sebab, setiap persoalan justru akan berubah menjadi peluang bila dilihat dari sudut pandang yang tepat. Kembali, kemandirian warga dituntut untuk menjadi jalan keluarnya. Dalam satu kampung, mereka dapat membentuk wadah yang beranggotakan beberapa rumah. Kemudian mereka membeli penampang listrik yang besar dengan cara patungan. Tentu harga yang harus ditanggung oleh tiap-tiap rumah tangga jadi tak terlalu besar.&lt;br /&gt;Demikian, dari satu kampung, virus kebaikan itu akan terus menjalar ke kampung lain. Kemudian dari satu pulau, akan menjalar ke pulau lain. Hingga akhirnya warga Kepri bisa menikmati penerangan listrik berkat kemandirian mereka.&lt;br /&gt;Lantas apa peran pemerintah daerah (pemda) dan PLN? Tentu pemda dan PLN punya porsi pekerjaan tersendiri, yang jauh lebih besar. Setidaknya ancaman yang paling nyata bila krisis listrik di Kepri ini tak bisa diatasi adalah mundurnya calon investor yang akan menanamkan modalnya di kawasan ini. Padahal kawasan Bintan bersama Batam dan Karimun (BBK) kini sedang dikaji oleh DPR RI untuk disahkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau lebih populer sering disebut special economic zone (SEZ).&lt;br /&gt;Nah, pemerintah dan PLN tentu harus memikirkan solusi terkait masalah ini. Saat ini, PLN bersama Pemprov Kepri tengah melakukan kajian seputar wacana interkoneksi listrik Batam-Bintan. Konsekuensinya, akan diterapkan tarif regional. Artinya, tugas utama dari pemda dan PLN tak lain adalah memastikan ketersediaan listrik dalam jumlah besar, untuk mencukupi kebutuhan industri dan rumah tangga yang membutuhkan pasokan daya dalam jumlah besar. &lt;strong&gt;(trisno aji putra)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-8971218789505800497?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/8971218789505800497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=8971218789505800497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8971218789505800497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/8971218789505800497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/hidup-tanpa-byar-pet-di-pedalaman.html' title='Hidup Tanpa &quot;Byar-Pet&quot; di Pedalaman'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-6351271188532331894</id><published>2007-12-09T04:48:00.000-08:00</published><updated>2007-12-09T04:55:05.242-08:00</updated><title type='text'>Home Sweet Home</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;HIDUP kemudian adalah kumpulan perjalanan. Dan perjalanan selalu bermula dari sebuah kata: pergi.&lt;br /&gt;Tapi setiap kepergian pasti akan menemukan jalan pulangnya sendiri. Orang-orang di dataran tinggi Tibet di awal permulaan hari melangkahkan kaki, meninggalkan rumah. Mereka yakin, bahwa setiap perjalanan jauh adalah sebuah bentuk dari penyucian diri tertinggi. “Perjalanan adalah upaya untuk penghapusan dari dosa yang melekat dalam setiap denyut nadi, mengalir bersama darah,” begitu keyakinan mereka.&lt;br /&gt;Tapi pada akhirnya mereka akan pulang. Setelah puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kilo meter mereka berjalan, mereka tetap akan pulang. Bahwa penyucian dosa mungkin bisa dilakukan bertahap, kita tidak tahu. Sebab itu adalah wilayah Zat Maha Suci yang mungkin tak bisa kita tafsirkan dengan logika manusia yang serba terbatas. Tapi mereka pulang untuk kemudian pergi lagi. Dan pergi lagi untuk kemudian pulang. Begitu seterusnya, sampai akhirnya waktu menghentikan langkah mereka. Orang-orang di dataran tinggi Tibet terus melakukan itu, bahkan sejak puluhan, ratusan, atau ribuan tahun lalu.&lt;br /&gt;Dan setiap kepulangan kemudian berarti adalah rumah….&lt;br /&gt;Sebuah rumah kecil di kaki bukit, beratap jerami berpagar anyaman, atau sebuah rumah terakhir berbatu nisan putih, tetap adalah sebuah rumah. Rumah tempat setiap pejalan akan kembali, beristirah, menghitung langkah, dan mungkin meratapi kesalahan.&lt;br /&gt;Setiap kita pasti akan sampai di rumah. Dan setiap petualang pasti akan merindukan pulang. Tawa, canda, kehangatan dari orang-orang terkasih; cangkul, parang dan ilalang; sinar cahaya tipis dari lampu teplok yang tergantung di pojok ruangan; atau bisa juga tumpukan buku berdebu yang yang belum terselesaikan dibaca. Atau lainnya. Tapi semua itu adalah alasan yang membuat setiap kita pasti merindukan rumah.&lt;br /&gt;Adalah rumah yang kemudian membuat kita akan menjadi “ada”. Industrialisme yang berpangkal dari kapitalisme kemudian melahirkan sikap individualistik. Kita kemudian memang pernah mengutuk, mengapa harus hidup dalam zaman yang teramat sinis ini. Dalam zaman ketika tetangga hanyalah sebuah penanda, bahwa di samping rumah kita bukanlah tanah kosong, melainkan rumah orang lain.&lt;br /&gt;Kemudian manusia diterjemahkan menjadi sekedar sekumpulan objek untuk mendatangkan laba. Maka kemudian orang-orang pun berjalan dengan kepala tertengadah.&lt;br /&gt;Dan seorang wanita muda di dataran tinggi Tibet pernah berkata kepada Heinrich Harrer, “Yang membedakan ‘kami’ dengan ‘kalian’ adalah bahwa ‘kalian’ selalu melihat ke atas. Sedangkan ‘kami’ sebaliknya.”&lt;br /&gt;Tujuh tahun Heinrich menghabiskan hidupnya untuk sekedar menaklukan Mount Everest, puncak tertinggi di Himalaya. Dan ia mencatat dengan baik setiap detik yang terlewati di tempat itu, dalam sebuah buku harian kusamnya. Di buku itu kemudian tertulis bahwa Heinrich ternyata selama tujuh tahun itu tidak pernah berhasil menjejakkan kakinya di Puncak Everest, yang berada pada ketinggian lebih dari delapan ribu kaki dari permukaan laut.&lt;br /&gt;Tapi Heinrich ternyata mampu menjejakkan kakinya di puncak yang lebih tinggi dari sekedar Puncak Everest: sebuah puncak kearifan dalam memandang hidup. Tujuh tahun setelah itu ia pulang dengan sebuah kesadaran, sebuah kesadaran yang ia temukan dari tuturan perempuan muda Tibet itu.&lt;br /&gt;Lelaki Jerman itu kemudian berdamai dengan kenyataan. Ia yakin bahwa setiap kepergian pasti berarti pulang, dan setiap petualang pasti selalu merindukan rumah. Ia bisa melawan dinginnya salju di kaki Himalaya, ia juga bisa melawan kelaparan yang berlangsung di sepanjang jalan. Tapi satu hal yang tak bisa ia lawan adalah kerinduannya untuk pulang: memeluk bocah lelakinya yang bahkan belum pernah ia lihat sejak terlahir ke dunia. Heinrich meninggalkan rumah ketika usia kandungan sang mantan istrinya sudah berusia empat bulan.&lt;br /&gt;Hidup kemudian terkadang sekedar kumpulan kisah sedih yang berakhir dengan kebahagiaan abadi. Tapi ada jurang terjal di setiap tikungan yang siap mengintip, dan kerikil-kerikil tajam yang melukai hati. Heinrich pulang untuk mendapati bahwa satu-satunya anak lelaki yang dilahirkan dari rahim mantan istrinya itu bahkan tak kenal dengan dirinya. Yang diketahui bocah itu, berdasarkan kisah ibunya, bahwa ayahnya sudah meninggal di dataran tinggi Tibet sewaktu hendak menaklukan Himalaya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Heinrich untuk meyakinkan sang bocah, bahwa ia adalah sang ayah biologisnya. Seperti bisa diduga pada akhir film “Seven Years in Tibet” yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Heinrich Harrer itu, ia berhasil mengajak sang buah hati mendaki Puncak Everest, tetapi bukan untuk menaklukannya, melainkan sekedar mencari kearifan hidup...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-6351271188532331894?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/6351271188532331894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=6351271188532331894' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6351271188532331894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/6351271188532331894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/home-sweet-home.html' title='Home Sweet Home'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7651880394739952237</id><published>2007-12-08T04:15:00.000-08:00</published><updated>2007-12-08T04:16:46.292-08:00</updated><title type='text'>Sunyi di Ujung Perjalanan Fahzam…</title><content type='html'>FAHZAM Fadlil pada akhirnya menjadi seorang lelaki yang selalu merasa kesepian di daratan. Ombak, badai, dan senja di balik awan itu terlalu menggoda baginya, sehingga, pada akhirnya, ia pun kembali ke laut.&lt;br /&gt;            Tahun lalu, ia mempersiapkan semuanya, sebuah petualangan gila naik perahu kecil dari Tanjungpinang ke Madagaskar, sebuah tujuan di daratan Afrika sana. Tapi Fahzam terbentur dana. Ia optimis bisa menaklukan gelombang, tapi ternyata ia sponsor gagal ia dapatkan.&lt;br /&gt;            “Lebih mudah untuk menaklukan gelombang dari pada birokrasi,” katanya. Ia roboh. Proposal permintaan bantuan dana bagi mewujudkan Melayu yang jaya di laut belum terjawab pemerintah daerah di Kepri sampai saat ini. Satu tahun Fahzam hanya mondar-mandir Bandung-Tanjungpinang.&lt;br /&gt;            Di tengah rasa frustasinya itu, Fahzam sempat berpikir nekat: cari perahu kecil, dan melanglang buana di lautan lagi. Tapi, niat itu mungkin baru bisa terwujud September ini.&lt;br /&gt;            “Saya sudah membeli satu perahu kecil, yang harganya tak lebih mahal dari motor Mio,” katanya, terkekeh.&lt;br /&gt;            Perahu itu kini ia tambatkan di Bali. Sambil menunggu September datang, ia sedang menerima kerjaan menggarap pembuatan perahu kecil lagi. “Mudah-mudahan bisa buat modal,” katanya.&lt;br /&gt;            Mimpi merapatkan perahu di bibir pantai Madagaskar kini sudah nyaris pupus dalam dirinya. Tapi, mimpi untuk merapatkan perahu di bibir pantai Desa Penghujan, Kabupaten Bintan, sudah di depan mata.       Rencana pelayaran itu sudah disusun Fahzam dengan rapi. Rute yang ia pilih adalah yang langsung menuju Tanjungpinang. Dari Bali, perahu kecil yang sering disebut orang sebagai Jukung itu akan melintasi Selat Lombok, berputar menuju Laut Jawa, masuk ke Selat Karimata, dan tembak langsung ke Laut China Selatan.                Sebentar ia akan singgah di pelabuhan Tanjungpinang, sebelum menggerakkan arah kemudi layer ke Desa Penghujan, sebuah desa yang terletak di Pulau Penghujan, jarak 30 menit perjalanan laut dari Tanjungpinang.                Kenapa mesti Penghujan? Fahzam dan Penghujan adalah dua objek yang disatukan oleh kenangan. Selepas melayari Samudra Pasifik dalam perjalanannya dari Amerika ke Bali naik yacht pada pertengahan 1990-an silam, Fahzam pun langsung jatuh hati pada tanah Penghujan. Ia membeli sepetak tanah, dan membangun sebuah rumah yang menghadap ke laut.               Hampir 60 tahun lalu, ia lahir di Pulau Buluh, sebuah pulau di Kabupaten Karimun yang berbatasan dengan Singapura. Cita-citanya dari kecil hanyalah ingin menjadi penjaga mercusuar. Tapi menghabiskan waktu 20 tahun tinggal di Amerika membuatnya tak sempat meniti karir untuk bekerja di lingkungan Kantor Navigasi. Maka rumah kecil di Penghujan itu ia jadikan sebagai mercusuar sendiri, yang telah ia niatkan untuk menghabiskan hari tua di sana.                  Kini perjalanan sejuah 1500 kilo meter itu sudah ditunggunya. Tinggal tunggu dana di tangan, Fahzam pun siap menggerakkan arah kemudi layar ke Tanjungpinang. Jukung kecil yang akan dikendalikan oleh Fahzam tanpa mesin. Hanya layar dan sepasang dayung. Tanpa atap sama sekali di atasnya, tapi Jukung dan laut biru itu tidak membuat ciut nyalinya. Fahzam enggan berdebat soal nyali. “Orang yang korupsi itu jauh lebih berani dari pada aku,” katanya, terkekeh lagi. Tapi, ada sesuatu cerita yang terus ia kejar dari laut biru itu, cerita tentang sebuah kebahagaian, yang mungkin kita tak pernah bisa memahaminya.&lt;br /&gt;SEBUAH perahu, sederet harapan, dan sunyi yang amat melekat. Fahzam akan melewati semua itu selama sekitar tiga minggu pada awal September mendatang. Diperkirakan, lama perjalanan yang akan ia habiskan untuk melewati rute Bali-Tanjungpinang memakan waktu sampai tiga minggu.&lt;br /&gt;            Kalau dibandingkan dengan kapal besi milik PT Pelni, mungkin waktu ini relatif lama. Kapal-kapal besi milik Pelni mungkin hanya membutuhkan waktu tak sampai lima hari untuk melayari rute yang sama seperti yang akan ditempuh Fahzam. Tapi, Fahzam tak pakai kapal besi. Jukung yang akan ia tumpangi hanya terbuat dari bahan fiber glass. Parahnya lagi, jukung itu tak dilengkapi dengan mesin.&lt;br /&gt;            Fahzam menyerahkan semuanya pada sebuah layar dan sepasang dayung. Bila angin enggan berhembus, maka ia pun terpaksa harus mendayung dengan kedua tangannya. Atau kalau lelah, ia pun harus tabah membiarkan kapal tak bergerak, kecuali diombang-ambingkan oleh ombak ganas Laut Jawa dan Laut Cina Selatan.&lt;br /&gt;            Celakanya lagi, jukung itu juga sama sekali tak punya terpal di atasnya. Kalau hujan, Fahzam pun kehilangan tempat berteduh, kecuali mungkin memasang jas hujan dan meringkuk kedinginan sambil berharap hujan cepat berlalu. Dari awal Fahzam sudah mengakuinya. “Pelayaran ini akan tidak mudah mengingat perahunya sangat kecil dan&lt;br /&gt;tidak terlindung sama sekali,” katanya.&lt;br /&gt;               Tapi, jiwa petualangan membawa ia untuk berpikir sebaliknya, “Justru ini tantangannnya. Kalau pelayaran ini mudah, tidak  perlu dibuat sama sekali.” Bahkan Fahzam punya idealisme versinya sendiri. “Biar aku sensitif dengan orang kecil seperti nelayan yang berpanas dan berujan di laut hanya untuk menghidupi keluarga mereka,” katanya.&lt;br /&gt;               Ini juga terkait dengan jenis perahu yang dipilih Fahzam untuk mengantarkannya ke Tanjungpinang. Jukung, sebutan perahu itu, atau lebih keren lagi disebut Jukung Bali, adalah jenis perahu yang biasa digunakan oleh para nelayan di Bali. Panjangnya tak lebih dari lima meter.&lt;br /&gt;               Perahu itu sendiri ditemukan Fahzam sewaktu berada di Desa Kusamba, pantai timur Bali. Selain mencari perahu berdasarkan kemampuan koceknya, kenyamanan ia mengedarai perahu itu juga menjadi alasan Fahzam memilih perahu tersebut.&lt;br /&gt;               Kini Fahzam sedang melakukan persiapan. “Kadang saya push up,” katanya sambil berseloroh. Maklum, Fahzam tak bisa dibilang muda lagi. Usianya sudah mendekati kepala enam. Dalam pelayaran ini pun, ia akan meninggalkan seorang istri dan dua orang anaknya yang masih kecil-kecil.&lt;br /&gt;               “But, I’m the man on the mission,” katanya. Saya seorang lelaki yang akan menjalankan sebuah misi, begitu keyakinannya. Kalau bisa merapatkan perahunya ke Desa Penghujan nanti, Fahzam tak muluk-muluk. Ia hanya sekedar ingin menantang para generasi muda saat ini. Ia sudah tua tetapi masih mampu, lantas bagaimana dengan anak-anak muda.&lt;br /&gt;               Itulah Fahzam, lelaki yang pernah menghabiskan lebih lima bulan perjalanan laut saat menyebrang dari Amerika menuju Bali naik yacht. 20 tahun lebih hidup di Amerika membuat ia punya cara pikir dan cara pandang tersendiri dalam melihat sebuah tantangan. Tapi, Fahzam menolak bahwa pelaut Melayu tak tangguh. “Dulu orang naik haji pakai perahu,” katanya. Karena itu, dalam perjalanan kali ini, ia pun akan bernostalgia tentang kejayaan Melayu di laut tempo dulu. (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7651880394739952237?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7651880394739952237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7651880394739952237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7651880394739952237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7651880394739952237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/sunyi-di-ujung-perjalanan-fahzam.html' title='Sunyi di Ujung Perjalanan Fahzam…'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-7488102931370581822</id><published>2007-12-08T02:55:00.000-08:00</published><updated>2007-12-08T03:03:34.048-08:00</updated><title type='text'>Sebatang Rokok di Tepi Peradaban</title><content type='html'>Di tepi peradaban, manusia mengajukan pertanyaan. Apakah mungkin semua yang sudah dibangun dapat diselamatkan...&lt;br /&gt;Hari ini, sekelompok orang Melayu mulai resah. Mampukah mereka menyelematkan peradabannya. Sebagian lainnya mempertanyakan, bila tidak ada yang mengancam, apa yang mesti diselamatkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-7488102931370581822?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/7488102931370581822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=7488102931370581822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7488102931370581822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/7488102931370581822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/sebatang-rokok-di-tepi-peradaban.html' title='Sebatang Rokok di Tepi Peradaban'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-1490697831717969740</id><published>2007-12-07T05:02:00.000-08:00</published><updated>2007-12-07T05:07:08.219-08:00</updated><title type='text'>Midai: Sisa Kejayaan Negeri Cengkeh</title><content type='html'>BANGUNAN Koperasi Ahmadi &amp;amp; CO masih tegak. Aktivitas keseharian pun masih berjalan. Tapi sudah tak seperti dulu lagi, ketika kebesaran perusahaan ini bahkan sampai memiliki cabang di Singapura.&lt;br /&gt;            Ada sisa kejayaan yang masih tertinggal: sebuah prasasti bertanda tangan Muhammad Hatta, Wakil Presiden pertama RI. Sekitar 1949 Bung Hatta datang ke Pulau Midai, satu dari sekian ratus pulau-pulau kecil di gugus perairan Natuna. Selain melihat kehidupan di pulau perbatasan RI dengan Vietnam tersebut, Bapak Koperasi Indonesia juga dibuat takjub dengan keberadaan serikat dagang orang Melayu: Ahmadi &amp;amp; CO tersebut. Diperkirakan, Ahmadi &amp;amp; CO adalah sebuah koperasi yang tumbuh pada deret paling awal di republik yang sempat bercita-cita membangun ekonomi kerakyatan melalui koperasi ini.&lt;br /&gt;            Kolektor naskah-naskah kuno di Pulau Penyengat Raja Malik, punya cerita tersendiri tentang kedatangan Bung Hatta ke Tanah Midai. Begitu sampai, Bung Hatta langsung masuk ke dalam kantor dn memeriksa buku-buku laporan keuangan perusahaan. Di situ, Bung Hatta dibuat terkagum-kagum. “Ini sebuah lembaga ekonomi pertama di Nusantara yang manajemennya sangat rapi,” kata Malik menirukan kira-kira ucapan Bung Hatta saat itu.&lt;br /&gt;            Serikat dagang itu berawal dari sekumpulan pemukir, penulis dan politisi yang tergabung dalam Rusdiyah Club di Pulau Penyengat. Kajian diskusi Rusdiyah saat itu masih seputar politik dan kebudayaan. Namun pada dekade sekitar 1890-an, para pemikir di Rusdiyah merasa perlu untuk mengembangkan sayap bisnis, dengan tujuan dapat menggerakkan roda ekonomi dan sekaligus memberikan penghasilan kepada anggota keluarga kerajaan.&lt;br /&gt;Maka disepakatilah pembentukan serikat dagang yang bernama Asyarikatul Ahmadiyah. Dalamn perkembangannya, berdasarkan survei yang mereka lakukan ke berbagai penjuru pulau-pulau di Kerajaan Riau Lingga, para pemikir Rusdiyah Club sepakat memindahkan usaha dagang mereka ke Midai. Komoditas cengkeh dan kopra yang tumbuh subur di tanah Midai menjadi faktor lahirnya keputusan itu.&lt;br /&gt;Meski luasnya hanya sekitar 18 kilo meter kalau dikeliling, tapi tanah Midai dikaruniai kesuburan luar biasa. Di antara deretan pepohonan cengkeh, kelapa masih bisa tumbuh subur.&lt;br /&gt;            Seorang penduduk Midai, Andri Chandra memberi ilustrasi kesuburan tanah di Negeri Cengkeh itu. “Biasanya, kalau orang habis tanam ubi, mau tanam tanaman lain, dibiakan dulu. Tapi di sini (Midai), tak perlu. Bisa langsung tanam saja,” kata Andri, yang berprofesi sebagai petani itu.&lt;br /&gt;Maka pada 1906, didirikanlah Ahmadi &amp;amp; CO. CO adalah kependekan corporation. Nama Ahmadi sendiri diambil dari salah satu pendirinya, yang sekaligus pemegang saham utama, yakni Raja Ahmad Ibnu Umar.&lt;br /&gt;            Sulit dilacak sejak kapan penduduk Midai mulai menanam cengkeh. Tetapi, begitu komoditas itu tumbuh subur dan semakin terkenal kualitasnya ke seantero negeri, Ahmadi &amp;amp; CO pun sukses besar. Serikat dagang ini sebetulnya punya anak perusahaan di Singapura, Ahmadi Press yang bergerak di bidang percetakan  Tapi diperkirakan, omset penjualan Cengkeh dari Midai menjadi penyumbang terbesar keuntungan serikat dagang tersebut. Saat itu, Ahmadi &amp;amp; CO memasarkan cengkehnya ke Singapura, yang kemudian diteruskan ke berbagai penjuru dunia, sampai ke Turki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-1490697831717969740?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/1490697831717969740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=1490697831717969740' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1490697831717969740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/1490697831717969740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/midai-sisa-kejayaan-negeri-cengkeh.html' title='Midai: Sisa Kejayaan Negeri Cengkeh'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7981365397352471796.post-414672693963703904</id><published>2007-12-07T04:46:00.000-08:00</published><updated>2007-12-07T04:49:07.936-08:00</updated><title type='text'>bintan, kata, peristiwa</title><content type='html'>Bintan adalah kata dan kenangan. Dulu, di pulau ini, orang pernah mengukir sejarah emas, bahkan meahirkan sejumlah kerajaan di sekitarnya. Namun Bintan kini hanyalah pulau yang hidup degan terlalu banyak menyimpan kenangan....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7981365397352471796-414672693963703904?l=trisnoajiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/feeds/414672693963703904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7981365397352471796&amp;postID=414672693963703904' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/414672693963703904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7981365397352471796/posts/default/414672693963703904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://trisnoajiputra.blogspot.com/2007/12/bintan-kata-peristiwa.html' title='bintan, kata, peristiwa'/><author><name>trisnoajiputra.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12356365913929789974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_LhFXenHWuzQ/R1lCPbPDitI/AAAAAAAAAAM/zfv9a8o2QRU/S220/gambar+wajah+30.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
